2 0 1 8

Kamis, 27 Desember 2018



Tidak pernah ada manusia yang tahu akan jadi apa dia di masa depan. Banyak yang menduga dan berkhayal, tetapi hanya sedikit yang benar-benar berusaha. Ada yang mempersiapkan jauh-jauh hari, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah dijalankan dengan takdirnya yang berbeda. Beberapa senantiasa berdoa untuk kebaikannya, sampai ia dihadapkan dengan kenyataan yang berat untuk diterima. Tidak ada yang pernah tahu bagaimana rahasia Tuhan. Tidak ada seorang pun yang bisa menduga apa yang sedang Tuhan rencanakan.

Tahun ini adalah tahun di mana sangat sedikit saya menulis. Tahun di mana tidak sedikit angan-angan menguap ke udara sampai tidak berbekas. Tahun yang mengajarkan banyak hal kepada saya yang masih kekanak-kanakkan dan ceroboh. Tahun yang menguatkan dan mengabulkan cita-cita saya. Malam ini belum sampai 365 hari sebenarnya, tetapi saya sudah tidak sabar untuk menulisnya. Tentang tahun ini. Saya belum pernah belajar sekuat ini sebelumnya, begitu pula sejatuh ini. Namun setiap hidup pasti memiliki alurnya yang berputar. Saya senantiasa meyakini bahwa inilah saatnya roda saya naik dan turun. Semakin jauh saya berputar, semakin dekat saya dengan apa yang saya cari.

Saya tidak tahu pasti apa yang akan saya hadapi di masa depan. Mungkin lebih berat dari sekarang, mungkin lebih rumit, lebih melelahkan, atau mungkin lebih baik lagi. Setiap sampai di tanggal kelahiran saya, hal pertama kali yang selalu terpikirkan adalah bahwa saya bersyukur telah sampai ke tahap ini. Usia yang bertambah padahal sebenarnya kian berkurang. Akan selalu ada pertanyaan "Apa yang sudah kamu dapat sejauh ini?" muncul di kepala saya dan setiap saya kilas balik apa yang telah saya lalui selama setahun, perasaan sesal dan senang keluar bersamaan. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, bukan? Setiap orang pasti harus belajar dari kesalahannya. Di samping itu, saya sangat mensyukuri segala nikmat yang Tuhan berikan. Bagaimana impian saya terwujud dengan indahnya. Di tahun ini saya menyadari bahwa Tuhan sangat menyayangi hamba-Nya dan begitu pula saya seharusnya terus berusaha memperbaiki diri. Pelajaran penting yang Tuhan berikan harus menjadikan saya pribadi yang lebih kuat, dewasa, dan beragama.

Waktu yang akan datang, saya harus membangun lagi tenaga yang terkubur terlalu lama. Saya harus berjuang lagi demi orang-orang yang menyayangi dan menaruh harapannya kepada saya. Ada banyak hal yang perlu saya perjuangkan. Saya percaya, untuk mencapai apa yang saya inginkan saya harus mengorbankan banyak hal. No pain, no gain. Tuhan juga akan selalu membantu hamba-hamba-Nya yang mau berusaha. Saya percaya itu.



Tentang Beradaptasi dan Perubahan

Rabu, 28 November 2018

Hal pertama kali yang terlintas di benak saya saat ini adalah kedinginan.
Ingin rasanya saya menangis sambil berkata bahwa saya tidak kuat. Tetapi ini baru awal, bahkan untuk menjejakkan kaki di garis start pun rasanya belum sampai. Saya masih jauh, masih sangat jauh. Perjalanan yang akan saya tempuh masih terbentang luas di hadapan saya saat ini. Kalau yang begini saja saya sudah lemah, bagaimana nanti?

Saya dan mungkin kita semua selalu menyepakati, kalau beradaptasi itu tidak pernah mudah. Segala fase perubahan yang dialami setiap manusia selalu tidak mengenakkan. Kita belum biasa dengan suasana baru, tidak mengerti akan beberapa hal, masih mencari pijakan yang pasti untuk berjalan. Bagaimanapun kita telah mempersiapkan diri untuk menghadapinya, perubahan seringkali sulit untuk kita terima. Ada rasa enggan bagi kita untuk berpindah dari tempat yang sudah kita rasa nyaman. Ada keraguan saat kita harus keluar dari zona tetap yang sudah kita tinggali cukup lama. Namun kembali lagi, kita ini manusia yang hakikatnya memang selalu hidup dinamis, berkelanjutan. Jika tidak berlanjut, ya berarti kita sudah mati. Sebagai manusia, mau tidak mau kita harus terus dihadapkan atas beragam masalah dan perubahan. Siap tidak siap, kita harus terbuka untuk semua hal itu. Sekarang tinggal tergantung dari bagaimana cara kita menyikapinya. Dari langkah apa yang bisa kita ambil untuk terus hidup dan berjalan.

Memasuki dunia baru, entah itu sekolah, kuliah, maupun lingkungan pertemanan, kerap menjadi momok tersendiri bagi saya. Ada perasaan takut atau kekhawatiran yang muncul setiap kali saya harus menginjakkan kaki untuk pertama kalinya pada tanah yang baru. Bagaimana kalau nanti saya seperti ini? Apa jadinya kalau yang lain begini? Bisakah saya begitu? Aduh, mereka itu bagus sekali! dan berjuta ungkapan lainnya. Saya memang termasuk orang yang overthinking akan suatu hal. Pemikiran berlebihan yang kerap membuat saya jatuh dan capai sendiri. Jujur saja, setiap kali memulai adaptasi, perasaan minder itu selalu datang. SELALU. Namun entah mengapa, Alhamdulillah, dengan berbagai cara saya pasti bisa bangkit dan bertahan lagi. Begitu pula saat ini. Oleh karena itu saya menyadari, bahwa ini bukanlah pertama kalinya saya seperti ini.

***

Seperti yang saya sampaikan di awal, hal pertama kali yang saya tahu adalah tangan saya terasa sangat dingin hingga saya harus memasukkannya ke saku rok agar terasa lebih hangat. Sesekali bisa pula saya merasa agak mual atau sedikit pusing dan mengantuk. Itu bukan apa-apa. Di hari pertama menggunakan lift, saya merasa pusing dan mual. Saya tidak biasa dengan kondisi-kondisi seperti itu. Keesokan harinya, saya amat bersyukur ketika diberitahu bahwa saya dilarang menggunakan lift dan diharuskan memakai tangga. Saya memang lebih memilih memakai tangga.

Dari pengalaman ini, entah, mungkin ini memang hanya ada di kepala saya saja. Tapi bagaimanapun juga, sering sekali muncul perasaan bahwa saya sulit untuk berada di tempat itu. Mulai dari lingkungannya secara material, namun juga termasuk lingkungan sosial dan aspek lainnya. Saya merasa berbeda. Saya merasa kalau saya harus bekerja lebih keras daripada yang lain. Saya harus bisa lebih giat daripada yang lain. Saya harus mampu lebih kuat daripada yang lain. Karena pada kenyataannya, untuk bisa menyesuaikan diri dengan tempat itupun bahkan saya masih belum bisa. Saya merasa kalau saya tertinggal cukup jauh.

Sebenarnya pemikiran ini sudah saya anut sejak dulu. Pemikiran bahwa saya ini selalu berbeda. Terlebih karena latar belakang sosial saya yang juga tidak sama dengan yang lainnya. Justru itulah yang kerap menguatkan saya kembali. Menjadi cambuk bagi saya agar mampu bertahan dan tidak pernah berhenti berjuang. Terlebih ketika mengingat orang tua saya. Bagaimana lelahnya Ibu saya yang duduk di warung menunggu kedatangan saya. Betapa mengantuk dan capainya Ayah saya agar dapat meluruskan niat saya berada di gedung yang saya pijak sekarang. Saya tahu usaha mereka sangat besar untuk saya. Maka dari itu, saya justru harus lebih kuat dan keras lagi agar bisa menunjukkan bahwa apa yang telah mereka berikan sampai detik ini tidak ada satupun yang terbuang. TIDAK ADA.

Berkaca dari orang lain itu terkadang diperlukan, agar kita tahu sudah sampai sejauh mana kita sekarang. Namun selebihnya, semua berada di tangan kita sendiri. Kita harus tetap fokus dan melihat jalan kita sendiri. Melihat apakah diri kita sudah lebih baik dari sebelumnya atau mungkin belum ada perubahan apa-apa. Pada akhirnya, ini bukan tentang orang lain. Melainkan, bagaimana kita bisa melampaui diri kita sendiri.

Beradaptasi itu memang suatu keharusan. Saya pasti bisa berubah. Saya pasti bisa melampaui diri saya sebelumnya, dan terus berkembang menjadi manusia yang lebih baik.

Saya pasti bisa.

H A L O

Jumat, 10 Agustus 2018

Hai.

   Sudah lama sejak terakhir kali saya menulis di blog ini. Satu tahun lebih yang banyak berubah. Lama tidak menulis membuat saya sempat kehilangan minat dalam membaca dan membuat tulisan. Saya harus mulai dari awal lagi untuk bisa membangun kebiasaan yang dulu saya lakukan.

   Saya sudah lulus dan masuk perguruan tinggi negeri di daerah tempat saya tinggal dengan jurusan kedokteran gigi. Suatu hal yang jarang saya bayangkan. Lucunya, saya lebih siap menerima pilihan kedua saya daripada pilihan pertama saya. Memang benar, segalanya sudah ditentukan dan sisanya, kita sebagai manusia hanya menjalankannya. Seseorang pernah mengatakan itu kepada saya beberapa hari yang lalu.

   Setahun ini, saya mendapat banyak pengalaman dan pelajaran. Dekat dengan orang baru dan lama yang menunjukkan perspektif berbeda. Manusia selalu berubah, dan saya menjalani semuanya sejauh ini dengan baik.

   Baru saja saya selesai membaca tulisan teman saya, yang juga mendorong saya untuk membuat tulisan ini. Sebenarnya saya sudah sangat malas untuk menulis. Saya bingung harus menulis apa. Saya kehilangan kata-kata. Tetapi, tulisan ini saya buat untuk mengingatkan diri saya sendiri. Entah kapan, ketika saya masih ingat kalau saya memiliki blog dan membukanya, saya ingin mengingatkan diri saya sendiri. Bahwa di titik ini, saya harus sadar betul, saya harus banyak-banyak bersyukur.

   Apapun masalah yang akan saya hadapi nantinya, apapun kesalahan yang sudah dan mungkin akan saya lakukan, saya harus ingat, kalau segala hal yang terjadi tidak pernah tanpa alasan. Selalu ada penjelasan dan kesempatan untuk memperbaikinya. Tidak ada yang pernah tahu, bagaimana jalan yang akan kita hadapi di depan dan apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk kita. Namun yang jelas, ketika Tuhan sudah menetapkan satu jalan untuk kita, maka kita harus yakin dengan keputusan itu. Masa bodoh, apakah itu sesuai keinginan kita atau tidak.

   Tuhan saja yakin, menetapkanmu pada jalan itu. Mengapa kamu, yang hanya makhluk ciptaan-Nya meragukan apa yang ia pilihkan untukmu?

   Kalimat itu yang saya putar di kepala saya berulang kali. Saya selalu merasa lebih kuat jika mengingat kalimat itu, yang membuat saya yakin dengan apa yang saya hadapi saat ini. Semakin bertambah yakin, ketika saya melihat orang-orang terdekat saya juga mengalami hal yang sama. Jadi, ketika suatu saat nanti saya berada pada posisi paling rendah dan terjatuh sedalam-dalamnya, saya harap saya bisa membaca tulisan ini dan mengingatkan saya kembali.

   Manusia itu memang makhluk yang sering kali lupa. Lupa diri, lupa bersyukur, lupa mengakui kesalahan, lupa kebaikan yang orang lain lakukan, dan lupa-lupa lainnya. Karena itu saya suka menulis. Di saat saya membaca ulang semua tulisan yang telah saya buat, di saat itulah saya sadar betapa saya telah banyak berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

    Terima kasih untuk semua orang yang telah menyadarkan saya akan hal ini. Terima kasih untuk kalian, siapapun itu yang pernah saya kenal kalau kalian membaca tulisan ini. Terima kasih karena sudah saling menyadarkan dan mengingatkan.

Keinginan dan "Sedikit" Kegelisahan

Jumat, 30 Juni 2017

sumber: tumblr.com

Assalamu’alaikum.

Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, postingan ini bukan mengenai buku atau film. Bukan pula mengenai perasaan. Meskipun saya tidak berani menjamin, juga akan ada sedikit perasaan terlibat di sini. Perasaan saya lebih tepatnya.

Di awal tahun, melihat dari blog seorang idola, saya ingin mengikuti jejaknya dalam membaca. Dalam blog-nya ia berkata bahwa akan membaca minimal sebuah buku dalam satu bulan. Hingga jika dijumlahkan, paling tidak, dalam satu tahun ia akan melahap 12 buku. Minimal. Ia juga me-resume 12 buku yang sudah dibacanya tahun lalu. Merekomendasikan beberapa buku yang menurutnya sangat patut untuk dibaca.

Melihat hal itu, saya tertarik untuk melakukan hal yang sama. Karena memang beberapa tahun belakangan, saya juga mulai kurang menghabiskan waktu dengan setumpuk buku bacaan. Maka jadilah tahun ini, di mana saya berniat untuk menghabiskan sedikitnya 12 buku dalam satu tahun. Dan setelah melangkah sejauh ini, saya menyadari bahwa itu jumlah yang bisa dibilang, sedikit bagi seorang Bibliophile.

sumber: tumblr.com

Tidak, saya tidak mengklaim diri sebagai Bibliophile. Atau lebih tepatnya belum. Karena sebenarnya saya ingin. Tetapi, keadaan masih menyibukkan saya dengan buku-buku pelajaran, kegiatan sekolah, dan serangkaian ulangan. Ya, status sebagai pelajar terkadang memperluas kita pada ilmu pengetahuan namun mempersempit kita pada bidang yang kita sukai. Kecuali bidang yang tergabung dalam ekskul sekolah. Itupun, saya rasa tidak sungguh-sungguh berkembang.

Kembali pada pokok pembahasan. Di tahun ini, saya berusaha agar bisa memenuhi niat tersebut. Satu buku untuk satu bulan dan mengulasnya dalam blog ini. Akan tetapi, rencana itu saya ubah menjadi lebih cepat. Kalau bisa dua bahkan lebih banyak dalam sebulan. Karena di pertengahan, saya baru (lagi) sadar kalau setengah tahun terakhir dan setengah tahun depan, akan menjadi masa-masa berat untuk saya. Saya harus berkutat pada buku-buku ujian sekolah, ujian nasional (apapun sebutannya untuk saat ini, intinya tetap sama bagi saya), try out, hingga tes masuk perguruan tinggi. Bahkan untuk mengingatnya pun sudah membuat saya lelah.

Oleh karena itu, saya ingin menyelesaikan semuanya lebih awal. Sehingga sisanya, buku yang dibaca di luar dari 12 buku dalam setahun, bisa saya baca kapan saja tanpa bergantung pada waktu luang yang kian sempit. Terlebih lagi, kalau saya tidak sempat mengulas buku.

Jadilah sekarang. Niat itu sudah terlaksana. Keinginan saya sudah terpenuhi. Namun, itu tidak lantas membuat saya berhenti membaca. Tentu tidak! Saya justru akan terus membaca dan semakin sering membaca. Dari awal hingga pertengahan tahun ini, saya sudah menandaskan beragam jenis buku. Mulai dari kumcer, novel, hingga sastra. Buku-buku yang memperkenalkan saya pada penulis-penulis hebat seperti Etgar Keret, Eka Kurniawan, Norman Erikson Pasaribu, Bernard Batubara, dan tentunya, Haruki Murakami. Dan setelah ini, daftar buku yang ingin saya jamah semakin banyak. Sayang, waktu dan kondisi sepertinya kurang memihak kepada saya.

Maka, bagi seorang yang berikeinginan menjadi Bibliophile dan dalam tahap menulis yang masih sangat awal, seperti saya, saya harap maklum. Maklum dengan ulasan-ulasan saya yang masih serba kekurangan dan perlu banyak perbaikan dalam memahami bacaan dan menulis. Saya masih belajar. Dan akan terus belajar.

sumber: tumblr.com

Review Buku: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu - Norman Erikson Pasaribu


Kesepian bukanlah hidup sendirian, kesepian adalah ketidakmampuanmu untuk menjaga seseorang atau sesuatu tetap di sisimu. 
-          Hal. 87

Judul buku          : Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
Penulis                : Norman Erikson Pasaribu
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Ke-       : 1
Tahun terbit       : 2014

Sebenarnya buku ini telah saya beli kira-kira setahun yang lalu. Atau kalau saya salah, mungkin dua tahun. Ketika saya masih belum cukup mengerti dengan buku-buku sastra dan cara berpikir saya yang juga belum bisa memahami hal-hal rumit. Persis seperti Kakek Nakata rekaan Haruki Murakami yang tidak terlalu pandai. Oleh karena itu, buku ini pun hanya teronggok dalam lemari kaca dan menua karena mulai berjamur. Jujur saja, salah satu hal lain yang membuat saya kembali tertarik untuk membaca buku ini adalah, selain karena judulnya yang bisa dibilang hmm, cukup panjang dan menohok hati, juga karena cover-nya yang tampak kelam. Membuat sebuah pertanyaan di kepala saya pun muncul, Benarkah menunggu bisa sesakit  dan semenyiksa itu?

Buku ini, merupakan kumpulan cerpen yang beberapa di antaranya telah dimuat di berbagai media massa. Tidak mengherankan, karena setiap kali saya berhasil menandaskan satu cerpen, saya selalu tertegun. Tentu dalam artian ‘terkesima’. Cerpen pertamanya yang berjudul Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal sukses menjadi pembuka yang menohok bagi saya. Nuansa akan kepedihan, percintaan, dan pandangan sosial terasa amat kental. Memberikan gambaran sepenuhnya kepada saya, bagaimana cerita-cerita selanjutnya akan saya nikmati.

Kadang-kadang ketika stress menulis berita, aku menekan Command+Z–undo typing–berulang-ulang, perlahan-lahan, hingga yang tersisa hanyalah layar putih, lalu aku mencuci mukaku dan menatap wajahku dan berkata kepada bayangan diriku, “Tak ada yang terjadi, semua itu tak terjadi.” Dan, kau tahu, kelak dalam kehidupanmu ada momen semacam itu, di mana semua kesedihan yang kau alami tiba-tiba berputar mundur di kepalamu. Sayangnya, yang tersisa bukanlah layar putih–mengingat tak ada perumpamaan yang sempurna.
-Hal. 45
Tentang harusnya bersabar dalam menunggu, menerima kepedihan, kepergian, dan berusaha melupakan sesuatu yang kita tahu, bahwa akan sulit melupakannya, adalah sedikit dari banyak hal yang bisa saya tangkap dari tulisan-tulisan Bang Norman. Juga menyinggung isu sosial seperti LGBT yang dipolesnya sedemikian menarik, sehingga mampu membuka pandangan saya mengenai hal tabu tersebut.

Akan datang harinya di mana Hawamu itu tahu dan akhirnya diam-diam meminta kalian untuk pergi, memisahkan diri dariku. Mungkin saat itu kau akan bilang dengan yakinnya: Kami akan datang setiap minggu. Tapi aku tahu setelah itu kalian tidak akan kembali. Dan garpu imajinatif itu bakal laksana permata yang patah. Dan hanya aku yang tersisa. Sendiri bertahan. Persis tusuk sate.
- Hal. 47 



Selain cerita-ceritanya yang begitu berbeda, hal lain yang memesona saya ialah bagaimana Bang Norman menuturkan setiap ceritanya. Ya, sudut pandang orang pertama pelaku sampingan yang terkadang membuat saya agak kebingungan, tapi tidak pernah gagal menggoyahkan emosi. Ia punya bahasa yang seolah sanggup mengetuk hati.

“Apakah Anda pergi sendirian saja?” Pertanyaannya entah mengapa menyesakkan. Aku merasa dia menuduhku sebagai orang yang sebatang kara. Aku pernah tahu orang seperti itu, kenal dekat malah. Orang itu sudah lama pergi dan tak perlu kembali. Bara yang mengusirnya. Kalau aku tak keliru, namanya Kesepian.
-Hal. 161

Kumcer ini bisa menjadi teman hangat, selagi kalian menanti sosok yang entah kapan akan tiba. Dan untuk orang yang sedang menunggu, penantian yang belum berujung, buku ini seperti teh hangat di pagi hari yang akan membuka mata kalian. Menyadarkan kalian. Bahwa dalam perihal menunggu, segala sesuatunya tidak akan pernah mudah.

Dunia ini kadang terasa seperti penantian yang tak usai-usai. Perjalanan yang sunyi. Kadang menyenangkan, lebih sering menyakitkan. Ditinggalkan. Terpaksa meninggalkan. Patah hati. Dilupakan. Terpaksa melupakan. Kalah. Terpaksa menyerah…
-Hal. 83

Review Buku: Elegi - Dewi Kharisma Michellia

Selasa, 20 Juni 2017



Judul Buku                    : Elegi
Penulis                           : Dewi Kharisma Michellia
Penerbit                         : Grasindo
Tahun Terbit                  : 2017
Jumlah Halaman           : 162

Sesuai dengan judulnya, Elegi karya Mba Dewi Kharisma Michellia ini akan selalu membawa kita untuk bergumul pada kepedihan, kepergian, dan kematian. Diramu dengan apik dan segar, membuat kita terkadang harus membaca atau berpikir dua kali untuk mengerti apa arti yang ingin disampaikan Mba Dewi sebenarnya. Sebagian ada yang terasa sedikit ganjil, beberapa ada yang sulit saya pahami, namun ada pula yang teramat menyentuh hati.

Buku kumpulan cerpen ini terbagi ke dalam 13 cerita pendek dan 6 fragmen yang beberapa di antaranya telah dimuat di media massa. Kita akan masuk dalam kesedihan yang disebabkan oleh patah hati, kematian orang terkasih, kehilangan sosok keluarga, hingga kerinduan yang mendalam. Elegi mengajak kita untuk mencicipi sembilu dari sisi dan sudut pandang yang beragam. Lebih tepatnya, menunjukkan kepada saya bahwa di dunia ini, banyak hal dapat mengundang luka, termasuk seorang penulis yang sedang mandek sekalipun. Tidak lupa juga dengan potongan-potongan yang singkat, namun membekas.

Di sini saya hanya akan menuliskan sinopsis 3 cerpen favorite saya dari buku ini, ditambah dengan beberapa fragmen yang hmm.. menyentil perasaan saya.
  • Penulis Fiksi              
Penulis Fiksi berkisah tentang tokoh Aku yang sering sekali memperhatikan tetangga barunya. Sampai suatu ketika, Ibunya tokoh Aku memberitahu kalau tetangga baru mereka itu masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Tetangga barunya itu dilarikan ke rumah sakit setelah ia menenggak racun, memutus urat nadinya, lantas loncat dari lantai dua rumahnya. Dan beruntungnya, sungguh beruntung, pria itu tidak mati.

Orang tuanya menyuruh tokoh Aku untuk menjenguk pria itu ke rumah sakit. Di sana, tokoh Aku mengobrol dengan pria itu. Tegur sapa yang pertama kali mereka lakukan, semenjak pria itu menjadi tetangganya. Pria itu memberikan sesuatu kepada Aku dan setelahnya, sesuatu berjalan begitu saja.
Ia menunjuk pada parsel-parsel yang menghiasi kamarnya. “Kau tahu dari mana datangnya bingkisan-bingkisan ini?" Aku menggeleng. Aku tak suka orang-orang melankolis. Ia tersenyum. “Aku meminta para perawat membelikannya untukku.” 
-          Hal. 19

  • Tanda
Bagaimana rasanya jika kau bertemu lagi dengan orang yang kau cintai dulu, dalam wujud yang sering kali mengawang lalu hilang berhambur dengan debu? Di saat kau menyadari bahwa kau dan kekasihmu sudah tidak berada dalam dunia yang sama? Kira-kira seperti itulah pembuka yang disajikan dalam cerita Tanda.

Seorang pria berjumpa dengan kekasih lamanya yang berkata bahwa saat ia dapat mengunjungi dan tinggal di dunia dalam waktu yang lama, itu pertanda saatnya ia tak akan boleh pergi ke sana nantinya. Oleh karena itu, sang kekasih memberikan seekor kucing kepada pria itu. Seperti yang kita tahu, setiap arwah yang berada di alam yang bukan semestinya, itu berarti bahwa ada ‘sesuatu yang belum selesai’. Dan benar saja. Ketika si pria bermimpi tentang kekasihnya itu, di sanalah (mungkin) semua masalah akan selesai. Dan si kucing yang ia beri nama Tanda, menjadi ‘pertanda’ bagi suatu awal yang baru. Mungkin.

Sebenarnya si pria enggan. Namun, ia pun tidak tahu cara menolak. Maka, ia mengunci pintu kamar flat, mengikuti si perempuan yang menggendong Tanda dengan sayang di pelukannya. Sepanjang lorong menuju kamar si perempuan, mereka mulai berkenalan. 
-          Hal. 45

  • Keberangkatan
Dibuka oleh perpisahan seorang anak gadis bernama Diandra dengan Papanya, Keberangkatan menghidangkan kisah sebuah keluarga Broken Home yang berbeda. Kemelut yang tidak kunjung reda, dituturkan dari sudut pandang sang Papa, menunjukkan kepada kita betapa rumitnya keluarga mereka. Papa yang merasa bosan dengan pekerjaan di kantor, berpikir bahwa uang tabungannya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, lalu memutuskan resign. Keadaan memburuk ketika Papa terjebak dalam perjudian dan klub-klub malam. Tanpa memberikan pilihan apapun kepada Mama yang dengan terpaksa harus mencari pundi-pundi rupiah. Mengalihkannya menjadi tulang punggung keluarga.

Diandra adalah anak perempuan yang diidam-idamkan oleh Mama. Sayangnya ia muncul bukan dari rahim Mama melainkan ditemukan di tempat sampah di panti asuhan. Masih sangat mungil dan merah. Mungkin itulah sebabnya ketika bercerai, Mama lebih memilih Andreas, anak laki-laki pertama mereka atas hak asuhnya. Sedangkan Papa dengan senang hati menerima Diandra. Papa sangat menyayangi kedua anaknya. Karena Andreas dan Diandra-lah, Papa akhirnya bertekad untuk berubah. Berhenti menegak alkohol, berjudi, dan mulai mencari pekerjaan lagi.

Akan tetapi, seakan kebagiaan tidak pernah berpihak pada keluarga mereka, suatu rahasia besar terbongkar. Rahasia tentang masa lalu yang bisa saja mengubah kehidupan mereka saat ini. Rahasia yang juga menentukan hidup Diandra. Hidup keluarga mereka.

Mungkin di rumah sakit, Andreas akan menyadari bahwa Ibunya bergolongan darah O, Ayahnya bergolongan darah B, dia bergolongan darah A, dan adiknya bergolongan darah AB. Sesuatu yang tak sempat aku dan istriku sampaikan secara langsung kepada mereka. 
-          Hal. 82
Fragmen-fragmennya seperti Rekan Bicara, Hidup Kita Selepas Elegi, dan Semiliar Perbedaan juga mengantarkan kita pada akhir yang sendu. Bagaimana kita bisa bertemu dengan rekan bicara yang bisa bicara dari hati ke hati. Yang mampu bicara hanya dengan genggaman tangan, atau kepala yang merebah di pundak satu sama lain. Adanya harapan baru akan hidup yang lebih baik setelah berbagai kesusahan yang kita alami. Tentang orang tua yang bercerai, Ayah pemabuk dan Ibu yang kerap gonta-ganti pacar, hingga anak yang menderita karena pilihan-pilihan salah yang orang tua ambil dalam hidupnya. Namun, akan selalu ada kertas putih untuk ditulis kembali, bukan? Tidak peduli seberapa banyak tinta yang mengotori halaman sebelumnya. Begitu pula dengan banyaknya perbedaan yang membatasi setiap orang. Sama seperti puzzle, saat kita mendapati potongan-potongannya, kita bukan berusaha mencari kesamaannya untuk dapat menyatukannya. Tapi, kita mencari kecocokannya.

Cerpen-cerpen Mba Dewi, mengalir dengan santai namun menghujam tepat di dada. Membuat saya berkali-kali menghela napas dan tersenyum miris. Penceritaan maupun alurnya menawarkan suasana yang berbeda untuk saya. Saya bisa semakin kagum dan menyukai kepenulisan Mba Dewi, atau justru kebingungan dengan plotnya yang terkadang tidak masuk akal dan berbelit. Terlepas dari kekurangan itu, Elegi tetap menjadi buku yang indah untuk menemani kita saat duka dan berbagi kehilangan.

Review Buku: Dunia Kafka (Kafka On The Shore) Karya Haruki Murakami

Minggu, 04 Juni 2017



Haruki Murakami bukanlah penulis yang asing bagi saya. Penulis favorite saya, Bernard Batubara-lah yang memperkenalkan saya dengan Haruki Murakami. Ia pernah membahas Murakami dalam blognya. Salah satu alasan yang mendorong saya untuk ikut membaca karya Murakami. Sesuai dengan sarannya, buku Murakami yang saya lahap pertama kali adalah Norwegian Wood. Cerita yang realis sebagai langkah pengenalan saya dengan dunia penceritaan Murakami yang serba surealis. Lantas setelah khatam dengan Norwegian Wood, saya mulai merasa perlu untuk menikmati karya Murakami lainnya. Buku yang terasa lebih surealis, yang menjadi keunikan dan kehebatan dari Haruki Murakami sendiri. Dan saya memutuskan untuk membaca Dunia Kafka.

Judul Buku    : Dunia Kafka (Kafka On The Shore)
Penulis           : Haruki Murakami
Penerbit         : Alvabet
ISBN             : 978-602-9193-03-1
Tebal Buku    : 599 Halaman
Cetakan         : Ke- 3
Tahun Terbit  : 2016

Dunia Kafka atau yang berjudul asli, Kafka On The Shore berjalan dengan dua plot yang berbeda. Secara bergantian, kita akan diperkenalkan pada Kafka Tamura, remaja berusia 15 tahun yang memutuskan untuk pergi dari rumahnya karena ia merasa jika ia tetap berada di sana, ia akan hancur. Tanpa memiliki alasan yang jelas, ia memilih Shikoku sebagai daerah tujuannya. Sambil mengambil beberapa barang milik Ayahnya di ruang kerja, ia berbicara dengan seorang bocah laki-laki bernama Gagak, yang saya anggap adalah bayangan dari dirinya sendiri (kalau tidak bisa dibilang bayangan, mungkin temannya dari dunia lain, atau semacam itu.). Dalam perjalanan, ia berkenalan dengan seorang gadis yang bernama Sakura. Gadis itu lebih tua darinya, sosok yang mengingatkannya pada kakak angkat dan ibu yang telah meninggalkannya waktu ia masih kecil. Sesampainya di sana, ia datang ke Perpustakaan Komura yang kelak menjadi tempat tinggalnya.

Kau takut berimajinasi. Dan lebih lagi, takut bermimpi. Takut akan tanggung jawab yang dimulai dalam mimpimu. Tapi kau harus tidur, dan mimpi adalah bagian dari tidur. Ketika kau terjaga, kau dapat menekan imajinasi. Tapi kau tidak dapat menekan mimpi. 

- Hal. 175

Sementara itu, plot kedua bercerita tentang seorang kakek bernama Satoru Nakata yang keterbelakangan mental. Sebenarnya Kakek Nakata tidak bisa dikatakan keterbelakangan mental, menurut saya. Dia hanya memiliki sesuatu di dalam dirinya dan itu tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Ditambah dengan cara bicaranya yang dianggap aneh. Ia memiliki kemampuan berbicara dengan kucing. Masalah kejiwaannya itu membuat Kakek Nakata selalu memperoleh subsidi dari Gubernur, dan sedikit tambahan uang dari jasanya membantu para tetangga menemukan kucing mereka yang hilang. Kakek Nakata adalah lelaki tua yang sangat ramah dan apa adanya. Ia selalu berkata jujur dan yang paling saya suka, ia sering kali berkata, "Maaf, saya tidak mengerti apa yang Anda ucapkan. Maafkan, saya tidak terlalu pandai." Ketika Kakek Nakata berucap demikian, selalu terbayang di benak saya seorang lelaki tua yang lemah dan begitu sederhana. Meskipun demikian, Kakek Nakata memang tidak pandai. Ia tidak bisa membaca apalagi menulis. Pencariannya terhadap kucing bernama Goma yang kelak mengantarnya pada pertemuan tidak terduga dengan Johnie Walker. Orang yang memakai sepatu bot dan menangkapi kucing-kucing untuk dibelah dadanya, dimakan jantungnya hidup-hidup, lantas memenggal kepalanya. Bentuk kriminalitas yang cukup membuat saya meneguk liur dan mendelik. Yah, siapa sangka Kakek Nakata yang polos dan ramah itu telah membunuh Johnie Walker.

Meskipun bercerita dengan dua plot yang berbeda, pada akhirnya semua berujung di satu titik dan saling berkaitan. Semakin kita membalik lembar demi lembar bagiannya, hubungan antara Kakek Nakata dan Kafka Tamura kian terbuka. Walaupun capek sebenarnya, mengingat plot yang disajikan bergantian sehingga saya harus mengingat jalan cerita sebelumnya agar bisa kembali masuk dalam bab selanjutnya.

Dunia Kafka mengandung konflik yang kompleks. Jujur saja, saya harus menahan kesabaran di tengah-tengah cerita karena alurnya yang saya kira, cukup lambat. Bagian yang betul-betul saya nikmati adalah di awal dan akhir cerita. Sedangkan pada pertengahan, saya kehilangan konsentrasi dan kesungguhan dalam membaca. Belum lagi dengan beberapa dialog yang agak membingungkan bagi saya (Ini karena pemikiran saya yang masih belum sampai-_-). Dalam belitan ceritanya, Murakami menyisipkan berbagai unsur yang secara sadar maupun tidak, turut menjadi dasar dari pengembangan alurnya. Mitologi, filsafat, musik, dan beberapa ungkapan menurut tokoh-tokoh dunia yang cukup membuat saya semakin mengerti atau justru kebingungan sendiri.

"Dari bangsa Mesopotamia kuno. Mereka mengeluarkan usus binatang-aku rasa kadang-kadang juga usus manusia-kemudian menggunakan bentuknya untuk meramal masa depan. Mereka mengagumi kerumitan bentuk usus. Jadi bentuk dasar dari labirin adalah, dengan kata lain, keberanian. Yang berarti bahwa prinsip dari labirin ada di dalam dirimu. Dan itu berhubungan dengan labirin yang di luar." 

- Hal. 447

Sama seperti yang dikatakan Bang Bernard dalam blognya, bahwa untuk menikmati karya Murakami, kita harus terbuka pada ketidakjelasan. Jangan memusingkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang sarat akan logika. Karena Murakami memang hanya akan berkutat pada absurditas, imajinasi, dan abstrak. Mungkin bisa dibilang, Norwegian Wood tidak termasuk dalam hal ini. Dibandingkan dengan Dunia Kafka, saya rasa Norwegian Wood merupakan karya yang dibuat Murakami dengan mencoba keluar dari zona nyamannya.

Begitulah, Dunia Kafka berjalan dengan lambat, penuh imajinatif, dan absurditas yang tidak bisa kita coba untuk mencari arti atau maknanya. Biarkan saja hal-hal di luar nalar itu tetap berada di luar kepala. Sebab hanya dengan cara seperti itulah kita dapat menerima keseluruhan cerita dan menikmatinya. Dunia Kafka adalah bacaan yang berat. Perlu kesabaran ekstra agar kita bisa bertahan untuk tidak menutup buku itu di tengah jalan. Namun, ketika kita sudah benar-benar menyelesaikannya, akan ada magnet yang selalu menarik kita untuk kembali membaca karya Murakami lainnya. Dan saya rasa, di situlah letak keistimewaan seorang Haruki Murakami.

"Jika kau mengingatku, aku tidak peduli apabila orang lain melupakan aku."
- Hal. 596
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS