Pernahkah?

Senin, 06 Juni 2016

Pernahkah tiba-tiba kalian mengingat seseorang?

Seseorang yang telah lama tidak terpikirkan oleh otak, kemudian mendadak menjadi pusat ingatan kalian.

Pernahkah kalian merasa terdorong untuk melakukan suatu hal yang sepertinya harus kalian lakukan?

Sesuatu yang tidak tau kenapa kalian ingin sekali melakukannya.

Pernahkah kalian merasa lelah pada titik tertentu dalam hidup kalian?

Titik dimana kalian ingin melakukan sesuatu yang bisa merubah hidup kalian suatu saat nanti.

Pernahkah kalian merasa takut dan gugup pada seseorang atau suatu hal?

Yang kalian sendiri tidak tau apa penyebabnya, berapa lama akan terus seperti ini, dan bagaimana cara mengatasinya.

Pernahkah kalian memiliki banyak harapan dan mimpi namun sampai sekarang kalian bahkan belum melakukan apapun?

Harapan dan mimpi yang entah sampai kapan hanya terkubur di dalam hati dan kepala kalian.

Pernahkah kalian merasa bingung harus berbuat apa dan ingin mengistirahatkan diri begitu lama?

Rasa lelah yang entah kapan akan berhenti.

*****

Kurasakan semua itu sekarang.
Semuanya muncul secara bersamaan.
Menumbuk hati dan pikiran yang beku.

Terlalu sering diam dan takut melangkah.
Hingga akhirnya justru kehilangan banyak jalan.
Aku harus berhenti seperti ini.
Aku harus melangkah lebih cepat, lebih berani, dan lebih yakin.

Karena ada suatu hal yang menungguku di ujung jalan.

Mimpi dan harapan.

Pizza dan Mie Ayam

Senin, 09 Mei 2016



 
Hello guysss!!!

Apa kabarnya kalian hari ini??

Semoga baik-baik aja dan bahagia terus, yaa.. :’)

Nah, pada kesempatan ini gue mau berbagi cerita. Ya, pengalaman gue tentang “Kesan Pertama”. Mungkin cukup klise, tapi dari pengalaman ini gue berharap kita bisa mendapatkan suatu pelajaran yang berharga.
Gue bijak banget malam ini.




***



Semua ini bermula saat gue kerja kelompok di salah satu rumah teman. Waktu itu hari Jum’at dan tepat setelah shalat jum’at, salah seorang teman cowok yang juga tergabung dalam kelompok gue datang. Sebenarnya, tugas kelompok itu nggak susah, sih. Kita cuma disuruh bikin manisan. Setelah semuanya selesai, gue dan teman-teman memutuskan untuk beli pizza di salah satu tempat makan yang beberapa bulan lalu baru aja buka cabang di Banjarmasin. Dua orang teman gue yang udah pernah nyoba makanan itu, sering banget cerita ke teman-teman betapa enaknya pizza itu. Itulah kenapa, saat kami selesai ngerjain tugas, kami langsung setuju kalau mau makan pizza itu bareng-bareng.

Tapi, berhubung jarak tempat makan itu dari rumah teman gue lumayan jauh. Kami pun memutuskan untuk menyuruh salah satu teman kami untuk beli kesana. Singkat cerita, setelah teman gue balik dan membawa empat bungkus pizza, kita langsung melahap pizza itu.

Gue juga bingung sendiri.

Apa itu karena sugesti dari teman-teman yang selalu cerita kalau pizza di tempat itu enak banget atau karena emang gue lagi laper banget, yang jelas waktu gue makan pizza itu rasanya ENAK BANGET. FYI, kami memesan 4 pizza yang berbeda. Dan karna saking nafsunya, gue nyicipin semua pizza itu. Whahahahaha... 

Setelah kerja kelompok itu, gue pun berkeinginan untuk makan pizza itu lagi. Nggak tau kenapa sering kebayang legitnya keju di pizza itu, rasanya, dagingnya (yang entah gue gak tau itu daging apa), pokoknya kepikiran terus. Lebih sering ngebayangin pizza itu daripada ngebayangin wajah gebetan.

Gue bahkan sampai nangis-nangis minta ditemenin untuk makan di sana sama Mama. :v

Dan, tepat malam ini gue kesana.



Yap, setelah waktu isya tadi, gue bergegas pergi kesana sama mama. Ya, kalau jalan-jalan gue emang seringnya sama mama. Maklum lah, gue kan anak yang berbakti sama orang tua. Jadi, sering banget ngajakin mama jalan-jalan. Apalagi kalau malam minggu.

Bilang aja kalau nggak ada yang nemenin, Tik. DASAR JOMBLO!




Oke, kembali ke cerita tadi, sama seperti apa yang teman-teman gue lakukan, gue pun juga promosiin pizza itu ke mama. Gue memuji kalau pizza itu enak banget, kejunya banyak, dagingnya enak, dan berbagai rayuan maut lainnya. Waktu itu gue bilang ke mama,  “Kalau mama nggak suka, nanti Tika makan semua pizzanya.” Mama cuma diam dan menatap gue penuh keraguan.
Setelah memesan dan menunggu cukup lama, akhirnya pizza itu datang.



Dan kalian tau apa yang selanjutnya terjadi?



Tepat seperti dugaan kalian. Mama gue nggak suka sama pizza itu.

Dan sesuai ucapan gue tadi, gue yang ngehabisiin pizza itu.
By the way, sebenarnya gue nggak makan semuanya juga. Jadi, beberapa yang udah nggak sanggup gue makan, dibungkus. :v

Itulah yang terjadi pada malam ini.




***




Jujur, dari kejadian malam ini bukan masalah pizzanya yang nggak disukai oleh mama gue. Mulai dari awal, gue juga sudah menduga kalau mama pasti nggak suka makan begituan. Tau lah, lidahnya ibu-ibu.. -_- tapi, ada hal yang lebih mengejutkan gue lagi.


Saat makan pizza itu, tiba-tiba gue juga merasa nggak suka dengan pizza tersebut.


Gue juga nggak ngerti. Selera gue tiba-tiba hilang waktu makan, bahkan sejak gigitan pertama. Entah itu karena pengaruh dari mama yang sudah merasa nggak yakin dengan makanan tersebut – sehingga gue juga terpengaruh untuk tidak suka dengan pizza itu atau karena memang rasa pizza itu berbeda dengan pizza yang gue makan saat bersama teman-teman gue.

Tapi, berhubung di awal tadi gue udah bilang mau makan semuanya, saat ngerasa udah nggak selera makan lagi gue tetap memaksakan makan pizza itu. Dalam hati gue berucap, “Mampus deh, makan segini banyaknya.”

Gue sempat nanya ke mama, kenapa rasa pizza itu beda banget sama yang waktu itu gue makan bareng teman-teman. Dan mama menjawab, “Karena kamu makannya waktu lagi kelaparan, makanya jadi enak. Apalagi itu ditraktir teman, kan!”

Gue terdiam mendengarnya dan kalau dipikir-pikir lagi, apa yang mama bilang itu ada benarnya juga.
Tapi, selama perjalanan pulang gue terus memikirkan hal ini.

Sampai gue mendapatkan kesimpulan yang tepat:

“Kesan pertama tidak selalu menjamin keputusan yang tepat.”
 – Nur Atika.



Mengapa?

Seperti kejadian yang gue alami malam ini, kalian pasti sudah bisa menangkap maksud yang gue sampaikan.

Contoh lain, gue akan menganalogikannya dalam pengalaman gue yang lain.

Beberapa bulan yang lalu, gue dan mama mampir ke salah satu kafe yang tidak terlalu jauh dari rumah. Di sana, kami memesan salah satu menu yaitu mie ayam. Dan ketika kami mencicipinya, kami menilai bahwa mie ayam di cafe itu enak. Saat itu, kami meyakini bahwa kafe tersebut memiliki menu-menu yang enak untuk dinikmati.

Pada kunjungan kedua, kami mulai beralih pada menu lainnya. Dan diluar dugaan kami, makanan itu kurang memuaskan. Kunjungan kedua, sedikit mengecewakan bagi kami. Semenjak itu, saat kami mampir kesana kami hanya memesan mie ayam.

Dari pengalaman inilah, gue semakin yakin. Bahwa kesan pertama tidak selalu menjamin kita untuk menilai sesuatu secara tepat. Hal ini bisa menjadi cerminan kita dalam kehidupan sehari-hari.
Selama di motor, gue terus berpikir betapa seringnya kesalahan ini gue lakukan.

Mungkin di antara kalian ada yang pernah melakukan hal ini:


  • Ketika kalian bertemu orang yang baru dikenal, kemudian langsung menilai watak orang tersebut di dalam hati.

  • Atau ketika kalian bertemu dengan seseorang, mengobrol, kemudian merasa nyaman, sehingga pada saat itu juga kalian sangat merasa cocok bersama orang tersebut.
 
Bagi kalian yang pernah melakukan hal ini (termasuk juga gue sendiri), sepertinya kita harus berhenti melakukan hal ini. Karena pada dasarnya, kita tidak bisa menilai sesuatu secara instan saat kita pertama kali mengenal hal tersebut. Kesan pertama bisa menjadi sesuatu yang baik atau bisa juga menjadi sesuatu yang buruk.

Hidup ini penuh dengan hal  yang tidak terduga, bukan?

Itulah mengapa, gue nggak mau lagi tertipu dengan “kesan pertama”.

Secara tidak langsung, ketika kita bertemu dengan hal yang baru untuk pertama kalinya kita akan sangat tertarik dan terpesona dengan hal tersebut. Hingga memutuskan untuk menilai bahwa apa yang baru kita kenal itu adalah sesuatu yang sangat baik. Namun, tidak jarang yang justru kita dapatkan adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Kalian mengerti maksudnya? Ya, seperti – hal yang membuat kalian tertarik pada awalnya, tetapi setelah didalami kembali ternyata tidak sesuai dengan ekspetasi kalian.

Itulah yang gue maksudkan.

Tanpa kita sadari, kita sering terjebak dengan “kesan pertama”. Nah, terus bagaimana cara kita mengatasinya?

Seperti quotes yang (mungkin) sudah sering kalian dengar, “Don’t judge the book by its cover.”
Begitu juga kesan pertama. Jangan langsung menilai saat baru pertama kali kita mengenal sesuatu yang baru.

Cover buku tidak pernah menjamin isi dari dalam buku tersebut. Kesan pertama tidak bisa memberikan pandangan secara menyeluruh mengenai sesuatu. Untuk membuat keputusan dan penilaian tentunya harus berdasarkan proses yang kita lakukan berulang kali.

Seperti kecerobohan gue, yang menilai makanan hanya karena saat itu gue lagi laper-lapernya dan ketika kunjungan kedua gue tidak lagi merasakan selera yang sama. Begitu juga saat kita mengenal hal baru. Jangan hanya karena “kesan pertama” yang menyenangkan atau mengecewakan, lalu kita langsung menilai dan memutuskan bahwa hal tersebut baik atau buruk bagi kita. 

Ingatlah, bahwa penilaian itu diambil berdasarkan proses dan waktu yang telah dilalui berulang kali. Bukan berdasarkan “kesan pertama” yang kita dapatkan.


So, bijaklah dalam mengenal dan menilai sesuatu.












Dan jangan biarkan “kesan pertama” menjebakmu pada orang yang salah. :)
-          -    Nur Atika

New Experience

Minggu, 01 Mei 2016

Hello, guys!! ^_^

Akhirnya, setelah sekian lama gak ngeblog. Sekarang baru bisa dapat kesempatan untuk nulis blog lagi. Maklumlah, sibuk banget ngerjain tugas sekolah dan berbagai urusan lainnya yang menyita waktu, jadi gak ada kesempatan untuk nulis. HMMM... jujur, akhir-akhir ini gue merasa banyak pengalaman yang gue dapatkan. Dan sebagian, akan gue bagikan juga disini.



Yap!
Gue dapat teman baru.. YEAYY!!! \(^_^)/
Namanya Rebecca dan dia berasal dari Italia. Dia adalah salah seorang peserta yang mengikuti program "Student Exchange" yang diadakan oleh AFS. Cerita awal gue bisa kenalan sama dia berawal dari tugas interview yang diberikan oleh guru bahasa inggris di sekolah.

Saat itu, gue dan beberapa teman lainnya diberi tugas untuk mewawancarai orang lain dalam bahasa inggris. Sebenarnya sih, nggak diwajibkan untuk mewawancarai orang asing. Tapi, kalau kita bisa dapat orang asing untuk diwawancarai, you know lah... wkwkkwk., kita pasti bakalan dapat nilai lebih tinggi. Dan itulah yang gue dan teman gue lakukan. wkkwk

Kebetulan, sekolah gue tahun lalu juga mengikuti program pertukaran pelajar ke luar negeri. Dan gue juga kenal sama kakak kelas yang ikut program itu. So, gue minta contact host family-nya Rebecca ini. Dari saudara angkatnya, gue dapat contactnya Rebecca dan kami pun janjian untuk melakukan interview itu.

Jujur, ini adalah pengalaman pertama gue bisa ngobrol santai sama orang luar. Ya, itu karena Rebecca ini sudah hampir 1 tahun tinggal di Indonesia, tepatnya Banjarmasin. Dia bahkan lumayan bisa berbahasa banjar. Salut banget deh, sama dia.. :)

By the way, Rebecca ini sekolah di SMA yang berbeda sama gue. Padahal, tahun lalu sekolah gue juga ikutan program "Student Exchange", seperti yang gue jelaskan sebelumnya. Tapi, gue juga kurang tahu kenapa tahun ini program itu nggak diadakan lagi.

Oh ya, sedikit berbagi info. Gue juga mau ngasih tau sesuatu.



hmm..

Sebelumnya, gue ada menyebutkan tentang AFS. Nah, kalian tahu nggak sih, AFS itu apa?


AFS itu... bisa kalian cari tau sendiri di google. hahaaha...

Intinya, AFS itu  merupakan suatu program dari organisasi Bina Antarbudaya yang menyelenggarakan program pertukaran pelajar ke luar negeri.

Organisasi ini bersifat volunteer, non profit, non pemerintah. Jadi, berbasis sukarelawan gitu. Untuk program "Student Exchange" itu sendiri, terdiri dari 3 kategori, ada program AFS Year, KL-YES, dan Short Program.

Yang paling enak itu program KL-YES. Soalnya, kalau nggak salah temen gue pernah bilang, kalau program YES itu semua biayanya GRATIS alias kita dapat beasiswa. Dan point pentingnya, justru kita malah dikasih uang saku gitu. Enak banget, kan ya... hmm.. Tapi, program ini cuma berbatas hanya untuk negara tujuan USA.

Sedangkan untuk negara dengan tujuan yang beragam, bisa kita dapatkan dalam program AFS Year. Kalau program ini, negara tujuannya lebih banyak. Bisa di benua Asia, Eropa, atau Amerika. Untuk program YES dan AFS ini, berjangka waktu sekitar 1 tahun. Jadi, kalau kita ikut program ini maka kita harus merelakan satu tahun sekolah kita untuk jalan-jalan belajar ke luar negeri.

Oleh karena itu, dibuatlah program terbaru. Yaitu, Short Program. Gue sih, kurang tau dengan program ini. Intinya, kalau kita memilih program yang ini, kita tidak akan ketinggalan satu tahun sekolah. Ya, sama seperti judulnya, short program. Maka, program ini hanya berjangka waktu pendek dan lebih intensif gitu.

Tapi, kakak kelas gue yang pernah ikutan pertukaran pelajar ini bilang, "Seperti ucapan Anies Baswedan yang terkenal. Tertinggal satu tahun untuk AFS itu bagaikan ketapel. Kita ditarik mundur sedikit untuk dilempar sejauh-jauhnya."

Dan menurut gue pribadi, program ini merupakan kesempatan yang baik. Tidak ada yang pernah tau bagaimana rasanya dan pengalaman apa yang bisa kita dapatkan nanti. Di luar sana, banyak hal yang masih perlu kita ketahui. Dan dengan program ini, rasa ingin tahu gue terpacu. Itulah kenapa gue memutuskan untuk ikut program ini.

Yapp!!!

Berita selanjutnya adalah keikutsertaan gue dalam program ini. hahhahaha... #berita #ini #maksa #banget #nggak #penting #lewatin #aja

Oke, buat kalian yang masih kepo, hehehehe..

 Setelah sosialisasi yang dilakukan oleh kakak kelas gue tersebut, gue dan beberapa teman lainnya tertarik untuk ikut. Ya, kalau pun gagal paling nggak gue udah tahu rasanya mencoba itu gimana. Prosesnya sendiri sih, bisa dibilang cukup lama.

Seleksinya terbagi dalam 3 tahap. Tes pertama, merupakan tes tertulis yang dibagi menjadi 3 sesi. Sesi pertama menjawab 100 soal Pengetahuan Umum, sesi kedua menjawab 50 soal Bahasa Inggris, dan sesi ketiga menulis esai berdasarkan topik yang disediakan. Dan Alhamdulillah, gue sudah melaksanakan tes pertama itu hari ini.
 ya, mulai jam 9 sampai jam 4 sore, gue ke salah satu lembaga les yang menjadi tempat pelaksanaan tes itu. Soalnya sih, ya lumayan lah..






Lumayan SUSAH, maksud gue..

Kalau pun gue lolos tahap pertama ini, gue akan lanjut tahap kedua: Wawancara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Doain ya, semoga gue lolos dan bisa lanjut seleksi berikutnya.. aminnnn :-)

Nah, kalau misalkan gue lolos lagi, maka tahap terakhir. Ditahap ini, kita akan dikelompokkan. Nah, nanti kita akan diberi suatu barang dan membuat sesuatu gitu. Pokoknya, kayak kerja sama kelompok gitu deh. Ini untuk mengetahui kemampuan kita dalam menyelesaikan masalah, kalau gak salah.

Kalau kalian mau tau tentang AFS Bina Antarbudaya itu, bisa klik link di bawah ini,
afsIndonesia.org

Oke, kayaknya segini dulu yang bisa gue tulis malam ini. Maklum, gue capek banget. Besok kebetulan Hari Pendidikan Nasional dan sekolah gue ngadain lomba masak gitu. Makanya, lagi sibuk juga nyiapin perlengkapan masak gitu (sok banget, padahal cuma kebagian tugas bawa blender sama gula merah) -_-

Nah, sampai ketemu di lain waktu yaa...


Inget loh, doain gue lolos seleksi yaa.. Thank You.. :*



Yakin?

Minggu, 10 April 2016



Untuk beberapa saat, aku sempat terdiam di hadapan layar ponselku sendiri. Memang benar katamu, aku sudah jarang menulis lagi. Itu karena aku tidak tau ingin menulis apa di blog ini. Dan ketika aku punya inspirasi pun, aku justru bingung bagaimana harus menuliskannya.
Seperti postingan kali ini. Aku bingung harus  mulai darimana. Semuanya terlihat rumit dan buram. Sempat beberapa kali aku berhenti mengetikkan jari, lalu memikirkan lagi. Apa yang harus aku tulis. Aku juga tidak tau kenapa bisa begini.
Rasanya sudah tak sama lagi.


*****


Yakin?



Itulah pertanyaan terakhirmu yang kuingat. Entahlah.

Saat kubaca pesanmu yang terakhir itu, untuk beberapa detik aku terdiam sejenak. Namun, dengan segera kujawab tanpa pikir panjang lagi.
Ya, rasanya aku sudah tidak ingin memikirkan hal ini (lagi). Aku tidak mau menimbang-nimbang keputusan yang pada akhirnya justru membuatku ragu, kemudian berubah pikiran. Itulah sebabnya, aku segera memutuskan. Ketika kau bertanya apa aku yakin? Sejujurnya, aku juga tidak tau. Tapi yang jelas, untuk saat ini itulah keputusan yang terbaik (menurutku).

Kau tau? Setelah chattingan itu berakhir. Aku hanya diam dan terus membaca ulang obrolan kita. Berulang kali juga aku memikirkan hal itu lagi. Menurutmu, apa keputusanku ini salah? Beberapa kali kutanyakan hal ini pada orang-orang terdekatku. Dan mereka mengatakan hal yang sama. Mereka bilang, apa yang kulakukan ini sudah benar. Dan jujur, itu sedikit membuatku lega.

Maaf, aku tidak tau apa yang kau pikirkan jika membaca postingan ini. Aku juga tidak tau bagaimana reaksimu sebenarnya saat aku bilang, bahwa lebih baik kita tidak lagi chattingan atau apapun itu. Tapi yang jelas, ketika kau kembali menyapaku, saat itu juga ingatanku kembali berputar. Aku ingat saat aku dan sahabatku bertemu dan dia bercerita tentangmu.

"Tik, pacarnya udah tau kalau dia chattingan sama kamu."

Setidaknya, seperti itu yang dikatakan sahabatku. Oke, aku tidak akan bertanya bagaimana responnya terhadapku. Karna sudah sangat jelas, bahwa pacarmu pasti tidak akan menyukai keberadaanku. Terlebih, ketika sahabatku bilang bahwa yang menceritakanku pada pacarmu, adalah kamu sendiri.

Jujur, saat itu aku benar-benar tak bisa berpikir. Aku bingung ingin bicara apa dan harus berbuat apa. Kemudian, setelah terdiam cukup lama. Aku memutuskan pada sahabatku, jika pacarmu kembali bertanya tentangku maka ceritakan saja semuanya. Agar semuanya jelas dan pacarmu tidak salah paham denganku. Dan setelah obrolan itu selesai, aku tidak membahas masalah itu lagi.

Sampai akhirnya kau kembali menyapaku. Jujur saja, aku baru bisa menulis hal ini hari ini karna sejak kemarin aku masih tak percaya dengan keputusan yang kubuat sendiri. Kau datang dan berbasa-basi sejenak. Kemudian melarangku untuk memberitahukan apapun pada sahabatku.

Astaga.
Entahlah. Kurasa kau membuatku berada di situasi yang sulit. Saat itu, kita kembali membahas masalah itu. Kau bilang, kau tak punya tempat untuk curhat itulah sebabnya kau datang padaku. Hmmm.. bolehkah aku mengatakan sesuatu?

Begini, aku mengerti jika kau tak tau harus bercerita pada siapa tentang masalahmu itu. Tapi sadarkah kamu? Dengan kamu curhat padaku, itu sama saja membuat masalah jadi semakin rumit. Kamu bilang, semua akan baik-baik saja selama aku tidak mengatakan tentang ini pada siapa pun. Termasuk pada sahabatku sendiri. Are you seriously? Saat membaca pesan itu, aku sampai melongo saking tak percayanya.

Jujur ya, aku sempat menanyakan hal ini pada beberapa teman SMAku. Dan mereka selalu memberi jawaban yang hampir sama.

"Kamu itu harus berhenti chattingan sama dia, Tik."
"Jangan jadi PHO, Tik."
"Astaga, Atika.."
"Nanti kalo dia chat lagi, jangan dibalas lagi."
"Read aja, Tik."
"Jauhin dia, Tik."
Or something like that.

Ya, mereka semua memberi saran yang sama. Untuk lebih baik aku menjauh saja. Lagipula, kamu bisa cari teman curhat yang lain. Yang bisa memberimu saran lebih baik dari aku. Selain itu, aku juga tidak mau dikira sebagai orang yang mengganggu hubunganmu. Terlebih, saat ini pacarmu sudah tau tentangku.

Jadi, kuharap kamu bisa mengerti. Kenapa aku melakukan hal ini. Dan aku juga sama sekali tidak ada niat untuk memutus tali silahturahmi. Kita masih tetap berteman sama seperti biasanya. Hanya saja, lebih baik kita tak mengobrol lagi. Aku tidak tau sampai kapan seperti ini. Ikuti saja jalannya bagaimana nanti.


Sky Burial: Pemakaman Langit di Tibet

Jumat, 01 April 2016


Halo, readers...

Hari ini, gue mau berbagi info sama kalian. Yap!
Tidak seperti postingan-postingan gue sebelumnya, postingan kali ini gue buat sekadar untuk nambah pengetahuan aja. Ya,, supaya blog gue ada manfaatnya dikit lah..  mengingat, dari dulu gue cuma posting tulisan-tulisan galau yang (sangat) tidak bermanfaat. 


Oke, langsung aja ya..


*****


Sky Burial
Atau yang bisa disebut juga Pemakaman Langit adalah suatu tradisi adat pemakaman di Tibet. Di mana, jasad yang sudah meninggal tidak dimakamkan seperti pada umumnya.

Di sana, jasad yang telah meninggal didoakan terlebih dahulu. Kemudian dibawa ke puncak gunung yang mana terdapat banyak burung pemakan bangkai. Jasad tersebut ditelungkupkan dan disayat-sayat agar mengundang datangnya burung pemakan bangkai. Yang nantinya, burung pemakan bangkai akan memakan jasad tersebut. Tulang-belulangnya juga dihaluskan untuk mempermudah dimakan oleh burung-burung kecil. Terkadang, tengkoraknya juga dibawa pulang sebagai tempat minum.


Memang, bagi kebanyakan orang hal tersebut sangat mengerikan. Namun, ini sudah menjadi tradisi di sana. Selain itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan mereka memilih untuk melakukan pemakaman dengan cara tersebut:
1)Kondisi geografis. Letaknya yang berada di dataran tinggi dan berbatu tidak memungkinkan untuk melakukan penggalian tanah serta sulitnya mencari kayu bakar sehingga tidak bisa melakukan kremasi.
2)Mayoritas penduduknya beragama Buddha Vajrayana yang meyakini adanya reinkarnasi. Mereka beranggapan bahwa setelah meninggal, roh atau jiwa manusia sampai ke nirwana dan jasadnya tidak ada artinya lagi. Dan lokasi ritual yang dipercaya merupakan pintu gerbang menuju nirwana. Sehingga lebih baik dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup lain yang lebih membutuhkan.
3)Dari beberapa sumber menyebutkan, bahwa kebanyakan warganya merupakan vegetarian dan bukan pemakan daging. Oleh karena itu, jasad tersebut dimanfaatkan untuk pakan burung pemakan bangkai. Hal ini juga menjadikan orang yang telah meninggal tersebut, dapat berbuat kebaikan untuk membantu makhluk hidup lain atas meninggalnya.


Ritual ini dilakukan oleh warga di Provinsi Qinghai, Tibet, Mongolia Dalam dan Mongolia. Perlu diketahui bahwa pemakaman ini dilakukan atas permintaan dari orang yang meninggal tersebut saat masih hidup atau setelah memperoleh izin dari pihak keluarga. Beberapa tulang belulang yang masih tersisa dikumpulkan dan dirangkai menjadi batu nisan yang nantinya akan diziarahi oleh para keluarga.

Meskipun mengerikan, ritual ini juga menarik perhatian para wisatawan yang ingin menyaksikan pemakaman ini secara langsung.

Dikutip dari: http://world-nesia.blogspot.co.id/2015/04/ritual-pemakaman-langit-yang-mengerikan.html?m=1
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pemakaman_langit
Dan beberapa sumber lainnya.

Khayalan dan Ilusi

Kamis, 17 Maret 2016

Sesekali, kulirik jam yang tampil di sudut kanan layar ponselku. Pukul 23.35 WITA.
Cukup larut, untuk orang yang tak lagi diizinkan begadang sepertiku. Tapi mau bagaimana lagi, mataku masih belum ingin terpejam. Dan aku masih berbaring di posisi yang sama sambil memperhatikan layar ponsel tanpa henti.
Beberapa menit yang lalu, aku membaca blog sahabatku. Dia bercerita tentang betapa lelahnya ia pulang selepas kegiatan di sekolah hingga tak terasa hari telah hampir gelap. Ketika itu, ia bertemu dengan seseorang. Berpapasan, tanpa ada kata sapa, senyum, apalagi percakapan. Bisa kulihat nada sedih dan kecewanya lewat barisan kata yang ia ketikkan. Dan entah kenapa, aku juga ikut merasakan sesak itu.
Saat kubaca postingannya, yang ku pikirkan hanya, Betapa lucunya semua terjadi.

Dia menulis,
 
  Aku tersenyum miris, berdecak kagum melihat dirimu yang sekarang, yang berada di atas awan, yang tak sudi lagi melihat diriku ini. Hebat! Kau melakukannya dengan sangat rapi; menutup-nutupi semua yang pernah terjadi di antara kita, kau bahkan berpura-pura tak mengenalku. Mungkin seharusnya kau memenangkan penghargaan piala bergengsi sebagai aktor dengan peran terbaik.Seharusnya

Apa kalian sudah bisa memahami alur dari cerita temanku ini?
Atau mungkin, kalian bisa menebak lanjutan ceritanya?

Seseorang itu adalah seorang laki-laki yang berpapasan dengannya sambil mengendarai sebuah motor. Yang diharapkan oleh temanku, kalau laki-laki itu akan menghentikan motornya dan menawarkan diri untuk mengantar temanku pulang. Tapi sayangnya, itu hanya ilusi temanku saja. Nyatanya, dia masih berdiri sendirian. Dengan kaki yang sakit oleh karena tersandung batu yang tanpa ia sadari juga membangunkannya dari halusinasinya sendiri.



*****



Setelah baca postingannya, entah kenapa aku pun juga terinspirasi untuk menulis. Tentang khayalan dan ilusi.



Ya, seperti kalimat yang kutulis tadi. Betapa lucunya semua terjadi.

Ketika kita dipertemukan dengan seseorang  yang tak pernah kita duga, menjalin hubungan dengan sebutan "teman", kemudian akrab, menjadi lebih dekat, namun ketika telah muncul yang namanya "harapan", seketika juga kita harus menerima "kenyataan" yang berbeda. Jauh berbeda.
Sayangnya, semua tak cukup sampai disitu. Kita harus berdiam diri, tak bercerita apapun, tak berani mendekat lagi, seakan ketika "kenyataan yang berbeda" itu muncul, saat itu juga telah tercipta jarak. Dan tentunya, semuanya tak akan sama lagi.
Perlahan menjauh, tak saling menegur, hanya berjalan melewati tanpa ada sapa, bahkan untuk sekedar mengobrol pun akan jadi terasa sedikit berbeda. Kenapa bisa begitu? Itu terjadi karena, sebenarnya ada masalah yang terjadi namun tak ada yang mau mengungkitnya, hingga yang terjadi hanya berdiam diri seakan semuanya baik-baik saja. Padahal yang terjadi justru sebaliknya.
Aku pun berkhayal sesaat, bagaimana jika laki-laki yang dimaksud oleh temanku ini membaca postingannya? Apa reaksinya terhadap temanku? Apa yang akan ia katakan setelah tau apa yang sebenarnya temanku rasakan?


Aneh.


Betapa semuanya jadi terlihat serba salah dan sulit untuk dilakukan. Terkadang, aku sendiri heran. Kenapa hubungan sesama manusia bisa terjalin begitu rumit. Kenapa kita dipertemukan dengan seseorang yang jika pada akhirnya, hubungan akan berakhir kurang baik?

Tapi, belakangan ini aku akhirnya tau jawabannya:
Karena, Allah mau kita belajar.
Ya, pastinya setiap orang yang datang, akan membawa sesuatu yang baru. Meskipun pada akhirnya orang itu juga akan pergi membawa sesuatu dari kita - termasuk perasaan. Tapi, di setiap hubungan pasti akan ada pelajaran yang kita dapatkan juga. Yang menempa kita agar jadi semakin dewasa dan lebih kuat.



*****



Berkaitan dengan khayalan dan ilusi, aku termasuk orang yang suka berkhayal. Memang, sebenarnya berkhayal itu adalah hal yang buruk. Karena dengan berkhayal, itu akan membuat kita menjadi selalu berangan-angan tanpa ada keinginan untuk meraihnya. Dan kalian tau, hal yang paling menyedihkan dari orang yang suka berkhayal?
Itu terjadi, ketika kita telah menggabungkan khayalan dengan harapan.


Yap!


Harapan itu buruk, teman.
Karena, ketika khayalan yang diiringi dengan sejuta harapan itu tidak terwujud, pastinya akan menimbulkan sakit yang berkepanjangan.
Dan itulah yang sering aku alami.
Aku sering berkhayal:
Bagaimana jika aku dekat dengan dia lebih dari sekedar teman?
Apa jadinya nanti?
Bagaimana jika nanti kami jalan dan menghabiskan waktu bersama?
Bagaimana alaynya kami, pergi ke mall berdua?
atau bagaimana ketika hubungan kami nanti berakhir?
Apakah dia juga pernah berfikir, apa aku memikirkanya atau tidak, sama seperti aku memikirkannya saat ini?
Apa dia pernah berkhayal sejauh ini juga?
Apa yang dia pikirkan tentangku?

Dan sejuta khayalan dan pertanyaan lainnya. Perlahan, bayang-bayang itu juga muncul. Siluet ketika kita sama-sama pergi ke sekolah dan melakukan kegiatan menyenangkan lainnya.
Sayangnya, yang selalu terjadi adalah: Hal yang berbanding terbalik dengan apa yang kita bayangkan.

Dan kalau sudah begini, aku selalu menyebut, "Ya, rencana Allah memang selalu penuh dengan kejutan. Ikuti saja jalan cerita-Nya."



*****


Btw, ini adalah link blog sahabatku 
Thanks for Iyasa Nindya who has given me inspiration to write this through her post :)

NB: maaf ya, kalo bahasa inggrisnya salah.. :D

Easy Come, Easy Go

Sabtu, 16 Januari 2016

Pagi ini,jam masih menunjukkan pukul 05.26 WITA dan aku baru saja bangun. Segera kuraih ponsel yang ada di dekat bantal kemudian kembali membuka aplikasi LINE. Kubaca obrolan itu sekali lagi, lalu tersenyum.

Entahlah, untuk beberapa minggu terakhir, itulah kegiatan yang pertama kali kulakukan setelah bangun tidur. Mencari ponsel untuk mengecek apakah ada balasanmu, atau bahkan sekedar pesan yang berucapkan "Selamat Pagii"

Tanpa kusadari, kini kamulah orang yg pertama kali kucari di pagi hari.
Tanpa kusadari, kamulah orang yang aku tunggu kabarnya setiap hari.
Tanpa kusadari, aku selalu khawatir jika kamu tidak membalas pesanku.
Tanpa kusadari, aku selalu menanyakan apakah kamu sudah makan hari ini atau belum.
Dan tanpa kusadari, obrolan kita terus mengalir setiap harinya.
Ada banyak hal yang tidak aku sadari. Itu karena aku hanya membiarkannya mengalir begitu saja. Hingga aku baru sadar, kurasa ini sudah terlalu kelewatan.

*****

Aku lupa kapan persisnya semua ini dimulai. Yang jelas, ketika aku menambahkanmu menjadi temanku tak berapa lama setelahnya kulihat satu pesan masuk darimu. "Ini Atika SD lo?" Begitu tanyamu.
Dan kujawab ya. Memang, hampir sudah 3 tahun lebih aku tidak bertemu denganmu. Banyak yang telah berubah padaku. Begitu juga denganmu. Sejenak, aku masih mengingat kejadian-kejadian konyol saat kita SD. Ketika itu, aku memang tidak terlalu akrab denganmu. Jadi tak banyak hal yang kutahu tentangmu.

Untuk menit-menit berikutnya, kita saling bertanya kabar. "Sekolah dimana?", "Apa kabar?", "Liburan kemana?", dan hal lainnya. Selayaknya teman yang sudah lama tidak bertemu, kita memulai obrolan dengan begitu kaku.

Namun, ada satu pertanyaan yang membuatku ragu untuk menanyakannya saat itu. "Kamu masih pacaran sama *** kan?" Tanyaku. Sebenarnya, itu pertanyaan yang tak perlu kutahu jawabannya. Karna dari semua status mereka, aku sudah tidak melihat lagi adanya suatu hubungan. Dan memang itulah yang terjadi.
"Udah lama mah,"
"Kalian udah putus?" Tanyaku lagi.
"Iyaa"

Ups!
Aku sedikit terkejut. Mengingat, cowok yang sedang chattingan denganku ini adalah teman SDku dulu dan cewek yang *** itu adalah sahabatku.
"Maaf ya, aku emang udah jarang komunikasi lagi sama *** jadi nggak tau apa-apa." Terangku.
"Iyoo gpp."

Dan setelah obrolan biasa lainnya, chattingan hari itu pun berakhir.~

*****

Beberapa hari berikutnya, aku membroadcast di BBm tetang lomba yang akan diadakan oleh sekolahku dalam waktu dekat ini. Dan ketika kembali kucek ponselku, kulihat pesanmu masuk lagi. Menanyakan tentang lomba basket dan obrolan itu pun terjadi lagi. Tapi berbeda dengan sebelumnya, kita jadi lebih santai dan seolah telah bertemu setiap hari. Tidak seperti obrolan pertama yang singkat, obrolan hari itu jadi lebih menyenangkan dan berlangsung hingga malam. Bahkan, hingga aku ingin beranjak untuk tidur. Dan akhirnya, malam itu, untuk pertama kalinya, kamu mengucapkan selamat malam.

Paginya, aku langsung membaca obrolan kita yang kemarin. Terdiam sejenak, berfikir, kemudian tersenyum. Entahlah, sekeras apapun aku berfikir bagaimana semua ini terjadi, aku tidak akan pernah menemukan jalan keluarnya.
Sekitar jam 6 an, kulihat satu pesan darimu masuk. "Bangunn bangunn.. wkwk" begitu katamu. Membacanya, aku tiba-tiba tersenyum. Hari itu, untuk ketiga kalinya kita kembali mengobrol seharian.

Dan setelah itu, hari-hari berikutnya, kita terus chattingan. Sampai kemarin. Aku senang. Sesibuk apapun kamu, tetap menyempatkan untuk ngechat aku. Ngasih kabar, kalau kamu lagi super sibuk dan masih sempat-sempatnya ngucapin semalam malam. Entah, yang keberapa kalinya. Dan jujur,,, hal itu membuatku justru merasa....

Ini sudah berlebihan.

Memang, sekarang kamu sekolah di Banjarbaru. Bahkan satu sekolah juga dengan ***. Kamu tau? Ada sedikit harapan muncul ketika kamu bilang, kalau tim basketmu juga akan ikut pertandingan yang diadakan oleh sekolahku. Meskipun itu masih rencana, aku hampir mati kesenangan. Kalau pun benar, aku pasti akan nonton pertandingan itu. PASTI!!

Terkadang, aku sempat mengingat-ingat lagi. Bagaimana kita bisa jadi sedekat ini? Dan kamu tau, ketika kamu memutuskan untuk menelponku, kemudian berlanjut ke vidcall. Malam itu, aku jadi sulit untuk tidur. Entahlah, apa yang membuat kita bisa sedekat ini? Padahal kita tidak pernah bertemu lagi hampir 3 tahun lebih. Saat SD pun kita tidak terlalu akrab. Lalu? Bagaimana kita bisa terus berbagi kabar setiap harinya, padahal tidak ada kewajiban sedikit pun dari kita untuk melakukannya.

Jujur, aku tidak tau apa yang sedang ada dalam fikiranmu saat ini.
Apa pendapatmu tentang kita yang terkadang bisa jadi terasa lebih dari teman?
Apa yang membuatmu mengirimkan pesan "Bangunn bangunn.. wkwk" setiap paginya?
Apa yang membuatmu menyempatkan diri untuk mengucapkan "Good night" pada jam 1 malam, ketika pertandinganmu baru saja selesai?
Apa yang membuatmu menyuruhku untuk segera makan siang, padahal kamu juga sedang sibuk-sibuknya??

Please, apa ini hanya perasaanku saja yang berlebihan? Atau memang kamu yang memperlakukanku secara berlebihan?

Entahlah.
Tapi yang jelas, sekarang kamu mulai membuatku takut.
Aku takut kalau nanti, aku harus bangun tiba-tiba dari semua mimpi ini.
Aku takut, kalau nantinya kamu akan menghilang begitu saja. Sama seperti kedatanganmu yang juga tiba-tiba.

Easy come, easy go.
Sesuatu yang datang dengan mudah, bisa pergi juga dengan mudah. Dan ketika kamu mulai masuk dalam hidupku beberapa minggu terakhir ini, aku merasa tidak ingin kamu pergi lagi.




 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS