Books Review: Corat-Coret di Toilet by Eka Kurniawan

Sabtu, 18 Februari 2017





Ini adalah karya ketiga dari Eka Kurniawan yang telah saya khatam-kan. Setelah sebelumnya saya menyelesaikan Cantik Itu Luka, kemudian disusul dengan Sama Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Kesan pertama kali saya terhadap tulisan Eka adalah, sangat arkais dan berani.  Eka dengan yakinnya mengambil setting di tahun kolonial dan mengangkat cerita-cerita penuh konflik juga romantis. Meskipun begitu, saya tetap bisa menikmati setiap gaya bahasa dan penuturan yang disampaikan Eka dengan begitu manis.

Kembali kepada judul postingan ini, Corat-Coret di Toilet merupakan buku kumpulan cerita Eka yang pertama kali saya baca. Buku ini terdiri atas 12 cerita dengan tema yang berbeda. Namun kebanyakan mengandung unsur percintaan dan politik. Terlalu sedikit bagi saya, dengan jumlah buku yang hanya sekitar 120 halaman. Di antara semuanya, saya hanya akan menuliskan 3 sinopsis cerpen yang paling saya sukai. Berikut sinopsis singkatnya:

  • Siapa Kirim Aku Bunga?
Henri merupakan seorang kontrolir yang hidup pada akhir tahun 20-an di Hindia Belanda. Suatu ketika, ia mendapatkan sebuah bunga di restaurant tempat ia biasa bersantai dan berkumpul bersama teman-temannya. Dalam tangkai-tangkai bunga itu terselip kartu yang bertuliskan "Untuk Henri". Kejadian tersebut tak hanya terjadi sekali. Mulanya di restaurant, lalu di rumahnya, berlanjut di pemandian umum yang ia datangi. Berhari-hari ia terus dihantui oleh bunga-bunga yang selalu datang tanpa mengenal waktu dan tempat itu. Ia merasa takut dan bingung menerima bunga itu. Ia penasaran siapa gerangan yang telah mengirim bunga itu untuknya? Kebingungannya berujung pada seorang gadis penjual bunga yang ternyata selalu ada di manapun dirinya berada. Ia merasa gadis penjual bunga itu mengikutinya. Bisa jadi pula, gadis itulah yang memberinya bunga setiap hari. Maka, ia pun mencoba bertanya dan mendekati gadis tersebut. Hingga akhirnya, Henri sendiri yang jatuh hati pada gadis itu.

"Bunga itu lambang cinta, dan kau manusia yang kering akan cinta. Sudah selayaknya kau peroleh banyak-banyak bunga."

Akhir cerita yang sangat miris dan menyayat hati.
  • Peter Pan
Bercerita tentang seorang lelaki yang tidak disebutkan namanya. Ia hanya sebut sebagai kekasih Tuan Puteri yang kemudian dijuluki dengan Peter Pan. Peter Pan sangat membenci para pencuri buku. Maka, ia menjelma jadi seorang pencuri buku agar para penegak hukum menangkapnya. Dengan begitu, ia akan tahu kalau pemerintah juga memperhatikan betapa pentingnya sebuah buku. Tetapi, perkiraannya salah. Sudah bertahun-tahun ia mencuri buku, namun ia masih bisa berlenggang ke sana dan ke mari. Lalu, ia berniat untuk melakukan demonstrasi. Demonstrasi kecil-kecilan kalau saya bilang, sebab tidak ada yang simpati terhadap aksi protes tersebut. Tak juga digubris, akhirnya ia menuangkan pemikiran dan suaranya lewat sastra. Ternyata cara itu sangat berpengaruh dan mengancam Sang Diktator saat itu. Orang-orang pun ikut melakukan pemberontakan. Kini, justru hidup Peter Pan yang terancam.

... Tuan Puteri berkata kepadanya, di mana-mana rakyat begitu miskin sementara para pejabat hidup mewah. Negara sudah di ambang bangkrut karena utang luar negeri dan sang diktator sudah terlalu lama berkuasa, menutup kesempatan kerja bagi orang yang memiliki bakat menjadi presiden. Menurut Tuan Puteri, itu semua alasan yang cukup untuk mengumumkan perang gerilya, tetapi laki-laki itu keberatan. Katanya, alasan seperti itu sudah terlalu banyak diketahui orang, tapi nyatanya tak seorang pun menyatakan perang karena itu.

  • Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti

Sesuai judulnya, Eka akan mengenalkan kita pada seorang anak lelaki yang hidup sebatang kara di sebuah kota kecil. Ia tinggal di hutan yang terletak di pinggir kota. Ia biasa memperoleh makanan dari warga kota yang bersimpati padanya. Sedangkan anak-anak sangat merasa iri padanya. Sebab, ia tidak perlu bersekolah, tidak perlu bangun pagi dan pulang siang hari, ia hidup bebas dan bisa pergi ke mana pun yang ia inginkan. Sampai suatu ketika, anak laki-laki itu mencuri roti di toko. Awalnya pemilik toko maklum akan hal itu. Tetapi ia terus mencuri. Sehari sekali, dua kali, lalu di toko roti lainnya. Warga kota pun geram dan melaporkan hal ini pada polisi. Pihak polisi tidak menggubris laporan itu mulanya. Namun, karena semakin hari para pemilik toko roti kian merasa dirugikan, maka para pemilik toko mengancam polisi kalau mereka tidak menangkap anak kecil itu, maka warga kota akan melaporkan polisi pada pihak atasannya. Itulah mengapa anak kecil itu dipanggil sebagai Bandit Kecil Pencuri Roti.

... Aku dan beberapa temanku pergi ke tempat persembunyiannya, untuk menangkap si pencuri berdosa itu, dan memberikannya kepada bapak polisi. Tapi ketika kami sampai di tempatnya, ia menawari kami roti-roti curian itu. Kami semua terpaku, mencoba mencicipi sedikit, dan lupalah kami kepada rencana untuk menangkapnya. Roti dari toko ternyata memang enak, satu jenis roti yang belum pernah kami temukan sebelumnya.

***

Adapun cerpen lainnya adalah:
Dongeng Sebelum Bercinta
Corat-Coret di Toilet
Teman Kencan
Rayuan Dusta untuk Marietje
Hikayat Si Orang Gila
Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam
Kisah dari Seorang Kawan
Dewi Amor
Kandang Babi


Corat-Coret di Toilet memang merupakan cerpen yang diambil judulnya sebagai judul utama buku ini. Tetapi saya justru tidak merasa istimewa dengan cerpen ini. Cukup menarik, namun tidak cukup untuk membuat saya berkata "Wahh". Selain itu, meskipun mengambil tema politik atau percintaan, Eka tetap menyisihkan sisi humornya. Dalam beberapa cerpennya, saya bisa dibuat tertawa rendah atau bersimpati kepada tokoh dalam cerita tersebut. Akan tetapi, tidak jarang pula saya sedikit bingung dengan makna yang ingin disampaikan oleh Eka. Ya, memang. Dari pandangan saya, Eka sering kali memasukkan pesan-pesannya secara tersirat dan untuk menemukannya, saya harus membaca bagian itu berulang kali lalu terdiam sejenak. Berdeham, kemudian mengangguk (sedikit) paham.

Demikianlah yang dapat saya bagikan mengenai kumcer dari Eka Kurniawan ini. Sama seperti karya-karya Eka sebelumnya, ia selalu bisa menyajikan konteks yang berat diiringi dengan guyonan dan mengudek perasaan.

Books Review: Elegi Rinaldo By Bernard Batubara

Selasa, 14 Februari 2017




     Pada kesempatan ini, saya ingin meresensi buku fiksi karya Bernard Batubara yang berjudul Elegi Rinaldo. Elegi Rinaldo termasuk ke dalam Blue Valley Series yang diterbitkan oleh Falcon Publishing. Terdapat 4 seri lainnya, yaitu Asa Ayumi karya Dyah Rinni, Melankolia Ninna karya Robin Wijaya, Lara Miya karya Erlin Natariwiria, dan Senandika Risma karya Aditia Yudis.

   Elegi sendiri berarti syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita. Meskipun belum membaca keempat seri lainnya, saya merasa bahwa Blue Valley Series ini mengangkat satu tema yang sama. Cinta dan Kesedihan. Mungkin, lebih tepatnya kepatahatian. Karena, setiap judul dari serinya memiliki arti kata yang menggambarkan duka atau ungkapan kesedihan. Seperti asa, melankolia, lara, senandika, dan elegi.

     Dalam novel ini, Blue Valley digambarkan sebagai tempat perumahan yang dihuni oleh tokoh utama dalam cerita. Bisa dibilang, kalau ceritanya cukup klise. Seperti kebanyakan konflik yang diangkat dalam novel-novel lainnya. Sehingga saya dengan mudah bisa menebak akhir dari ceritanya.


Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.
Jika kau berjalan ke salah satu blok, kau akan menemukan rumah yang setiap pagi dipenuhi nyanyian Rihanna. Seorang pemuda kribo yang selalu menenteng kamera tinggal di sana bersama tantenya. Dia sering kali bersikap dingin. Dia menyimpan duka. Sisa penyesalan terdalam dua tahun lalu.
Ada gadis yang menantinya, dan ingin menamai hubungan mereka yang kian dekat. Namun, pemuda itu selalu ragu. Dia menyukai gadis itu, tetapi… selalu merasa bersalah jika memberikan tempat yang sengaja dia kosongkan di hatinya. Namanya Rinaldo. Panggil dia Aldo, tapi jangan tanya kapan dia akan melepas lajang.
 ***

     Dari sinopsisnya, kita bisa langsung menangkap masalah yang ditawarkan oleh Bernard. Kita akan mendapati Aldo, seorang food photographer, yang memiliki luka di masa lalunya. Saking pahitnya, ia bahkan sengaja mengosongkan hatinya untuk sekian lama. Sehingga ketika dia mengenal gadis bernama Jenny, dia mulai bimbang untuk membuka hati atau melewatkannya saja. Aldo masih belum bisa melupakan masa lalu beserta kehilangan demi kehilangan yang dirasakannya. Itulah mengapa ia sulit untuk memulai suatu hubungan yang serius. Begitu pula dengan Jenny yang memiliki pandangan berbeda dengan gadis pada umumnya mengenai suatu hubungan. Jenny ragu pada ikatan pernikahan. Menurutnya, pernikahan justru mengikat seseorang dari usahanya dalam meraih mimpi. Pernikahan akan membatasinya dan mengurungnya dengan segala kewajiban yang harus dijalankan sebagai seorang istri, dan dia tidak mau itu.

     Elegi Rinaldo akan membawa kalian pada banyak kebimbangan. Kemudian, menemukan bahwa sebenarnya keyakinan itu dapat berubah seiring dengan kejadian demi kejadian yang dialami oleh orang tersebut. Lebih-lebih, kalau mengenai hati. Keyakinan seseorang mengenai ‘cinta’ bisa berubah seiring berjalannya waktu. Ketika orang tersebut mengenal orang yang dapat mengisi hatinya kembali, saat itulah pandangan dan anggapannya tentang cinta akan berubah.

***

     Jujur saja, saya merasa kurang puas dari segi kepenulisannya. Saya sudah pernah membaca karya Bernard batubara yang lain, dan saya cukup kaget dengan karyanya yang satu ini. Dari kacamata saya, penulisan Bara penuh dengan bahasa yang manis dan penuturan yang begitu elok. Tetapi saya tidak menemukan hal itu dalam buku ini. Bahkan saya merasa ini bukan tulisan Bara. Tidak menggambarkan karakter dan identitas dari Bara. Saya berasumsi, kalau Bara (mungkin) ingin mencoba menulis dengan gaya yang berbeda dari biasanya.

  Keseluruhannya, buku ini disusun dengan cukup apik. Covernya yang menarik, mampu menggambarkan kepedihan yang disuguhkan dalam kisahnya. Meskipun konflik yang diangkat sangat lazim, Elegi Rinaldo tetap layak dijadikan sebagai salah satu buku referensi untuk mengisi waktu luang dan hiburan. Akan tetapi, (menurut saya) Elegi Rinaldo bukanlah karya terbaik dari Bernard Batubara. Mengingat, karya-karya Bernard sebelumnya memiliki rasa dan penulisan yang jauh lebih kuat serta identitas yang selalu menjadi ciri dari setiap karyanya.

***

Antara Berkorban dan Menyakiti Diri Sendiri

Sabtu, 11 Februari 2017

sumber: weheartit


Selamat malam...
Selamat bermalam minggu,
Selamat berbahagia,
Selamat menikmati kesendirian,
dan Selamat menunggu.


Malam ini, saya ingin berbagi cerita. Mengingat, memang cukup lama saya tidak lagi bercerita di blog ini. Bukan, ini bukan review buku atau film. Saya kembali lagi pada kebiasaan saya yang dulu. Curhat.

Bermula dari salah seorang teman, saya terdorong untuk membahas masalahnya dalam blog ini. Haha, sepanjang dia tidak membaca, sepertinya tidak akan menimbulkan masalah. Tapi, kalaupun dia membaca, paling tidak dia bisa mendengar pendapat saya. Meskipun pada kenyataanya, dia tidak membutuhkan pendapat dari saya. #okelupakan

***

Apa yang kamu pikirkan jika seseorang yang kamu sukai ternyata menyukai orang lain? Lebih parahnya lagi, dia justru kerap bercerita tentang orang yang dia sukai itu kepadamu. Bukankah itu sangat menyakitkan untuk didengar? Tapi percayalah, di dunia ini masih ada orang yang mau dan merelakan dirinya untuk melakukan hal bodoh itu. Ya, menurut saya sih begitu.

Begini, dalam hal jatuh cinta, entah itu benar-benar cinta atau hanya sekadar menyukai, terkadang kita sering larut dalam perasaan itu dan membiarkan diri kita dikuasai oleh perasaan kita sendiri. Sebenarnya itu bukanlah hal yang baik. Karena dengan begitu, kita akan selalu mau melakukan apapun yang dikatakan oleh hati kecil kita. Kita akan menurut saja. Tidak peduli apakah itu akan menyakiti perasaan kita sendiri. Yang penting, dia bahagia. Begitulah pikir kita. Akan tetapi, hal yang perlu dipertanyakan adalah, apakah keinginan untuk selalu membantu dan melakukan apapun untuk orang yang tidak menyukai kita, meski orang itu menyukai orang lain, benar-benar berasal dari hati kecil kita?

Terkadang saya heran. Sangat dibuat heran. Boleh dikatakan, bahwa saya memang tidak tahu apa-apa mengenai suatu hubungan. Namun, suatu kali saya pernah melihat seorang teman lelaki, yang saya tahu bahwa dia menyukai seorang gadis. Sebut saja misalnya lelaki itu bernama A dan gadis yang disukainya bernama B. Sayangnya, gadis B ini justru menyukai lelaki lain bernama C dan tetap menganggap A sebagai teman dekatnya. Kemudian, C ternyata menyatakan hubungan secara resmi dengan seorang gadis lain bernama D. Pastilah, si gadis B sangat patah hati. Kemudian, lelaki si A datang dan terus menemani gadis B itu. Seakan tak cukup sampai disitu, hubungan antara lelaki C dan gadis D berakhir singkat. Mereka tidak lagi berhubungan resmi, namun sebagai teman dekat. Kalau menurut kacamata saya, lebih seperti hubungan komensalisme. Lelaki C yang selalu memberi manfaat kepada gadis D, sedangkan gadis D tidak memberi dampak apapun pada lelaki C. Lucunya, lelaki C mengatakan bahwa itu ia lakukan atas dasar rasa suka. Cerita yang sangat klise, bukan?


sumber: weheartit


Saya tidak habis pikir dengan orang-orang semacam A, B, dan C itu. Gadis D bisa dibilang tidak masuk hitungan. Karena gadis D lah yang pintar dalam memanfaatkan keadaan. Hhmm.. bisa dibilang, kalau gadis D menggunakan rasa suka lelaki C untuk kepentingannya sendiri. Itu menurutku.

Entah saya yang kurang tahu tentang cinta atau memang mereka yang terlalu dibutakan dengan perasaan dan tidak bisa mengontrol diri mereka.
Apa yang menjadikan lelaki A selalu setia menemani gadis B meski sebenarnya (aku rasa) lelaki A (pasti) sangat patah hati setiap kali B bercerita mengenai lelaki C dengannya?
Apa yang membuat gadis B begitu mudah bercerita dengan lelaki A tentang si C, padahal dia dengan sangat jelas mengetahui kalau lelaki A juga memendam perasaan padanya?
Apa yang membuat lelaki C lebih memilih gadis D daripada gadis C yang sudah nyatanya, bisa dengan mudah ditebak, kalau gadis C lebih tulus daripada gadis D?

Jujur saja, saya tidak paham dengan sistem ini. Saya pernah berada di posisi lelaki A dan  juga pernah berada dalam posisi gadis B. Sehingga saya sangat tahu apa yang mereka rasakan. Ketika melihat mereka, apa yang mereka lakukan, dan itu membuat saya merasa keheranan.

Pada dasarnya, saya merasa kasihan dengan lelaki A. Dia begitu menyukai gadis B dengan setulus hati. Tetapi gadis B, yang sebenarnya tahu hal itu, justru mengabaikannya dan meminta mereka untuk tetap berteman seperti sedia kala. Kemudian bercerita tentang lelaki C kepada lelaki A. Kalau saya menjadi A, mungkin saya akan sedikit memberi jarak antara saya dan gadis B. Sebab, bukanlah hal yang mudah untuk mendengarkan orang yang kita sukai bercerita tentang orang yang ia sukai. Itu akan sangat menyakitkan hati. Saya bukanlah tipe orang yang akan menyakiti diri sendiri. Kalaupun saya sedikit menjaga jarak dari gadis B, tentunya gadis B itu bisa mengerti.

Sedangkan kalau saya berada di posisi sebagai gadis B, saya akan menjauhi lelaki C. Itu sudah pasti. Kemudian, saya juga akan menjaga jarak dengan lelaki A. Karena kalau kembali dekat dengan A atas nama "teman", saya sangsi jika A masih tetap memendam perasaan dan penolakan dari saya itu akan menyakiti hatinya lagi.

***

Melihat apa yang terjadi dengan teman-teman saya itu, saya terheran-heran dan merasa geli. Betapa mereka sudah bisa belajar mengorbankan diri demi orang lain di usia yang terbilang masih sangat muda untuk mengenal apa cinta itu sendiri. Saya sendiri bingung. Cukup sulit membedakan antara mencintai dengan tulus dengan dibodohi oleh cinta. Cinta dengan tulus itu memang memerlukan pengorbanan. Namun kita juga harus menjaga hati kita sendiri. Jangan terlalu melukai diri sendiri untuk memberikan kebahagiaan pada orang yang dia pun belum tentu peduli dengan kita. Tapi balik lagi, bukan pengorbanan namanya kalau tidak melukai diri sendiri.

Cinta memang begitu. Sering sekali membuat para pecandunya lupa diri bahkan rela melakukan apapun. Semua hal yang dilakukan oleh orang yang kita sukai, itulah yang benar dan baik. Tidak pernah cacat. Seakan sejauh mata memandang, hanya dia dan dia yang memenuhi penglihatan mata dan hati. Padahal kita seharusnya punya kuasa atas diri kita sendiri. Karena, kalau sampai saatnya kita memasuki fase patah hati, di saat itulah baru kita menyadari betapa bodoh dan dungunya kita dulu. Kalau sudah begitu, saya akan memandangnya di sisi yang positif. Setidaknya, saya belajar suatu hal dari ini. Begitu pikir saya.

Itulah mengapa, sekarang saya tidak ingin lagi terlalu larut dengan yang namanya jatuh hati. Saya belajar untuk bisa mengontrol diri dan memiliki kuasa atas akal dan pikiran saya dalam menyukai seseorang. Kalau kata guru biologi saya, "Jangan berikan seluruh hatimu untuk seseorang. Karena kalau kamu berikan semuanya, ketika suatu hari hati itu jatuh, maka ia akan pecah berkeping-keping. Benar-benar berkeping-keping." Saya pernah merasakan itu. Cukup bodoh bagi saya, jika mengulangi hal itu untuk kedua kalinya.

“Tonight I realized you weren’t the one
who wrecked me, ruined me, or
destroyed me, it was me, it was me
because only I have that power to do
that to myself. I destroyed myself by
loving you”
– unknown (via Ixwseptember)


Selain itu, saya juga belajar dari hubungan teman-teman saya itu. Bahwa kita harus bisa membedakan dengan benar, siapa orang yang sungguh-sungguh tulus dengan yang hanya memanfaatkan. Sebab kalau sampai kita salah mengambil keputusan, maka akan ada yang patah hati. Itu sudah jelas. Lebih parah lagi, kalau kita kehilangan orang yang tulus untuk selamanya.

Mungkin, cukup sampai di sini saja ngalor-ngidulnya. Malam ini saya hanya ingin sedikit bercerita. Saya merasa kalau apa yang kita lakukan untuk orang yang kita cintai, yang kita sebut sebagai 'pengorbanan' itu, harus benar-benar kita pertimbangkan. Bisa saja itu bukan yang sesungguhnya kita inginkan. Bukan yang kita harapkan. Kalau memang tidak sanggup untuk berkorban, lebih baik menjaga jarak saja. Itu bukanlah hal yang salah. Tidak ada yang salah dari seseorang yang ingin mencoba untuk mengobati lukanya sendiri. Akan tetapi, kalau memang yakin bahwa apa yang sedang kamu rasakan itu ketulusan, cobalah untuk berkorban. Tapi jangan mengharapkan apa-apa. Sebab, tidak ada yang bisa memastikan hasil dari sebuah pengorbanan itu sendiri. Mungkin, kamu memang benar mencintainya, tapi bisa juga itu sebagai bentuk kebodohanmu terhadap perasaan yang tidak bisa kamu kuasai.


****

sumber: weheartit

Media Sosial

Kamis, 02 Februari 2017


* Follow me on Instagram:
    @nrratikaa
* Add me via Line:
   @nuratika012

La La Land, Kota Penuh Mimpi, Cinta, dan Harapan

Senin, 30 Januari 2017

Sumber: google.com
Beberapa hari yang lalu, saya menghabiskan waktu dengan menonton film. Salah satu film yang membuat saya tertarik untuk mengulasnya adalah, La La Land.

Ya, ini adalah film yang sedang naik daun sekarang. Karena sering kali dibuat meme untuk debat cagub DKI Jakarta saat ini. Terlepas dari itu semua, saya memang sejak awal ingin menonton film ini. Apalagi, setelah salah seorang Youtuber mengcover salah satu soundtrack film ini. Itu semakin menambah rasa penasaran saya mengenai film ini. Alasan lain yang mendorong saya untuk segera menonton film ini adalah, seperti yang kalian tahu, film ini banyak memenangkan penghargaan di ajang perfilman hollywood.

***



La La Land merupakan film drama komedi musikal romansa Amerika Serikat. Disutradarai oleh Damien Chazelle dan dibintangi oleh Ryan Gosling, Emma Stone, John Legend, dan Rosemarie DeWitt.(Wikipedia)

Alurnya sendiri, bercerita tentang dua orang yang sama-sama memiliki mimpi besar. Sebastian (Ryan Gosling) adalah seorang pianis yang sangat menyukai musik jazz. Ia bekerja sebagai pemain piano di sebuah restoran kecil di Los Angeles, sebelum akhirnya ia dipecat karena melanggar perintah bosnya untuk tidak memainkan musik yang tidak boleh ia mainkan. Mia (Emma Stone), merupakan gadis yang bermimpi menjadi seorang aktris terkenal. Ia selalu mengikuti casting meski entah sudah berapa kali pihak perfilman menolaknya.

Mereka bertemu secara (tidak) sengaja, ketika Mia mendengar dentingan piano yang dimaikan Sebastian di dalam restoran. Kemudian, Mia memasuki restoran untuk melihat siapa yang memainkan musik itu. Tetapi, suasana hati Sebastian sedang tidak baik saat itu sehingga Sebastian mengabaikan Mia. Lalu mereka bertemu lagi saat pesta musim panas. Mulai dari situlah, mereka saling berhubungan dan dekat.

Sebastian punya mimpi untuk mendirikan kafe yang memainkan musik jazz murni di dalamnya. Sebab, kebanyakan musik jazz yang ia lihat, tidak mengalunkan musik jazz yang murni. Pasti ada saja tambahan atau aransemen yang justru menghilangkan identitas dari jazz itu.

Mereka berdua memiliki banyak kesamaan (menurut saya). Mereka adalah dua orang yang sama-sama mencari harapan di kota yang penuh bintang. Mereka saling berusaha untuk meraih impian dan saling menguatkan satu sama lain. Pada akhirnya, apa yang mereka inginkan dapat tercapai. Tapi dengan cara yang berbeda. Sebastian bisa membangun kafenya sendiri dengan musik jazz murni mengalir anggun dari dalam kafe. Namun sebelumnya, ia harus menunda apa yang menjadi prinsipnya. Ia mengalah untuk mengabaikan musik jazz murni dan bergabung dengan band yang ditawarkan temannya. Sedangkan Mia, ia bisa menjadi seorang aktris yang begitu terkenal. Ia pergi ke Paris untuk bermain film. Setelah sebelumnya, ia hampir gagal dengan penampilan monolognya. Setelah ia menyerah untuk tidak mengikuti audisi lagi. Dan akhirnya, panggilan itu datang.

sumber: google.com
Terlepas dari alur cerita yang begitu manis dan elegan, film ini disuguhkan dengan berbagai soundtrack yang juga tak kalah romantis. Kita juga akan ikut tenggelam dalam alunan lagu City of Stars yang menjadi salah satu soundtrack utama film ini. Mengingat genre film ini yang merupakan film drama musikal, film ini menyatukan antara drama dan musik dengan sangat baik. Selain itu, adegan demi adegan antara Ryan Gosling dan Emma Stone membuat kita semakin terpesona dengan keteguhan mereka dalam meraih mimpi. Juga dalam menerima apa yang menjadi risiko untuk mendapatkan mimpi itu. Dan benar saja, mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan. 

Kekurangan film ini, hmm.. saya masih mencari. Yang jelas, banyak nilai plus yang bisa saya dapatkan dari film ini. Untuk judulnya, La La Land sendiri, ada yang mengatakan bahwa itu merupakan gambaran kota yang dipenuhi oleh mimpi dan harapan banyak orang. Mengingat, Los Angeles, tempat syuting film ini, merupakan salah satu tempat yang banyak diimpikan orang untuk meraih mimpi.

Akhir dari film ini, sebenarnya sangat mengecewakan (bagi saya). Tapi, memang menggambarkan kenyataan yang biasanya terjadi di sekitar kita. Terkadang, kita harus bisa merelakan sesuatu demi hal lain yang kita inginkan, yang benar-benar kita butuhkan. Sebab, ada banyak hal di dunia ini yang dipertemukan, tetapi dengan maksud yang berbeda. Bahkan jauh dari apa yang kita harapkan. Meski begitu setiap cerita yang terjadi selalu punya alasan untuk terjadi. Dan akan selalu manis untuk dikenang kembali.

Books Review: A Man Called Ove by Fredrik Backman

Sabtu, 28 Januari 2017

Assalamu'alaikum.

Setelah beberapa minggu yang menyibukkan, akhirnya saya bisa kembali menulis review buku lagi. Akhirnya saya bisa menyelesaikan satu buku lagi di tahun ini. Dari judul di atas, pastilah kalian sudah tahu buku apa yang akan saya review kali ini. Ya, ini merupakan karya penulis Swedia yang pertama yang saya baca dan saya harap, kalian juga akan tertarik dengan buku ini.

***

Sebelumnya, saya sudah mengetahui buku ini lewat website yang saya selancari di internet. Namun saat itu saya masih belum terlalu tertarik. Ah, mungkin ceritanya akan membosankan, begitu pikir saya. Mengingat, cover dari buku ini adalah siluet lelaki tua bertongkat dan sebuah mobil Saab yang tua.

Kebetulan, beberapa minggu yang lalu saya pergi ke satu-satunya toko buku-yang menjual novel-novel-di kota saya. Sebenarnya saya mencari novel dari penulis favorite saya. Tapi, buku itu masih dalam stock kosong. Sehingga saya memutuskan untuk melihat-lihat buku yang lain dan akhirnya, bertemulah saya dengan buku Ove ini. Dan ternyata, pemikiran awal saya salah. Sangat salah.

Sebelum terlibat lebih jauh dengannya, biar kuberi tahu. Lelaki bernama Ove ini mungkin bukan tipemu.

Ove bukan tipe lelaki yang menuliskan puisi atau lagu cinta saat kencan pertama. Dia juga bukan tetangga yang akan menyambutmu di depan pagar sambil tersenyum hangat. Dia lelaki antisosial dan tidak mudah percaya kepada siapapun.

Seumur hidup, yang dipercayainya hanya Sonja yang cantik, mencintai buku-buku, dan menyukai kejujuran Ove. Orang melihat Ove sebagai lelaki hitam-putih, sedangkan Sonja penuh warna.

Tak pernah ada yang menanyakan kehidupan Ove sebelum bertemu Sonja. Namun bila ada, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup. Sebab, di dunia ini yang bisa dicintainya hanya tiga hal: kebenaran, mobil Saab, dan Sonja.

Lalu... masih inginkah kau mengenal lelaki bernama Ove ini?

Ketika membaca sinopsisnya, saya mulai tertarik kembali. Saya berpikir, lelaki tua seperti Ove ini, pasti memiliki alasan tertentu yang menyebabkan ia menjadi orang yang antisosial dan begitu sulit percaya kepada siapapun. Tentulah, hidup yang ia alami tidak mudah. Karena saya percaya, pasti ada alasan di setiap tindakan yang orang lakukan. Begitupula dengan Ove. Bagian yang saya ingin cari tahu adalah, ada apa dengan Ove?

Saya begitu puas dengan setiap bagian yang sedikit demi sedikit saya ketahui mengenai Ove. Beberapa memang sesuai dengan ekspetasi saya, namun itu tidak mengurangi kemenarikan dan rasa dari cerita ini. Perlahan, saya akan mengenal Ove. Lelaki yang begitu jujur dan patuh aturan. Lelaki yang kesetiaannya tidak dapat diragukan lagi.




Lelaki tua yang begitu mencintai Saab ini, memang sangat pelit dan pemarah. Terkadang, saya juga dibuat tertawa dengan tingkahnya yang jenaka. Meski sebenarnya, ia sedang tidak benar-benar bercanda. Satu-satunya orang yang ia cintai di dunia ini-selain kedua orang tuanya-adalah Sonja. Gadis yang ceria dan ramah, yang kelak menjadi pendampingnya seumur hidup. Ketika membaca bagian awal dari buku ini, segera terlukis di benak saya betapa Ove mencintai Sonja. Hingga Ove berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri. Ya, Ove begitu hitam-putih hingga tidak ada warna yang bisa mengisinya, kecuali Sonja.

Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam-putih. Namun, perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiliki Ove.
Hal. 62

Untuk alur ceritanya, saya tidak ingin menguraikan lebih banyak lagi. Cukuplah, rasa yang saya dapatkan di setiap lembar halaman buku itu saya simpan sendiri. Jika kalian ingin mengetahui lebih jauh, mengapa tidak mengenal Ove sendiri secara langsung? Bukankah, kita akan lebih akrab jika bertemu langsung dengan sosok itu?

Dari segi kebahasaannya, saya tidak merasa terganggu sama sekali. Meskipun terjemahan, saya tetap bisa merasakan setiap bentakkan dan rengutan Ove. Sehingga saya begitu mudah menangkap setiap makna yang ingin disampaikan dalam cerita-ceritanya. Saya menikmati keseluruhan novel ini.

Novel ini dibagi dalam 40 bagian, yang setiap bagiannya memiliki judul berbeda. Selain itu, perbagiannya berisi cerita berbeda namun saling berhubungan dengan bagian yang lain. Terkadang, beberapa bagiannya juga menceritakan kilas balik. Masa lalu yang melahirkan sosok Ove dan sikap antisosialnya. Salah satu bagian favorite saya, adalah ketika Ove sampai pada titik terendahnya. Ketika ia sudah jenuh dengan segalanya.




Melalui novel ini, saya menemukan sudut pandang baru dalam menghadapi seseorang yang memiliki perilaku dan karakter yang sama seperti Ove. Yakinlah, pasti ada sesuatu yang menyebabkan seseorang menjadi seperti itu. Mungkin ia telah kehilangan harapannya, cintanya, atau cinta yang mengisi hidupnya. Tetapi bagaimanapun buruknya orang seperti Ove ini, mereka tetap memiliki rasa kemanusiaan, kasih sayang, dan perhatian yang tinggi. Hanya saja, sulit bagi mereka untuk menunjukkan itu semua. Sebab, mereka memandang dunia tak lagi sama. Jujur saja, saya banyak belajar dari buku ini. Bagaimana luar biasanya seorang lelaki yang teguh dengan komitmennya. Pada apa yang ia yakini dan percayai. Betapa manisnya ia pada seseorang yang ia cintai, meski ia memandang dunia kini begitu hitam dan gelap. Dan betapa kerasnya ia berjuang demi orang-orang yang ia sayangi. Tidak ada yang bisa menandingi cinta dan kasih sayang seperti ini.

"Konon, lelaki terbaik lahir dari kesalahan mereka sendiri, dan mereka sering kali menjadi lebih baik setelahnya, melebihi apa yang bisa mereka capai seandainya tidak pernah melakukan kesalahan," kata Sonja lembut.
Hal. 200


Itulah yang bisa saya bagikan kepada kalian mengenai Ove. Ia lelaki yang pemarah, pelit, keras kepala, baik hati, jujur, dan setia. Mungkin, kita akan melihatnya sebagai sosok kakek tua yang pemarah dan kasar pada mulanya, tetapi ketika kita sudah mengenalnya, menilik masa lalunya, kita akan tahu bahwa apa yang telah dilaluinya selama ini, bukanlah perkara yang mudah. Dan tidak semua orang bisa menghadapinya, seperti yang ia lakukan.
***

By the way, ini merupakan buku yang sudah cukup lama dan sudah diangkat dalam bentuk film. Trailernya bisa kalian lihat di bawah ini:


Karena baru selesai membaca novelnya saat ini, saya masih belum tahu bagaimana dengan filmnya. Apakah sebagus novelnya? dan apakah ceritanya sesuai dengan ekspetasi saya? Hehe.. yang jelas, saya cukup penasaran dengan film ini.

Akhir kata, terima kasih sudah mampir dan membaca review ini. Berkenalanlah dengan Ove, sebab kalian akan belajar banyak hal darinya. Saya juga berharap kalian bisa menemukan keteguhan dan ketulusan di hati orang yang kalian cintai. Seperti Sonja, gadis penuh warna yang memperoleh cinta dan kebahagiaannya dari Ove, seorang lelaki hitam-putih.

Books Review: The Seven Good Years by Etgar Keret

Jumat, 13 Januari 2017

The Seven Good Years adalah buku pertama yang selesai saya baca di awal tahun ini. Sekaligus juga menjadi buku memoar pertama yang saya baca. Buku inilah yang membentuk kesan pertama saya terhadap karya seorang penulis Israel, bernama Etgar Keret. Secara pribadi, saya belum pernah membaca karya-karya Etgar Keret. Melalui review seorang penulis favorit sayalah, akhirnya saya memutuskan untuk membeli dan membaca salah satu karyanya. Karya yang dikatakan oleh penulis idola saya, sebagai karya terbaik Etgar Keret.

Sesuai dengan judulnya, memoar ini terbagi atas tujuh bagian yang menggambarkan tujuh tahun terbaiknya. Mulai dari cerita mengenai kelahiran anak pertamanya, Lev, sampai kisah tentang Ayahnya yang meninggal dunia. Karena ini adalah karya pertama yang saya baca dari seorang penulis Israel–yang kita tahu bahwa negara itu merupakan daerah konflik yang kapan saja bisa terjadi serangan bom–setidaknya, buku ini bisa memberikan gambaran yang nyata kepada saya bagaimana situasi sebuah daerah yang sedang berperang. Sangat nyata.

Meskipun dilatarbelakangi oleh peperangan, tidak semua ceritanya melulu tentang penderitaan dan kesedihan. Sebaliknya, Etgar justru membungkus kenangannya begitu rapi dengan jenaka dan humanis. Ya, saya bisa tertawa tiba-tiba dibuatnya. Terkadang juga sekaligus merasa terharu, kasihan, atau menggurat senyum pahit sembari terus membaca.


Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. “Lihat,” kataku sambil membelai pipinya, “dunia yang kita tinggali kadang bisa menjadi sangat keras. Dan, ini akan adil untuk setiap orang yang lahir mendapatkan setidaknya satu orang yang selalu akan ada di sana untuk melindunginya.”
-      Hal. 175

Setiap bagian dari buku ini, memiliki kenangannya tersendiri. Begitupula bagi saya. Satu hal yang harus saya ingat ketika ingin membaca tulisan Etgar adalah, saya harus memiliki tingkat konsentrasi dan kefokusan yang tinggi, setidaknya begitu. Sebab, di hampir setiap bagian saya memiliki kebingungan tersendiri dengan makna dan maksud yang ingin disampaikan oleh Etgar Keret. Begini, dalam hobi membaca–entah itu novel, cerpen, memoar, atau jenis sastra apapun–saya terbiasa dengan prinsip utama bahwa ‘saya harus memahami maksud dan pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan itu’. Sehingga setiap kali saya selesai membaca, maka dalam pikiran sayapun akan muncul pertanyaan, “Apa yang bisa kamu simpulkan dari cerita ini?”

Dan saya tidak mendapatkan jawabannya dalam beberapa cerita di buku The Seven Good Years ini. Sebenarnya saya juga sangsi, apakah memang maksud dari cerita yang sulit saya pahami, apakah kalimat terjemahannya yang kurang saya resapi, apakah tulisan dari Etgar Keret sendiri yang (jujur saja, saya merasa) agak berbelit, atau memang pemikiran saya yang masih sangat dangkal dan sempit sehingga tidak begitu paham dengan makna yang disampaikan oleh si penulis? Hhmm.. saya lebih memilih asumsi yang terakhir. Haha.

Kendati demikian, saya masih bisa menemukan bagian lain yang begitu saya pahami. Ketika saya dapat menangkap apa yang ingin diungkapkan Etgar, saya merasa begitu mengenalnya. Mungkin ini terbaca sedikit aneh, tapi memang seperti itu nyatanya. Saya baru mengetahui tentang seorang keturunan Yahudi yang amat berpihak kepada perdamaian di negara berpendudukan Muslim dan dunia. Bahkan, ia pun pernah disambut baik dalam acara kepenulisan (mungkin, itu acara kepenulisan) yang dihadiri oleh Gubernur dan perwakilan keluarga kerajaan di Istana Bali.



Aku adalah penulis Israel pertama yang pernah datang ke Bali. Aku bahkan mungkin menjadi orang Israel pertama atau bahkan orang Yahudi pertama yang pernah dilihat oleh hadirin di sini. Apa yang mereka lihat ketika melihatku? Mungkin seekor kadal, dan dari senyuman yang mulai memancar di wajah-wajah mereka, kadal ini jauh lebih kecil dan lebih ramah daripada yang mereka bayangkan.

-      Hal. 32

Saya kira, itulah yang bisa saya sampaikan setelah membaca buku ini. Kisah dan kenangan yang penuh kelucuan, keharuan, dan makna yang mendalam. Ketika membacanya, kita tidak hanya akan terbius oleh kekhasan dari bahasa dan latar hidupnya, melainkan juga menikmati ketersesatan kita dalam setiap bagiannya.


“Saya peringatkan Anda sebelumnya,” katanya dengan senyuman, “ini sangat tidak nyaman. Tetapi, ini akan membuat Anda keluar dari sini, dan Anda akan mempunyai cerita yang bagus untuk ditulis.” Dan dia benar.


-      Hal. 128
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS