Saatnya Untuk Berhenti

Sabtu, 21 Maret 2015

Aku bingung harus mulai darimana. Hubungan kita terlalu rumit untuk ku mengerti. Yang ku tahu, kita begitu dekat dalam dunia maya. Meskipun pada kenyataannya, kita bertemu seperti dua orang manusia yang saling tak mengenal. Berjalan melewati, sekadar menatap dari jauh, kemudian berpura-pura membuang pandangan. Dan rasanya, aku sudah lelah jika harus begini terus.

Aku mendengar banyak berita tentangmu belakangan ini. Banyak yang bilang, jika kamu menyukaiku. Benarkah? Andai kamu tahu, saat aku mendengar berita itu, sesuatu membuat darahku mengalir begitu deras. Aku tak bisa mengatur nafasku dan rasanya... aku ingin mendengar hal itu berulang kali.

Pada awalnya, aku sangat menerima berita itu dengan senang hati. Aku sangat bersyukur, akhirnya kamu juga punya rasa yang sama denganku. Andai kamu tahu, menjadi penggemar rahasiamu selama 1 tahun membuatku begitu lelah. Dan ketika aku sampai pada titik di mana aku sadar bahwa kamu tak pernah bisa kuraih, justru di saat itulah kamu datang. Bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya?

Kemudian, kita jadi begitu dekat lewat media sosial. Yang pada kenyataannya, hal itu hanya mampu membuatku gembira sesaat. Dunia nyata tak memungkinkan kita untuk jadi lebih dekat. Dan itu membuatku ragu padamu.

Banyak yang bilang, jika kamu begitu menyukaiku? Menceritakan berbagai hal tentangku di kelasmu? Tapi kenapa ketika bertemu, kamu justru jadi sosok yang begitu kaku? Apa memang seperti itukah caramu menyukai seseorang? Aku mengerti, aku juga melakukan hal yang sama. Ketika berpapasan, aku hanya diam dan melewatimu dengan jalan yang ku percepat. Tapi, jangan salah prasangka dulu! Aku tidak menjauhimu. Aku hanya begitu gugup.

Andai kamu tahu...
Kamulah orang pertama yang mengucapkan "nice dream" dengan begitu manis.
Kamulah orang pertama yang mendekatiku dengan perantara media sosial.
Kamulah orang pertama yang membuatku begitu gugup dan mati rasa ketika bertemu. Dan itu sangat jauh berbeda dengan apa yang kita lalui di media sosial.

Awalnya, ku pikir semua ini baik-baik saja. Yang perlu aku lakukan, hanya menikmatinya dan membiarkannya mengalir. Ya, kedekatanku denganmu yang kubiarkan mengalir itu, justru semakin lama semakin tak tentu arah.

Belakangan ini, aku jadi ragu padamu.
Setelah ku pikir-pikir kembali, aku tidak bisa jadi seperti ini. Aku tak bisa hanya sekadar menikmatinya dan membiarkannya mengalir begitu saja. Bagaimana bisa? Aku menikmati setiap kedekatan yang terjalin denganmu jika semakin hari rasa yang ku miliki semakin besar? Aku tak bisa bohong pada diriku sendiri. Obrolan rutin kita setiap malam, membuatku semakin menyukaimu. Tetapi, ketika kita bertemu di sekolah, kita hanya mampu menatap dari jauh dan tak berani mendekat. Oh Tuhan, bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya?! Semuanya jadi berbeda di dunia nyata.
Aku tak bisa membiarkan hubungan ini mengalir begitu saja. Aku yakin, kamu pasti tahu bahwa setiap aliran sungai memiliki arus. Tapi, aku tidak mau jadi orang yang selalu mengikuti arus. Hanya mengalir mengikuti jalannya arus hingga sampai ke muara. Kurasa, seperti itulah hubungan kita saat ini. Bedanya, kita tak pernah sampai ke muara itu. Kita hanya terus mengikuti arah tanpa tahu kemana akhirnya akan bertemu. Dan pada kenyataanya pun, kita tak pernah sampai ke muara itu.
Lama-kelamaan, aku lelah. Terlalu sering mengikuti arus membuatku berkali-kali terbentur batu sungai. Mungkin, saat inilah aku harus menyadari. Jika semuanya dinikmati dan dibiarkan mengalir saja, maka hubungan kita akan begini-begini saja. Dan aku tidak bisa seperti ini. Rasa yang kumiliki, semakin hari semakin besar. Semua itu karna aku terlalu sering mengikuti arus. Kubiarkan kita dekat lewat berbagai cara yang kamu usahakan. Karna aku pun sangat menghargai berbagai hal yang kamu lakukan. Tapi, jika harus seperti ini, aku tidak bisa. Belum lagi, kenyataan yang harus kuhadapi bahwa 2 bulan lagi kita tak akan bertemu lagi. Ya, sepertinya sungai yang kita lalui memiliki percabangan. Dan di saat itulah, mungkin kita akan berpisah. Jujur, mungkin jika saatnya tiba, di mana kita harus berpisah ke arah yang berbeda, di saat itulah aku semakin menyukaimu.

Jadi, aku sudah memutuskan! Aku tidak mau mengikuti arus lagi. Aku bisa berjalan sendiri. Bahkan melawan arus sekalipun. Oke, jika kamu bingung dengan maksudku aku akan memperjelasnya.
Andai kamu tahu, aku sudah menunggu saat seperti ini sejak 1 tahun yang lalu. Saat kamu menyadari ada seseorang yang begitu memperhatikanmu tanpa berani mendekat sama sekali. Tapi sayangnya, saat itu datang ketika kita sudah diujung masa. Di mana sebentar lagi, kita juga akan berpisah. Aarrrggghhhh!!!!!!!!! Itu sangat menjengkelkan.
Aku pun juga semakin ragu padamu. Banyak yang bilang jika kamu menyukaiku, tapi sejauh yang kulihat, kamu tidak berusaha dengan sungguh-sungguh. Hanya mendekat lewat media sosial yang justru membuat kenyataan jadi terlihat semu. Apa itu yang kamu sebut suka? Hanya itu saja yang bisa kamu lakukan? Untuk orang yang telah sekian lama menunggumu, aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi.
Mungkin, inilah yang disebut 'digantung'. Tapi, kukira rasanya lebih sakit daripada sebutannya. Lagipula, jika seandainya aku digantung seperti orang yang mau gantung diri, aku lebih baik memilih melepaskan tali itu. Turun dari kursi dan menjauh. Daripada terus berdiri penuh keraguan dan bertanya-tanya dalam hati, "Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku yang berusaha lebih jauh lagi?".

Karena belakangan ini, aku menyadari. Rasa yang kamu sebut suka itu, hanya sementara. Kebahagiaanmu saat chattingan denganku sebenarnya hanyalah sebagai obat untuk mengurangi rasa sakitmu karna patah hati yang terlalu berat. Begitu sakitkah? Hingga aku-orang yang rela menunggumu sejak 1 tahun  silam-hanya menjadi obat untuk mengurangi lukamu. Sedangkan aku? Aku seperti orang bodoh yang selalu menyembuhkan lukamu, padahal aku pun juga sama terlukanya. Kamu bingung, kenapa aku jadi berpikir seperti itu? Karena, kalau kamu memang benar-benar menyukaiku, kamu tidak mungkin membuatku sebimbang ini. Satu hal yang pasti adalah, "Kamu tidak benar bersungguh-sungguh untuk menjalin suatu hubungan denganku. Dan oleh karena itu, kuputuskan untuk berhenti mengejarmu."

Nice Dream... :-D

Sabtu, 14 Maret 2015

Aku terbangun pagi ini. Membuka mata kemudian segera mengambil handphone yang terletak tak jauh dariku. Ku buka aplikasi itu sekali lagi. Membaca obrolan kita yang kemarin, dua hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dan beberapa hari yang lalu.

Sambil terus mendengarkan lagu Taylor Swift feat Ed. Sheeran - Everything has Changed, ku baca berulang-ulang obrolan itu. Yang pada akhirnya membuatku tersenyum beberapa menit, kemudian mengulangnya lagi. Whahahaha....
Sungguh, baru pertama kali aku seperti ini.

Malam tadi, percakapan kita berakhir dengan pesan darimu. Ucapan 'selamat malam' yang biasa, tapi sangat berbeda jika kamu yang menyampaikannya. Kamu tau? Kamulah orang pertama yang mengucapkan kalimat 'Nice dream' dengan begitu manis. Dan karena itu pula, aku tertidur dengan untaian senyum yang terus ada di sepanjang malam.

Kamu tau?
Semua ini seperti mimpi yang begitu indah.
Obrolan kita. Ucapan 'night' dan 'night too' yang sangat sederhana tapi membuatku tidur dengan nyenyaknya. Pandangan mata yang tak sengaja bertemu ketika kamu lewat di depan kelasku. Sosokmu yang selalu kucari di antara ratusan murid di sekolah. Kamu yang akhir-akhir ini lebih sering berjalan melewati kelasku. Dan yang paling tidak bisa aku lupakan, your smile.

I just want to know you better, know you better, know you better..
I just want to know you better, know you better, know you better..
I just want to know you, know you, know you...
(Taylor Swift feat Ed. Sheeran-Everything has Changed)

Aku tidak tau sampai kapan ini akan berlangsung. Dan aku juga tidak peduli. Aku hanya mencoba untuk menikmatinya. Rasa ini. Yang membuat tubuhku seketika lemah jika berhadapan denganmu. Yang membuatku beku tiba-tiba ketika mataku dan matamu bertemu. Yang membuat jantungku berdetak cepat, hingga pikiranku jadi kosong.

Aku sedang menikmati mimpi indah ini. Yang membuatku tidak ingin bangun meski harus terlambat sekolah. Aku akan melewati waktu ini dengan senang hati. Karena belum tentu aku akan melewatinya lagi denganmu. Aku biarkan semuanya mengalir. Berjalan hingga sampai pada titiknya untuk berhenti. Pada persimpangan di mana kita akan berpisah nantinya.
Terima kasih, aku sangat senang telah mengenalmu...♥

Give up in the same time.. yeah..

Jumat, 27 Februari 2015

Kamu menyerah.
Maka aku pun juga akan melakukan hal yang sama.
Kamu terlalu sering mengingat dia.
Hingga hampir tak ada celah untukku masuk.
Kamu terlalu dingin dan datar.
Membuatku tergelincir dan jatuh berulang kali.
Dan dengan bodohnya, berkali-kali pula aku bangkit.

Kamu benar.
Semuanya berakhir selalu dengan ending yang sama.
Sakit hati. Pahit. Asam. Asin. Manis.
Rasanya tercampur dan bikin pusing.
Itulah yang aku alami saat ini.
Lebih dari itu, aku hancur karnamu.

Tanpa Kamu Tahu...

Kamis, 26 Februari 2015

Tanpa kamu tahu, aku sudah mencarimu sejak lama.
Menatapmu dari sudut terkecil di antara banyak murid lainnya. Mendengarmu dari sekian banyak berita yang ada. Mengetahui dengan berat hati, ternyata kamu telah menjatuhkan hati pada seseorang. Teman sekelasmu.

Saat itu aku hanya diam. Memandangmu dan dia yang selalu bersama. Sekilas, melihat kalian berjalan beriringan dan aku hanya mampu berdiri seperti patung. Kalian tertawa. Tersenyum. Terlihat begitu bahagia. Saat itu, melihatmu, memandangmu dari jauh, mendengar berita tentangmu, adalah hal yang harus kuhindari. Tanpa kamu tahu, aku berucap dalam hati, "Cukup! Aku sudah lelah. Sudah sangat lelah. Aku akan berhenti. Aku tidak akan jadi Secret Admirernya lagi."

Setelah itu, tak ada lagi tentangmu. Kamu menghilang sama seperti sebelum kita mengenal. Meskipun kulihat kalian selalu bersama, meskipun masih ada rasa canggung dalam diriku, meskipun kamu tak pernah menengok padaku sedikit pun, aku sudah tidak peduli lagi! Yang ku tahu saat itu, aku sudah lelah dan inilah waktunya untukku berhenti. Berhenti memata-matai semua aktivitasmu di sosial media. Berhenti melihat kedekatanmu dengan dia yang jika kulihat, justru hanya membuat nafasku sesak. Berhenti mendengar semua tentangmu seakan berpura-pura menutup mata, telinga, dan hatiku.




Dalam beberapa waktu, aku bebas...






Beberapa waktu, kubiarkan hatiku terbuka untuk siapa pun. Dan aku benar-benar lupa segala tentangmu.

Sampai saat ini datang.

Ketika kita kembali bertemu dengan cara yang sama.
Ketika kamu sudah menjadi sama sepertiku tetapi masih suka mengais masa lalu.
Ketika keadaan memaksa kita jadi semakin dekat.
Hingga kemudian ku dengar berita, kamu berusaha mendekatiku. Dan (bodohnya), aku tidak pernah peka.!

Jujur, aku bingung.
Tuhan telah membuat duniaku benar-benar terbalik!
Ketika aku sampai pada titik terlelahku untuk menunggu, justru kini kamu yang berbalik. Datang. Mengajakku mengobrol. Dekat. Hingga akhirnya kuputuskan hubungan beberapa saat. (Ya.. itu karna aku ingin fokus belajar dulu.)

Aku tau.
Aku memang terlalu egois.
Menjauhimu tiba-tiba, justru di saat kita begitu dekat.
Menghindar darimu, padahal (bersamamu) adalah hal yang kutunggu sejak dulu.

Dan karena sikapku, kamu pun juga sama menyerahnya.
Kamu juga sama lelahnya sepertiku.
Kamu tidak ingin berharap pada orang yang tak sadar dengan kehadiranmu.
Kamu benar dan salah.
-benar, karena sikapmu adalah akibat dari sikapku yang tak pernah peka.
-salah, karena tanpa kamu tahu, aku sangat peka padamu.

Ada suatu alasan yang tak bisa kutuliskan disini. Terlalu rumit.

Tapi, tanpa kamu tahu, aku masih punya rasa itu.
Tanpa kamu tahu, aku masih jadi stalker setiamu.
Tanpa kamu tahu, aku masih melihatmu dari jauh.
Tanpa kamu tahu, aku masih membuka telingaku untuk mendengar semua berita tentangmu.
Tanpa kamu tahu, aku masih membuka mataku untuk memandangmu, mencari sosokmu, menatapmu melalui sudut terkecil di sekolah.
Tanpa kamu tahu, aku masih mengecek kehadiranmu di sekolah dengan melihatmu saat jam Shalat Dzuhur.
Tanpa kamu tahu, aku masih membicarakanmu dengan seorang teman di kelasku.
Tanpa kamu tahu, aku masih selalu penasaran dengan maksud dari semua DP dan statusmu di BBM.
Tanpa kamu tahu, aku masih jadi Secret Admirermu.

Memang, aku sudah lelah. Terlalu capek, bahkan.
Tapi, tanpa kamu tahu, kebiasaanku masih belum berhenti sepenuhnya.







Apa kamu heran, kenapa aku selalu menyisipkan kalimat 'tanpa kamu tahu'?
Karena, tanpa kamu mengetahui semua itu, aku sudah menyadarinya. Aku sudah tahu, bahwa semua yang kulakukan, apapun itu, kamu juga tidak akan pernah peduli. Ya kan?

Wake up!

Jumat, 20 Februari 2015

Akhirnya semua kembali.
Mimpi indah telah usai. Hingga sudah saatnya untukku bangun.
Cerita pendek ini berakhir dengan ending yang tak jelas.
Seperti berhenti di persimpangan. Dan bingung harus melangkah ke jalan yang mana.
Ragu, buntu, hampa.

Sudah kuduga, kedekatan yang terjadi belakangan ini adalah suatu kesalahan yang tidak sepatutnya untuk diingat. Kesalahan yang tak mungkin dilanjutkan. Dan memang sudah sepantasnya untuk diakhiri.

Begitulah...

Betapa mudahnya semua terjadi. Saling dekat, mengobrol, bercanda, kemudian menjauh, tak menoleh, acuh, bahkan seperti tidak pernah mengenal.

Kedatanganmu yang begitu mudah dan tiba-tiba, juga akan membuatmu pergi dengan mudahnya.

*****


2 Minggu terakhir, aku jadi dekat denganmu. (Kurasa) kita semakin mengenal seiring dengan meningkatnya intensitas kita bertemu atau mengobrol. Ketika itu, aku hampir tak percaya. Bahwa kita bisa jadi sedekat ini. Whahahhaaaha... karna menurutku, kamu termasuk anak yang cuek.

Saat itu, kujalani hari-hari seperti sedang bermimpi. Aku sangat sadar. Jika ini kenyataan, mungkin kenyataan ini akan segera berakhir.

Kamu tau?

Dekat denganmu adalah sesuatu yang 'mustahil' bagiku.

Kamu terlalu sempurna untuk bisa kuraih. Sehingga kalau aku sampai 'menyukaimu', itu merupakan suatu kesalahan yang besar. Dan bodohnya, aku sedang melakukan kesalahan itu.


Maaf. Aku sungguh minta maaf.

Terkadang, perasaan membuat kita jadi lupa diri.

Lupa, pada siapa kita seharusnya menjatuhkan hati.

Lupa, pada siapa orang yang lebih tepat menerimanya.

Lupa, di saat kapan kita harus membiarkannya tumbuh.

Lupa, di saat kapan kita harus membiarkannya layu dan mati karna memang tak sepantasnya rasa itu tumbuh.

Dan lupa, bagaimana cara terbaik untuk mengatasi perasaan tersebut.

Dan dengan menyukaimu, aku jadi lupa segalanya.

Wow~

Bisa kamu lihat, betapa hebatnya dirimu? Hanya tersenyum dan menatapku, itu sudah membuat jantungku berdetak jadi sangat cepat. Apalagi ketika kita berhadapan dalam jarak yang dekat, (jika aku tidak punya tulang betis yang cukup kuat, mungkin aku sudah lumpuh seketika).

Apa semua itu terlihat berlebihan? Tapi itulah yang terjadi.

Belum lagi, tentang obrolan kita di BBM. Kalau kuperhatikan, aku jadi terlihat begitu bodoh di depanmu. Whahahaa... Sangat bodoh!

*****


Seperti itulah waktu 2 minggu kita lewati. Sampai kusadari satu hal, bahwa 'aku harus berhati-hati' padamu. Yap! Ketika 'chattingan' denganmu, selalu kubisikkan pada diriku sendiri, "Sadar, Tik. Semua ini akan segera berakhir. Tunggu tgl 28 dan semuanya akan berhenti." Atau "Jangan biarkan rasa itu tumbuh! Menunggunya untuk menyukaimu balik, adalah mimpi yang terlalu kamu harapkan jadi nyata." Atau "Sabar.. sabar.. semua ini cuma sementara. Mimpi indah ini akan segera berakhir. Kamu akan terbangun dan mendapati dia berjalan melewatimu tanpa menoleh sedikit pun."


Dan karena itulah, ku putuskan untuk berhenti berkomunikasi lewat BBM denganmu. Aku tidak ingin rasa yang kumiliki semakin tumbuh subur. Sementara harus kuakui (dengan berat hati), bahwa kedekatanku denganmu hanya suatu kebetulan yang terlalu disengajakan.




Ku coba untuk mengikuti kutipan di atas.
Ku coba untuk menyembunyikan rasa itu dengan berbagai cara yang mungkin bisa kulakukan.
Karena aku (sangat) sadar, kamu tidak mungkin punya rasa yang sama.
Dan menunggunya, adalah hal yang menyakitkan.

I'm your stalker...

Rabu, 18 Februari 2015

Orang yang sama dengan judul yang hampir sama juga.
Saat itu, aku masih bukan siapa-siapamu (bahkan sampai saat ini).
Hari itu, aku baru pertama kali mengenalmu. Di kantor guru dan dipertemukan dalam satu ajang lomba yang sama. Satu kata yang menggambarkan dirimu waktu itu, acuh.

Kamu berjalan melewatiku begitu saja. Bahkan tidak menatapku. Ya, aku mengerti. Saat itu kita belum saling kenal. Dan jujur saja, hari itu aku baru pertama kali menemukan sosokmu di antara ratusan siswa di sekolah.

Setelah lomba berakhir, segera ku sadarkan diriku. Bahwa semuanya juga akan berakhir. Pertemuan tak sengaja kita di kantor guru, bukanlah suatu rencana Tuhan. Hanya kebetulan yang membuatku terlalu ingin mengenalmu. Pada kenyataannya, sesudah lomba, kita menjalani hidup kembali seperti sebelumnya. Saling tak sapa dan hanya 'sekadar tahu nama' saja.
Ditambah, ketika tersebar berita kalau kamu punya pacar. Sejak itu juga, aku berhenti memata-matai semua aktivitasmu di media sosial.

Tapi bagaimana dengan sekarang?

Hubunganmu sudah berakhir dan kamu selalu jadi orang yang gagal move on.
Beberapa bulan kemudian, kita dipertemukan kembali dalam ajang lomba. Dan (entah suatu kebetulan atau memang rencana Tuhan) kita bekerja sama dalam satu kelompok cerdas cermat.

Oke, awalnya aku agak gugup. Tapi aku berusaha untuk tetap tenang dan bersikap biasa saja.
Lomba itu diadakan hari Minggu dan semuanya berjalan lancar. Ya, syukurlah, kita bisa memperoleh juara 3. Suatu kebanggaan untukku di kelas 9 ini kembali memperoleh prestasi. Kamu juga merasa begitu, kan?

Ketika lomba sudah berakhir, (sama seperti sebelumnya) ku sadari bahwa ini suatu kebetulan yang akan segera berakhir. Duduk sebangku denganmu dalam waktu 2 jam membuatku merasa jadi orang paling aneh di dunia.
Ketika mengerjakan test  pertama - di saat peserta lain mengerjakan soal dengan serius - kita justru tertawa santai dan mengobrol. Whahahahaha.... itu adalah kelompok teraneh yang pernah kuikuti. Apalagi, saat TM sehari sebelumnya, aku sempat salah menuliskan nama anggota kelompok kita pada formulir pendaftaran. -_-"

Lombanya memang sudah selesai. TAPI, hadiahnya belum diserahkan. Dan itulah yang menjadi awal semua ini dimulai...

Beberapa hari setelah lomba, kuputuskan untuk meminta PIN BBmu. Karna itulah cara satu-satunya yang bisa kulakukan jika aku sudah dihubungi pihak panitia untuk menerima hadiahnya. Tapi, di luar dugaanku, sesuatu terjadi.

Sekarang, kita justru sering chattingan tentang banyak hal.
Beberapa kali, sempat kutemukan sorot matamu mengarah padaku saat jam istirahat di sekolah.
Rasa gugup itu, (entah kenapa) kembali muncul ketika kamu menghampiriku hanya untuk sekadar bertanya tentang hadiah lomba itu.
Ditambah, dengan sikap konyolku yang selalu saja menabrak benda apapun di depanku ketika aku tau bahwa kamu memperhatikanku. Jujur, aku sangat canggung dan malu. Bahkan ku pikir, mungkin kamu sudah menganggapku jadi cewek paling aneh dan gak jelas yang pernah kamu kenal. Yap! That's me.

Semua ini,
Aku selalu bingung jika memikirkannya. Tapi ketika mengingatmu aku malah tersenyum lalu tertawa aneh. Whahahaha.. aku juga tidak mengerti. Akhir-akhir ini sikapku sering berubah-ubah.

Terkadang aku mencoba mengingat lagi.
Bagaimana bisa? Kamu - salah satu cowok paling cuek yang pernah ku kenal - dan aku menjadi sedekat ini.
Dulu, aku tak pernah membayangkan hal ini terjadi. Jangankan membayangkan, memikirkannya pun tidak pernah.
Selalu terpasang di otakku bahwa kamu adalah orang (yang termasuk dalam golongan cowok-cowok keren di sekolah) dan sangat mustahil jika aku bisa bergaul denganmu. Ya kan?

Tapi nyatanya?
Baru tadi malam, kita chattingan lagi.
Whahahahaha.. aku tidak tau ini adalah kebetulan atau memang rencana Tuhan. Yang jelas, aku masih merasa seperti mimpi.

Dan yang kutahu, aku selalu merasa senang jika mengobrol denganmu (lewat BBM).
Mungkin, aku memang terlalu naif. Hingga tak berani untuk bicara secara langsung denganmu. Kenapa bisa begitu? Ya, karna aku terlalu gugup. Apa kamu juga bisa merasakan detakkan yang sama? Ketika kita berdiri dan saling berhadapan. Kemudian hanya tersenyum dan diam. Semua itu terjadi karna aku terlalu canggung.

Yang jadi pertanyaanku saat ini adalah, "Kenapa semua itu bisa terjadi? Rasa gugup, canggung, detak jantung yang jadi lebih cepat? Kenapa semua itu tiba-tiba datang, padahal kamu cuma menatapku atau hanya sekadar menyapa?"

Untuk Si Gamers

Minggu, 08 Februari 2015

Apa kamu berfikir bahwa aku terlalu cuek?
Apa menurutmu aku terlalu naif?
Aku juga tidak mengerti.
Yang jelas, beberapa jam yang lalu kamu memasang DP BBM (yang jujur saja) membuatku ke-GEERan. Dan beberapa menit berikutnya, kamu menulis status yang membuatku seperti terhempas dengan ombak yang kuat.

*****

Maaf, jika kamu mengira demikian.
Aku tidak bermaksud cuek. Aku hanya tak berani.
Terlalu takut untukku yakin, bahwa setiap status yang kamu maksud itu adalah AKU.
Aku ragu untuk mengakui bahwa AKUlah orangnya. Jadi kuputuskan untuk tetap bersikap biasa saja.
Aku hanya tidak ingin terlalu berharap. Yang ujung-ujungnya juga akan berakhir dengan patah hati.
Whahahaha... kau tau? Aku sudah terlalu kenyang dengan hal itu.

Andai kamu juga tahu,
Salah satu alasanku untuk menghindar darimu itu adalah karena aku terlalu gugup.
Jujur, setelah hampir 2,5 tahun sekolah SMP, baru kamu yang (ku tahui 'dengan agak ragu') suka padaku. Ya.. maklum saja, kan, kalau aku tiba-tiba jadi bersikap canggung.
Selain itu, dari seorang teman ku dapat informasi kalau kamu ketahuan tengah melihat ke arahku saat kita sedang akan shalat Dzuhur berjamaah. Benarkah?

Aku juga tidak tau, apakah aku suka padamu atau tidak.
Pada kenyataannya, aku selalu gugup jika berhadapan denganmu. Sampai menatap matamu saja(hanya untuk sekadar mengobrol) aku pun tak berani.
Ketika tau kau masuk ke kelasku, kurasakan jantungku berdetak lebih cepat. Tanganku seakan gemetar dan aku tak bisa berbuat apa-apa. Lalu aku berjalan keluar kelas dengan alasan 'mengumpul tugas makalah'.
Kemudian, status-statusmu di BBM itu membuatku keGeeran. Whahaha.. maaf ya, apakah salah jika aku mengira bahwa orang yang kamu maksud itu AKU?
Terkadang aku berfikir, "Siapa orang itu? Yang kamu bilang gak PEKA dan so beautiful?" Sekejap, kurasakan dadaku kembali sesak dan (entah dapat ilham darimana) terbesit dalam pikiran kalau ORANG YANG KAMU MAKSUDKAN ITU AKU.
Tapi kemudian aku mengelak, "Masa iya itu aku? Tapi kan, temannya yang berkelamin perempuan itu gak cuma aku. Mungkin aja orang lain. Lagipula, kalau pun itu aku, kayaknya mustahil deh, aku jadi orang yang beautiful. Secara gitu, aku ini anaknya labil banget. Alay, terus narsis lagi. -_- kalau dibandingin sama mantannya, itu kayak pizza sama pecel. Iya, mantannya itu pizza dan aku pecelnya. .-. Jadi rasanya agak mustahil kalau status itu untukku".

*****

Dan sekarang, apa status barumu di BBM itu benar? Menjauh saja, karna aku terlalu cuek?
Ya.. aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah hakmu untuk dekat ataupun menjauh dari siapa saja. Yang jelas, kuharap itu keputusan yang baik. Aku pun juga akan mencoba untuk (tetap) bersikap tenang. Yang pada dasarnya, semua ini semakin membuatku bingung.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS