Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen: Musim Panas Elina

Kamis, 23 Februari 2017


pinterest

      Gadis itu menatap lembut awan dan desiran angin yang menggoyangkan dedaunan pohon di hadapannya. Begitu menyenangkan. Dari balik jendela, ia duduk dengan kedua tangan menopang dagu. Indah sekali di luar sana. Andai saja, aku bisa bebas melangkah di rerumputan yang tinggi dan menikmati dinginnya embun pagi hari ini, pikirnya.
      Tanpa ia sadari, seseorang memasuki kamarnya. Seorang lelaki seumuran dengannya. Ia selalu memakai baju putih berkancing dan membawakan senampan makanan berisi nasi–di lain waktu berupa bubur atau sup, lauk-pauk, buah, dan segelas air mineral.
      “Masih menatap langit?” tanyanya.
       Gadis itu berbalik ke arahnya, “Bukan. Aku sedang mencari hujan.”
     Tanpa menghilangkan senyumannya lelaki itu menaikkan salah satu alisnya, “Lalu, kalau tidak ada hujan hari ini bagaimana?”
      “Aku akan tetap menunggu di sini.”
      “Begitukah?” lelaki itu memiringkan sedikit kepalanya, “Apa kau tidak mau keluar menikmati hangat mentari hari ini? Kalau kau mau, aku bisa menemanimu. Tapi, sebelum itu habiskan dulu sarapanmu.”
      “Tidak. Aku tidak akan makan, sebelum hujan turun hari ini.”
     “Wah, sayang sekali. Padahal hari ini sepertinya tidak akan ada hujan. Itu berarti kau tidak akan makan seharian.” ucap lelaki itu yang kini telah duduk di kursi yang berada tak jauh dari tempat si gadis.
      “Kalau memang begitu, biarlah.”
      Lelaki itu terdiam. Ia sedang memikirkan kata apa lagi yang harus diucapkannya agar gadis di hadapannya ini menyuapkan sedikit nasi ke mulutnya. Sudah dua hari gadis ini hanya duduk di depan jendela. Hanya mau minum itupun kalau dipaksa.
      “Siapa namamu?” tanya lelaki itu kemudian.
      “Elina.”
      Sambil berdehem lelaki itu memicingkan kedua matanya.
      “Namaku Adera.”
      “Aku tidak bertanya.” balas si gadis terus menatap jendela.
    “Baiklah, Elina. Aku akan membiarkanmu duduk di sini dan menikmati apa yang sedang kau tunggu. Tapi jika kau berubah pikiran, panggilah aku. Aku akan mengantarkan makanan lagi siang nanti.” Jelas lelaki itu akhirnya setelah hampir lima menit mereka terdiam, “Dokter akan memeriksamu jam 3 sore nanti. Sebelum kunjungan itu, kuingatkan agar kau menghabiskan makanmu. Sebab, jika tidak mereka akan membawa perawat lain untuk memaksamu makan.”
      “Aku mengerti.”

***

      Lelaki itu memandang beberapa lembar kertas di tangannya. Pikiran jauh melayang pada seorang gadis yang tadi pagi ditemuinya. Elina.
     Gadis itu sudah hampir satu bulan tinggal di tempat rehabilitasi di mana ia bekerja saat ini. Dirinya sendiripun hampir dibuat tak percaya saat melihat gadis yang begitu manis dan anggun seperti dia terikat di ranjang atau duduk dengan tatapan kosong menghadap jendela. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin menolong gadis itu. ‘Gadis itu gila. Jangan dengarkan apa yang diucapkannya. Calon suaminya tewas dalam kecelakaan yang mereka alami tepat dua hari sebelum pernikahan mereka. Tragis sekali. Akupun sering kasihan melihatnya. Seharusnya, dia bisa melewati masa sulit itu dan tidak terjebak di tempat ini’ ucap kawan lelaki itu suatu kali padanya.
      Tiba-tiba telepon di ruangannya berdering. Ia segera membuyarkan lamunannya dan meraih ganggang telepon.
      “Dera, cepat ke ruangan Elina. Gadis ini mengamuk lagi!”
      “Baiklah! Aku akan ke sana.”
      Perawat bernama Dera itu, bergegas menuju ruangan si gadis. Di tangannya sudah tersedia sekeranjang kecil suntikan, jarum, dan botol kecil berisi cairan. Ketika masuk ruangan, sudah ada dua orang perawat lelaki yang menahan tangannya dan seorang perawat wanita yang berusaha menenangkannya. Tanpa bertanya, Dera segera menyiapkan suntikan dan menusukkan jarum tajam itu di kulit si gadis. Untuk beberapa menit, napas Elina mulai melambat. Gerakan tubuhnya pun mulai melemah. Matanya perlahan menutup seakan tidak sanggup melawan kekuatan yang menyerangnya. Lalu, mereka kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang.
      “Kita harus mengikatnya agar dia tidak kembali memberontak seperti tadi.” Ucap salah seorang perawat lelaki.
      “Memang, sebelumnya apa yang dia lakukan hingga mengamuk?” tanya Dera.
     “Kau tahu sejak tadi pagi dia hanya memandang jendela dan menunggu hujan. Hingga larut begini, ia tidak juga mendapati apa yang ditunggunya. Maka diapun mengamuk.” Jelas perawat wanita.
      “Kalau begitu, jangan ikat dia dulu. Akan kucoba besok pagi untuk membujuk dan menenangkan pikirannya.”
      Perawat lelaki yang tadi bicara terkekeh, “Sepertinya kau mulai menyukai gadis gila ini, ya?”
      “Apa maksudmu? Aku hanya prihatin melihat keadaannya.”
      “Tak usah bohong. Kalau gadis ini waras, akupun yakin pada diriku sendiri kalau aku akan jatuh cinta padanya. Sayang, dia gila.”
      Dera tidak membalas perkataan temannya. Mereka kemudian keluar dari ruangan dan mengunci pintu kamar.

***


pinterest
     Dera kembali memasuki kamar Elina. Gadis itu sudah duduk di tempat biasanya ia berada. Sepanjang hari hanya dihabiskannya dengan menatap jendela.
      “Mengapa kau selalu menunggu hujan?”
      “Mana makanan yang selalu kau antarkan untukku?”
      “Aku yakin selama kau tidak melihat hujan, kau tidak akan makan sedikitpun.”
      Gadis itu tersenyum pahit.
      “Lalu, mengapa kau selalu menunggu hujan?” tanya Dera lagi.
      “Leon suka sekali dengan hujan. Oleh karena itu, dia hanya akan datang saat hujan.”
     “Oh ya? Hanya karena itu?” Dera diam sejenak, “Kalau dirimu sendiri, sejujurnya apa kau juga menyukai hujan sama seperti Leon?”
      Elina berpikir. Mulutnya ia monyongkan ke depan dan menerawang jauh, “Sebetulnya, tidak juga. Aku sendiri biasa saja. Tapi demi bertemu dengan Leon, aku akan terus menunggunya.”
      “Begini, Elina. Kau tahu tidak, di negara kita ada dua musim. Hujan dan panas. Nah, sekarang ini sedang musim panas. Sebab itulah, jarang sekali hujan turun.” Dera menghentikan ucapannya sebentar, “Kalau kau mau, aku bisa menunjukkan keindahan musim panas padamu. Setidaknya, kau jangan hanya bergantung pada satu musim, kan?”
      Tanpa menunggu jawaban dari Elina, Dera melanjutkan, “Kau tidak boleh menolak. Aku akan mengajakmu ke luar. Aku tahu kau pasti sangat bosan di kamar ini. Lagipula, aku pernah sekali-dua mendengarmu mengeluh betapa indahnya sinar matahari pagi.”
      Dera meraih tangan Elina. Menggiringnya keluar ruangan. Ia sudah minta izin sebelumnya kepada dokter dan perawat lainnya. Tentu, awalnya mereka tidak setuju. Tapi setelah Dera membujuk mereka tiada henti, maka dokterpun mengizinkan. Lebih-lebih, dokterpun merasa Elina perlu sedikit hiburan agar mengurangi tekanan yang dideritanya.
      “Kemana kita akan pergi?”
      “Kita akan piknik di taman.”

***

      Dera memandang foto-foto di tangannya tanpa henti. Sesekali ia tersenyum, lalu menghela napas. Hari itu menjadi hari yang sangat menyenangkan baginya. Entah bagi Elina. Mereka makan di tengah taman yang hangat. Untungnya, Elina mau memakan sandwich dan roti panggang yang sudah ia siapkan dengan lahap. Untuk pertama kalinya, Dera melihat senyum gadis itu kembali merekah. Elina semakin terlihat manis di bawah banjuran sinar matahari di musim panas. Mereka duduk, berfoto, dan Dera membacakan sebuah cerita untuk Elina hingga gadis itupun tertidur beberapa saat. Seakan hari itu Elina telah menjadi gadis yang sangat berbeda dan sehat.
      “Terima kasih untuk caramu mengatasi masalahnya.” Dokter menjabat tangannya penuh sukacita, “Kalau kau melakukan ini dengan rutin, aku yakin Elina akan segera membaik. Oh ya, apa yang kamu katakan padanya ketika kalian berada di taman tadi?”
      “Sebagian hanya omong kosong saja. Aku menceritakan dongeng padanya. Selain itu aku juga berkata, kau boleh saja menunggu hujan. Tapi, setidaknya kau bisa melakukan sesuatu sembari menunggu hujan itu datang. Maka, kuajaklah dia bermain dan piknik di taman.”
      Setelahnya, keadaan Elina berangsur-angsur membaik. Ia memang masih duduk menunggu hujan datang, tapi tak lagi meraung-raung atau menahan lapar sampai ia melihat hujan. Ia bahkan sering berkeliling taman dengan Dera sambil bercerita banyak hal. Musim panas yang dilaluinya tidak lagi kering seperti sebelumnya. Dua bulan yang akan datang, dokter sudah bisa memastikan bahwa Elina bisa pulang dan dirawat di rumah. Betul-betul suatu keajaiban.

***

      Seminggu sebelum kepulangan Elina dari rumah sakit, hujan turun begitu derasnya. Rintik-rintiknya bergemuruh di atas atap. Petir dan kilat menyambar-nyambar silih berganti. Pemanasan global memang mengubah segala sesatu di permukaan bumi ini. Sampai-sampai musimpun dapat berganti-ganti sesuka hati mereka.
      Elina tengah menulis sesuatu di meja kamarnya–bahkan saking pesatnya perkembangan kesehatannya, dokter mengizinkan beberapa barang untuk ia pakai. Setelah selesai menulis, dilipatnya kertas itu kemudian diletakkan di atas meja. Dengan penuh kehati-hatian, ia berjalan ke luar kamar. Ia menghamburkan diri dan membiarkan tubuhnya diguyur hujan penuh dentuman.
      Dengan riang, ia berjalan menuju taman yang gelap.
      “Leon, aku datang.”

***

      Paginya, semua orang di rumah sakit dibuat terperanjat setengah mati. Bahkan, kecoa-kecoa dan tikus-tikus rumah sakitpun melongo dengan apa yang mereka lihat saat itu. Elina ditemukan tergeletak tak berdaya di ujung taman dekat pintu gerbang. Dari tubuhnya menguar bau hujan. Bajunya basah dan kotor dengan bekas-bekas tanah lembab. Di pergelangan tangannya, tergores lubang begitu dalam. Darahnya mengalir kemana-mana, seolah menjadi kubangan tempat ia berbaring dan menunggu. Wajahnya begitu putih dan dingin. Namun ia tersenyum begitu bahagia.

      Terima kasih untuk musim panasnya. Kau mengenalkanku pada musim panas yang indah dan hangat. Aku tidak akan melupakan itu. Tetapi, bagaimanapun hujan akhirnya datang juga. Leon menjemputku dan aku akan tinggal bersama dengannya. Selamanya.
-Elina

      Dera memandang kertas itu dengan tatapan nanar. Jari-jari tangannya amat ringkih menggenggamnya. Bagaimana bisa begini? Kukira, aku sudah bisa menyembuhkanmu. Membuatmu merasa lebih baik. Namun ternyata aku salah. Kau tidak akan pernah benar-benar sembuh, pikirnya.


pinterest

****

Cerpen: PERTEMUAN

Jumat, 23 Desember 2016


pinterest

         Gadis itu berbaring telungkup dengan sebuah guling sebagai sandaran sikunya. Matanya terus menyorot layar bercahaya dari ponsel yang ada di tangannya. Sesekali ia menggunakan ibu jari atau telunjuk untuk menggeser layar ponsel naik dan turun. Hingga tidak terasa sudah berapa kali jarum jam berputar menyedot waktu.
         Tiba-tiba saja, matanya membelalak. Mulutnya menganga luas bak gunung yang ingin memuntahkan lahar. Ia mengepalkan salah satu tangannya lalu dengan suara yang tertahankan, ia berteriak. Sekali lagi ia tatap layar ponselnya yang terus bercahaya itu. Entah apa yang dilihatnya, namun setelah itu ia terus tersenyum sepanjang hari.

***

         “Kamu tahu? Dia menghubungiku lagi.” Ucap gadis itu pada temannya lewat sambungan telepon.
         “Benarkah? Dia bilang apa?”
         Gadis itu diam. Ia hanya tersenyum, sembari mengingat lagi apa yang baru dibacanya 15 menit yang lalu.
         “Astaga, Dea! Kamu bahkan tidak mau cerita?”
         “Bukannya begitu. Dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku.”
         Kini giliran temannya yang tercenung di seberang sana.
         “Mungkin kamu menganggapnya sepele. Tapi bagaimanapun juga, itu berarti bahwa dia masih mengingatku. Dia masih memikirkanku.” Jelas gadis bernama Dea itu lagi. Kali ini ia tidak dapat menyembunyikan suaranya yang begitu melengking.
         “Kamu yakin? Mungkin saja dia tidak sengaja aktif, lalu melihat notifikasi kalau ulang tahunmu hari ini. Lagi pula, ketika seseorang mengucapkan selamat ulang tahun padamu, bukan berarti ia masih memikirkanmu. Mungkin saja saat itu kamu sepintas terlewat di benaknya. Tidak ada arti apa-apa.”
         Mendengar reaksi temannya, Dea mendengus kesal.
         “Tidak mungkin. Aku yakin kalau dia masih ingat padaku dan ulang tahunku.” Tegas Dea. Ia lantas mematikan sambungan telepon secara sepihak.

***

         Dea berjalan malas menuju tempat duduknya. Hari masih sangat pagi untuk murid datang ke sekolah. Namun, ia mengenakan seragam yang begitu rapi telah duduk di kursi dengan tenang. Diam-diam ia mencuri pandang ke kursi yang ada di sebelahnya. Apa anak itu akan masuk hari ini? Itu yang selalu Dea pikirkan. Nyatanya, teman sebangkunya yang bernama Danu itu selalu masuk. Setiap hari, kecuali di hari Minggu. Ia bahkan menjadi salah satu anak rajin dan pandai di kelas. Kebanyakan murid menyukai dirinya, sebab ia begitu humoris dengan candaannya–yang tak jarang justru terlihat aneh dan membosankan–namun tetap mengundang tawa di antara kawan-kawannya. Sayang, itu tidak berlaku pada Dea.
         Ketika guru menyuruhnya untuk duduk sebangku dengan Danu, itulah saat di mana Dea begitu merasa terhukum. Ia benar-benar terganggu dengan watak Danu yang sering bicara–meskipun pada mulanya Danu adalah anak yang pendiam–ditambah dengan sikap kritisnya yang suka mengomentari apa saja yang dilihatnya. Hal itu kerap membuat Dea tak betah berlama-lama duduk di sampingnya.
         Walaupun begitu, seakan tidak peduli dengan perilaku Dea terhadapnya. Danu tetap menyapanya ramah ketika bertemu. Walau kadang ia ragu untuk mengajak Dea bercanda, ia tetap meluapkan lelucon-leluconnya meski akhirnya akan selalu sama: tampang sinis Dea menatap Danu seolah berkata ‘Apanya yang lucu? Dasar aneh!’.
         Tetapi, bagaimanapun dalamnya palung pasti ada dasarnya juga. Begitu pula dengan kesabaran Danu. Kadang kala pabila kering hatinya, ia tidak akan mengganggu Dea. Ia akan mendiamkannya seolah mengungkapkan, ‘Beginilah yang kamu mau, bukan?’. Kalau sudah begitu, Dea sendiri yang akan merasa bersalah dan risih. Bagaimana tidak? Anak lelaki yang biasanya sangat lincah ini tiba-tiba jadi beku serupa patung. Maka, Dea pun akan mencoba mengajaknya bicara. Sedikit demi sedikit. Kemudian, mereka berteman. Lalu, Dea akan kembali kesal. Begitulah, cerita mereka selalu terulang.
         Itu terjadi ketika mereka masih berusia sekitar 10 hingga 12 tahun. Setelah itu, jangankan berkelahi, untuk saling menatap saja mereka tidak bisa. Tepat di usia kedua belas tahun, mereka menempuh jalan hidupnya masing-masing. Kendati mereka masih sempat bertukar kabar beberapa kali. Kini usia mereka sudah lima tahun lebih tua daripada saat mereka berpisah dulu. Waktu yang terlampau lama bagi sebuah kembang untuk mekar dan bersinar. Begitu juga dengan kumbang yang beranjak dewasa.


pinterest
***

         Dea kembali melihat layar ponselnya. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada notifikasi apapun. Tidak ada telepon dari siapapun. Meskipun begitu, ia masih juga tak lelah melirik ponsel itu setiap 3 menit sekali.
         “Kamu beneran mau datang ke sini?” Tanya sebuah pesan masuk di ponselnya.
         “Iya. Mumpung, lagi liburan. Punya waktu dan kesempatan rekreasi keluarga seperti ini kan jarang sekali. Sesampainya aku di sana nanti, kita ketemuan ya. Hehe.”
         “Siap, Boss. Nanti kita ketemuan di kafe favoritku, deh. Udah lama nggak ketemu, pasti kamu banyak berubah, ya.”
         Belum sempat Dea membalas, ada pesan masuk lagi.
         “Pasti makin cantik.”
         Membaca pesan itu, semakin mekarlah bunga-bunga di hati dan pelupuk mata Dea. Senyumnya tak terberai barang sedetikpun. Baginya, dunia sudah nampak indah hanya dengan menatap secara langsung wajah kawan lamanya itu.
         “Atur saja, yang penting kita bisa bertemu. Sampai ketemu nanti, Danu.”

***


pinterest

         Cuaca sore di kota C hari itu sangat mendung. Padahal baru dua jam yang lalu Dea mendarat di kota dengan adat dan budaya yang kental tersebut. Seakan itulah cara alam menyambut kedatangannya yang dulu pernah menetap di tanah mereka. Mobil dengan serbuan rintik hujan yang semakin lama semakin deras, mengantar Dea ke rumah neneknya. Padahal, jikalau boleh berkata jujur. Ada pasal lain yang mendorongnya untuk segera sampai dan menapakkan kaki di ranah bergelombang itu. Yakni rasa yang menggebu di hatinya untuk kembali dan bernostalgia dengan masa kecil. Berdamai dengan masa lalu agar hatinya tenang untuk berpisah sejauh-jauhnya. Mengingat, kepergiannya dulu yang begitu lekas. Bahkan, tanpa menyisakan jejak untuk para pengenangnya.
         “Pa, nanti aku berhenti di kafe A, ya. Pulangnya bareng teman aja. Sebentar aja, kok, ketemuannya.”
         “Kamu yakin? Nggak mau mampir dulu ke rumah? Ketemu nenek?”
         “Nggak, Pa. Sebentar aja, kok. Lagi pula, kata temanku di dekat kafe ada toko souvenir gitu. Jadi aku mau beliin nenek sesuatu.” Dalih Dea pada Papanya. Sudah hapal betul olehnya, tabiat sang Nenek yang suka dengannya sebab materi yang selalu ia suguhkan. Tanpa itu, jangankan bertemu. Menanyakan kabarnya pun neneknya tidak pernah tidak lupa.
         Dea akhirnya sampai di kafe yang telah dijanjikan Danu. Hari itu, mereka sama-sama memakai baju merah. Kata Danu, ia sedang duduk di salah satu meja yang menghadap air mancur. Maka, dengan hati yang penuh dentuman, Dea melangkah. Dari kejauhan, ia dapat melihat sosok Danu. Tubuh kurusnya dengan kulit sawo matang begitu mudah dikenali. Semakin dekat, semakin berat langkahnya untuk berjalan. Seolah batu besar tengah diikatkan pada telapak sepatunya. Separuh tubuhnya ingin duduk di hadapan Danu dan mengobrol sepanjang sore itu. Namun, sebagian yang lain ingin berhenti melangkah. Kemudian berbalik lalu kabur menuju rumah neneknya.
         Tetapi, tiba-tiba tubuhnya melayang. Kakinya tanpa sengaja menyandung sesuatu yang lantas membuatnya terhempas ke tanah.

         BRAAKK.

***

         Dea tertegun. Beberapa kali mengerjapkan matanya, kemudian memperhatikan sekitarnya.
         “Dea? Kamu dengar aku gak, sih?” suara si Penelepon masih mengambang di ujung sambungan.
         “Kenapa? Ya, aku dengar.”
         “Dari tadi aku ngomong, kamu dengerin gak?!”
         “Eh? I.iya.”
         “Dea, jangan terlalu anggap serius pesannya itu. Sebagai teman, wajar kan, kalau dia ngucapin ulang tahun ke kamu?” terdengar si Penelepon tengah menghela napas sejenak, “Aku paham. Mungkin, kamu merasa menyesal dengan apa yang dulu kamu lakukan padanya. Lebih-lebih, kamu pergi tanpa pesan begitu saja. Tapi, bukan berarti dia selalu bisa membayangimu, kan?”
         Ada hening sesaat, kemudian si Penelepon melanjutkan, “Apalagi hadapilah kenyataan. Bahwa kamu tidak akan bisa kembali ke kota itu lagi.”
         Dea benar-benar terenyak. Ia menelan ludah begitu pahit seakan ada kerikil teramat besar sedang menyangkut di kerongkongannya. Temannya itu sudah terlalu banyak bicara. Lamat-lamat ia memahami kalimat yang disampaikannya.
         Dengan suara yang ia pelan-pelankan, Dea berkata, “Hendra, sudah dulu, ya. Aku ngantuk, mau tidur.”
         “Iya, selamat tidur.” Tutup lelaki itu di ujung telepon.
         Dengan muka masam, ia melempar handphone-nya ke kasur. Begitu pula dengan tubuhnya yang ia banting perlahan seolah-olah dengan begitu ia dapat meruntuhkan penyesalan yang ada di pundaknya. Setengah dari tubuhnya telentang, sedang kakinya menggantung di pinggir kasur. Tatapannya lurus menghadap langit-langit kamar yang temaram. Beberapa saat, bayangan Danu dan siluetnya mengambang di awang-awang. Kemudian, ia menangis.

****


Banjarmasin, 23 Desember 2016


pinterest

Cerpen: Percakapan di Sabtu Malam

Sabtu, 17 September 2016


pinterest
Hari ini adalah Sabtu yang dingin.

Menusuk saat pagi, menyengat di siang hari, dan kembali sejuk di malam hari.

Ini malam Sabtu yang panjang.

Namun terasa singkat saat aku bertemu denganmu di persimpangan jalan. Kau memakai hoodie jumper berwarna abu-abu lengkap dengan tudung kepalanya. Duduk di kursi yang tidak jauh dari perempatan, tepat di bawah pohon angsana. Aku sering melewati jalan ini. Rute yang selalu kutempuh setiap malam di saat aku tidak bisa memejamkan mata. Memang, belakangan terakhir aku sering terjaga. Tidak tahu apa penyebabnya. Sehingga, aku akan berjalan-jalan sebentar keluar rumah. Mengitari perkomplekan yang luas ini dan menikmati udara malam yang dingin.

Tetapi, di antara banyaknya malam yang kuhabiskan seorang diri. Baru malam ini aku bertemu denganmu. Malam ini pula, aku pertama kali melihatmu. Lalu, aku pun memutuskan untuk duduk di sampingmu dan bertanya,
"Hai, siapa namamu?"

Kau hanya diam. Tetap menunduk dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
"Apa aku mengganggumu?" Tanyaku lagi, "Aku belum pernah melihatmu di sini sebelumnya. Apa kau pendatang baru?"

Kau pun akhirnya menoleh ke arahku. Menatapku beberapa menit, kemudian menegakkan posisi dudukmu. Entahlah. Sebelumnya, aku berpikir kau adalah lelaki paling dingin yang pernah kutemui. Tak ada satu pun orang di dunia ini yang begitu pendiam sepertimu.

"Kau tahu? Dunia ini aneh." Itu ucapmu pertama kali.

Lelaki gila, pikirku. Aku tidak menanyakan sedikit pun pendapatmu tentang dunia. Tapi, kau malah menjawab sesuatu yang sama sekali bukan pertanyaanku. Maka, aku pun hanya bereaksi,

"Ya, semua orang tahu itu."

Kau kembali diam. Beberapa menit berikutnya, kau akhirnya kembali membuka suara, "Apa yang sedang kau cari di sini?"

"Apa? Aku tidak sedang mencari apa pun."

"Lalu, mengapa kau berada di sini?"

"Hanya berjalan-jalan sebentar. Aku tidak bisa tidur."

Mendengar jawabanku, kau justru terkekeh. Itu suara tawamu yang pertama kali kudengar. Begitu nyaring, di antara remangnya gelap malam dan purnama. "Kau ini lucu sekali."

Apa? Aku bahkan tidak sedang melucu, "Apa yang membuatmu tertawa?"

Setelah cukup mampu menahan diri, kau kembali diam. Pandanganmu mengarah ke langit. Menuju satu titik cahaya yang bersinar. Bulan. "Siapa namamu?"

Pertanyaanmu itu membuatku berubah pikiran. Kau bukan hanya lelaki terdingin, tetapi juga orang tertidaknyambung yang pernah kutemui. Aku bahkan ragu, apakah kau sebenarnya tahu bagaimana cara berbicara yang baik dan benar? Namun, karena kau adalah orang pertama yang kutemui di malam yang begitu dingin ini, maka aku pun menjawab, "Arini."

pinterest
Wajahmu masih mendongak menatap rembulan. Kau menghirup napas dalam-dalam. Memejamkan mata. Kemudian menghembuskannya perlahan. Kau mengubah posisi dudukmu. Menyandarkan leher pada sandaran kursi taman yang terbuat dari besi-yang semakin terasa dingin karena terkena embun malam-dan memasukkan kedua tanganmu ke kantong hoodie-mu.
“Pergilah dari sini! Ini bukan tempatmu."

Aku memicingkan mata. Semakin yakin, aku telah membuang waktuku untuk mengobrol dengan orang gila yang tersesat hingga duduk di kursi taman komplekku. Aku membuat jarak denganmu. Mengambil beberapa senti menjauh dari posisi awal.

"Kau yang harusnya pergi dari sini. Sejak awal aku berada di tempat ini. Sedangkan kau? Melihatmu pun, aku baru hari ini."

"Dunia ini aneh ya." Itu ulangmu lagi.

"Ya, sama anehnya denganmu."

"Tahukah kau, Arini? Kalau dunia itu sering terbalik."

Aku kemudian mendelik ke arahmu. Tidak salah dengarkah aku? Kau menyebut namaku tadi. "Ya, karena dunia itu seperti roda. Ia akan berputar terus-menerus."

Kau membuka matamu. Kembali menatap rembulan yang semakin cemerlang, lalu menoleh ke sampingmu-ke arahku yang sudah duduk menjauhimu. "Bukan itu maksudku. Terbalik dalam arti yang sebenarnya."

Itulah saat pertama kalinya aku melihat wajahmu dengan sangat jelas. Kau memiliki kulit yang cokelat. Rambut hitam legam dengan alis yang tipis namun panjang dan hampir bertaut. Ada satu hal yang paling indah di wajahmu. Kau memiliki tatapan yang meneduhkan. Bias cahaya rembulan, semakin menambah keindahan pada matamu. Entahlah. Seketika, aku tersihir olehmu.

"Arini, dunia ini tidak pernah bisa memuaskan setiap manusia, bukan?" Tanyamu, seraya kembali menatap rembulan.

Aku tidak menjawab. Mungkin, kali ini aku yang dibiarkan bisu dan terus mendengarmu. Orang asing yang bahkan baru malam ini kutemui.

"Banyak orang hidup namun merasa sudah mati. Begitu pun dengan orang mati yang merasa tetap hidup." Ada jeda sejenak, kemudian kau melanjutkan, "Sepertimu."

Aku mengernyitkan dahi. Apa yang baru saja orang gila di depanku ini katakan? Dia menyebutku apa?

"Arini, sadarkah kau bahwa kau ini sudah mati?" Tanyamu memperjelas.

Aku mendelik tajam. Tidak tahan dengan semua omong kosong yang kau katakan sejak tadi. "Apa maksudmu? Jika kau tidak ingin berteman dan merasa terganggu, lebih baik katakan saja. Jangan malah berucap seperti itu!"

Kau akhirnya menoleh padaku. Menatapku lekat-lekat. Seakan menerobos dada hingga ke dalam jantung. Aku merasa tenggorokanku tersangkut. Membuatku tertahan dan tidak bisa berkata sepatahpun.

"Sudah berapa banyak malam yang kau lewatkan dengan terjaga seperti ini? Kau hanya mengulang malam yang sama. Kau tetap berada di sini. Tidak pernah berjalan ke mana pun."

Rahangku terasa mengeras. Dingin yang semula biasa, kini terasa mulai menusuk seluruh tubuhku. Oh, bagaimana aku bisa seperti ini? Aku bahkan tidak memiliki tubuh. Dengan getir aku akhirnya bertanya, "Bagaimana kau tahu bahwa aku sudah mati? Sedangkan aku sendiri tidak menyadarinya?"

Kau tersenyum kecil, kembali menatap rembulan yang kini separuh tertutup awan gelap.

"Sejak kecil, aku bisa melihat kematian. Di dunia ini, ada banyak sekali kematian yang aku yakini, kau tidak akan pernah sanggup melihatnya. Itulah mengapa aku berkata, bahwa dunia ini sering terbalik. Aku hidup, namun dengan kemampuan ini aku merasa seolah-olah telah mati. Sedangkan kau? Kau telah mati, tetapi merasa tetap hidup."

Aku lemas mendengarnya. Menyandarkan tubuhku yang ringan pada bangku taman yang tidak terasa apapun lagi. Ikut menatap rembulan seperti kau, "Bagaimana aku bisa begini?"

"Coba kau pikir, kenapa orang mati masih dibiarkan melangkah di bumi? Menghirup angin malam dan melewati jalan yang sama?"

Aku melirik ke arahmu. Berdehem sembari mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ini. "Pasti ada sesuatu yang belum selesai."

Kau diam mendengar kesimpulanku. "Terima kasih sudah menyadarkanku." Ucapku lagi.

"Ya, aku hanya ingin membantumu."

Ada jeda sejenak,
"Kalau begitu, maukah kau membantuku lagi? Sebenarnya, aku masih belum tahu apa yang harus kuselesaikan."

Kau menoleh ke arahku. Menegakkan posisi dudukmu, lalu tersenyum. Lebih ramah dan tulus. "Dengan senang hati."

Beberapa saat, aku dan kau terdiam. Menatap pada rembulan yang bersinar di langit malam. Hanya terdengar hembusan angin malam dan jangkrik yang berbunyi. Malam ini terasa benar-benar sunyi. Saking sunyinya, sampai aku bisa mendengar suara detak jantungmu yang teratur.

"Jadi, siapa namamu?" Tanyaku lagi.

"Panggil saja aku Andrea."




Malam semakin larut dan dingin terus menyeruak. Malam yang begitu panjang. Namun terasa singkat saat aku telah mengetahui semua kebenarannya. Seakan waktu segera habis dan aku harus cepat menyelesaikan tugasku. Mengakhiri sesuatu yang belum berakhir.

pinterest

*****
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS