La La Land, Kota Penuh Mimpi, Cinta, dan Harapan

Senin, 30 Januari 2017

Sumber: google.com
Beberapa hari yang lalu, saya menghabiskan waktu dengan menonton film. Salah satu film yang membuat saya tertarik untuk mengulasnya adalah, La La Land.

Ya, ini adalah film yang sedang naik daun sekarang. Karena sering kali dibuat meme untuk debat cagub DKI Jakarta saat ini. Terlepas dari itu semua, saya memang sejak awal ingin menonton film ini. Apalagi, setelah salah seorang Youtuber mengcover salah satu soundtrack film ini. Itu semakin menambah rasa penasaran saya mengenai film ini. Alasan lain yang mendorong saya untuk segera menonton film ini adalah, seperti yang kalian tahu, film ini banyak memenangkan penghargaan di ajang perfilman hollywood.

***



La La Land merupakan film drama komedi musikal romansa Amerika Serikat. Disutradarai oleh Damien Chazelle dan dibintangi oleh Ryan Gosling, Emma Stone, John Legend, dan Rosemarie DeWitt.(Wikipedia)

Alurnya sendiri, bercerita tentang dua orang yang sama-sama memiliki mimpi besar. Sebastian (Ryan Gosling) adalah seorang pianis yang sangat menyukai musik jazz. Ia bekerja sebagai pemain piano di sebuah restoran kecil di Los Angeles, sebelum akhirnya ia dipecat karena melanggar perintah bosnya untuk tidak memainkan musik yang tidak boleh ia mainkan. Mia (Emma Stone), merupakan gadis yang bermimpi menjadi seorang aktris terkenal. Ia selalu mengikuti casting meski entah sudah berapa kali pihak perfilman menolaknya.

Mereka bertemu secara (tidak) sengaja, ketika Mia mendengar dentingan piano yang dimaikan Sebastian di dalam restoran. Kemudian, Mia memasuki restoran untuk melihat siapa yang memainkan musik itu. Tetapi, suasana hati Sebastian sedang tidak baik saat itu sehingga Sebastian mengabaikan Mia. Lalu mereka bertemu lagi saat pesta musim panas. Mulai dari situlah, mereka saling berhubungan dan dekat.

Sebastian punya mimpi untuk mendirikan kafe yang memainkan musik jazz murni di dalamnya. Sebab, kebanyakan musik jazz yang ia lihat, tidak mengalunkan musik jazz yang murni. Pasti ada saja tambahan atau aransemen yang justru menghilangkan identitas dari jazz itu.

Mereka berdua memiliki banyak kesamaan (menurut saya). Mereka adalah dua orang yang sama-sama mencari harapan di kota yang penuh bintang. Mereka saling berusaha untuk meraih impian dan saling menguatkan satu sama lain. Pada akhirnya, apa yang mereka inginkan dapat tercapai. Tapi dengan cara yang berbeda. Sebastian bisa membangun kafenya sendiri dengan musik jazz murni mengalir anggun dari dalam kafe. Namun sebelumnya, ia harus menunda apa yang menjadi prinsipnya. Ia mengalah untuk mengabaikan musik jazz murni dan bergabung dengan band yang ditawarkan temannya. Sedangkan Mia, ia bisa menjadi seorang aktris yang begitu terkenal. Ia pergi ke Paris untuk bermain film. Setelah sebelumnya, ia hampir gagal dengan penampilan monolognya. Setelah ia menyerah untuk tidak mengikuti audisi lagi. Dan akhirnya, panggilan itu datang.

sumber: google.com
Terlepas dari alur cerita yang begitu manis dan elegan, film ini disuguhkan dengan berbagai soundtrack yang juga tak kalah romantis. Kita juga akan ikut tenggelam dalam alunan lagu City of Stars yang menjadi salah satu soundtrack utama film ini. Mengingat genre film ini yang merupakan film drama musikal, film ini menyatukan antara drama dan musik dengan sangat baik. Selain itu, adegan demi adegan antara Ryan Gosling dan Emma Stone membuat kita semakin terpesona dengan keteguhan mereka dalam meraih mimpi. Juga dalam menerima apa yang menjadi risiko untuk mendapatkan mimpi itu. Dan benar saja, mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan. 

Kekurangan film ini, hmm.. saya masih mencari. Yang jelas, banyak nilai plus yang bisa saya dapatkan dari film ini. Untuk judulnya, La La Land sendiri, ada yang mengatakan bahwa itu merupakan gambaran kota yang dipenuhi oleh mimpi dan harapan banyak orang. Mengingat, Los Angeles, tempat syuting film ini, merupakan salah satu tempat yang banyak diimpikan orang untuk meraih mimpi.

Akhir dari film ini, sebenarnya sangat mengecewakan (bagi saya). Tapi, memang menggambarkan kenyataan yang biasanya terjadi di sekitar kita. Terkadang, kita harus bisa merelakan sesuatu demi hal lain yang kita inginkan, yang benar-benar kita butuhkan. Sebab, ada banyak hal di dunia ini yang dipertemukan, tetapi dengan maksud yang berbeda. Bahkan jauh dari apa yang kita harapkan. Meski begitu setiap cerita yang terjadi selalu punya alasan untuk terjadi. Dan akan selalu manis untuk dikenang kembali.

Books Review: A Man Called Ove by Fredrik Backman

Sabtu, 28 Januari 2017

Assalamu'alaikum.

Setelah beberapa minggu yang menyibukkan, akhirnya saya bisa kembali menulis review buku lagi. Akhirnya saya bisa menyelesaikan satu buku lagi di tahun ini. Dari judul di atas, pastilah kalian sudah tahu buku apa yang akan saya review kali ini. Ya, ini merupakan karya penulis Swedia yang pertama yang saya baca dan saya harap, kalian juga akan tertarik dengan buku ini.

***

Sebelumnya, saya sudah mengetahui buku ini lewat website yang saya selancari di internet. Namun saat itu saya masih belum terlalu tertarik. Ah, mungkin ceritanya akan membosankan, begitu pikir saya. Mengingat, cover dari buku ini adalah siluet lelaki tua bertongkat dan sebuah mobil Saab yang tua.

Kebetulan, beberapa minggu yang lalu saya pergi ke satu-satunya toko buku-yang menjual novel-novel-di kota saya. Sebenarnya saya mencari novel dari penulis favorite saya. Tapi, buku itu masih dalam stock kosong. Sehingga saya memutuskan untuk melihat-lihat buku yang lain dan akhirnya, bertemulah saya dengan buku Ove ini. Dan ternyata, pemikiran awal saya salah. Sangat salah.

Sebelum terlibat lebih jauh dengannya, biar kuberi tahu. Lelaki bernama Ove ini mungkin bukan tipemu.

Ove bukan tipe lelaki yang menuliskan puisi atau lagu cinta saat kencan pertama. Dia juga bukan tetangga yang akan menyambutmu di depan pagar sambil tersenyum hangat. Dia lelaki antisosial dan tidak mudah percaya kepada siapapun.

Seumur hidup, yang dipercayainya hanya Sonja yang cantik, mencintai buku-buku, dan menyukai kejujuran Ove. Orang melihat Ove sebagai lelaki hitam-putih, sedangkan Sonja penuh warna.

Tak pernah ada yang menanyakan kehidupan Ove sebelum bertemu Sonja. Namun bila ada, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup. Sebab, di dunia ini yang bisa dicintainya hanya tiga hal: kebenaran, mobil Saab, dan Sonja.

Lalu... masih inginkah kau mengenal lelaki bernama Ove ini?

Ketika membaca sinopsisnya, saya mulai tertarik kembali. Saya berpikir, lelaki tua seperti Ove ini, pasti memiliki alasan tertentu yang menyebabkan ia menjadi orang yang antisosial dan begitu sulit percaya kepada siapapun. Tentulah, hidup yang ia alami tidak mudah. Karena saya percaya, pasti ada alasan di setiap tindakan yang orang lakukan. Begitupula dengan Ove. Bagian yang saya ingin cari tahu adalah, ada apa dengan Ove?

Saya begitu puas dengan setiap bagian yang sedikit demi sedikit saya ketahui mengenai Ove. Beberapa memang sesuai dengan ekspetasi saya, namun itu tidak mengurangi kemenarikan dan rasa dari cerita ini. Perlahan, saya akan mengenal Ove. Lelaki yang begitu jujur dan patuh aturan. Lelaki yang kesetiaannya tidak dapat diragukan lagi.




Lelaki tua yang begitu mencintai Saab ini, memang sangat pelit dan pemarah. Terkadang, saya juga dibuat tertawa dengan tingkahnya yang jenaka. Meski sebenarnya, ia sedang tidak benar-benar bercanda. Satu-satunya orang yang ia cintai di dunia ini-selain kedua orang tuanya-adalah Sonja. Gadis yang ceria dan ramah, yang kelak menjadi pendampingnya seumur hidup. Ketika membaca bagian awal dari buku ini, segera terlukis di benak saya betapa Ove mencintai Sonja. Hingga Ove berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri. Ya, Ove begitu hitam-putih hingga tidak ada warna yang bisa mengisinya, kecuali Sonja.

Orang mengatakan Ove melihat dunia dalam warna hitam-putih. Namun, perempuan itu berwarna-warni. Seluruh warna yang dimiliki Ove.
Hal. 62

Untuk alur ceritanya, saya tidak ingin menguraikan lebih banyak lagi. Cukuplah, rasa yang saya dapatkan di setiap lembar halaman buku itu saya simpan sendiri. Jika kalian ingin mengetahui lebih jauh, mengapa tidak mengenal Ove sendiri secara langsung? Bukankah, kita akan lebih akrab jika bertemu langsung dengan sosok itu?

Dari segi kebahasaannya, saya tidak merasa terganggu sama sekali. Meskipun terjemahan, saya tetap bisa merasakan setiap bentakkan dan rengutan Ove. Sehingga saya begitu mudah menangkap setiap makna yang ingin disampaikan dalam cerita-ceritanya. Saya menikmati keseluruhan novel ini.

Novel ini dibagi dalam 40 bagian, yang setiap bagiannya memiliki judul berbeda. Selain itu, perbagiannya berisi cerita berbeda namun saling berhubungan dengan bagian yang lain. Terkadang, beberapa bagiannya juga menceritakan kilas balik. Masa lalu yang melahirkan sosok Ove dan sikap antisosialnya. Salah satu bagian favorite saya, adalah ketika Ove sampai pada titik terendahnya. Ketika ia sudah jenuh dengan segalanya.




Melalui novel ini, saya menemukan sudut pandang baru dalam menghadapi seseorang yang memiliki perilaku dan karakter yang sama seperti Ove. Yakinlah, pasti ada sesuatu yang menyebabkan seseorang menjadi seperti itu. Mungkin ia telah kehilangan harapannya, cintanya, atau cinta yang mengisi hidupnya. Tetapi bagaimanapun buruknya orang seperti Ove ini, mereka tetap memiliki rasa kemanusiaan, kasih sayang, dan perhatian yang tinggi. Hanya saja, sulit bagi mereka untuk menunjukkan itu semua. Sebab, mereka memandang dunia tak lagi sama. Jujur saja, saya banyak belajar dari buku ini. Bagaimana luar biasanya seorang lelaki yang teguh dengan komitmennya. Pada apa yang ia yakini dan percayai. Betapa manisnya ia pada seseorang yang ia cintai, meski ia memandang dunia kini begitu hitam dan gelap. Dan betapa kerasnya ia berjuang demi orang-orang yang ia sayangi. Tidak ada yang bisa menandingi cinta dan kasih sayang seperti ini.

"Konon, lelaki terbaik lahir dari kesalahan mereka sendiri, dan mereka sering kali menjadi lebih baik setelahnya, melebihi apa yang bisa mereka capai seandainya tidak pernah melakukan kesalahan," kata Sonja lembut.
Hal. 200


Itulah yang bisa saya bagikan kepada kalian mengenai Ove. Ia lelaki yang pemarah, pelit, keras kepala, baik hati, jujur, dan setia. Mungkin, kita akan melihatnya sebagai sosok kakek tua yang pemarah dan kasar pada mulanya, tetapi ketika kita sudah mengenalnya, menilik masa lalunya, kita akan tahu bahwa apa yang telah dilaluinya selama ini, bukanlah perkara yang mudah. Dan tidak semua orang bisa menghadapinya, seperti yang ia lakukan.
***

By the way, ini merupakan buku yang sudah cukup lama dan sudah diangkat dalam bentuk film. Trailernya bisa kalian lihat di bawah ini:


Karena baru selesai membaca novelnya saat ini, saya masih belum tahu bagaimana dengan filmnya. Apakah sebagus novelnya? dan apakah ceritanya sesuai dengan ekspetasi saya? Hehe.. yang jelas, saya cukup penasaran dengan film ini.

Akhir kata, terima kasih sudah mampir dan membaca review ini. Berkenalanlah dengan Ove, sebab kalian akan belajar banyak hal darinya. Saya juga berharap kalian bisa menemukan keteguhan dan ketulusan di hati orang yang kalian cintai. Seperti Sonja, gadis penuh warna yang memperoleh cinta dan kebahagiaannya dari Ove, seorang lelaki hitam-putih.

Books Review: The Seven Good Years by Etgar Keret

Jumat, 13 Januari 2017

The Seven Good Years adalah buku pertama yang selesai saya baca di awal tahun ini. Sekaligus juga menjadi buku memoar pertama yang saya baca. Buku inilah yang membentuk kesan pertama saya terhadap karya seorang penulis Israel, bernama Etgar Keret. Secara pribadi, saya belum pernah membaca karya-karya Etgar Keret. Melalui review seorang penulis favorit sayalah, akhirnya saya memutuskan untuk membeli dan membaca salah satu karyanya. Karya yang dikatakan oleh penulis idola saya, sebagai karya terbaik Etgar Keret.

Sesuai dengan judulnya, memoar ini terbagi atas tujuh bagian yang menggambarkan tujuh tahun terbaiknya. Mulai dari cerita mengenai kelahiran anak pertamanya, Lev, sampai kisah tentang Ayahnya yang meninggal dunia. Karena ini adalah karya pertama yang saya baca dari seorang penulis Israel–yang kita tahu bahwa negara itu merupakan daerah konflik yang kapan saja bisa terjadi serangan bom–setidaknya, buku ini bisa memberikan gambaran yang nyata kepada saya bagaimana situasi sebuah daerah yang sedang berperang. Sangat nyata.

Meskipun dilatarbelakangi oleh peperangan, tidak semua ceritanya melulu tentang penderitaan dan kesedihan. Sebaliknya, Etgar justru membungkus kenangannya begitu rapi dengan jenaka dan humanis. Ya, saya bisa tertawa tiba-tiba dibuatnya. Terkadang juga sekaligus merasa terharu, kasihan, atau menggurat senyum pahit sembari terus membaca.


Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. “Lihat,” kataku sambil membelai pipinya, “dunia yang kita tinggali kadang bisa menjadi sangat keras. Dan, ini akan adil untuk setiap orang yang lahir mendapatkan setidaknya satu orang yang selalu akan ada di sana untuk melindunginya.”
-      Hal. 175

Setiap bagian dari buku ini, memiliki kenangannya tersendiri. Begitupula bagi saya. Satu hal yang harus saya ingat ketika ingin membaca tulisan Etgar adalah, saya harus memiliki tingkat konsentrasi dan kefokusan yang tinggi, setidaknya begitu. Sebab, di hampir setiap bagian saya memiliki kebingungan tersendiri dengan makna dan maksud yang ingin disampaikan oleh Etgar Keret. Begini, dalam hobi membaca–entah itu novel, cerpen, memoar, atau jenis sastra apapun–saya terbiasa dengan prinsip utama bahwa ‘saya harus memahami maksud dan pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan itu’. Sehingga setiap kali saya selesai membaca, maka dalam pikiran sayapun akan muncul pertanyaan, “Apa yang bisa kamu simpulkan dari cerita ini?”

Dan saya tidak mendapatkan jawabannya dalam beberapa cerita di buku The Seven Good Years ini. Sebenarnya saya juga sangsi, apakah memang maksud dari cerita yang sulit saya pahami, apakah kalimat terjemahannya yang kurang saya resapi, apakah tulisan dari Etgar Keret sendiri yang (jujur saja, saya merasa) agak berbelit, atau memang pemikiran saya yang masih sangat dangkal dan sempit sehingga tidak begitu paham dengan makna yang disampaikan oleh si penulis? Hhmm.. saya lebih memilih asumsi yang terakhir. Haha.

Kendati demikian, saya masih bisa menemukan bagian lain yang begitu saya pahami. Ketika saya dapat menangkap apa yang ingin diungkapkan Etgar, saya merasa begitu mengenalnya. Mungkin ini terbaca sedikit aneh, tapi memang seperti itu nyatanya. Saya baru mengetahui tentang seorang keturunan Yahudi yang amat berpihak kepada perdamaian di negara berpendudukan Muslim dan dunia. Bahkan, ia pun pernah disambut baik dalam acara kepenulisan (mungkin, itu acara kepenulisan) yang dihadiri oleh Gubernur dan perwakilan keluarga kerajaan di Istana Bali.



Aku adalah penulis Israel pertama yang pernah datang ke Bali. Aku bahkan mungkin menjadi orang Israel pertama atau bahkan orang Yahudi pertama yang pernah dilihat oleh hadirin di sini. Apa yang mereka lihat ketika melihatku? Mungkin seekor kadal, dan dari senyuman yang mulai memancar di wajah-wajah mereka, kadal ini jauh lebih kecil dan lebih ramah daripada yang mereka bayangkan.

-      Hal. 32

Saya kira, itulah yang bisa saya sampaikan setelah membaca buku ini. Kisah dan kenangan yang penuh kelucuan, keharuan, dan makna yang mendalam. Ketika membacanya, kita tidak hanya akan terbius oleh kekhasan dari bahasa dan latar hidupnya, melainkan juga menikmati ketersesatan kita dalam setiap bagiannya.


“Saya peringatkan Anda sebelumnya,” katanya dengan senyuman, “ini sangat tidak nyaman. Tetapi, ini akan membuat Anda keluar dari sini, dan Anda akan mempunyai cerita yang bagus untuk ditulis.” Dan dia benar.


-      Hal. 128

Cerpen: PERTEMUAN

Jumat, 23 Desember 2016


pinterest

         Gadis itu berbaring telungkup dengan sebuah guling sebagai sandaran sikunya. Matanya terus menyorot layar bercahaya dari ponsel yang ada di tangannya. Sesekali ia menggunakan ibu jari atau telunjuk untuk menggeser layar ponsel naik dan turun. Hingga tidak terasa sudah berapa kali jarum jam berputar menyedot waktu.
         Tiba-tiba saja, matanya membelalak. Mulutnya menganga luas bak gunung yang ingin memuntahkan lahar. Ia mengepalkan salah satu tangannya lalu dengan suara yang tertahankan, ia berteriak. Sekali lagi ia tatap layar ponselnya yang terus bercahaya itu. Entah apa yang dilihatnya, namun setelah itu ia terus tersenyum sepanjang hari.

***

         “Kamu tahu? Dia menghubungiku lagi.” Ucap gadis itu pada temannya lewat sambungan telepon.
         “Benarkah? Dia bilang apa?”
         Gadis itu diam. Ia hanya tersenyum, sembari mengingat lagi apa yang baru dibacanya 15 menit yang lalu.
         “Astaga, Dea! Kamu bahkan tidak mau cerita?”
         “Bukannya begitu. Dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku.”
         Kini giliran temannya yang tercenung di seberang sana.
         “Mungkin kamu menganggapnya sepele. Tapi bagaimanapun juga, itu berarti bahwa dia masih mengingatku. Dia masih memikirkanku.” Jelas gadis bernama Dea itu lagi. Kali ini ia tidak dapat menyembunyikan suaranya yang begitu melengking.
         “Kamu yakin? Mungkin saja dia tidak sengaja aktif, lalu melihat notifikasi kalau ulang tahunmu hari ini. Lagi pula, ketika seseorang mengucapkan selamat ulang tahun padamu, bukan berarti ia masih memikirkanmu. Mungkin saja saat itu kamu sepintas terlewat di benaknya. Tidak ada arti apa-apa.”
         Mendengar reaksi temannya, Dea mendengus kesal.
         “Tidak mungkin. Aku yakin kalau dia masih ingat padaku dan ulang tahunku.” Tegas Dea. Ia lantas mematikan sambungan telepon secara sepihak.

***

         Dea berjalan malas menuju tempat duduknya. Hari masih sangat pagi untuk murid datang ke sekolah. Namun, ia mengenakan seragam yang begitu rapi telah duduk di kursi dengan tenang. Diam-diam ia mencuri pandang ke kursi yang ada di sebelahnya. Apa anak itu akan masuk hari ini? Itu yang selalu Dea pikirkan. Nyatanya, teman sebangkunya yang bernama Danu itu selalu masuk. Setiap hari, kecuali di hari Minggu. Ia bahkan menjadi salah satu anak rajin dan pandai di kelas. Kebanyakan murid menyukai dirinya, sebab ia begitu humoris dengan candaannya–yang tak jarang justru terlihat aneh dan membosankan–namun tetap mengundang tawa di antara kawan-kawannya. Sayang, itu tidak berlaku pada Dea.
         Ketika guru menyuruhnya untuk duduk sebangku dengan Danu, itulah saat di mana Dea begitu merasa terhukum. Ia benar-benar terganggu dengan watak Danu yang sering bicara–meskipun pada mulanya Danu adalah anak yang pendiam–ditambah dengan sikap kritisnya yang suka mengomentari apa saja yang dilihatnya. Hal itu kerap membuat Dea tak betah berlama-lama duduk di sampingnya.
         Walaupun begitu, seakan tidak peduli dengan perilaku Dea terhadapnya. Danu tetap menyapanya ramah ketika bertemu. Walau kadang ia ragu untuk mengajak Dea bercanda, ia tetap meluapkan lelucon-leluconnya meski akhirnya akan selalu sama: tampang sinis Dea menatap Danu seolah berkata ‘Apanya yang lucu? Dasar aneh!’.
         Tetapi, bagaimanapun dalamnya palung pasti ada dasarnya juga. Begitu pula dengan kesabaran Danu. Kadang kala pabila kering hatinya, ia tidak akan mengganggu Dea. Ia akan mendiamkannya seolah mengungkapkan, ‘Beginilah yang kamu mau, bukan?’. Kalau sudah begitu, Dea sendiri yang akan merasa bersalah dan risih. Bagaimana tidak? Anak lelaki yang biasanya sangat lincah ini tiba-tiba jadi beku serupa patung. Maka, Dea pun akan mencoba mengajaknya bicara. Sedikit demi sedikit. Kemudian, mereka berteman. Lalu, Dea akan kembali kesal. Begitulah, cerita mereka selalu terulang.
         Itu terjadi ketika mereka masih berusia sekitar 10 hingga 12 tahun. Setelah itu, jangankan berkelahi, untuk saling menatap saja mereka tidak bisa. Tepat di usia kedua belas tahun, mereka menempuh jalan hidupnya masing-masing. Kendati mereka masih sempat bertukar kabar beberapa kali. Kini usia mereka sudah lima tahun lebih tua daripada saat mereka berpisah dulu. Waktu yang terlampau lama bagi sebuah kembang untuk mekar dan bersinar. Begitu juga dengan kumbang yang beranjak dewasa.


pinterest
***

         Dea kembali melihat layar ponselnya. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada notifikasi apapun. Tidak ada telepon dari siapapun. Meskipun begitu, ia masih juga tak lelah melirik ponsel itu setiap 3 menit sekali.
         “Kamu beneran mau datang ke sini?” Tanya sebuah pesan masuk di ponselnya.
         “Iya. Mumpung, lagi liburan. Punya waktu dan kesempatan rekreasi keluarga seperti ini kan jarang sekali. Sesampainya aku di sana nanti, kita ketemuan ya. Hehe.”
         “Siap, Boss. Nanti kita ketemuan di kafe favoritku, deh. Udah lama nggak ketemu, pasti kamu banyak berubah, ya.”
         Belum sempat Dea membalas, ada pesan masuk lagi.
         “Pasti makin cantik.”
         Membaca pesan itu, semakin mekarlah bunga-bunga di hati dan pelupuk mata Dea. Senyumnya tak terberai barang sedetikpun. Baginya, dunia sudah nampak indah hanya dengan menatap secara langsung wajah kawan lamanya itu.
         “Atur saja, yang penting kita bisa bertemu. Sampai ketemu nanti, Danu.”

***


pinterest

         Cuaca sore di kota C hari itu sangat mendung. Padahal baru dua jam yang lalu Dea mendarat di kota dengan adat dan budaya yang kental tersebut. Seakan itulah cara alam menyambut kedatangannya yang dulu pernah menetap di tanah mereka. Mobil dengan serbuan rintik hujan yang semakin lama semakin deras, mengantar Dea ke rumah neneknya. Padahal, jikalau boleh berkata jujur. Ada pasal lain yang mendorongnya untuk segera sampai dan menapakkan kaki di ranah bergelombang itu. Yakni rasa yang menggebu di hatinya untuk kembali dan bernostalgia dengan masa kecil. Berdamai dengan masa lalu agar hatinya tenang untuk berpisah sejauh-jauhnya. Mengingat, kepergiannya dulu yang begitu lekas. Bahkan, tanpa menyisakan jejak untuk para pengenangnya.
         “Pa, nanti aku berhenti di kafe A, ya. Pulangnya bareng teman aja. Sebentar aja, kok, ketemuannya.”
         “Kamu yakin? Nggak mau mampir dulu ke rumah? Ketemu nenek?”
         “Nggak, Pa. Sebentar aja, kok. Lagi pula, kata temanku di dekat kafe ada toko souvenir gitu. Jadi aku mau beliin nenek sesuatu.” Dalih Dea pada Papanya. Sudah hapal betul olehnya, tabiat sang Nenek yang suka dengannya sebab materi yang selalu ia suguhkan. Tanpa itu, jangankan bertemu. Menanyakan kabarnya pun neneknya tidak pernah tidak lupa.
         Dea akhirnya sampai di kafe yang telah dijanjikan Danu. Hari itu, mereka sama-sama memakai baju merah. Kata Danu, ia sedang duduk di salah satu meja yang menghadap air mancur. Maka, dengan hati yang penuh dentuman, Dea melangkah. Dari kejauhan, ia dapat melihat sosok Danu. Tubuh kurusnya dengan kulit sawo matang begitu mudah dikenali. Semakin dekat, semakin berat langkahnya untuk berjalan. Seolah batu besar tengah diikatkan pada telapak sepatunya. Separuh tubuhnya ingin duduk di hadapan Danu dan mengobrol sepanjang sore itu. Namun, sebagian yang lain ingin berhenti melangkah. Kemudian berbalik lalu kabur menuju rumah neneknya.
         Tetapi, tiba-tiba tubuhnya melayang. Kakinya tanpa sengaja menyandung sesuatu yang lantas membuatnya terhempas ke tanah.

         BRAAKK.

***

         Dea tertegun. Beberapa kali mengerjapkan matanya, kemudian memperhatikan sekitarnya.
         “Dea? Kamu dengar aku gak, sih?” suara si Penelepon masih mengambang di ujung sambungan.
         “Kenapa? Ya, aku dengar.”
         “Dari tadi aku ngomong, kamu dengerin gak?!”
         “Eh? I.iya.”
         “Dea, jangan terlalu anggap serius pesannya itu. Sebagai teman, wajar kan, kalau dia ngucapin ulang tahun ke kamu?” terdengar si Penelepon tengah menghela napas sejenak, “Aku paham. Mungkin, kamu merasa menyesal dengan apa yang dulu kamu lakukan padanya. Lebih-lebih, kamu pergi tanpa pesan begitu saja. Tapi, bukan berarti dia selalu bisa membayangimu, kan?”
         Ada hening sesaat, kemudian si Penelepon melanjutkan, “Apalagi hadapilah kenyataan. Bahwa kamu tidak akan bisa kembali ke kota itu lagi.”
         Dea benar-benar terenyak. Ia menelan ludah begitu pahit seakan ada kerikil teramat besar sedang menyangkut di kerongkongannya. Temannya itu sudah terlalu banyak bicara. Lamat-lamat ia memahami kalimat yang disampaikannya.
         Dengan suara yang ia pelan-pelankan, Dea berkata, “Hendra, sudah dulu, ya. Aku ngantuk, mau tidur.”
         “Iya, selamat tidur.” Tutup lelaki itu di ujung telepon.
         Dengan muka masam, ia melempar handphone-nya ke kasur. Begitu pula dengan tubuhnya yang ia banting perlahan seolah-olah dengan begitu ia dapat meruntuhkan penyesalan yang ada di pundaknya. Setengah dari tubuhnya telentang, sedang kakinya menggantung di pinggir kasur. Tatapannya lurus menghadap langit-langit kamar yang temaram. Beberapa saat, bayangan Danu dan siluetnya mengambang di awang-awang. Kemudian, ia menangis.

****


Banjarmasin, 23 Desember 2016


pinterest

Books: The Girl On The Train by Paula Hawkins

Sabtu, 08 Oktober 2016



Finally, I finished reading this book!!







Saya tidak jadi kecewa dengan akhir dari novel ini. Sebab, jika saya merasa kecewa, maka tebakan saya benar. Dan untuk novel New York Times Bestseller, hal itu tidak boleh sampai terjadi. Untunglah, apa yang saya pikirkan tidak terjadi. Paula Hawkins membuka jalan dan rahasia-rahasia baru. Membuka mata kita untuk melihat semua fakta yang ada-yang dikoyak satu persatu dengan begitu rapi. Rasa lega memenuhi kepala saya. Ketika tanda tanya besar mengenai pelaku pembunuhan itu terjawab. Seseorang yang diduga dengan penuh keyakinan. Namun, ternyata saya sudah salah arah. Salah menunjuk. Salah menghakimi. Pada akhirnya, kita akan dihadapkan dengan jawaban yang mengaduk hati. Harus diakui, kita bahkan tidak bisa mengenal baik pasangan kita 100%.


Novel ini dipisah dalam beberapa sudut pandang yang berbeda. Rachel, Anna, atau Megan. Mereka memiliki ceritanya masing-masingmasa lalu mereka. Disertakan juga dengan tanggal dan hari kejadiannya. Lebih seperti buku harian, menurut saya. Dari pandangan-pandangan mereka kita bisa menyusun jalan ceritanya sendiri. Susunan alurnya. Kemudian menebak jalan cerita yang kosong. Lubang hitam dalam ingatan Rachel. Lewat sudut pandang yang berganti-ganti, kita akan mengetahui mengapa si tokoh ini menjadi begini? Mengapa si anu berbuat hal itu? Bagaimana si anu bisa mati? Semuanya disampaikan tak hanya oleh satu pihak. Membuat buku ini semakin diperkaya oleh pikiran-pikiran tokohnya yang hidup. Mereka memiliki obsesi, trauma, masa lalu, dan keinginan untuk bebas. Hal itu yang membuat kita tidak bisa menghakimi keputusan mereka sembarangan. Karena mereka punya alasan. Karakter yang kuat.

Tidak ada yang pernah menyangka, kalau kebiasannya memperhatikan sepasang kekasih yang tinggal di pinggir rel kereta mengantarnya ke dalam situasi yang buruk. Rachel, seorang pecandu alkoholyang karena itu pula ia bercerai dengan suaminya. Ia tidak pernah berhenti menatap jendela ketika kereta melewati rumah nomor dua puluh tiga. Sebab, di sanalah ia dulu tinggal. Sekarang, yang bisa ia lihat adalah pemandangan mantan suaminya, Tom dengan istri barunya, Anna yang hampir setiap saat menggendong Evie, anak mereka. Banyak hal yang menyebabkan perceraian mereka. Kebiasaan mabuk Rachel, pernikahan mereka yang belum juga mendapatkan bayi, hingga berujung pada perselingkuhan Tom dengan Anna.

Tak jauh dari rumah mereka, ada sepasang kekasih bahagia yang selalu diamati oleh Rachel. Rumah nomor lima belas, Jason dan Jess. Itu nama yang diberkan Rachel untuk mereka. Ia tidak mengenal mereka, pasangan itu baru saja pindah selang beberapa hari Rachel keluar dari rumahnya sendiri.

Suatu ketika, saat ia tengah mengamati rumah-rumah itu dari balik jendela kereta, ia melihat Jess sedang bermesraan. Lelaki yang nampak dengannya bukanlah Jason. Seseorang yang lain. Hal itu membuat Rachel biungung. Ia berpikir, betapa bodohnya Jess yang berselingkuh dengan lelaki lain. Sedangkan Jason terlihat sangat mencintainya. Rachel kemudian teringat kembali dengan kisahnya sendiri. Pernikahannya dengan Tom.

Beberapa hari setelah itu, Rachel mendapati berita di koran. Bahwa seorang wanita yang tinggal di rumah itu menghilang. Barulah ia tahu, wanita yang ia namai Jess itu bernama Megan. Dan sekarang wanita itu menghilang. Tepat di malam ketika ia sedang mabuk berat dan pergi menuju rumah Tom, mantan suaminya. Rachel sendiri tidak ingat apapun yang terjadi padanya malam itu. Ia terbangun di kamarnya dengan tubuh yang memar dan mulut yang terasa panas.

Sepanjang cerita, kita akan diajak untuk melihat orang-orang yang diduga menjadi pelaku pembunuhan Megan. Tak hanya itu, kita juga turut menilik masa lalu Megan. Siapa sebenarnya dia? Mengapa dia tega berselingkuh? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang akan terjawab dengan sendirinya.

Akhir ceritanya, menjadi bagian favorit saya. Ending yang sangat menarik.


Novel ini juga sudah diadaptasikan ke dalam bentuk film oleh DreamWorks.


Saya harap, film ini juga akan ditayangkan di Indonesia. :)
Selamat membaca.



Cerpen: Percakapan di Sabtu Malam

Sabtu, 17 September 2016


pinterest
Hari ini adalah Sabtu yang dingin.

Menusuk saat pagi, menyengat di siang hari, dan kembali sejuk di malam hari.

Ini malam Sabtu yang panjang.

Namun terasa singkat saat aku bertemu denganmu di persimpangan jalan. Kau memakai hoodie jumper berwarna abu-abu lengkap dengan tudung kepalanya. Duduk di kursi yang tidak jauh dari perempatan, tepat di bawah pohon angsana. Aku sering melewati jalan ini. Rute yang selalu kutempuh setiap malam di saat aku tidak bisa memejamkan mata. Memang, belakangan terakhir aku sering terjaga. Tidak tahu apa penyebabnya. Sehingga, aku akan berjalan-jalan sebentar keluar rumah. Mengitari perkomplekan yang luas ini dan menikmati udara malam yang dingin.

Tetapi, di antara banyaknya malam yang kuhabiskan seorang diri. Baru malam ini aku bertemu denganmu. Malam ini pula, aku pertama kali melihatmu. Lalu, aku pun memutuskan untuk duduk di sampingmu dan bertanya,
"Hai, siapa namamu?"

Kau hanya diam. Tetap menunduk dengan posisi yang sama seperti sebelumnya.
"Apa aku mengganggumu?" Tanyaku lagi, "Aku belum pernah melihatmu di sini sebelumnya. Apa kau pendatang baru?"

Kau pun akhirnya menoleh ke arahku. Menatapku beberapa menit, kemudian menegakkan posisi dudukmu. Entahlah. Sebelumnya, aku berpikir kau adalah lelaki paling dingin yang pernah kutemui. Tak ada satu pun orang di dunia ini yang begitu pendiam sepertimu.

"Kau tahu? Dunia ini aneh." Itu ucapmu pertama kali.

Lelaki gila, pikirku. Aku tidak menanyakan sedikit pun pendapatmu tentang dunia. Tapi, kau malah menjawab sesuatu yang sama sekali bukan pertanyaanku. Maka, aku pun hanya bereaksi,

"Ya, semua orang tahu itu."

Kau kembali diam. Beberapa menit berikutnya, kau akhirnya kembali membuka suara, "Apa yang sedang kau cari di sini?"

"Apa? Aku tidak sedang mencari apa pun."

"Lalu, mengapa kau berada di sini?"

"Hanya berjalan-jalan sebentar. Aku tidak bisa tidur."

Mendengar jawabanku, kau justru terkekeh. Itu suara tawamu yang pertama kali kudengar. Begitu nyaring, di antara remangnya gelap malam dan purnama. "Kau ini lucu sekali."

Apa? Aku bahkan tidak sedang melucu, "Apa yang membuatmu tertawa?"

Setelah cukup mampu menahan diri, kau kembali diam. Pandanganmu mengarah ke langit. Menuju satu titik cahaya yang bersinar. Bulan. "Siapa namamu?"

Pertanyaanmu itu membuatku berubah pikiran. Kau bukan hanya lelaki terdingin, tetapi juga orang tertidaknyambung yang pernah kutemui. Aku bahkan ragu, apakah kau sebenarnya tahu bagaimana cara berbicara yang baik dan benar? Namun, karena kau adalah orang pertama yang kutemui di malam yang begitu dingin ini, maka aku pun menjawab, "Arini."

pinterest
Wajahmu masih mendongak menatap rembulan. Kau menghirup napas dalam-dalam. Memejamkan mata. Kemudian menghembuskannya perlahan. Kau mengubah posisi dudukmu. Menyandarkan leher pada sandaran kursi taman yang terbuat dari besi-yang semakin terasa dingin karena terkena embun malam-dan memasukkan kedua tanganmu ke kantong hoodie-mu.
“Pergilah dari sini! Ini bukan tempatmu."

Aku memicingkan mata. Semakin yakin, aku telah membuang waktuku untuk mengobrol dengan orang gila yang tersesat hingga duduk di kursi taman komplekku. Aku membuat jarak denganmu. Mengambil beberapa senti menjauh dari posisi awal.

"Kau yang harusnya pergi dari sini. Sejak awal aku berada di tempat ini. Sedangkan kau? Melihatmu pun, aku baru hari ini."

"Dunia ini aneh ya." Itu ulangmu lagi.

"Ya, sama anehnya denganmu."

"Tahukah kau, Arini? Kalau dunia itu sering terbalik."

Aku kemudian mendelik ke arahmu. Tidak salah dengarkah aku? Kau menyebut namaku tadi. "Ya, karena dunia itu seperti roda. Ia akan berputar terus-menerus."

Kau membuka matamu. Kembali menatap rembulan yang semakin cemerlang, lalu menoleh ke sampingmu-ke arahku yang sudah duduk menjauhimu. "Bukan itu maksudku. Terbalik dalam arti yang sebenarnya."

Itulah saat pertama kalinya aku melihat wajahmu dengan sangat jelas. Kau memiliki kulit yang cokelat. Rambut hitam legam dengan alis yang tipis namun panjang dan hampir bertaut. Ada satu hal yang paling indah di wajahmu. Kau memiliki tatapan yang meneduhkan. Bias cahaya rembulan, semakin menambah keindahan pada matamu. Entahlah. Seketika, aku tersihir olehmu.

"Arini, dunia ini tidak pernah bisa memuaskan setiap manusia, bukan?" Tanyamu, seraya kembali menatap rembulan.

Aku tidak menjawab. Mungkin, kali ini aku yang dibiarkan bisu dan terus mendengarmu. Orang asing yang bahkan baru malam ini kutemui.

"Banyak orang hidup namun merasa sudah mati. Begitu pun dengan orang mati yang merasa tetap hidup." Ada jeda sejenak, kemudian kau melanjutkan, "Sepertimu."

Aku mengernyitkan dahi. Apa yang baru saja orang gila di depanku ini katakan? Dia menyebutku apa?

"Arini, sadarkah kau bahwa kau ini sudah mati?" Tanyamu memperjelas.

Aku mendelik tajam. Tidak tahan dengan semua omong kosong yang kau katakan sejak tadi. "Apa maksudmu? Jika kau tidak ingin berteman dan merasa terganggu, lebih baik katakan saja. Jangan malah berucap seperti itu!"

Kau akhirnya menoleh padaku. Menatapku lekat-lekat. Seakan menerobos dada hingga ke dalam jantung. Aku merasa tenggorokanku tersangkut. Membuatku tertahan dan tidak bisa berkata sepatahpun.

"Sudah berapa banyak malam yang kau lewatkan dengan terjaga seperti ini? Kau hanya mengulang malam yang sama. Kau tetap berada di sini. Tidak pernah berjalan ke mana pun."

Rahangku terasa mengeras. Dingin yang semula biasa, kini terasa mulai menusuk seluruh tubuhku. Oh, bagaimana aku bisa seperti ini? Aku bahkan tidak memiliki tubuh. Dengan getir aku akhirnya bertanya, "Bagaimana kau tahu bahwa aku sudah mati? Sedangkan aku sendiri tidak menyadarinya?"

Kau tersenyum kecil, kembali menatap rembulan yang kini separuh tertutup awan gelap.

"Sejak kecil, aku bisa melihat kematian. Di dunia ini, ada banyak sekali kematian yang aku yakini, kau tidak akan pernah sanggup melihatnya. Itulah mengapa aku berkata, bahwa dunia ini sering terbalik. Aku hidup, namun dengan kemampuan ini aku merasa seolah-olah telah mati. Sedangkan kau? Kau telah mati, tetapi merasa tetap hidup."

Aku lemas mendengarnya. Menyandarkan tubuhku yang ringan pada bangku taman yang tidak terasa apapun lagi. Ikut menatap rembulan seperti kau, "Bagaimana aku bisa begini?"

"Coba kau pikir, kenapa orang mati masih dibiarkan melangkah di bumi? Menghirup angin malam dan melewati jalan yang sama?"

Aku melirik ke arahmu. Berdehem sembari mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ini. "Pasti ada sesuatu yang belum selesai."

Kau diam mendengar kesimpulanku. "Terima kasih sudah menyadarkanku." Ucapku lagi.

"Ya, aku hanya ingin membantumu."

Ada jeda sejenak,
"Kalau begitu, maukah kau membantuku lagi? Sebenarnya, aku masih belum tahu apa yang harus kuselesaikan."

Kau menoleh ke arahku. Menegakkan posisi dudukmu, lalu tersenyum. Lebih ramah dan tulus. "Dengan senang hati."

Beberapa saat, aku dan kau terdiam. Menatap pada rembulan yang bersinar di langit malam. Hanya terdengar hembusan angin malam dan jangkrik yang berbunyi. Malam ini terasa benar-benar sunyi. Saking sunyinya, sampai aku bisa mendengar suara detak jantungmu yang teratur.

"Jadi, siapa namamu?" Tanyaku lagi.

"Panggil saja aku Andrea."




Malam semakin larut dan dingin terus menyeruak. Malam yang begitu panjang. Namun terasa singkat saat aku telah mengetahui semua kebenarannya. Seakan waktu segera habis dan aku harus cepat menyelesaikan tugasku. Mengakhiri sesuatu yang belum berakhir.

pinterest

*****

Review Film: The Conjuring 2

Sabtu, 25 Juni 2016

Selamat malam!

Sesuai postingan sebelumnya, saya ingin membuat review film The Conjuring 2. Ya, kebetulan beberapa hari yang lalu saya nonton film ini bersama dua sahabat saya. Padahal, saya mengira kalau penontonnya tidak akan terlalu banyak. Mengingat film ini sebenarnya sudah hampir 2 minggu lebih tayang di bioskop. Tapi, ternyata peminatnya masih sangat banyak. Saya dan teman-teman saya sampai harus memilih film pada jam 15.30 karena memang tinggal jam segitu yang tersisa. Kami sampai harus buka puasa di dalam bioskop-_-.

Well, meskipun pengorbanan waktu untuk nonton film ini cukup banyak, tapi saya sangat sangat sangat puas sekali dengan hasilnya. Filmnya kerenn..
Ya, jadi lebih baik saya mulai saja review film yang bertele-tele ini. Maafkan saya--"

***

sumber: google.com

Tanggal liris: 10 Juni 2016
Sutradara: James Wan
Skenario: James Wan, Chad Hayes, Carey Hayes, David Leslie Johnson
Pemain: Vera Farmiga (sebagai Lorraine Warren), Patrick Wilson (sebagai Ed Warren), Madison Wolfe (sebagai Janet Hudgson), Frances O'Connor (sebagai Peggy Hudgson), Bonnie Aarons (sebagai demon Nun), Simon McBurney (sebagai Maurice Grosse), dll.
***

Seperti yang sudah kalian ketahui, film ini diangkat dari kisah nyata keluarga Hudgson. Menceritakan tentang Janet, salah satu anak perempuan Peggy Hudgson yang sering mengalami kejadian aneh. Awalnya tak ada yang percaya, namun semakin hari kejadian aneh terus terjadi di rumah mereka. Mulai dari mobil mainan yang hidup sendiri saat tengah malam, remote tv yang berpindah, kursi yang berpindah, hingga Janet yang sering berjalan saat ia tidur(sleep walking) padahal ia sudah mengikat tangannya pada ranjang agar ia tidak berpindah tempat saat tertidur.

Semakin seringnya kejadian aneh itu, tak tanggung-tanggung bahkan hantu yang berada di rumah itu juga menyerang Janet dan keluarganya. Mereka sempat mengungsi di rumah tetangganya dan memanggil polisi untuk meminta bantuan. Tapi, ketika polisi datang dan melihat kursi yang berpindah dengan sendirinya, mereka menyatakan tidak mampu menyelesaikan masalah itu.

Berita tentang rumah Hudgson yang berhantu itu sampai diberitakan di koran-koran. Beberapa peneliti dan paranormal juga sempat melakukan penyelidikan. Maurice, salah satu yang membantu keluarga Hudgson (saya lupa dia sebagai peneliti atau paranormal--") yang awalnya tidak percaya dengan hal yang berbau hantu atau roh, setelah melihat sendiri Janet yang kerasukan hantu dari rumah itu pun akhirnya percaya dan bersedia membantu Janet dan keluarganya. Janet yang selalu mengalami gangguan. Ia sering kerasukan hantu kakek-kakek yang pernah tinggal di rumah itu dan selalu jadi obyek bagi hantu kakek itu untuk mengganggu orang lainnya.

Berita itu sampai pada paranormal handal Lorraine dan Ed Warren. Awalnya, Lorraine menolak untuk membantu. Itu karena pada kegiatan pengusiran roh sebelumnya- di rumah Amityville- Lorraine bertemu dengan iblis The Nun yang sangat menyeramkan. Dari pertemuan itu, Lorraine mendapatkan bayangan akan kematian suaminya, Ed Warren. Sejak kasus itu, ia enggan melakukan kegiatan paranormal lagi, karena ia tahu nyawa Ed mungkin juga akan terancam bahaya.

Ed kemudian membujuknya untuk tetap membantu keluarga Hudgson. Dan pastur di gereja (pastur yang sama dalam film The Conjuring 1) juga memastikan akan menarik mereka dari kasus itu jika terbukti kasus itu hanya hoax.

Singkat cerita, dari hasil perbincangan antara Ed dan Janet(yang dirasuki oleh hantu kakek-kakek) diketahuilah bahwa hantu kakek itu bernama Bill Willkins. Ia pemilik rumah itu beberapa tahun sebelum keluarga Hudgson tinggal di sana. Berusia (kalau tidak salah) 78 tahun dan meninggal tepat di kursi sudut ruangan(yang diduduki Janet saat itu) karena darah tinggi. Ketika ditanya mengapa ia kembali lagi ke dunia, dia hanya menjawab bahwa dia ingin bertemu keluarganya lagi.

***

Oke, sepertinya sinopsis film ini cukup sampai disini saja. Karena kelanjutannya, kalian harus melihatnya sendiri. Yakin, kalian nggak bakalan nyesel!!

Bagaimana kelanjutan kasus Ed dan Lorraine kali ini? Apakah mereka terus melanjutkan kasus ini? Karena, pada pertengahan film diketahui kalau Janet sendiri yang membuat kekacauan- seseorang merekam Janet saat ia terkunci di dapur dan dari hasil rekaman, terlihat kalau Janet sendiri yang melemparkan piring dan meja seolah-olah ia sedang kerasukan. Lalu bagaimana dengan iblis The Nun yang selalu menghantui Lorraine? Apakah kasus ini benar-benar membawa Ed pada kematiannya?

Hadeh, tonton ajalah ya pokoknya.. hehehe

***

Adegan demi adegan di film ini akan membuat kalian terkejut berkali-kali. Bahkan, sejak beberapa menit di awal film. Kelemahan dari film ini, hmm.. saya masih nyari. Tapi, banyak yang berpendapat kalau hantunya kurang menyeramkan. Saya yakin, kalian pasti sudah melihat wajah The Nun bernama Valak yang sudah banyak dibuat meme di sosial media.

Sumber: google.com

Meskipun begitu, film ini sangat recommended banget buat ditonton. Alur ceritanya yang menarik (terlebih karena film ini based on true story) dan adegan-adegan horor yang selalu berhasil membuat kita menutup mata atau berteriak saking kagetnya. Malah, saya berpendapat kalau The Conjuring 2 ini lebih bagus daripada The Conjuring 1. Untuk kesekian kalinya, James Wan selalu berhasil membuat saya terpukau dengan karyanya. Kayaknya, nanti saya akan membuat postingan tentang sutradara keren yang satu ini. #maafsalahfokus-_-

Oke, sepertinya cukup ini saja review saya mengenai film The Conjuring 2. Sebagai tambahan, saya berikan trailer filmnya. (yang sebenarnya sudah tersedia di Youtube--"). Sampai bertemu di postingan berikutnya.




Rating: 9.5/10
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS