MOS

Minggu, 26 Juli 2015

Assalamualaikum, wr. Wb

Haallooo semuanyaaaa!!!!!!!
Apa kabarnya nih? Nggak kerasa, udah lama banget ya, gue gak nulis lagi. Semenjak kegalauan yang berkepanjangan+proses menata hati yang memakan waktu sangat lama, akhirnya saya nyatakan "SAYA SUDAH MOVE ON!!!!" Yyeeaayyy!!!!.

Tapi, postingan kali ini gue bukan mau ngebahas move on. Melainkan tentang MOS (Masa Orientasi Siswa) sesuai dengan judul di atas. Karena berhubung, gue baru aja masuk SMA dan baru saja menyelesaikan 3 hari MOS yang melelahkan+ 1 hari Pra MOS.

Oke,, sebelum berlanjut apakah dari kalian ada yang masih belum tau sama MOS? Nah, MOS itu adalah masa di mana, kita sebagai anak baru diperkenalkan pada lingkungan sekolah, kita bertemu dan mengenal banyak teman baru, selain itu juga ketemu sama kakak-kakak kelas yang (awalnya) galak.
Maaf ya, itu pengertian MOS menurut apa yang telah saya alami. Kalau mau tau tentang definisi MOS itu sendiri, silakan tanya kepada Om Google.

Btw, gue melewati masa MOS yang gokil abiss., sebagian gambarnya akan gue share di sini.
Ada banyak tugas yang gue dapetin. Dari disuruh bawa sapu lidi, topi purun, tas purun, bikin name tag + foto puberty, bawa teka-teki makanan, bikin surat benci+kagum+bunganya, bikin puisi tentang MOS, karikatur kakak kelas, sampai yang paling mendebarkan, minta tanda tangan kakak kelas.

Kkyyaaaaaa!!!!!! Banyak banget kan?

Tapi kalian tenang aja., jangan takut sama yang namanya MOS, sekarang udah ada peraturan pemerintah yang melarang adanya kekerasan fisik, so nggak ada yang bakalan disiksa-siksa lagi pas MOS. Yaa,meskipun begitu tapi tetap aja ada kakak kelas yang galak.

Contohnya nih, di sekolah gue yang ada kelompok kakak PDnya (Penegak Disiplin). Kakak PD itu terkenal sama galaknya, tegasnya, dan disiplinnya. Semua itu dilakukan juga untuk mengajarkan kedisiplinan sama kita. So, nikmatin aja. Hehehe...

Selain itu, juga ada yang nggak kalah gokilnya. Yakni minta tanda tangan kakak kelas. Beehh,,, dijamin kalian pasti akan merasakan pengalaman baru. Whahahha...

Sebagian ada kakak kelas yang mau ngasih tanda tangannya dengan percuma, palingan cuma nyuruh kita nebak namanya aja. Tapi juga ada kakak kelas yang akan nyuruh kita nyanyi, jawab pertanyaan, atau disuruh sesuatu, baru mau ngasih tanda tangannya.

Dan juga, MOS itu gak akan terasa lengkap kalau nggak ada yang namanya surat benci+surat cinta untuk kakak kelas. Whahahaha,,, seru deh pokoknya. Meskipun jujur ya, semua itu memang melelahkan. Bahkan nyari teka-teki makanan itu pun menghabiskan waktu seharian. Tapi kita ambil sisi positifnya aja. Minimal, kita telah mendapatkan pengalaman yang gak pernah kita bayangin.

Oh ya, sekarang gue udah selesai MOS dan bagi kelas. Alhamdulillah, gue sekarang udah jadi anak SMA dengan kelas X MIA 2. Rasanya tuuuhhhhh............ senenggg bangeett.
Hehehehe,, nggak kerasa udah SMA aja..

Hhmm,, mungkin cukup sampai disini dulu gue sharing pengalaman tentang MOS. Inget ya, sekarang udah nggak ada lagi MOS yang bikin mati anak orang. Justru, kalian bakalan ngerasain pengalaman yang.........

Unexpected banget.

Wassalam.,

Nur Atika

Patah Hati Terhebat

Kamis, 07 Mei 2015

Assalamualaikum, wr. Wb.

Alhamdulillah,kemarin gue sudah menyelesaikan Ujian Nasional tingkat SMP. Tinggal nunggu hasil dari usaha, belajar, dan berdoa gue selama hampir 3 bulan terakhir. Semoga hasilnya memuaskan, aminnn.. :-)

Terlepas dari itu semua, gue mau berbagi cerita hari ini. Beberapa hari sebelum ujian dilaksanakan, gue sempat beli buku Koala Kumalnya Bang Raditya Dika. Perlu waktu 1 hari penuh buat gue baca buku itu sampai selesai.

Secara keseluruhan, buku itu menceritakan tentang patah hati. Mulai dari patah hati gara-gara persahabatan, pacar, hingga mematahkan hati orang lain. Dan bagian yang paling "ngena" banget sama gue adalah Patah Hati Terhebat dan Koala Kumal.

Jujur, pas baca 2 bagian itu, gue ngerasa hal yang sama. Di mana pada bagian Patah Hati Terhebat, ada pernyataan yang menerangkan bahwa "Setiap orang pasti akan mengalami patah hati yang mengubah cara pandangnya terhadap cinta seumur hidupnya. Cara dia ngelihat cinta akan berbeda semenjak patah hati itu. - Yang jelas, orang setelah mengalami patah hati hebat akan berubah." Dan gue membenarkan hal itu.
Kalian bisa membaca postingan-postingan gue sebelumnya. Hampir semuanya menceritakan tentang kepatahhatian. Mulai dari cinta ditolak sampe jadi korban PHP orang-_-. Parahnya, yang terakhir itu baru-baru aja gue alami. Ketika gue mau fokus sama sekolah dan ujian, gue sempat PDKT sama seorang cowok yang awalnya gue kenal dari 'mengikuti lomba sekolah'. Yap! Gue kenal dia karna kami sama-sama mewakili sekolah dalam ajang lomba yang sama. Oke~ gue gak mau ngebahas dia lebih lanjut. Kalo kalian pengen tau ceritanya, silakan baca di postingan gue sebelumnya.
Kemudian, saat ngalamin yang namanya 'dikasih harapan palsu', gue bener-bener bimbang. Sedih itu sudah pasti. Bahkan, karna saking sakitnya sampe air mata susah keluar-.- jengkel? Marah? Gak terima? Entahlah. Gue juga gak ngerti. Saat gue tau dia jadian sama orang lain, yang memenuhi otak gue adalah ketidakpercayaan kalau dia jadian dan pelajaran Bahasa Inggris yang gue pelajari semalam. Karna waktu itu, kami sedang melaksanakan Ujian Sekolah. See? Betapa sempurnanya kekacauan ini terjadi. Aku patah hati di saat harus fokus-fokusnya belajar. :-(

Ketika UAS sudah selesai, saat itulah aku sempat membaca buku Bang Radit, Koala Kumal. Dan jleb! Bab Patah Hati Terhebat itu kutemukan. Jujur, gue paling suka bab itu dan terus membacanya berulang-ulang. Memang benar, setiap orang yang mengalami patah hati akan menjadi berbeda. Ada hal yang pastinya telah membuat kita jadi berbeda dari sebelumnya. Dan itu terjadi sama gue. Sejak yang gue alami beberapa bulan terakhir,gue mulai jadi orang yang beda. Mungkin kedepannya, gue akan jadi orang yang lebih hati-hati dalam menjatuhkan hati. Mungkin, dalam hubungan berikutnya gue akan jadi orang yang sulit memberikan kepercayaan. Itu karna gue pernah dikecewakan sama orang lain. Dan berbagai pelajaran lainnya yang gue dapat selama ini. Itu semua telah mengubah cara pandang gue dalam menjalani suatu hubungan. Gue pernah mengecewakan seseorang. Dan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidup gue. Dari situ gue mulai belajar untuk jadi orang yang lebih baik lagi dalam menjalani hubungan atau paling tidak, berubah jadi lebih baik dari gue yang sebelumnya.

Kemudian, di bab terakhir tentang Koala Kumal. Waktu baca bagian itu, gue ngerasa kayak lagi bercermin. Ya, gue ngerasaain gimana perasaannya si Koala itu waktu ngelihat rumahnya yang dulu, kini jadi sangat berbeda buat dirinya. Hutan yang dulunya jadi tempat ternyaman, kini justru membuatnya merasa asing. Ya.. paling tidak seperti itulah.
Gue pernah punya sahabat yang dulunya akrab banget. Saking akrabnya sampe kayak permen karet. Lengket selengket-lengketnya. Sayangnya, waktu itu gue harus pindah ke luar kota. Maka persahabatan gue pun terputuskan oleh jarak dan waktu. Awalnya, semua berjalan aman. Gue dan dia masih sering berkomunikasi lewat berbagai media. Tapi lama-kelamaan, gue ngerasa hal yang beda. Kami sempat hilang komunikasi, mungkin karna gue dan dia juga sama-sama sibuk. Dan ketika gue kembali menghubunginya, gue ngerasa hal itu. Ada yang berbeda. Gue ngerasa, dia sudah tidak seterbuka dulu lagi. Dia jarang membagi ceritanya ke gue. Dan mungkin, kepercayaannya ke gue juga mulai berkurang. Entahlah, yang jelas sesuatu telah mengubahnya.

Gue ngerti, setiap manusia pasti pernah mengalami fase di mana dari sana kita belajar sesuatu. Fase itu membuat kita mengubah cara pandang tentang suatu hal secara subjektif. Contohnya, gue yang sekarang jadi takut jatuh hati lagi, setelah dikecewain seseorang. Mungkin, gue akan jadi orang yang sulit memberikan kepercayaan. Gue setuju dengan ungkapan, "Jangan mudah percaya dengan orang!" Dan jujur, gue gak tau apakah perubahan gue ini adalah perubahan yang positif atau justru negatif.

Ya, setidaknya itulah yang bisa gue simpulkan dari buku Koala Kumal itu. Memang setiap orang punya hak untuk berubah. Dan setiap orang memang pasti akan berubah. Seiring berjalannya waktu dan pengalaman yang kita dapatkan, masing-masing dari kita akan jadi orang yang berbeda. Belajar dari kesalahan sebelumnya, kemudian menjadi lebih baik untuk berikutnya.
Dan dari sanalah kita melewati fase hidup yang disebut dengan, "menjadi dewasa."

Jatuh dan Bangkit (lagi)

Rabu, 15 April 2015

Kejadian ini terulang lagi padaku:
Menyukai seseorang, menantinya, menerima (dengan senang hati) semua harapan yang dia berikan, mendapat keputusan pahit-begitu pahit hingga aku sulit untuk menangis, menyadarkan diri sendiri-bahwa terlalu bodoh untuk mengharapkan orang yang telah menyia-nyiakan kita, kemudian belajar untuk kembali bangkit-melupakan semua kejadian itu. Berusaha menutup mata, telinga, dan hati, serta menjaga jarak dalam beberapa waktu dari dia. Mengobati luka dan kembali merangkai mimpi-mimpi yang sempat hilang hanya karna kedatangannya dalam hidupku.

Aku ingat, tak sedikit yang mengatakan kalau cinta itu bisa merusak sekolah. Apalagi kalau sampai pacaran. And I think that's true!.

Dan bodohnya, aku mengalaminya lagi.-_-
Yang paling sial adalah, kuketahui bahwa dia menyatakan perasaannya pada teman sekelasnya, ketika aku masih melaksanakan UAS. Aarrgghhhh!!!! Adakah berita yang lebih buruk dari itu?
Saat itu aku masih begitu kaget. Bahkan, butuh beberapa hari untuk menyadarkan diri bahwa "dia sudah punya pacar".

Ada rasa kecewa ketika aku tahu hal itu. Banyak pertanyaan yang muncul dariku, dan aku lebih memilih untuk memendamnya. Toh, aku bukan siapa-siapa dia, kan? Aku cuma seorang anak perempuan (bodoh) yang mau berkorban untuk dia(yang jelas-jelas hanya memanfaatkanku).

Jujur, aku tak habis pikir denganmu. "Apa aku pernah berbuat jahat padamu? Apa aku pernah menyakiti hatimu? kenapa kamu membuat luka padaku? Kenapa kamu memberi harapan setinggi langit, jika pada akhirnya kamu jatuhkan aku begitu saja? Kamu tau? Kamu telah mengecewakan hati seseorang. Dan kurasa, itu juga tak akan penting bagimu."

Oke, kuputuskan untuk menjauhimu dalam beberapa waktu ini. Karena terkadang hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka. Aku ingin berusaha lebih giat lagi untuk kembali merangkai mimpiku. Sama seperti saat ketika aku masih belum terlalu dekat denganmu. Aku ingin benar-benar belajar. Melupakanmu, yang hanya datang untuk menorehkan sakit. Aku ingin kembali bangun. Dari mimpi yang awalnya indah yang kemudian berubah jadi mimpi buruk.

Aku harus bangkit.
Masih banyak yang perlu kuperjuangkan.
Mimpi, sekolah, keluarga, dan hidup.
Tak akan kubiarkan seorang cowok (sepertimu) merusak segalanya.
Aku akan sungguh-sungguh belajar.
Karena, aku tidak mau menjadi seperti dirimu.
"Mengecewakan seseorang, yang sudah menaruh harapan begitu tinggi. Dan tak akan kulewatkan waktu untuk melakukan kesalahan yang sama."

Pelajaran dari 8 April

Sabtu, 11 April 2015

Bismillahirrahmanirrahim...
Jujur, aku sangat berharap ini akan jadi postingan terakhirku tentangmu.

*****

Hari Rabu, tepatnya 8 April 2015. Ketika hari itu aku masih menjalani Ujian Sekolah dan pada hari itu juga aku mendapat berita tentangmu. "Kamu jadian dengan seorang perempuan."

Jujur, bagiku itu sungguh mengejutkan. Butuh beberapa hari untukku meyakini diri sendiri, bahwa kamu benar-benar telah memutuskan untuk kembali menjalin hubungan (dengan orang lain).

Ada tanda tanya besar dalam diriku. "Apa yang membuatmu melakukan itu?  Tak sedikit yang mengira kamu menyukaiku. Bahkan hampir satu kelasku tahu hal itu. Dan kurasa, kamu pun tahu bahwa aku juga punya rasa yang sama. Tapi kenapa? Kamu justru melakukan hal yang sungguh diluar dugaanku."

Oke~
Cukup sakit, memang. Aku bahkan tak ingin mengingat hal ini lagi. Tapi, jika tidak ditulis dalam blog, aku selalu merasa tidak lega. Aku butuh ketenangan. Dan inilah salah satu caraku.
Btw, aku juga sangat berterima kasih dengan semua teman sekelasku. Yang sudah berusaha untuk menyembunyikan hal ini dariku. Whahahahaa......, kalian tak perlu khawatir kalau sekolahku akan terganggu atau aku akan patah hati jika tau dia jadian dengan orang lain. Aku tidak apa-apa. Lagipula, aku sangat bersyukur. Sebelum semuanya jadi lebih rumit, Tuhan telah menunjukkan jalan untukku. Dan aku sangat yakin, ini adalah jalan yang Tuhan pilihkan untukku. Jalan terbaik yang memberitahukan aku, bahwa dia bukanlah sosok yang baik untukku. Tentunya, dalam artian 'pasangan'. Kalau menjadi teman, ku yakin, dia adalah sosok yang baik.

Oh ya, selain itu aku juga belajar satu hal lagi.

Yaitu tentang ikhlas.
Dari semua ini, aku belajar untuk ikhlas. Menghargai keputusanmu yang begitu mengejutkan. Menerima dan menyakini diriku sendiri untuk sadar, bahwa kamu bukanlah orang yang kucari selama ini. Aku juga mulai sadar, ternyata waktu 1 tahun menguntitmu diam-diam tidak akan cukup untuk mengenalmu dengan lebih baik. Bahkan hanya dengan waktu 1 bulan, aku tahu bagaimana sikapmu dengan lebih dekat. Oke, mungkin ini sulit dipahami. Jadi lupakan saja, whahahaa...

Ya, jadi kurasa aku banyak dapat pelajaran darimu. Terima kasih, ya. Paling tidak, sakit yang kamu buat itu bisa membimbingku jadi orang yang lebih baik lagi.

Sebuah Pilihan

Rabu, 01 April 2015

Malam ini, tepatnya beberapa menit yang lalu aku membaca statusmu di BBM.
Aku lupa persisnya bagaimana, tapi intinya adalah "Haruskah, aku memberikan segala perhatianku supaya kamu jatuh cinta?" Ya.. intinya begitu.

Aku tidak tau status itu untuk siapa. Tapi aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri. Ada perasaan dari dalam hatiku yang mengatakan bahwa status itu dimaksudkan untukku?
Sebelumnya maaf, mungkin aku terlalu pede. Tapi, aku juga tidak mau terlalu yakin. Aku ragu.

Jika memang status itu untukku, silakan kamu baca postingan ini hingga selesai. Tapi jika status itu bukan untukku, maka lebih baik kamu tutup saja website ini. Whahaha... karna akan sangat memalukan kalau membiarkan kamu membaca postingan ini hingga selesai.

*****

Oke, kalau kamu berpikir seperti itu, kamu salah besar!
SANGAT BESAR!!!

Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tidak menyukaimu?
Aku cuek? Pendiam? Atau apa?
Apa kamu tidak bisa melihat lebih jelas lagi?
Setiap malam kita chattingan (yang jujur saja, rasanya topik obrolan kita itu-itu saja), kucoba untuk memberi perhatian dengan menanyakan 'shalatmu', 'makanmu', dan kebiasaan burukmu 'begadang' itu. Entahlah, apa kamu menganggap hal itu biasa saja?
Tapi bagiku, itu sungguh tidak biasa.

Jujur, aku tidak pernah sedekat ini dengan seorang cowok. Kuaktifkan BBM hanya untuk mengecek apakah hari ini kamu mem-Pingku atau tidak. Mengobrol sepanjang malam hingga aku jadi ikut begadang. Menunggu balasanmu yang cukup lama karna kamu selalu bermain game. Menjawabkan tugas seni budayamu. Melawan rasa ngantukku hanya untuk membantumu mengerjakan soal matematika. Hingga meminta mamaku untuk membuatkan surat izin sekolahmu. Dan masih belum cukupkah itu?

Benar, mungkin aku juga terlalu naif. Pada kenyataannya, aku selalu diam ketika bertemu denganmu. Kamu tau? Saat itulah aku bisa merasakan detak jantungku begitu kencang. Dan yang kamu lakukan? Kamu juga ikut diam. Oke~ mungkin, Tuhan memang membiarkan kita dekat hanya untuk di dunia maya. Sedangkan kenyataannya? Kita justru saling diam dalam keraguan.

Apakah kamu sudah membaca postinganku sebelumnya? Wake up dan Saatnya untuk Berhenti. Postingan itu tentangmu. Dan menuliskan tujuan yang sama. Aku harus bangun dan berhenti untuk bermimpi. Ku coba hal itu. Tapi nyatanya? Hubunganku denganmu justru semakin dekat tiap malamnya. Dan kuharap, ini postingan terakhir tentangmu.

*****

Kamu pernah, gak? Menyukai seseorang secara diam-diam selama 1 tahun lamanya. Memendamnya terus-menerus karna kamu sadar, orang yang kamu suka itu tidak mungkin punya rasa yang sama. Tetapi kemudian, keajaiban terjadi. Ketika kamu akan pindah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ketika itu juga dia datang. Yap! Orang yang kamu idam-idamkan itu akhirnya melihat sosokmu di antara ratusan murid di sekolah. Dia memandangmu begitu lama yang justru hal itu membuatmu jadi gugup setengah mati. Bahkan untuk bernafas pun sulit. Akhirnya, penantianmu yang begitu lama terbayar. Dia yang dulu hanya bisa kamu lihat, berjalan melewatimu dengan begitu acuh, kini melihatmu dengan pandangan yang berbeda.

Tapi bagaimana sekarang? Kenapa waktu yang begitu indah itu datang di saat semuanya akan berakhir. Toh, kamu dan dia juga akan berpisah. Masa depan kita ditentukan di kelas ini. Kelas di mana semuanya jadi terasa begitu manis ketika aku bertemu denganmu. Bisakah kamu bayangkan bagaimana rasa sakitnya?
Penantian diam-diam yang akhirnya terbalas itu, justru datang di waktu yang begitu singkat.
Dan itulah yang aku alami saat ini.
Jujur, kalau aku boleh memilih. Seandainya aku bisa mengatur ulang segala kekacauan ini, aku lebih memilih untuk 'kamu tidak perlu menyukaiku'. Karna pada dasarnya, semua itu akan berakhir sia-sia juga.

Saat ini, aku ingin fokus pada belajarku dulu. Kelas 9 bukan hal yang mudah. Aku pun juga sudah bertekad untuk tidak menyukai siapa pun lagi (pernah kutuliskan di salah satu postingan beberapa bulan lalu). Tapi hal itu gagal, ketika kamu datang di saat aku sudah terlalu lelah berharap.

Bismillahirrahmanirrahim.
Inilah pilihanku.
Untuk beberapa waktu ini, mungkin memang lebih baik kita tidak berhubungan dulu. Bagaimana pun pendidikan lebih penting. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku hanya untuk memikirkanmu. Sedangkan kamu? Aku bahkan ragu, kalau kamu juga memikirkanku seharian. Seperti yang pernah aku lakukan.

Aku ingin sungguh-sungguh belajar. Kembali membanggakan orang tua dan membangun mimpiku yang sempat beberapa kali terkubur.
Hmm.. kalau begini, aku jadi teringat dengan ucapan Ibu Mariyana, guru Bahasa Indonesiaku, beliau berkata, "Nak, ingat! Sebentar lagi UN. Kalian harus sungguh-sungguh. Kalau mau ujian itu, biasanya banyak godaan. Kalian harus bisa bersabar dan jangan sampai terlena."
Dan aku percaya ucapan beliau. Mungkin, inilah maksud godaan itu. Perasaan suka yang malah jadi malapetaka buat nilai-nilai dan belajarku.

Maka dari itu, aku berharap keputusanku ini adalah yang terbaik.
Aminn...

Saatnya Untuk Berhenti

Sabtu, 21 Maret 2015

Aku bingung harus mulai darimana. Hubungan kita terlalu rumit untuk ku mengerti. Yang ku tahu, kita begitu dekat dalam dunia maya. Meskipun pada kenyataannya, kita bertemu seperti dua orang manusia yang saling tak mengenal. Berjalan melewati, sekadar menatap dari jauh, kemudian berpura-pura membuang pandangan. Dan rasanya, aku sudah lelah jika harus begini terus.

Aku mendengar banyak berita tentangmu belakangan ini. Banyak yang bilang, jika kamu menyukaiku. Benarkah? Andai kamu tahu, saat aku mendengar berita itu, sesuatu membuat darahku mengalir begitu deras. Aku tak bisa mengatur nafasku dan rasanya... aku ingin mendengar hal itu berulang kali.

Pada awalnya, aku sangat menerima berita itu dengan senang hati. Aku sangat bersyukur, akhirnya kamu juga punya rasa yang sama denganku. Andai kamu tahu, menjadi penggemar rahasiamu selama 1 tahun membuatku begitu lelah. Dan ketika aku sampai pada titik di mana aku sadar bahwa kamu tak pernah bisa kuraih, justru di saat itulah kamu datang. Bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya?

Kemudian, kita jadi begitu dekat lewat media sosial. Yang pada kenyataannya, hal itu hanya mampu membuatku gembira sesaat. Dunia nyata tak memungkinkan kita untuk jadi lebih dekat. Dan itu membuatku ragu padamu.

Banyak yang bilang, jika kamu begitu menyukaiku? Menceritakan berbagai hal tentangku di kelasmu? Tapi kenapa ketika bertemu, kamu justru jadi sosok yang begitu kaku? Apa memang seperti itukah caramu menyukai seseorang? Aku mengerti, aku juga melakukan hal yang sama. Ketika berpapasan, aku hanya diam dan melewatimu dengan jalan yang ku percepat. Tapi, jangan salah prasangka dulu! Aku tidak menjauhimu. Aku hanya begitu gugup.

Andai kamu tahu...
Kamulah orang pertama yang mengucapkan "nice dream" dengan begitu manis.
Kamulah orang pertama yang mendekatiku dengan perantara media sosial.
Kamulah orang pertama yang membuatku begitu gugup dan mati rasa ketika bertemu. Dan itu sangat jauh berbeda dengan apa yang kita lalui di media sosial.

Awalnya, ku pikir semua ini baik-baik saja. Yang perlu aku lakukan, hanya menikmatinya dan membiarkannya mengalir. Ya, kedekatanku denganmu yang kubiarkan mengalir itu, justru semakin lama semakin tak tentu arah.

Belakangan ini, aku jadi ragu padamu.
Setelah ku pikir-pikir kembali, aku tidak bisa jadi seperti ini. Aku tak bisa hanya sekadar menikmatinya dan membiarkannya mengalir begitu saja. Bagaimana bisa? Aku menikmati setiap kedekatan yang terjalin denganmu jika semakin hari rasa yang ku miliki semakin besar? Aku tak bisa bohong pada diriku sendiri. Obrolan rutin kita setiap malam, membuatku semakin menyukaimu. Tetapi, ketika kita bertemu di sekolah, kita hanya mampu menatap dari jauh dan tak berani mendekat. Oh Tuhan, bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya?! Semuanya jadi berbeda di dunia nyata.
Aku tak bisa membiarkan hubungan ini mengalir begitu saja. Aku yakin, kamu pasti tahu bahwa setiap aliran sungai memiliki arus. Tapi, aku tidak mau jadi orang yang selalu mengikuti arus. Hanya mengalir mengikuti jalannya arus hingga sampai ke muara. Kurasa, seperti itulah hubungan kita saat ini. Bedanya, kita tak pernah sampai ke muara itu. Kita hanya terus mengikuti arah tanpa tahu kemana akhirnya akan bertemu. Dan pada kenyataanya pun, kita tak pernah sampai ke muara itu.
Lama-kelamaan, aku lelah. Terlalu sering mengikuti arus membuatku berkali-kali terbentur batu sungai. Mungkin, saat inilah aku harus menyadari. Jika semuanya dinikmati dan dibiarkan mengalir saja, maka hubungan kita akan begini-begini saja. Dan aku tidak bisa seperti ini. Rasa yang kumiliki, semakin hari semakin besar. Semua itu karna aku terlalu sering mengikuti arus. Kubiarkan kita dekat lewat berbagai cara yang kamu usahakan. Karna aku pun sangat menghargai berbagai hal yang kamu lakukan. Tapi, jika harus seperti ini, aku tidak bisa. Belum lagi, kenyataan yang harus kuhadapi bahwa 2 bulan lagi kita tak akan bertemu lagi. Ya, sepertinya sungai yang kita lalui memiliki percabangan. Dan di saat itulah, mungkin kita akan berpisah. Jujur, mungkin jika saatnya tiba, di mana kita harus berpisah ke arah yang berbeda, di saat itulah aku semakin menyukaimu.

Jadi, aku sudah memutuskan! Aku tidak mau mengikuti arus lagi. Aku bisa berjalan sendiri. Bahkan melawan arus sekalipun. Oke, jika kamu bingung dengan maksudku aku akan memperjelasnya.
Andai kamu tahu, aku sudah menunggu saat seperti ini sejak 1 tahun yang lalu. Saat kamu menyadari ada seseorang yang begitu memperhatikanmu tanpa berani mendekat sama sekali. Tapi sayangnya, saat itu datang ketika kita sudah diujung masa. Di mana sebentar lagi, kita juga akan berpisah. Aarrrggghhhh!!!!!!!!! Itu sangat menjengkelkan.
Aku pun juga semakin ragu padamu. Banyak yang bilang jika kamu menyukaiku, tapi sejauh yang kulihat, kamu tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Hanya mendekat lewat media sosial yang justru membuat kenyataan jadi terlihat semu. Apa itu yang kamu sebut suka? Hanya itu saja yang bisa kamu lakukan? Untuk orang yang telah sekian lama menunggumu, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Mungkin, inilah yang disebut 'digantung'. Tapi, kukira rasanya lebih sakit daripada sebutannya. Lagipula, jika seandainya aku digantung seperti orang yang mau gantung diri, aku lebih baik memilih melepaskan tali itu. Turun dari kursi dan menjauh. Daripada terus berdiri penuh keraguan dan bertanya-tanya dalam hati, "Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku yang berusaha lebih jauh lagi?".

Karena belakangan ini, aku menyadari. Rasa yang kamu sebut suka itu, hanya sementara. Kebahagiaanmu saat chattingan denganku sebenarnya hanyalah sebagai obat untuk mengurangi rasa sakitmu karna patah hati yang terlalu berat. Begitu sakitkah? Hingga aku-orang yang rela menunggumu sejak 1 tahun  silam-hanya menjadi obat untuk mengurangi lukamu. Sedangkan aku? Aku seperti orang bodoh yang selalu menyembuhkan lukamu, padahal aku pun juga sama terlukanya. Kamu bingung, kenapa aku jadi berpikir seperti itu? Karena, kalau kamu memang benar-benar menyukaiku, kamu tidak mungkin membuatku sebimbang ini. Satu hal yang pasti adalah, "Kamu tidak benar bersungguh-sungguh untuk menjalin suatu hubungan denganku. Dan oleh karena itu, kuputuskan untuk berhenti mengejarmu."

Nice Dream... :-D

Sabtu, 14 Maret 2015

Aku terbangun pagi ini. Membuka mata kemudian segera mengambil handphone yang terletak tak jauh dariku. Ku buka aplikasi itu sekali lagi. Membaca obrolan kita yang kemarin, dua hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dan beberapa hari yang lalu.

Sambil terus mendengarkan lagu Taylor Swift feat Ed. Sheeran - Everything has Changed, ku baca berulang-ulang obrolan itu. Yang pada akhirnya membuatku tersenyum beberapa menit, kemudian mengulangnya lagi. Whahahaha....
Sungguh, baru pertama kali aku seperti ini.

Malam tadi, percakapan kita berakhir dengan pesan darimu. Ucapan 'selamat malam' yang biasa, tapi sangat berbeda jika kamu yang menyampaikannya. Kamu tau? Kamulah orang pertama yang mengucapkan kalimat 'Nice dream' dengan begitu manis. Dan karena itu pula, aku tertidur dengan untaian senyum yang terus ada di sepanjang malam.

Kamu tau?
Semua ini seperti mimpi yang begitu indah.
Obrolan kita. Ucapan 'night' dan 'night too' yang sangat sederhana tapi membuatku tidur dengan nyenyaknya. Pandangan mata yang tak sengaja bertemu ketika kamu lewat di depan kelasku. Sosokmu yang selalu kucari di antara ratusan murid di sekolah. Kamu yang akhir-akhir ini lebih sering berjalan melewati kelasku. Dan yang paling tidak bisa aku lupakan, your smile.

I just want to know you better, know you better, know you better..
I just want to know you better, know you better, know you better..
I just want to know you, know you, know you...
(Taylor Swift feat Ed. Sheeran-Everything has Changed)

Aku tidak tau sampai kapan ini akan berlangsung. Dan aku juga tidak peduli. Aku hanya mencoba untuk menikmatinya. Rasa ini. Yang membuat tubuhku seketika lemah jika berhadapan denganmu. Yang membuatku beku tiba-tiba ketika mataku dan matamu bertemu. Yang membuat jantungku berdetak cepat, hingga pikiranku jadi kosong.

Aku sedang menikmati mimpi indah ini. Yang membuatku tidak ingin bangun meski harus terlambat sekolah. Aku akan melewati waktu ini dengan senang hati. Karena belum tentu aku akan melewatinya lagi denganmu. Aku biarkan semuanya mengalir. Berjalan hingga sampai pada titiknya untuk berhenti. Pada persimpangan di mana kita akan berpisah nantinya.
Terima kasih, aku sangat senang telah mengenalmu...♥

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS