Tampilkan postingan dengan label Untuk Seseorang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Untuk Seseorang. Tampilkan semua postingan

Yakin?

Minggu, 10 April 2016



Untuk beberapa saat, aku sempat terdiam di hadapan layar ponselku sendiri. Memang benar katamu, aku sudah jarang menulis lagi. Itu karena aku tidak tau ingin menulis apa di blog ini. Dan ketika aku punya inspirasi pun, aku justru bingung bagaimana harus menuliskannya.
Seperti postingan kali ini. Aku bingung harus  mulai darimana. Semuanya terlihat rumit dan buram. Sempat beberapa kali aku berhenti mengetikkan jari, lalu memikirkan lagi. Apa yang harus aku tulis. Aku juga tidak tau kenapa bisa begini.
Rasanya sudah tak sama lagi.


*****


Yakin?



Itulah pertanyaan terakhirmu yang kuingat. Entahlah.

Saat kubaca pesanmu yang terakhir itu, untuk beberapa detik aku terdiam sejenak. Namun, dengan segera kujawab tanpa pikir panjang lagi.
Ya, rasanya aku sudah tidak ingin memikirkan hal ini (lagi). Aku tidak mau menimbang-nimbang keputusan yang pada akhirnya justru membuatku ragu, kemudian berubah pikiran. Itulah sebabnya, aku segera memutuskan. Ketika kau bertanya apa aku yakin? Sejujurnya, aku juga tidak tau. Tapi yang jelas, untuk saat ini itulah keputusan yang terbaik (menurutku).

Kau tau? Setelah chattingan itu berakhir. Aku hanya diam dan terus membaca ulang obrolan kita. Berulang kali juga aku memikirkan hal itu lagi. Menurutmu, apa keputusanku ini salah? Beberapa kali kutanyakan hal ini pada orang-orang terdekatku. Dan mereka mengatakan hal yang sama. Mereka bilang, apa yang kulakukan ini sudah benar. Dan jujur, itu sedikit membuatku lega.

Maaf, aku tidak tau apa yang kau pikirkan jika membaca postingan ini. Aku juga tidak tau bagaimana reaksimu sebenarnya saat aku bilang, bahwa lebih baik kita tidak lagi chattingan atau apapun itu. Tapi yang jelas, ketika kau kembali menyapaku, saat itu juga ingatanku kembali berputar. Aku ingat saat aku dan sahabatku bertemu dan dia bercerita tentangmu.

"Tik, pacarnya udah tau kalau dia chattingan sama kamu."

Setidaknya, seperti itu yang dikatakan sahabatku. Oke, aku tidak akan bertanya bagaimana responnya terhadapku. Karna sudah sangat jelas, bahwa pacarmu pasti tidak akan menyukai keberadaanku. Terlebih, ketika sahabatku bilang bahwa yang menceritakanku pada pacarmu, adalah kamu sendiri.

Jujur, saat itu aku benar-benar tak bisa berpikir. Aku bingung ingin bicara apa dan harus berbuat apa. Kemudian, setelah terdiam cukup lama. Aku memutuskan pada sahabatku, jika pacarmu kembali bertanya tentangku maka ceritakan saja semuanya. Agar semuanya jelas dan pacarmu tidak salah paham denganku. Dan setelah obrolan itu selesai, aku tidak membahas masalah itu lagi.

Sampai akhirnya kau kembali menyapaku. Jujur saja, aku baru bisa menulis hal ini hari ini karna sejak kemarin aku masih tak percaya dengan keputusan yang kubuat sendiri. Kau datang dan berbasa-basi sejenak. Kemudian melarangku untuk memberitahukan apapun pada sahabatku.

Astaga.
Entahlah. Kurasa kau membuatku berada di situasi yang sulit. Saat itu, kita kembali membahas masalah itu. Kau bilang, kau tak punya tempat untuk curhat itulah sebabnya kau datang padaku. Hmmm.. bolehkah aku mengatakan sesuatu?

Begini, aku mengerti jika kau tak tau harus bercerita pada siapa tentang masalahmu itu. Tapi sadarkah kamu? Dengan kamu curhat padaku, itu sama saja membuat masalah jadi semakin rumit. Kamu bilang, semua akan baik-baik saja selama aku tidak mengatakan tentang ini pada siapa pun. Termasuk pada sahabatku sendiri. Are you seriously? Saat membaca pesan itu, aku sampai melongo saking tak percayanya.

Jujur ya, aku sempat menanyakan hal ini pada beberapa teman SMAku. Dan mereka selalu memberi jawaban yang hampir sama.

"Kamu itu harus berhenti chattingan sama dia, Tik."
"Jangan jadi PHO, Tik."
"Astaga, Atika.."
"Nanti kalo dia chat lagi, jangan dibalas lagi."
"Read aja, Tik."
"Jauhin dia, Tik."
Or something like that.

Ya, mereka semua memberi saran yang sama. Untuk lebih baik aku menjauh saja. Lagipula, kamu bisa cari teman curhat yang lain. Yang bisa memberimu saran lebih baik dari aku. Selain itu, aku juga tidak mau dikira sebagai orang yang mengganggu hubunganmu. Terlebih, saat ini pacarmu sudah tau tentangku.

Jadi, kuharap kamu bisa mengerti. Kenapa aku melakukan hal ini. Dan aku juga sama sekali tidak ada niat untuk memutus tali silahturahmi. Kita masih tetap berteman sama seperti biasanya. Hanya saja, lebih baik kita tak mengobrol lagi. Aku tidak tau sampai kapan seperti ini. Ikuti saja jalannya bagaimana nanti.


Easy Come, Easy Go

Sabtu, 16 Januari 2016

Pagi ini,jam masih menunjukkan pukul 05.26 WITA dan aku baru saja bangun. Segera kuraih ponsel yang ada di dekat bantal kemudian kembali membuka aplikasi LINE. Kubaca obrolan itu sekali lagi, lalu tersenyum.

Entahlah, untuk beberapa minggu terakhir, itulah kegiatan yang pertama kali kulakukan setelah bangun tidur. Mencari ponsel untuk mengecek apakah ada balasanmu, atau bahkan sekedar pesan yang berucapkan "Selamat Pagii"

Tanpa kusadari, kini kamulah orang yg pertama kali kucari di pagi hari.
Tanpa kusadari, kamulah orang yang aku tunggu kabarnya setiap hari.
Tanpa kusadari, aku selalu khawatir jika kamu tidak membalas pesanku.
Tanpa kusadari, aku selalu menanyakan apakah kamu sudah makan hari ini atau belum.
Dan tanpa kusadari, obrolan kita terus mengalir setiap harinya.
Ada banyak hal yang tidak aku sadari. Itu karena aku hanya membiarkannya mengalir begitu saja. Hingga aku baru sadar, kurasa ini sudah terlalu kelewatan.

*****

Aku lupa kapan persisnya semua ini dimulai. Yang jelas, ketika aku menambahkanmu menjadi temanku tak berapa lama setelahnya kulihat satu pesan masuk darimu. "Ini Atika SD lo?" Begitu tanyamu.
Dan kujawab ya. Memang, hampir sudah 3 tahun lebih aku tidak bertemu denganmu. Banyak yang telah berubah padaku. Begitu juga denganmu. Sejenak, aku masih mengingat kejadian-kejadian konyol saat kita SD. Ketika itu, aku memang tidak terlalu akrab denganmu. Jadi tak banyak hal yang kutahu tentangmu.

Untuk menit-menit berikutnya, kita saling bertanya kabar. "Sekolah dimana?", "Apa kabar?", "Liburan kemana?", dan hal lainnya. Selayaknya teman yang sudah lama tidak bertemu, kita memulai obrolan dengan begitu kaku.

Namun, ada satu pertanyaan yang membuatku ragu untuk menanyakannya saat itu. "Kamu masih pacaran sama *** kan?" Tanyaku. Sebenarnya, itu pertanyaan yang tak perlu kutahu jawabannya. Karna dari semua status mereka, aku sudah tidak melihat lagi adanya suatu hubungan. Dan memang itulah yang terjadi.
"Udah lama mah,"
"Kalian udah putus?" Tanyaku lagi.
"Iyaa"

Ups!
Aku sedikit terkejut. Mengingat, cowok yang sedang chattingan denganku ini adalah teman SDku dulu dan cewek yang *** itu adalah sahabatku.
"Maaf ya, aku emang udah jarang komunikasi lagi sama *** jadi nggak tau apa-apa." Terangku.
"Iyoo gpp."

Dan setelah obrolan biasa lainnya, chattingan hari itu pun berakhir.~

*****

Beberapa hari berikutnya, aku membroadcast di BBm tetang lomba yang akan diadakan oleh sekolahku dalam waktu dekat ini. Dan ketika kembali kucek ponselku, kulihat pesanmu masuk lagi. Menanyakan tentang lomba basket dan obrolan itu pun terjadi lagi. Tapi berbeda dengan sebelumnya, kita jadi lebih santai dan seolah telah bertemu setiap hari. Tidak seperti obrolan pertama yang singkat, obrolan hari itu jadi lebih menyenangkan dan berlangsung hingga malam. Bahkan, hingga aku ingin beranjak untuk tidur. Dan akhirnya, malam itu, untuk pertama kalinya, kamu mengucapkan selamat malam.

Paginya, aku langsung membaca obrolan kita yang kemarin. Terdiam sejenak, berfikir, kemudian tersenyum. Entahlah, sekeras apapun aku berfikir bagaimana semua ini terjadi, aku tidak akan pernah menemukan jalan keluarnya.
Sekitar jam 6 an, kulihat satu pesan darimu masuk. "Bangunn bangunn.. wkwk" begitu katamu. Membacanya, aku tiba-tiba tersenyum. Hari itu, untuk ketiga kalinya kita kembali mengobrol seharian.

Dan setelah itu, hari-hari berikutnya, kita terus chattingan. Sampai kemarin. Aku senang. Sesibuk apapun kamu, tetap menyempatkan untuk ngechat aku. Ngasih kabar, kalau kamu lagi super sibuk dan masih sempat-sempatnya ngucapin semalam malam. Entah, yang keberapa kalinya. Dan jujur,,, hal itu membuatku justru merasa....

Ini sudah berlebihan.

Memang, sekarang kamu sekolah di Banjarbaru. Bahkan satu sekolah juga dengan ***. Kamu tau? Ada sedikit harapan muncul ketika kamu bilang, kalau tim basketmu juga akan ikut pertandingan yang diadakan oleh sekolahku. Meskipun itu masih rencana, aku hampir mati kesenangan. Kalau pun benar, aku pasti akan nonton pertandingan itu. PASTI!!

Terkadang, aku sempat mengingat-ingat lagi. Bagaimana kita bisa jadi sedekat ini? Dan kamu tau, ketika kamu memutuskan untuk menelponku, kemudian berlanjut ke vidcall. Malam itu, aku jadi sulit untuk tidur. Entahlah, apa yang membuat kita bisa sedekat ini? Padahal kita tidak pernah bertemu lagi hampir 3 tahun lebih. Saat SD pun kita tidak terlalu akrab. Lalu? Bagaimana kita bisa terus berbagi kabar setiap harinya, padahal tidak ada kewajiban sedikit pun dari kita untuk melakukannya.

Jujur, aku tidak tau apa yang sedang ada dalam fikiranmu saat ini.
Apa pendapatmu tentang kita yang terkadang bisa jadi terasa lebih dari teman?
Apa yang membuatmu mengirimkan pesan "Bangunn bangunn.. wkwk" setiap paginya?
Apa yang membuatmu menyempatkan diri untuk mengucapkan "Good night" pada jam 1 malam, ketika pertandinganmu baru saja selesai?
Apa yang membuatmu menyuruhku untuk segera makan siang, padahal kamu juga sedang sibuk-sibuknya??

Please, apa ini hanya perasaanku saja yang berlebihan? Atau memang kamu yang memperlakukanku secara berlebihan?

Entahlah.
Tapi yang jelas, sekarang kamu mulai membuatku takut.
Aku takut kalau nanti, aku harus bangun tiba-tiba dari semua mimpi ini.
Aku takut, kalau nantinya kamu akan menghilang begitu saja. Sama seperti kedatanganmu yang juga tiba-tiba.

Easy come, easy go.
Sesuatu yang datang dengan mudah, bisa pergi juga dengan mudah. Dan ketika kamu mulai masuk dalam hidupku beberapa minggu terakhir ini, aku merasa tidak ingin kamu pergi lagi.




Akhirnya, Dia Tau...

Sabtu, 24 Oktober 2015

Bismillah...

Aku mulai gugup untuk menulis di blog ini lagi. Ragu, karena kini semua telah berbeda. Dua hari yang lalu tepatnya Jum'at, 23 Oktober 2015. Sesuatu terjadi padaku. Yang membuat segalanya kini berubah dan....
Aku tidak tau ingin menulis apa lagi. Aku takut, jika dia akan membacanya lagi.

*****

23 Oktober,

Aku tak sengaja bertemu dengan sahabatku di suatu tempat yang tak terduga. Kami langsung saling berteriak dan memeluk satu sama lain. Entahlah, aku begitu senang hingga tak bisa mengekspresikannya dengan apapun selain dengan pelukan. Saat itu, kami tak sadar bahwa kami telah berdiri cukup lama dan terus bicara tanpa henti. Ya, memang sudah sangat lama kami tidak bertemu dan Allah mempertemukan aku dengannya hari itu.
Obrolan kami terus mengalir sampai ketika dia mengatakan sesuatu padaku. Dia bilang, "Tik, aku hari ini ngasihin nama blog kamu ke si gamers." Aku sempat terdiam beberapa detik untuk meyakini dengan apa yang telah kudengar. Kemudian, aku menatapnya serius dan langsung berteriak histeris.

Tak lama setelah obrolan itu, aku kembali pulang ke rumah. Ku buka ponselku kemudian ku lihat aplikasi itu sekali lagi. Dan benar saja, dia mem-Pingku.

***

Sungguh, aku benar-benar gugup saat itu. Separuh diriku merasa takut dengan reaksi yang akan kuterima darimu. Tapi, separuh diriku yang lain justru merasa tenang dan lega. Itu karena akhirnya kamu tau semuanya. Ya, semua yang telah aku lakukan dan rasakan di belakangmu.

Di sini, kau akan menemukan diriku yang berbeda. Sangat berbeda. Kau akan melihat sisi lain dariku. Yang tak pernah kau temui di dunia nyata. Apalagi di hadapanmu. Karena ku pastikan jika aku berhadapan denganmu, aku akan diam seribu bahasa.

Selain itu, aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu. Kamu sudah terlalu banyak minta maaf padaku. Sekarang, aku yang ingin bicara panjang lebar padamu.

***

Jujur, aku sama sekali tidak tau apa yang akan kamu pikirkan jika membaca semua postinganku ini. Mungkin, aku akan sangat malu padamu. Tapi, pada kenyataanya aku justru merasa sangat lega. Ternyata memang benar, segala sesuatu itu lebih baik untuk diungkapkan saja. Dan tidak seharusnya dipendam. Namun sayangnya, aku baru menyadari itu sekarang.
Padahal, yang perlu kulakukan padamu adalah mengungkapkan. Dan aku pun akan merasa tenang. Tapi aku tidak melakukan hal itu, dulu.

Aku juga ingin bilang, bahwa tidak seharusnya kamu merasa bersalah. Karena memang kamu tidak salah apa-apa. Semua postingan itu hanya gambaran perasaanku saja. Itu karena aku memang biasa meluapkan semuanya lewat tulisan. Lagipula, aku juga salah. Karena sudah bersikap tak baik padamu, dengan berlaku cuek. Maaf, aku sungguh minta maaf. Bukan maksudku bersikap cuek. Itu karena aku memang bukan tipe orang yang mudah menyampaikan perasaan pada orang lain. Sehingga, aku justru jadi bersikap dingin padamu.

Oh ya, aku juga senang akhirnya aku bisa kembali bicara denganmu. Meski pun hanya lewat media sosial. Banyak yang sudah berubah pada obrolan kita. Dan jujur, sekarang aku bisa jadi lebih terbuka dan apa adanya.

Terima kasih, ya. Kamu sudah ngajarin aku banyak hal. Ngajarin aku untuk bersikap lebih dewasa dan merubah sudut pandangku tentang berbagai hal.
Terima kasih juga karena telah membuatku lebih banyak menulis tentangmu.

Dan, inilah tulisan yang aku buat untukmu. Kamu sudah membuka blogku. Dan jika kamu menyadarinya, kamu akan menemukan banyak tulisan tentang dirimu di sini. Jadi, kuucapkan selamat datang untukmu dan selamat membaca blog ini. :-)

Ungkapan

Kamis, 01 Oktober 2015

Kejadian belakangan ini, cukup menganehkan.
Ku dengar dari sahabatku, kalau kau ingin kembali dekat denganku. Ingin kembali membangun pertemanan yang putus beberapa saat.
Hingga akhirnya, kudapatkan pinmu kembali.

Maaf, jika malam itu aku mengecewakanmu.
Maaf, memang tak seharusnya aku begitu.
Maaf, aku masih sangat egois dan teringat dengan cerita yang dulu.

Sekarang, kau telah berubah.
Menjadi orang yang sangat sibuk. Sangat berbeda dengan yang dulu. Rasanya, begitu lama aku tidak bisa mengamatimu sedekat ini. Dari intensitas keaktifan medsosmu pun bisa kulihat, kau banyak mengalami perubahan.

Maaf, ini bukan waktu yang tepat bagiku untuk kembali dekat denganmu.
Memang, sejak dulu kuimpikan aku bisa menjadi teman bagimu.
Tapi sepertinya, tidak untuk sekarang. Ini bukan waktu yang tepat. Karena setiap kali kulihat percakapan singkat kita, aku masih teringat rasa sakit itu.

Aku tidak mengharapkan agar kamu mengerti. Karna kusadari, kita memang tidak pernah sama. Selalu salah paham. Setiap perkiaraanku tentangmu pun tak pernah selalu tepat. Kau melakukan sesuatu yang tak pernah terkira olehku.

Sekarang, ku pahami bahwa kita memang bukan sepasang. Selalu ada celah yang membatasi. Entah itu oleh manusia, ruang, bahkan waktu. Kita tidak pernah bisa bertemu di waktu yang tepat. Termasuk pula saat ini.

Maaf, jika aku melukaimu.
Maaf, jika aku mengecewakanmu.
Aku pun ingin jadi temanmu. Tapi, luka yang kau buat terlalu sempurna. Hingga perlu waktu lebih lama bagiku untuk sembuh.

Dan terima kasih pula.
Darimu, kutemukan banyak inspirasi untuk berkarya.

Gamers Galau

Selasa, 04 Agustus 2015

Kemarin, kulihat profilmu. Salah satu akun sosial media milikmu, yang menjadi satu-satunya sumber untukku mengetahui semua kabarmu.
Sudah beberapa hari ini aku tidak membuka aplikasi sosial media lagi. Ya, sesuai niatku dari awal. Aku ingin sungguh-sungguh belajar. Menyibukkan diri juga menjadi alternatif lain untuk melupakanmu.

Jujur, aku cukup terkejut melihat statusmu yang kini serba galau. Di akunmu pun, tak kulihat lagi namanya. Dan akhirnya, kusimpulkan satu jawaban: kalian putus.

Awalnya aku tak percaya. Mengingat, usahamu yang begitu keras untuk mempertahankan hubungan kalian. Selain itu, aku juga meyakini dalam hati kalau kamu sungguh menyukai dia. Hingga meskipun kalian jarang bertemu, hubungan kalian akan tetap baik-baik saja.

Oke, dalam postinganku ini aku tidak ingin berkomentar yang aneh-aneh. Jika kamu berpikir kalau aku senang dengan hubungan kalian yang berakhir, kamu salah.

Menurutmu, bagaimana perasaan seseorang yang menyukaimu, jika tau kau tertimpa masalah? Kuakui, kurasakan sedikit sesak itu.

Ketika mengetahui kamu begitu sakit dengan keputusan dia untuk mengakhiri hubungan kalian, begitu banyak kata seandainya yang bermunculan di kepalaku.

Seandainya yang kamu pilih itu aku.
Seandainya perempuan yang beruntung itu aku.
Mungkin ceritanya akan berbeda.
Mungkin, kita bisa belajar di sekolah yang sama. Atau bahkan sekelas.
Mungkin, kita akan bisa bertemu setiap hari.
Tapi sayang, kenyataannya tidak berjalan seperti itu.

Jujur, aku sangat menyesali keputusanmu memilih dia. Bukan karena aku tidak menyukainya atau karena kamu lebih memilih dia dibanding aku, tapi karena aku gak mau kamu juga ngerasain apa yang aku rasain. Berjuang tapi nggak dihargai. Aku tau rasanya. Maka dari itu, aku harap kamu nggak jatuh dilubang yang sama denganku.

Tapi, semuanya diluar kehendakku. Yang sekarang bisa kulakukan, hanya memantau semua statusmu dari layar ponselku. Àku tak cukup berani untuk mengajakmu kembali mengobrol. Karena ku tau, semua itu akan sia-sia saja. Kamu bukan tipe orang yang mudah melupakan seseorang. Apalagi orang yang kamu sukai. Jadi, mungkin lebih baik aku hanya bisa melihatmu dari jauh saja.

Oh ya, selain itu aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu (meskipun aku tau, pesanku ini tidak akan pernah sampai padamu). "Semuanya akan baik-baik saja. Tuhan telah menunjukkan jalanNya padamu. Jika kamu dipisahkan darinya, itu berarti dia bukanlah yang terbaik untukmu. Kamu yakin, kan, dengan kalimat Allah Maha Mengetahui? Maka kamu harus percaya, bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu yang lebih baik untukmu. Percayalah, kamu pasti bisa melewati semuanya. Ini hanya masalah waktu."

Oh ya, btw, postingan ini menceritakan orang yang sama dengan judul jatuh dan bangkit (lagi), pelajaran dari 8 April, nice dream :-D, Wake up!, I'm stalker, dan Untuk Si Gamers. Jadi, untuk kalian yang nggak tau ceritanya, mungkin bisa baca dari postingan terdahulu.

Terima kasih sudah mengunjungi blog saya. :-)

Pelajaran dari 8 April

Sabtu, 11 April 2015

Bismillahirrahmanirrahim...
Jujur, aku sangat berharap ini akan jadi postingan terakhirku tentangmu.

*****

Hari Rabu, tepatnya 8 April 2015. Ketika hari itu aku masih menjalani Ujian Sekolah dan pada hari itu juga aku mendapat berita tentangmu. "Kamu jadian dengan seorang perempuan."

Jujur, bagiku itu sungguh mengejutkan. Butuh beberapa hari untukku meyakini diri sendiri, bahwa kamu benar-benar telah memutuskan untuk kembali menjalin hubungan (dengan orang lain).

Ada tanda tanya besar dalam diriku. "Apa yang membuatmu melakukan itu?  Tak sedikit yang mengira kamu menyukaiku. Bahkan hampir satu kelasku tahu hal itu. Dan kurasa, kamu pun tahu bahwa aku juga punya rasa yang sama. Tapi kenapa? Kamu justru melakukan hal yang sungguh diluar dugaanku."

Oke~
Cukup sakit, memang. Aku bahkan tak ingin mengingat hal ini lagi. Tapi, jika tidak ditulis dalam blog, aku selalu merasa tidak lega. Aku butuh ketenangan. Dan inilah salah satu caraku.
Btw, aku juga sangat berterima kasih dengan semua teman sekelasku. Yang sudah berusaha untuk menyembunyikan hal ini dariku. Whahahahaa......, kalian tak perlu khawatir kalau sekolahku akan terganggu atau aku akan patah hati jika tau dia jadian dengan orang lain. Aku tidak apa-apa. Lagipula, aku sangat bersyukur. Sebelum semuanya jadi lebih rumit, Tuhan telah menunjukkan jalan untukku. Dan aku sangat yakin, ini adalah jalan yang Tuhan pilihkan untukku. Jalan terbaik yang memberitahukan aku, bahwa dia bukanlah sosok yang baik untukku. Tentunya, dalam artian 'pasangan'. Kalau menjadi teman, ku yakin, dia adalah sosok yang baik.

Oh ya, selain itu aku juga belajar satu hal lagi.

Yaitu tentang ikhlas.
Dari semua ini, aku belajar untuk ikhlas. Menghargai keputusanmu yang begitu mengejutkan. Menerima dan menyakini diriku sendiri untuk sadar, bahwa kamu bukanlah orang yang kucari selama ini. Aku juga mulai sadar, ternyata waktu 1 tahun menguntitmu diam-diam tidak akan cukup untuk mengenalmu dengan lebih baik. Bahkan hanya dengan waktu 1 bulan, aku tahu bagaimana sikapmu dengan lebih dekat. Oke, mungkin ini sulit dipahami. Jadi lupakan saja, whahahaa...

Ya, jadi kurasa aku banyak dapat pelajaran darimu. Terima kasih, ya. Paling tidak, sakit yang kamu buat itu bisa membimbingku jadi orang yang lebih baik lagi.

Sebuah Pilihan

Rabu, 01 April 2015

Malam ini, tepatnya beberapa menit yang lalu aku membaca statusmu di BBM.
Aku lupa persisnya bagaimana, tapi intinya adalah "Haruskah, aku memberikan segala perhatianku supaya kamu jatuh cinta?" Ya.. intinya begitu.

Aku tidak tau status itu untuk siapa. Tapi aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri. Ada perasaan dari dalam hatiku yang mengatakan bahwa status itu dimaksudkan untukku?
Sebelumnya maaf, mungkin aku terlalu pede. Tapi, aku juga tidak mau terlalu yakin. Aku ragu.

Jika memang status itu untukku, silakan kamu baca postingan ini hingga selesai. Tapi jika status itu bukan untukku, maka lebih baik kamu tutup saja website ini. Whahaha... karna akan sangat memalukan kalau membiarkan kamu membaca postingan ini hingga selesai.

*****

Oke, kalau kamu berpikir seperti itu, kamu salah besar!
SANGAT BESAR!!!

Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tidak menyukaimu?
Aku cuek? Pendiam? Atau apa?
Apa kamu tidak bisa melihat lebih jelas lagi?
Setiap malam kita chattingan (yang jujur saja, rasanya topik obrolan kita itu-itu saja), kucoba untuk memberi perhatian dengan menanyakan 'shalatmu', 'makanmu', dan kebiasaan burukmu 'begadang' itu. Entahlah, apa kamu menganggap hal itu biasa saja?
Tapi bagiku, itu sungguh tidak biasa.

Jujur, aku tidak pernah sedekat ini dengan seorang cowok. Kuaktifkan BBM hanya untuk mengecek apakah hari ini kamu mem-Pingku atau tidak. Mengobrol sepanjang malam hingga aku jadi ikut begadang. Menunggu balasanmu yang cukup lama karna kamu selalu bermain game. Menjawabkan tugas seni budayamu. Melawan rasa ngantukku hanya untuk membantumu mengerjakan soal matematika. Hingga meminta mamaku untuk membuatkan surat izin sekolahmu. Dan masih belum cukupkah itu?

Benar, mungkin aku juga terlalu naif. Pada kenyataannya, aku selalu diam ketika bertemu denganmu. Kamu tau? Saat itulah aku bisa merasakan detak jantungku begitu kencang. Dan yang kamu lakukan? Kamu juga ikut diam. Oke~ mungkin, Tuhan memang membiarkan kita dekat hanya untuk di dunia maya. Sedangkan kenyataannya? Kita justru saling diam dalam keraguan.

Apakah kamu sudah membaca postinganku sebelumnya? Wake up dan Saatnya untuk Berhenti. Postingan itu tentangmu. Dan menuliskan tujuan yang sama. Aku harus bangun dan berhenti untuk bermimpi. Ku coba hal itu. Tapi nyatanya? Hubunganku denganmu justru semakin dekat tiap malamnya. Dan kuharap, ini postingan terakhir tentangmu.

*****

Kamu pernah, gak? Menyukai seseorang secara diam-diam selama 1 tahun lamanya. Memendamnya terus-menerus karna kamu sadar, orang yang kamu suka itu tidak mungkin punya rasa yang sama. Tetapi kemudian, keajaiban terjadi. Ketika kamu akan pindah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ketika itu juga dia datang. Yap! Orang yang kamu idam-idamkan itu akhirnya melihat sosokmu di antara ratusan murid di sekolah. Dia memandangmu begitu lama yang justru hal itu membuatmu jadi gugup setengah mati. Bahkan untuk bernafas pun sulit. Akhirnya, penantianmu yang begitu lama terbayar. Dia yang dulu hanya bisa kamu lihat, berjalan melewatimu dengan begitu acuh, kini melihatmu dengan pandangan yang berbeda.

Tapi bagaimana sekarang? Kenapa waktu yang begitu indah itu datang di saat semuanya akan berakhir. Toh, kamu dan dia juga akan berpisah. Masa depan kita ditentukan di kelas ini. Kelas di mana semuanya jadi terasa begitu manis ketika aku bertemu denganmu. Bisakah kamu bayangkan bagaimana rasa sakitnya?
Penantian diam-diam yang akhirnya terbalas itu, justru datang di waktu yang begitu singkat.
Dan itulah yang aku alami saat ini.
Jujur, kalau aku boleh memilih. Seandainya aku bisa mengatur ulang segala kekacauan ini, aku lebih memilih untuk 'kamu tidak perlu menyukaiku'. Karna pada dasarnya, semua itu akan berakhir sia-sia juga.

Saat ini, aku ingin fokus pada belajarku dulu. Kelas 9 bukan hal yang mudah. Aku pun juga sudah bertekad untuk tidak menyukai siapa pun lagi (pernah kutuliskan di salah satu postingan beberapa bulan lalu). Tapi hal itu gagal, ketika kamu datang di saat aku sudah terlalu lelah berharap.

Bismillahirrahmanirrahim.
Inilah pilihanku.
Untuk beberapa waktu ini, mungkin memang lebih baik kita tidak berhubungan dulu. Bagaimana pun pendidikan lebih penting. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku hanya untuk memikirkanmu. Sedangkan kamu? Aku bahkan ragu, kalau kamu juga memikirkanku seharian. Seperti yang pernah aku lakukan.

Aku ingin sungguh-sungguh belajar. Kembali membanggakan orang tua dan membangun mimpiku yang sempat beberapa kali terkubur.
Hmm.. kalau begini, aku jadi teringat dengan ucapan Ibu Mariyana, guru Bahasa Indonesiaku, beliau berkata, "Nak, ingat! Sebentar lagi UN. Kalian harus sungguh-sungguh. Kalau mau ujian itu, biasanya banyak godaan. Kalian harus bisa bersabar dan jangan sampai terlena."
Dan aku percaya ucapan beliau. Mungkin, inilah maksud godaan itu. Perasaan suka yang malah jadi malapetaka buat nilai-nilai dan belajarku.

Maka dari itu, aku berharap keputusanku ini adalah yang terbaik.
Aminn...

Saatnya Untuk Berhenti

Sabtu, 21 Maret 2015

Aku bingung harus mulai darimana. Hubungan kita terlalu rumit untuk ku mengerti. Yang ku tahu, kita begitu dekat dalam dunia maya. Meskipun pada kenyataannya, kita bertemu seperti dua orang manusia yang saling tak mengenal. Berjalan melewati, sekadar menatap dari jauh, kemudian berpura-pura membuang pandangan. Dan rasanya, aku sudah lelah jika harus begini terus.

Aku mendengar banyak berita tentangmu belakangan ini. Banyak yang bilang, jika kamu menyukaiku. Benarkah? Andai kamu tahu, saat aku mendengar berita itu, sesuatu membuat darahku mengalir begitu deras. Aku tak bisa mengatur nafasku dan rasanya... aku ingin mendengar hal itu berulang kali.

Pada awalnya, aku sangat menerima berita itu dengan senang hati. Aku sangat bersyukur, akhirnya kamu juga punya rasa yang sama denganku. Andai kamu tahu, menjadi penggemar rahasiamu selama 1 tahun membuatku begitu lelah. Dan ketika aku sampai pada titik di mana aku sadar bahwa kamu tak pernah bisa kuraih, justru di saat itulah kamu datang. Bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya?

Kemudian, kita jadi begitu dekat lewat media sosial. Yang pada kenyataannya, hal itu hanya mampu membuatku gembira sesaat. Dunia nyata tak memungkinkan kita untuk jadi lebih dekat. Dan itu membuatku ragu padamu.

Banyak yang bilang, jika kamu begitu menyukaiku? Menceritakan berbagai hal tentangku di kelasmu? Tapi kenapa ketika bertemu, kamu justru jadi sosok yang begitu kaku? Apa memang seperti itukah caramu menyukai seseorang? Aku mengerti, aku juga melakukan hal yang sama. Ketika berpapasan, aku hanya diam dan melewatimu dengan jalan yang ku percepat. Tapi, jangan salah prasangka dulu! Aku tidak menjauhimu. Aku hanya begitu gugup.

Andai kamu tahu...
Kamulah orang pertama yang mengucapkan "nice dream" dengan begitu manis.
Kamulah orang pertama yang mendekatiku dengan perantara media sosial.
Kamulah orang pertama yang membuatku begitu gugup dan mati rasa ketika bertemu. Dan itu sangat jauh berbeda dengan apa yang kita lalui di media sosial.

Awalnya, ku pikir semua ini baik-baik saja. Yang perlu aku lakukan, hanya menikmatinya dan membiarkannya mengalir. Ya, kedekatanku denganmu yang kubiarkan mengalir itu, justru semakin lama semakin tak tentu arah.

Belakangan ini, aku jadi ragu padamu.
Setelah ku pikir-pikir kembali, aku tidak bisa jadi seperti ini. Aku tak bisa hanya sekadar menikmatinya dan membiarkannya mengalir begitu saja. Bagaimana bisa? Aku menikmati setiap kedekatan yang terjalin denganmu jika semakin hari rasa yang ku miliki semakin besar? Aku tak bisa bohong pada diriku sendiri. Obrolan rutin kita setiap malam, membuatku semakin menyukaimu. Tetapi, ketika kita bertemu di sekolah, kita hanya mampu menatap dari jauh dan tak berani mendekat. Oh Tuhan, bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya?! Semuanya jadi berbeda di dunia nyata.
Aku tak bisa membiarkan hubungan ini mengalir begitu saja. Aku yakin, kamu pasti tahu bahwa setiap aliran sungai memiliki arus. Tapi, aku tidak mau jadi orang yang selalu mengikuti arus. Hanya mengalir mengikuti jalannya arus hingga sampai ke muara. Kurasa, seperti itulah hubungan kita saat ini. Bedanya, kita tak pernah sampai ke muara itu. Kita hanya terus mengikuti arah tanpa tahu kemana akhirnya akan bertemu. Dan pada kenyataanya pun, kita tak pernah sampai ke muara itu.
Lama-kelamaan, aku lelah. Terlalu sering mengikuti arus membuatku berkali-kali terbentur batu sungai. Mungkin, saat inilah aku harus menyadari. Jika semuanya dinikmati dan dibiarkan mengalir saja, maka hubungan kita akan begini-begini saja. Dan aku tidak bisa seperti ini. Rasa yang kumiliki, semakin hari semakin besar. Semua itu karna aku terlalu sering mengikuti arus. Kubiarkan kita dekat lewat berbagai cara yang kamu usahakan. Karna aku pun sangat menghargai berbagai hal yang kamu lakukan. Tapi, jika harus seperti ini, aku tidak bisa. Belum lagi, kenyataan yang harus kuhadapi bahwa 2 bulan lagi kita tak akan bertemu lagi. Ya, sepertinya sungai yang kita lalui memiliki percabangan. Dan di saat itulah, mungkin kita akan berpisah. Jujur, mungkin jika saatnya tiba, di mana kita harus berpisah ke arah yang berbeda, di saat itulah aku semakin menyukaimu.

Jadi, aku sudah memutuskan! Aku tidak mau mengikuti arus lagi. Aku bisa berjalan sendiri. Bahkan melawan arus sekalipun. Oke, jika kamu bingung dengan maksudku aku akan memperjelasnya.
Andai kamu tahu, aku sudah menunggu saat seperti ini sejak 1 tahun yang lalu. Saat kamu menyadari ada seseorang yang begitu memperhatikanmu tanpa berani mendekat sama sekali. Tapi sayangnya, saat itu datang ketika kita sudah diujung masa. Di mana sebentar lagi, kita juga akan berpisah. Aarrrggghhhh!!!!!!!!! Itu sangat menjengkelkan.
Aku pun juga semakin ragu padamu. Banyak yang bilang jika kamu menyukaiku, tapi sejauh yang kulihat, kamu tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Hanya mendekat lewat media sosial yang justru membuat kenyataan jadi terlihat semu. Apa itu yang kamu sebut suka? Hanya itu saja yang bisa kamu lakukan? Untuk orang yang telah sekian lama menunggumu, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Mungkin, inilah yang disebut 'digantung'. Tapi, kukira rasanya lebih sakit daripada sebutannya. Lagipula, jika seandainya aku digantung seperti orang yang mau gantung diri, aku lebih baik memilih melepaskan tali itu. Turun dari kursi dan menjauh. Daripada terus berdiri penuh keraguan dan bertanya-tanya dalam hati, "Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku yang berusaha lebih jauh lagi?".

Karena belakangan ini, aku menyadari. Rasa yang kamu sebut suka itu, hanya sementara. Kebahagiaanmu saat chattingan denganku sebenarnya hanyalah sebagai obat untuk mengurangi rasa sakitmu karna patah hati yang terlalu berat. Begitu sakitkah? Hingga aku-orang yang rela menunggumu sejak 1 tahun  silam-hanya menjadi obat untuk mengurangi lukamu. Sedangkan aku? Aku seperti orang bodoh yang selalu menyembuhkan lukamu, padahal aku pun juga sama terlukanya. Kamu bingung, kenapa aku jadi berpikir seperti itu? Karena, kalau kamu memang benar-benar menyukaiku, kamu tidak mungkin membuatku sebimbang ini. Satu hal yang pasti adalah, "Kamu tidak benar bersungguh-sungguh untuk menjalin suatu hubungan denganku. Dan oleh karena itu, kuputuskan untuk berhenti mengejarmu."

Nice Dream... :-D

Sabtu, 14 Maret 2015

Aku terbangun pagi ini. Membuka mata kemudian segera mengambil handphone yang terletak tak jauh dariku. Ku buka aplikasi itu sekali lagi. Membaca obrolan kita yang kemarin, dua hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dan beberapa hari yang lalu.

Sambil terus mendengarkan lagu Taylor Swift feat Ed. Sheeran - Everything has Changed, ku baca berulang-ulang obrolan itu. Yang pada akhirnya membuatku tersenyum beberapa menit, kemudian mengulangnya lagi. Whahahaha....
Sungguh, baru pertama kali aku seperti ini.

Malam tadi, percakapan kita berakhir dengan pesan darimu. Ucapan 'selamat malam' yang biasa, tapi sangat berbeda jika kamu yang menyampaikannya. Kamu tau? Kamulah orang pertama yang mengucapkan kalimat 'Nice dream' dengan begitu manis. Dan karena itu pula, aku tertidur dengan untaian senyum yang terus ada di sepanjang malam.

Kamu tau?
Semua ini seperti mimpi yang begitu indah.
Obrolan kita. Ucapan 'night' dan 'night too' yang sangat sederhana tapi membuatku tidur dengan nyenyaknya. Pandangan mata yang tak sengaja bertemu ketika kamu lewat di depan kelasku. Sosokmu yang selalu kucari di antara ratusan murid di sekolah. Kamu yang akhir-akhir ini lebih sering berjalan melewati kelasku. Dan yang paling tidak bisa aku lupakan, your smile.

I just want to know you better, know you better, know you better..
I just want to know you better, know you better, know you better..
I just want to know you, know you, know you...
(Taylor Swift feat Ed. Sheeran-Everything has Changed)

Aku tidak tau sampai kapan ini akan berlangsung. Dan aku juga tidak peduli. Aku hanya mencoba untuk menikmatinya. Rasa ini. Yang membuat tubuhku seketika lemah jika berhadapan denganmu. Yang membuatku beku tiba-tiba ketika mataku dan matamu bertemu. Yang membuat jantungku berdetak cepat, hingga pikiranku jadi kosong.

Aku sedang menikmati mimpi indah ini. Yang membuatku tidak ingin bangun meski harus terlambat sekolah. Aku akan melewati waktu ini dengan senang hati. Karena belum tentu aku akan melewatinya lagi denganmu. Aku biarkan semuanya mengalir. Berjalan hingga sampai pada titiknya untuk berhenti. Pada persimpangan di mana kita akan berpisah nantinya.
Terima kasih, aku sangat senang telah mengenalmu...♥

Give up in the same time.. yeah..

Jumat, 27 Februari 2015

Kamu menyerah.
Maka aku pun juga akan melakukan hal yang sama.
Kamu terlalu sering mengingat dia.
Hingga hampir tak ada celah untukku masuk.
Kamu terlalu dingin dan datar.
Membuatku tergelincir dan jatuh berulang kali.
Dan dengan bodohnya, berkali-kali pula aku bangkit.

Kamu benar.
Semuanya berakhir selalu dengan ending yang sama.
Sakit hati. Pahit. Asam. Asin. Manis.
Rasanya tercampur dan bikin pusing.
Itulah yang aku alami saat ini.
Lebih dari itu, aku hancur karnamu.

Tanpa Kamu Tahu...

Kamis, 26 Februari 2015

Tanpa kamu tahu, aku sudah mencarimu sejak lama.
Menatapmu dari sudut terkecil di antara banyak murid lainnya. Mendengarmu dari sekian banyak berita yang ada. Mengetahui dengan berat hati, ternyata kamu telah menjatuhkan hati pada seseorang. Teman sekelasmu.

Saat itu aku hanya diam. Memandangmu dan dia yang selalu bersama. Sekilas, melihat kalian berjalan beriringan dan aku hanya mampu berdiri seperti patung. Kalian tertawa. Tersenyum. Terlihat begitu bahagia. Saat itu, melihatmu, memandangmu dari jauh, mendengar berita tentangmu, adalah hal yang harus kuhindari. Tanpa kamu tahu, aku berucap dalam hati, "Cukup! Aku sudah lelah. Sudah sangat lelah. Aku akan berhenti. Aku tidak akan jadi Secret Admirernya lagi."

Setelah itu, tak ada lagi tentangmu. Kamu menghilang sama seperti sebelum kita mengenal. Meskipun kulihat kalian selalu bersama, meskipun masih ada rasa canggung dalam diriku, meskipun kamu tak pernah menengok padaku sedikit pun, aku sudah tidak peduli lagi! Yang ku tahu saat itu, aku sudah lelah dan inilah waktunya untukku berhenti. Berhenti memata-matai semua aktivitasmu di sosial media. Berhenti melihat kedekatanmu dengan dia yang jika kulihat, justru hanya membuat nafasku sesak. Berhenti mendengar semua tentangmu seakan berpura-pura menutup mata, telinga, dan hatiku.




Dalam beberapa waktu, aku bebas...






Beberapa waktu, kubiarkan hatiku terbuka untuk siapa pun. Dan aku benar-benar lupa segala tentangmu.

Sampai saat ini datang.

Ketika kita kembali bertemu dengan cara yang sama.
Ketika kamu sudah menjadi sama sepertiku tetapi masih suka mengais masa lalu.
Ketika keadaan memaksa kita jadi semakin dekat.
Hingga kemudian ku dengar berita, kamu berusaha mendekatiku. Dan (bodohnya), aku tidak pernah peka.!

Jujur, aku bingung.
Tuhan telah membuat duniaku benar-benar terbalik!
Ketika aku sampai pada titik terlelahku untuk menunggu, justru kini kamu yang berbalik. Datang. Mengajakku mengobrol. Dekat. Hingga akhirnya kuputuskan hubungan beberapa saat. (Ya.. itu karna aku ingin fokus belajar dulu.)

Aku tau.
Aku memang terlalu egois.
Menjauhimu tiba-tiba, justru di saat kita begitu dekat.
Menghindar darimu, padahal (bersamamu) adalah hal yang kutunggu sejak dulu.

Dan karena sikapku, kamu pun juga sama menyerahnya.
Kamu juga sama lelahnya sepertiku.
Kamu tidak ingin berharap pada orang yang tak sadar dengan kehadiranmu.
Kamu benar dan salah.
-benar, karena sikapmu adalah akibat dari sikapku yang tak pernah peka.
-salah, karena tanpa kamu tahu, aku sangat peka padamu.

Ada suatu alasan yang tak bisa kutuliskan disini. Terlalu rumit.

Tapi, tanpa kamu tahu, aku masih punya rasa itu.
Tanpa kamu tahu, aku masih jadi stalker setiamu.
Tanpa kamu tahu, aku masih melihatmu dari jauh.
Tanpa kamu tahu, aku masih membuka telingaku untuk mendengar semua berita tentangmu.
Tanpa kamu tahu, aku masih membuka mataku untuk memandangmu, mencari sosokmu, menatapmu melalui sudut terkecil di sekolah.
Tanpa kamu tahu, aku masih mengecek kehadiranmu di sekolah dengan melihatmu saat jam Shalat Dzuhur.
Tanpa kamu tahu, aku masih membicarakanmu dengan seorang teman di kelasku.
Tanpa kamu tahu, aku masih selalu penasaran dengan maksud dari semua DP dan statusmu di BBM.
Tanpa kamu tahu, aku masih jadi Secret Admirermu.

Memang, aku sudah lelah. Terlalu capek, bahkan.
Tapi, tanpa kamu tahu, kebiasaanku masih belum berhenti sepenuhnya.







Apa kamu heran, kenapa aku selalu menyisipkan kalimat 'tanpa kamu tahu'?
Karena, tanpa kamu mengetahui semua itu, aku sudah menyadarinya. Aku sudah tahu, bahwa semua yang kulakukan, apapun itu, kamu juga tidak akan pernah peduli. Ya kan?

Wake up!

Jumat, 20 Februari 2015

Akhirnya semua kembali.
Mimpi indah telah usai. Hingga sudah saatnya untukku bangun.
Cerita pendek ini berakhir dengan ending yang tak jelas.
Seperti berhenti di persimpangan. Dan bingung harus melangkah ke jalan yang mana.
Ragu, buntu, hampa.

Sudah kuduga, kedekatan yang terjadi belakangan ini adalah suatu kesalahan yang tidak sepatutnya untuk diingat. Kesalahan yang tak mungkin dilanjutkan. Dan memang sudah sepantasnya untuk diakhiri.

Begitulah...

Betapa mudahnya semua terjadi. Saling dekat, mengobrol, bercanda, kemudian menjauh, tak menoleh, acuh, bahkan seperti tidak pernah mengenal.

Kedatanganmu yang begitu mudah dan tiba-tiba, juga akan membuatmu pergi dengan mudahnya.

*****


2 Minggu terakhir, aku jadi dekat denganmu. (Kurasa) kita semakin mengenal seiring dengan meningkatnya intensitas kita bertemu atau mengobrol. Ketika itu, aku hampir tak percaya. Bahwa kita bisa jadi sedekat ini. Whahahhaaaha... karna menurutku, kamu termasuk anak yang cuek.

Saat itu, kujalani hari-hari seperti sedang bermimpi. Aku sangat sadar. Jika ini kenyataan, mungkin kenyataan ini akan segera berakhir.

Kamu tau?

Dekat denganmu adalah sesuatu yang 'mustahil' bagiku.

Kamu terlalu sempurna untuk bisa kuraih. Sehingga kalau aku sampai 'menyukaimu', itu merupakan suatu kesalahan yang besar. Dan bodohnya, aku sedang melakukan kesalahan itu.


Maaf. Aku sungguh minta maaf.

Terkadang, perasaan membuat kita jadi lupa diri.

Lupa, pada siapa kita seharusnya menjatuhkan hati.

Lupa, pada siapa orang yang lebih tepat menerimanya.

Lupa, di saat kapan kita harus membiarkannya tumbuh.

Lupa, di saat kapan kita harus membiarkannya layu dan mati karna memang tak sepantasnya rasa itu tumbuh.

Dan lupa, bagaimana cara terbaik untuk mengatasi perasaan tersebut.

Dan dengan menyukaimu, aku jadi lupa segalanya.

Wow~

Bisa kamu lihat, betapa hebatnya dirimu? Hanya tersenyum dan menatapku, itu sudah membuat jantungku berdetak jadi sangat cepat. Apalagi ketika kita berhadapan dalam jarak yang dekat, (jika aku tidak punya tulang betis yang cukup kuat, mungkin aku sudah lumpuh seketika).

Apa semua itu terlihat berlebihan? Tapi itulah yang terjadi.

Belum lagi, tentang obrolan kita di BBM. Kalau kuperhatikan, aku jadi terlihat begitu bodoh di depanmu. Whahahaa... Sangat bodoh!

*****


Seperti itulah waktu 2 minggu kita lewati. Sampai kusadari satu hal, bahwa 'aku harus berhati-hati' padamu. Yap! Ketika 'chattingan' denganmu, selalu kubisikkan pada diriku sendiri, "Sadar, Tik. Semua ini akan segera berakhir. Tunggu tgl 28 dan semuanya akan berhenti." Atau "Jangan biarkan rasa itu tumbuh! Menunggunya untuk menyukaimu balik, adalah mimpi yang terlalu kamu harapkan jadi nyata." Atau "Sabar.. sabar.. semua ini cuma sementara. Mimpi indah ini akan segera berakhir. Kamu akan terbangun dan mendapati dia berjalan melewatimu tanpa menoleh sedikit pun."


Dan karena itulah, ku putuskan untuk berhenti berkomunikasi lewat BBM denganmu. Aku tidak ingin rasa yang kumiliki semakin tumbuh subur. Sementara harus kuakui (dengan berat hati), bahwa kedekatanku denganmu hanya suatu kebetulan yang terlalu disengajakan.




Ku coba untuk mengikuti kutipan di atas.
Ku coba untuk menyembunyikan rasa itu dengan berbagai cara yang mungkin bisa kulakukan.
Karena aku (sangat) sadar, kamu tidak mungkin punya rasa yang sama.
Dan menunggunya, adalah hal yang menyakitkan.

I'm your stalker...

Rabu, 18 Februari 2015

Orang yang sama dengan judul yang hampir sama juga.
Saat itu, aku masih bukan siapa-siapamu (bahkan sampai saat ini).
Hari itu, aku baru pertama kali mengenalmu. Di kantor guru dan dipertemukan dalam satu ajang lomba yang sama. Satu kata yang menggambarkan dirimu waktu itu, acuh.

Kamu berjalan melewatiku begitu saja. Bahkan tidak menatapku. Ya, aku mengerti. Saat itu kita belum saling kenal. Dan jujur saja, hari itu aku baru pertama kali menemukan sosokmu di antara ratusan siswa di sekolah.

Setelah lomba berakhir, segera ku sadarkan diriku. Bahwa semuanya juga akan berakhir. Pertemuan tak sengaja kita di kantor guru, bukanlah suatu rencana Tuhan. Hanya kebetulan yang membuatku terlalu ingin mengenalmu. Pada kenyataannya, sesudah lomba, kita menjalani hidup kembali seperti sebelumnya. Saling tak sapa dan hanya 'sekadar tahu nama' saja.
Ditambah, ketika tersebar berita kalau kamu punya pacar. Sejak itu juga, aku berhenti memata-matai semua aktivitasmu di media sosial.

Tapi bagaimana dengan sekarang?

Hubunganmu sudah berakhir dan kamu selalu jadi orang yang gagal move on.
Beberapa bulan kemudian, kita dipertemukan kembali dalam ajang lomba. Dan (entah suatu kebetulan atau memang rencana Tuhan) kita bekerja sama dalam satu kelompok cerdas cermat.

Oke, awalnya aku agak gugup. Tapi aku berusaha untuk tetap tenang dan bersikap biasa saja.
Lomba itu diadakan hari Minggu dan semuanya berjalan lancar. Ya, syukurlah, kita bisa memperoleh juara 3. Suatu kebanggaan untukku di kelas 9 ini kembali memperoleh prestasi. Kamu juga merasa begitu, kan?

Ketika lomba sudah berakhir, (sama seperti sebelumnya) ku sadari bahwa ini suatu kebetulan yang akan segera berakhir. Duduk sebangku denganmu dalam waktu 2 jam membuatku merasa jadi orang paling aneh di dunia.
Ketika mengerjakan test  pertama - di saat peserta lain mengerjakan soal dengan serius - kita justru tertawa santai dan mengobrol. Whahahahaha.... itu adalah kelompok teraneh yang pernah kuikuti. Apalagi, saat TM sehari sebelumnya, aku sempat salah menuliskan nama anggota kelompok kita pada formulir pendaftaran. -_-"

Lombanya memang sudah selesai. TAPI, hadiahnya belum diserahkan. Dan itulah yang menjadi awal semua ini dimulai...

Beberapa hari setelah lomba, kuputuskan untuk meminta PIN BBmu. Karna itulah cara satu-satunya yang bisa kulakukan jika aku sudah dihubungi pihak panitia untuk menerima hadiahnya. Tapi, di luar dugaanku, sesuatu terjadi.

Sekarang, kita justru sering chattingan tentang banyak hal.
Beberapa kali, sempat kutemukan sorot matamu mengarah padaku saat jam istirahat di sekolah.
Rasa gugup itu, (entah kenapa) kembali muncul ketika kamu menghampiriku hanya untuk sekadar bertanya tentang hadiah lomba itu.
Ditambah, dengan sikap konyolku yang selalu saja menabrak benda apapun di depanku ketika aku tau bahwa kamu memperhatikanku. Jujur, aku sangat canggung dan malu. Bahkan ku pikir, mungkin kamu sudah menganggapku jadi cewek paling aneh dan gak jelas yang pernah kamu kenal. Yap! That's me.

Semua ini,
Aku selalu bingung jika memikirkannya. Tapi ketika mengingatmu aku malah tersenyum lalu tertawa aneh. Whahahaha.. aku juga tidak mengerti. Akhir-akhir ini sikapku sering berubah-ubah.

Terkadang aku mencoba mengingat lagi.
Bagaimana bisa? Kamu - salah satu cowok paling cuek yang pernah ku kenal - dan aku menjadi sedekat ini.
Dulu, aku tak pernah membayangkan hal ini terjadi. Jangankan membayangkan, memikirkannya pun tidak pernah.
Selalu terpasang di otakku bahwa kamu adalah orang (yang termasuk dalam golongan cowok-cowok keren di sekolah) dan sangat mustahil jika aku bisa bergaul denganmu. Ya kan?

Tapi nyatanya?
Baru tadi malam, kita chattingan lagi.
Whahahahaha.. aku tidak tau ini adalah kebetulan atau memang rencana Tuhan. Yang jelas, aku masih merasa seperti mimpi.

Dan yang kutahu, aku selalu merasa senang jika mengobrol denganmu (lewat BBM).
Mungkin, aku memang terlalu naif. Hingga tak berani untuk bicara secara langsung denganmu. Kenapa bisa begitu? Ya, karna aku terlalu gugup. Apa kamu juga bisa merasakan detakkan yang sama? Ketika kita berdiri dan saling berhadapan. Kemudian hanya tersenyum dan diam. Semua itu terjadi karna aku terlalu canggung.

Yang jadi pertanyaanku saat ini adalah, "Kenapa semua itu bisa terjadi? Rasa gugup, canggung, detak jantung yang jadi lebih cepat? Kenapa semua itu tiba-tiba datang, padahal kamu cuma menatapku atau hanya sekadar menyapa?"

Untuk Si Gamers

Minggu, 08 Februari 2015

Apa kamu berfikir bahwa aku terlalu cuek?
Apa menurutmu aku terlalu naif?
Aku juga tidak mengerti.
Yang jelas, beberapa jam yang lalu kamu memasang DP BBM (yang jujur saja) membuatku ke-GEERan. Dan beberapa menit berikutnya, kamu menulis status yang membuatku seperti terhempas dengan ombak yang kuat.

*****

Maaf, jika kamu mengira demikian.
Aku tidak bermaksud cuek. Aku hanya tak berani.
Terlalu takut untukku yakin, bahwa setiap status yang kamu maksud itu adalah AKU.
Aku ragu untuk mengakui bahwa AKUlah orangnya. Jadi kuputuskan untuk tetap bersikap biasa saja.
Aku hanya tidak ingin terlalu berharap. Yang ujung-ujungnya juga akan berakhir dengan patah hati.
Whahahaha... kau tau? Aku sudah terlalu kenyang dengan hal itu.

Andai kamu juga tahu,
Salah satu alasanku untuk menghindar darimu itu adalah karena aku terlalu gugup.
Jujur, setelah hampir 2,5 tahun sekolah SMP, baru kamu yang (ku tahui 'dengan agak ragu') suka padaku. Ya.. maklum saja, kan, kalau aku tiba-tiba jadi bersikap canggung.
Selain itu, dari seorang teman ku dapat informasi kalau kamu ketahuan tengah melihat ke arahku saat kita sedang akan shalat Dzuhur berjamaah. Benarkah?

Aku juga tidak tau, apakah aku suka padamu atau tidak.
Pada kenyataannya, aku selalu gugup jika berhadapan denganmu. Sampai menatap matamu saja(hanya untuk sekadar mengobrol) aku pun tak berani.
Ketika tau kau masuk ke kelasku, kurasakan jantungku berdetak lebih cepat. Tanganku seakan gemetar dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Lalu aku berjalan keluar kelas dengan alasan 'mengumpul tugas makalah'.
Kemudian, status-statusmu di BBM itu membuatku keGeeran. Whahaha.. maaf ya, apakah salah jika aku mengira bahwa orang yang kamu maksud itu AKU?
Terkadang aku berfikir, "Siapa orang itu? Yang kamu bilang gak PEKA dan so beautiful?" Sekejap, kurasakan dadaku kembali sesak dan (entah dapat ilham darimana) terbesit dalam pikiran kalau ORANG YANG KAMU MAKSUDKAN ITU AKU.
Tapi kemudian aku mengelak, "Masa iya itu aku? Tapi kan, temannya yang berkelamin perempuan itu gak cuma aku. Mungkin aja orang lain. Lagipula, kalau pun itu aku, kayaknya mustahil deh, aku jadi orang yang beautiful. Secara gitu, aku ini anaknya labil banget. Alay, terus narsis lagi. -_- kalau dibandingin sama mantannya, itu kayak pizza sama pecel. Iya, mantannya itu pizza dan aku pecelnya. .-. Jadi rasanya agak mustahil kalau status itu untukku".

*****

Dan sekarang, apa status barumu di BBM itu benar? Menjauh saja, karna aku terlalu cuek?
Ya.. aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah hakmu untuk dekat ataupun menjauh dari siapa saja. Yang jelas, kuharap itu keputusan yang baik. Aku pun juga akan mencoba untuk (tetap) bersikap tenang. Yang pada dasarnya, semua ini semakin membuatku bingung.

One hour ago...

Jumat, 09 Januari 2015

Untuk kesekian kalinya aku mendengus kesal.
Mengepal-ngepalkan tangan di depan layar handphone dengan tatapan muram.
Ku cek aplikasi facebook berulang-ulang, namun namamu hanya terpampang dengan iringan kata, '1 jam yang lalu'
Kenapa sih? Aku terasa sangat sulit menghubungimu.
Kenapa? Rasanya terlalu berat jika aku mengirimkan pesan lebih dulu padamu.
Kenapa? Kamu seakan cuek dan tak pernah peduli.
Kenapa? Selalu ada jarak yang membatasi kita.
Kenapa? Aku sangat gugup padamu.
Kenapa? Kamu terlihat seperti tak ingin berteman denganku lagi.
Kenapa? Apa kamu sudah melupakanku? Apa kamu benar-benar lupa? Semudah itukah?
Tapi, tidak ada yang lebih fatal dari ini: Kenapa kau berubah? Sementara aku sudah mulai ada rasa padamu.

*****

Kamu..
Kamu sudah membuatku jatuh lagi. Entah yang keberapa kalinya. Tapi kali ini, aku begitu sulit bangun. Setiap hari, bahkan setiap waktu, pikiranku terus mengarah padamu. Sesekali, tanpa sadar kunyanyikan sebuah lagu yang mengingatkanku padamu. Oh Tuhan, aku seperti orang gila saja! Mengecek hp berulang kali hanya untuk melihat fotomu. Tersenyum begitu lebar dan tertawa lucu ketika mengingatmu. Dan sepertinya, aku memang sudah gila.
Gila padamu!

Aku tidak tau.
Mungkin, ini akan berakhir sama seperti dulu. Perasaan yang tanpa ada balasan. Sebuah rasa yang tiba-tiba muncul kemudian hilang. Kemudian muncul lagi. Ya, seperti itulah perasaanku padamu.
Bagaimana dengamu? Kamu memang selalu bersikap baik. Ramah dan sangat romantis (itu menurutku).  Tapi di satu sisi, ku tebak, kamu sudah tidak peduli.

Dari sikapmu, aku sudah bisa menyimpulan, kamu memang sudah tidak peduli.
(Ku pikir, aku tidak cukup bodoh untuk menyadarinya)
Sikapmu itu. Mungkin hanya sekadar untuk menghargaiku. Ku akui, aku sangat berterima kasih.

Dan sekarang, apa yang akan aku lakukan?
Ku coba untuk melupakanmu juga. Kuharap, aku bisa~

Obrolan itu...

Minggu, 28 Desember 2014

Jam sudah menunjukkan pukul 22. 23 dan mataku masih tak dapat terpejam.
Pikiranku terus bekerja, terus mengarah padamu.
Bahkan, dinginnya hujan malam ini tak dapat menidurkanku.
Sikapmu dingin dan membingungkan.
Membuatku jadi beku dan tidak bisa merasakan apapun.

Kau tau? Aku sudah mati rasa~

*****

Malam sudah begitu larut dan aku masih tidak terlelap.
Entah kenapa, aku tidak bisa tidur.
Pikiranku terus mengarah pada seseorang yang mungkin sudah tidur di rumahnya.
Hatiku sepertinya sudah buntu.
Aku tidak tau harus bagaimana lagi.

Aku hanya ingin memulai pertemanan.
Mencoba akrab dan ramah.
Tapi, diluar kemauan, kamu justru berubah.

Jujur, aku tidak mengerti dengan teka-tekimu.
Anehnya kamu, yang bersikap ramah dan dingin secara bersamaan.
Membuat sebagian diriku berpikir, oh.., kamu masih sama seperti dulu. Pede banget! Masih humoris dan.. lucu!
Tapi tidak bisa kupungkiri, sebagian diriku lainnya justru berpikir, Ada apa denganmu? Apa kamu begitu sibuk hingga tidak bisa istirahat sejenak? Ayolah, ini liburan. Kita hanya punya waktu 1 minggu untuk bersantai sebelum pertarungan benar-benar dimulai.

*****

Aku sedang bermimpi atau bagaimana?
Aku sulit berpikir jernih.
Otakku hanya dipenuhi oleh gumpalan pertanyaan yang menyesakkan.

Kenapa selalu aku yang memulai pertemanan?
Apa itu artinya kamu memang tidak pernah mengingatku?
Apa itu artinya kamu memang sudah tidak peduli?
Tapi kenapa? Kenapa jika sudah mengobrol, justru kamu yang banyak bicara?
Apa kamu terlalu sibuk? Jika iya, aku minta maaf. Mungkin, aku memang sering mengganggumu. Maaf.
Lalu, bagaimana dengan pesanmu? Benarkah semua itu hanya candaan? Kamu sadar? Candaanmu itu membuatku mabuk dan pingsan!
Tapi bagaimana setelah obrolan itu? Kamu tidak membalasnya. Dan tidak ada kata perpisahan.
Pesanku hanya menggantung tanpa ada jawaban.
Ku tunggu... dan terus menunggu.
Tapi tak ada jawabanmu.

Keesokan harinya, kita kembali mengobrol. Menceritakan hal baru seakan tak terjadi apapun.
Seperti biasa, aku yang memulainya. Kemudian, kamu terus banyak bicara.
Kuhargai itu. Bagaimana pun caramu berkomunikasi, aku menyukainya.
Aku senang.

Sama seperti kemarin, kalimatku jadi menggantung tanpa ada balasan.
Membuat teka-teki dalam hati, "Sebenarnya ada apa denganmu? Kamu begitu dingin pada awalnya, lalu jadi ramah, kemudian menghilang."
Kamu...
Seperti angin!

*****

Ada satu pertanyaan besar dalam diriku. "Apa kamu sudah tidak mau berteman denganku lagi? Hingga berpura-pura baik atau bagaimana?"

Aku tak tau harus berbuat apa.
Seseorang menyarankanku untuk tidak memulainya lagi.
Obrolan itu.
Yang selalu ku mulai setiap habis shalat Dzuhur. Dan berhenti saat Shalat Ashar.
Kamu.. yang dingin dan ramah dalam waktu yang sama.
Aku ingin tau, apa reaksimu?
Tetap dingin? Atau mencoba memulainya?

Berhenti Bernafas...

Kamis, 25 Desember 2014

Sedih itu, ketika kita tahu bahwa 'dia' tidak peduli lagi.

~·~·~·~·~

Ku pejamkan mata.
Berhenti bernafas dan menahannya beberapa menit.
Andai saja, melupakanmu bisa semudah berhenti bernafas.
Aku rela, untuk tidak bernafas selamanya...

*****

Betapa hebatnya kamu!
Datang tiba-tiba lalu menghilang tanpa jejak.
Kamu seakan bermain di kepalaku. Bersembunyi di suatu bagian yang tidak ku ketahui. Kemudian muncul dan membuat seluruh sistem sarafku lumpuh seketika.

Kamu...
Yang tersembunyi di relung hati terdalam.
Sekian lama pergi lalu datang dengan wajah yang berbeda.
Membawa setiap kenangan yang pernah kulalui.
Diiringi dengan serpihan kecil kisah yang pernah kita lewati.

Kini, suaramu masih dapat ku dengar. Meskipun sudah 48 jam kita tidak berkomunikasi lagi.
Suaramu terus menggema di telingaku.
Masih jelas terdengar meski ragamu berdiri ribuan kilometer jauhnya dariku.

*****

Ingin sekali aku punya kemampuan 'membaca pikiran orang lain'
Aku ingin tahu, apa yang kamu pikirkan tentangku?
Apa yang kamu rasakan ketika mendengar suaraku?
Apa kamu pernah mengingatku?
Apa yang sedang kamu lakukan?
Apa kamu mengerti setiap maksudku?
Dan banyak pertanyaan lainnya.

Tapi sayang, aku tidak punya kemampuan itu. Jadi yang bisa kulakukan sekarang hanya diam.
Berharap kamu tidak akan berubah dan terus menahan nafas.

"Tolong.. Jangan buat aku ragu padamu..."

Maaf

Maaf...

Cuma itu yang bisa gue bilang.
Satu kata yang benar-benar sulit untuk gue ucapkan.
Satu kata yang memiliki banyak makna.
Satu kata yang menurut orang lain, gak akan bisa menyelesaikan masalah.
Satu kata yang ingin sekali gue ucapkan di depan dia.
Satu kata yang mengartikan sebuah penyesalan.
Penyesalan yang pernah gue lakukan ke dia!
Dan bodohnya, sampai sekarang pun, gue belum mengatakannya.

*****

Gue bingung harus memulai ceritanya darimana. Tapi yang jelas, saat ini gue benar-benar menyesal. Gue tau, kata penyesalan itu gak akan memperbaiki keadaan. Gue juga tau, penyesalan itu selalu datang terlambat.Di saat gue baru tau, betapa baiknya dia sama gue. Dan dengan jahatnya, gue telah membuatnya hancur begitu aja.

Gue benar-benar menyesal. Menyesal atas perilaku buruk gue ke dia. Omongan gue yang terkadang bisa membuat perasaan dia menciut. Atau ejekan yang biasanya gue kasih ke dia.

Menyesal itu memang selalu datang di akhir. Saat gue baru menyadari, betapa spesialnya dia buat gue. Dan di saat itu juga, gue harus menerima kenyataan pahit, kalau gue harus kehilangan dia. Dan selama itu juga, gue belum mengucapkannya. Ya, kata itu!

"Maaf,"

*****

Dulu, 4 tahun yang lalu, tepatnya! Gue sedang kenal sama seorang cowok. Kami duduk sebangku. So, aku jadi dekat sama dia. Menurutku (begitu juga menurut orang lain), dia adalah sosok cowok yang humoris, lucu, baik, dan pintar. Aku sering bercanda, belajar bareng, atau sekedar main saat ada jam kosong. Bahkan, aku pernah kesel sama dia. Ya, begitulah. Apa sih, yang bisa dilakukan anak kelas 4 SD jika mereka sedang berkumpul dengan teman sebaya mereka?

Hari-hari selalu dilewati dengan penuh canda dan tawa. Sampai, saat kami pindah tempat duduk. Kami jadi jarang ngobrol. Dan ketika itu juga, gue dapat informasi, kata temen-temen yang lain, dia suka sama gue.

Saat itu gue gak berfikir yang aneh-aneh. Biasa aja lah. Kalau ada yang suka sama gue, biasanya gue cuma diem dan cuek aja. 'Nanti juga berhenti sendiri.' Itu yang selalu gue fikir.Selama itu gue cuma diam. Gak ngerespon apa-apa. Tapi, ternyata kenyataan jauh beda sama apa yang gue bayangkan. Sempat beberapa kali, gue mergokin dia, lagi senyam-senyum ngelihatin gue. Dan jujur, awalnya gue gak nyaman dengan hal itu. Dan mulai saat itulah, gue sering ngejek dia atau nolak dia di depan temen-temen. Gue benar-benar bimbang saat itu. Gue bingung, dengan apa yang gue lakukan. Terkadang, pernah muncul dalam benak gue sendiri, "Stop, Tika!! Ini sudah keterlaluan! Kamu benar-benar jahat!" Gue gak bisa bohong sama diri gue sendiri, kalau gue juga gak tega ngelihat apa yang gue lakukan ke dia.

Sampai kelas 6, gue pindah sekolah(secara mendadak). Dan itu berarti, gue harus berpisah sama sahabat, temen, dan dia. Jujur, itu membuat gue agak terhenyak.

Kehilangan sahabat secara mendadak itu gak mudah! Gue harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Suasana baru. Banyak orang tak di kenal. Dan belum tentu, dari banyak orang itu cocok sama gue.

Dan setelah itu, dia gak ada kabar lagi. Sesekali, gue pernah chattingan sama dia lewat Facebook. Nanyain kabar, gimana prestasi dia di kelas, dan hal formal lainnya. Jujur, gue merasa seperti dihantui rasa penyesalan. Gue pengen banget minta maaf. Tapi, gue masih belum berani. Gue masih terlalu takut untuk bilang "maaf" ke dia dan mengungkit masa lalu yang kelam itu.

Gue pernah berfikir, kalau di film Cinta Brontosaurus, Bang Raditya Dika punya pendapat, 'Cinta itu bisa kadaluarsa.' Gue hampir setuju dengannya. Gue bahkan punya satu pendapat(yang gue sendiri juga masih ragu), kalau menurut gue 'Maaf itu bisa kadaluarsa'.

Ada secercah rasa malu dan takut di benak gue. Malu, karna harus mengakui kesalahan. Dan takut kalau dia gak mau maafin gue. Gue juga pernah berfikir, "Apakah dia masih ingat sama kejadian itu? Atau bahkan dia sudah lupa? 4 tahun itu bukan waktu yang sebentar. Gue sudah melakukan banyak kesalahan. Dan sampai sekarang, gue belum memperbaikinya. Masih sempatkah gue bilang maaf ke dia? Setelah sekian lamanya. Apakah tahun ini aku tidak bisa memperbaiki semuanya? Apakah karna sudah terlalu lama, hingga waktuku meminta maaf sudah kadaluarsa dan 'maaf' sudah jadi kata yang 'basi' sekarang?"

*****

"Aku minta maaf atas perilaku ku dulu. Aku benar-benar menyesal sekarang. Aku ingin mencoba untuk memperbaiki semuanya. Bisakah kamu berikan aku kesempatan? Kesempatan kedua? Aku harap, kata 'maaf' masih berlaku. Sebelum kata itu kadaluarsa. Dan tak layak pakai lagi."

Ragu

Minggu, 14 Desember 2014

Aku kembali membuka aplikasi blogger.
Menulis. Sesuatu yang sudah jarang ku lakukan akhir-akhir ini. Ya.. begitulah, setumpuk jadwal ulangan dan tugas SKL membuatku pening dan hampir menguasai separuh waktuku 3 bulan terakhir ini. Ditambah sekarang aku jadi miskin inspirasi. Setidaknya seperti itu keadaanku sekarang.

Aku ragu harus mulai darimana. Saat ini, tepatnya detik ini, sesuatu mengganjal pikiranku. Membuat perasaan terasa janggal dan bimbang. Mungkin, ini pengaruh dari PMS. hmm.

*****

Pernahkah kalian merasakan rasa senang dan sedih secara bersamaan? Tersenyum seakan raga mulai ingin melayang tinggi. Beberapa menit kemudian kau ragu, bimbang, bingung, hingga jatuh dan rasa sakitnya itu luar biasa. Pernahkah?
Kurasa, aku mengalaminya sekarang.

Seseorang datang tak terduga dalam mimpiku. Membuatku kaget dan memikirkannya seharian. Kucoba melihat akun media sosialnya dan (seperti yang ku tahu) dia jarang aktif. Sama sepertiku. Aku bahkan lupa, kapan terakhir kali aku membuka akun miliku sendiri. Terakhir, ada pesan masuk di akunku yang berasal darinya. Tertulis tanggal pengiriman 3 Desember 2014 tepatnya 1 minggu (lebih 4 hari) yang lalu.

Tak heran, dia mengirimkan sebuah video. Aku mengenalnya, dia orang yang humoris dan begitu PD. Berbanding terbalik denganku yang aneh dan labil-_-

Setelah itu, aku tak tahu kelanjutannya bagaimana. Sebenarnya aku ingin menceritakan lebih lanjut, tapi (untuk kesekian kalinya) aku ragu.

Aku juga bingung. Entah kenapa belakangan ini hidupku penuh keraguan.

Mengingatmu...

Sabtu, 27 September 2014

Aku tersenyum sendiri. Menatap layar handphone yang saat itu menampilkan foto seseorang.
Aku kembali mengingatnya.
Bualan yang sering dia ucapkan, senyum yang sering ia lukiskan, tatapan diam-diam yang tak sengaja memperhatikanku, dan tingkahnya yang selalu tak pernah ku duga.

Malam ini, aku kembali mengingatnya.
Otakku seperti DVD yang mulai memutarkan kaset-kaset lawas. Berisi cerita penuh makna yang tak ada habisnya.

Aku sangat ingat, ketika kau menelponku. Cukup membuat jantungku berdegup lebih kencang. Dan menurutku, saat itulah aku merasa sangat senang.
Merasa jika kau selalu memperhatikanku kapanpun. Seakan kau selalu memantauku hingga membuatku merasa aman. Apapun bentuknya, aku menyukainya.

Mataku seakan berbinar ketika tatapanku dan sorot matamu bertemu. Walau dalam beberapa detik, itu mampu membuat nafasku sesak. Sedikit senyuman manis kau lontarkan dan aku berpura-pura membuang muka. Hahaha.. itu sangat lucu. Wajah kita saat itu, benar-benar begitu polos.

Apa kau ingat? Ketika pagi menyapaku di sekolah dan kita bertemu di depan tanaman-tanaman yang beberapa hari lalu kita pupuk bersama. Saat itu, kau terlihat gugup. Sambil mengamati beberapa tanaman, kau mengajakku bicara. Mengisahkan tentang bunga mimpimu yang membuatku ingin berulang kali mendengarnya.

Kau ingat? Saat kau bisa mencetak gol untuk kelas kita dan pada beberapa menit berikutnya, kau terluka. Membuatmu beristirahat dan aku hanya duduk tak berani berbuat apa-apa. Masih ingatkah? Itu benar-benar mengesankan (bagiku). Kau menceritakan lelucon yang entah kenapa membuatku tertawa begitu lucu.

Semua itu membuat kesan di hatiku. Kau tau? Aku sangat merindukan waktu-waktu itu. Apa kau pernah mendengar kutipan "Sometimes you miss the memories. Not the person."? Aku tak tau, apa itu terjadi padaku malam ini atau aku memang benar-benar merindukan semuanya.

Tapi, ya, semua itu tetap saja masa lalu. Tak pernah bisa kita tebak, apa akan terjadi lagi pada hari ke depan atau tidak. Aku pun yakin, kau pasti lupa. Ku yakinkan, kau tak akan pernah ingat lagi. Aku sangat yakin.

Kau jadi orang sibuk sekarang. Tak pernah bisa kita berkomunikasi layaknya dulu. Dan kuakui, kau menjadi orang yang lebih baik. Sama seperti dulu.

*****

Andai kau tau. Aku sangat menyesal. Aku benar-benar minta maaf atas perlakuan burukku dulu. Aku sangat jahat padamu. Ya, ku rasa begitu. Sekarang aku lebih dewasa. Mulai mengerti dengan segala hal yang pernah ku perbuat. Dan sepantasnya, aku tak melakukan hal itu padamu.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS