Review Buku: The Girl On Paper oleh Guillaume Musso

Selasa, 28 Maret 2017



Saya mencintai buku ini. Sangat mencintainya.

The girl on paper bercerita mengenai seorang penulis buku Trilogie Des Anges yang sangat terkenal bernama Tom Boyd. Ia menjalin hubungan asmara dengan pianis muda nan cantik, Aurore, sebelum akhirnya lamarannya ditolak dan ia terjebak dalam obat-obatan, alkohol, hingga mengalami writer’s block. Keadaannya semakin terpuruk ketika Milo, sahabatnya, memberitahu kalau mereka telah ditipu dan kehilangan hampir dari seluruh tabungan dan kepemilikan atas rumahnya.

Suatu malam, tiba-tiba seorang gadis tanpa busana memasuki rumahnya. Ia mengaku sebagai Billie, gadis yang menjadi salah satu tokoh dalam novelnya. Sebelumnya, Milo telah memberitahu Tom bahwa buku Trilogie Des Anges Vol. 2-nya mengalami kesalahan cetak tepat di halaman 266. Ada kalimat yang terputus dan sisanya hanya berupa halaman kosong.
 
Billie menyeka matanya yang menghitam oleh lelehan maskara.“Kumohon, Jack, jangan pergi seperti ini.”Namun, pemuda itu sudah mengenakan mantelnya. Dia membuka pintu, tanpa sekali pun menatap kekasihnya.“Kumohon!” seru gadis itu, jatuh

Tentu, Tom tidak memercayai hal itu. Namun beberapa pertanyaan yang dijawab dengan sangat tepat oleh Billie, membuat sedikit keraguannya memudar. Terlebih lagi, setelah mereka melakukan kesepakatan: Billie akan membantu Tom untuk kembali bersama Aurore, dan sebagai imbalannya, Tom harus menyelesaikan buku ketiganya agar bisa memulangkan Billie ke dalam dunia fiksinya.

Mereka menempuh perjalanan yang panjang dan penuh petualangan menuju Meksiko agar Tom dapat bertemu dengan Aurore. Perjalanan yang mengantarkan mereka justru kepada pengembaraan yang lebih jauh lagi. Buku terakhir yang mengalami kesalahan cetak pun turut menjadi bagian dari masa lalu orang-orang yang sempat membacanya. Kelak, kita akan berhenti pada awal di mana cerita itu bermula. Seorang gadis kertas yang penuh dengan teka-teki dan penulis yang akhirnya menemukan cintanya kembali.

***



Buku ini memiliki ide cerita yang sangat menarik, menurut saya. Seorang gadis yang keluar dari buku. Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya saya menikmati cerita dengan ide pokok semacam ini. Ruby Sparks dan Goosebumps adalah beberapa film yang juga mengangkat ide cerita yang sama. Meskipun terbilang sudah pasaran, saya rasa konsep cerita ini tetap menarik untuk dinikmati maupun dikembangkan. Saya semakin meyakini hal itu ketika menemukan buku ini.

The girl on paper ditulis dengan gaya yang modern dan bebas tanpa kehilangan sisi romantismenya. Pembaca tidak akan dibuat bosan dengan setiap rangkaian kata yang disajikannya dengan penuh keserasian dan menggelegak emosi. Persis seperti apa yang penulis katakan di halaman 290:

Sebuah buku hanya akan hidup kalau dibaca. Para pembacalah yang menyusun potongan-potongan gambar dan menciptakan dunia imajiner tempat para tokohnya hidup.- Hal. 290

Banyak hal yang saya peroleh dari novel karya Guillaume Musso ini. Meski sejujurnya, ini adalah karya pertamanya yang saya baca. Penulisannya yang ringan sangat cocok dengan genre cerita yang memang ditujukan untuk kaum muda. Saya mampu merasakan gejolak dari majas-majas yang digunakan penulis, sekaligus meresapi makna yang ingin disampaikannya. Ya, semudah itu. Penyajiannya yang menambahkan kalimat-kalimat bijak dari banyak ahli dan penulis lain juga menjadi pemanis buku ini. Tidak heran kalau saya menempelkan banyak sticky notes dalam lembaran-lembarannya.

Aku ingin kau tahu apa keberanian sejati itu,bukan dengan membayangkan seorang laki-laki dengan senjata di tangan.Keberanian sejati adalah ketika kau tahu bahwa kau kalah sebelum kau memulainya,tapi kau tetap memulainya dan tetap bertindak,apapun yang terjadi.-Harper Lee

Hal yang disayangkan dari novel ini hanya sedikit kesalahan pengetikan yang saya temui di beberapa bab-nya. Namun seperti yang saya katakan tadi, sedikit. Sehingga hal itu termaafkan dengan banyaknya kelebihan yang saya temui dari buku ini. (Seperti yang kita tahu, kita tidak boleh terfokus hanya pada satu kesalahan. Sementara di sisi lain kita bisa menemukan banyak kebaikan #curcol). Selain itu, sudut pandangnya yang berubah-ubah sedikit membuat saya bingung. Tetapi setelah menelan beberapa bab berikutnya, saya mulai bisa menyesuaikan diri dengan plot ceritanya. Selanjutnya, mudah saja bagi saya untuk masuk dan tenggelam bersama imajinasi yang saya bangun sendiri.

Terlepas dari kelemahan yang termaafkan itu, saya puas dengan novel ini. Tidak sia-sia, saya berjuang mencarinya seorang diri #curcollagi. Sama seperti sebelumnya, saya mencintai buku ini. The girl on paper tidak sekadar menunjukkan keputusasaan seorang lelaki yang patah hati pada cinta yang ia idam-idamkan. Novel ini juga melahirkan  sisi lain dari kehidupan seorang penulis dan dunia yang ia tinggali beserta orang-orang yang ada di sekitarnya. Hal penting yang saya serap dari buku ini adalah:

Membaca bukan hanya perihal tentang mengeja kata demi kata di dalam hati lalu menghubungkannya menjadi untaian kalimat. Lebih dari itu, membaca adalah tentang membangun karakter. Tenggelam di dalam imajinasi yang tidak ada batasnya. Membaca ialah segala hal tentang menghidupkan cerita dan bagaimana cara kita untuk hanyut dalam fantasi yang kita ciptakan sendiri.
-          Atika

Review Film: One Day (Thailand Movie) (2016)

Selasa, 21 Maret 2017

Assalamualaikum.

Kemarin, saya menonton film thailand yang berjudul One Day. Sebenarnya film ini sudah cukup lama tayang. Namun, karena saya baru sempat mendownloadnya kemarin, dan berbagai kesibukan lainnya. Akhirnya saya baru bisa menontonnya kemarin. Hmm, mungkin supaya bisa mendapatkan sedikit gambaran dari film ini, lebih baik kita melihat trailernya dulu. Cekidot:




Nah, sudah punya sedikit bayangan, kan, mengenai film ini?

One Day bercerita tentang seorang lelaki bernama Denchai yang menyukai teman sekantornya, Nui. Tetapi, Den hanya bisa menyembunyikan perasaannya itu sebab, penampilan dan sifatnya yang sangat tertutup. Ia berambut keriting, berkacamata, dan cukup sulit untuk bergaul. Ia seorang pegawai di bidang IT, semua orang membutuhkan dirinya. Namun tidak satupun yang bisa mengingat namanya. Hanya Nui yang bisa mengingat namanya, itulah yang akhirnya membuat Den jatuh hati pada Nui. Karakter Nui berbanding terbalik dengan Denchai. Ia seorang gadis yang ceria, murah senyum, dan selalu terbuka. Tak heran, jika ia bisa dengan mudahnya menjalin hubungan dengan Top, atasannya di kantor.

Suatu ketika, Top mengadakan liburan pergi ke Jepang untuk semua karyawannya. Sebenarnya itu bukan liburan kantor, melainkan cara Top agar bisa membawa Nui untuk mengunjungi Festival Salju di sana. Tetapi di luar dugaan, istri Top beserta anaknya juga datang menyusul. Lebih lagi setelah terdengar kabar kalau ternyata istri Top hamil lagi. Ya, Top sudah menikah. Ia berjanji pada Nui akan menceraikan istrinya dan menikahi Nui. Namun, dengan keadaan istrinya yang tengah hamil, bagaimana bisa Top menceraikannya? Saat itu, Nui benar-benar patah hati. Ia sangat bersedih. Ketika liburan kantor sudah berakhir. Ia mengambil beberapa hari lagi untuk tetap tinggal di Jepang. Denchai yang selalu memperhatikan dan mengikuti Nui pun juga tak tega meninggalkan ia seorang diri. Sehingga akhirnya Denchai juga tidak pulang ke Thailand.

Kepatahatian Nui berujung pada jatuhnya ia saat bermain ski. Sebenarnya tidak sungguh-sungguh bermain ski. Ia mengalami yang namanya TGA, Transient Global Amnesia. Lupa ingatan sementara yang menghilangkan memori jangka pendeknya. Amnesia itu hanya terjadi satu hari saja. Keesokkan harinya, Nui akan lupa dengan apa yang terjadi hari ini. Ia akan mendapatkan kembali memori jangka pendeknya. Hal itulah yang membuat Den mulai memanfaatkan situasi. Ia mengaku pada Nui kalau mereka adalah sepasang kekasih.

***

Dari film ini saya belajar untuk mencintai seseorang tak hanya sekadar memandang kepada fisiknya. Apa yang dilakukan Denchai adalah hal manusiawi yang sering kali juga dilakukan oleh orang yang sedang jatuh hati. Kita akan melakukan hal-hal yang bodoh karena cinta. Selain itu, saya juga menemukan cara pandang yang berbeda dalam melihat suatu tindakan. Misalnya seperti di saat Denchai melakukan hal-hal manis kepada Nui secara diam-diam. Di satu sisi, perbuatan itu bisa terlihat menakutkan, ia bisa saja disangka psikopat atau pengintai. Tetapi di sisi lain, bisa menjadi perbuatan yang sangat romantis. Ya, tergantung dari sisi mana kita lebih berpijak.

Apa kau pernah mendengar orang mendaki gunung Everest? Saat pendakian pria itu jatuh, dan semua orang akhirnya mati. Dan seorang pria yang berjalan di atas tali di antara menara di World Trade Center. Sebelumnya aku tak pernah bisa memahami kenapa mereka melakukan hal-hal semacam itu. Sampai ketika aku bertemu denganmu. Saat kau memintaku sebelumnya, kenapa aku menjadi berani untuk merayumu. Saat ini aku tahu jawabannya. Ketika kita mencintai sesuatu dengan sungguh-sungguh, kita tidak butuh sebuah alasan.

Cinta yang membuat kita berani untuk melakukan semua hal-hal bodoh itu.

Film ini lebih menonjolkan sisi romantisnya, berbeda dengan film thailand biasanya yang dibumbui oleh komedi. Sehingga saya dapat merasakan konfliknya lebih mendalam. One Day mengajarkan kepada saya, untuk mecintai dengan setulus hati tanpa berharap apapun. Mengerti, bahwa sering kali cinta membuat kita terluka. Tetapi, kita tidak akan pernah berhenti untuk mencintai. Jujur saja, ketika melihat trailernya, saya pun berpikir kalau Denchai bersikap tidak baik dengan berbohong dan seolah memanfaatkan keadaan Nui. Dan setelah menonton filmnya, ternyata pemikiran saya itu salah. Keduanya sama-sama bodoh dan saya pun tidak jadi berpihak kepada salah satu di antara mereka.

Kau bisa menyebut dirimu bodoh jika kau mau. Tapi apa yang aku lakukan hari ini tidak jauh berbeda. Ini seperti kita mendaki gunung Everest bersama-sama.

Review Buku: Pacar Seorang Seniman oleh W. S. Rendra

Sabtu, 11 Maret 2017



Berbeda dengan buku-buku kumpulan cerpen lain yang pernah saya baca, Pacar Seorang Seniman merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh sastrawan sekaligus penyair besar, W. S. Rendra. Kumpulan cerpen ini ditulis W. S. Rendra pada era 1950-1960-an. Sehingga latar sosial, budaya, dan bahasanya disesuaikan dengan masa itu. Namun saya rasa, itu justru menjadi nilai lebih dari buku ini.

Pacar Seorang Seniman berisi 13 cerita pendek, dilengkapi juga dengan biografi singkat Sang Penulis di bagian akhirnya. Hal yang saya sukai dari buku ini adalah ilustrasi yang ada di setiap judul cerpen. Gambaran mengenai tokoh yang diceritakan dalam cerpen tersebut. Ilustrasi yang membuat para pembacanya akan lebih meresapi setiap cerita yang disajikan. Selain itu, saya juga menyukai gaya kepenulisan pujangga besar ini. Bahasanya yang arkais, membuat saya terhanyut dalam lembaran-lembarannya. Bahkan saya merasa kalau kalimat-kalimat itu justru mengantarkan pesan dengan lebih manis dan tepat. Dan itu menjadi sesuatu yang sulit kita dapatkan di zaman yang semakin modern ini. Terlebih lagi, bahasa yang kita gunakan saat ini telah dibakukan dan banyak berkembang. Jauh berbeda dengan masa W. S. Rendra.

Dari judulnya, kita sudah bisa menafsirkan isi dari buku kumcer ini. Kebanyakan ceritanya mengisahkan tentang percintaan, hasrat yang dimiliki oleh seorang anak muda, kepatahatian, diselingi juga dengan nilai kekeluargaan, musyawarah, dan persahabatan. Nilai yang sangat dijunjung pada masa itu. Mengingat jumlah cerita yang lumayan banyak, saya hanya akan menuliskan tiga sinopsis cerpen yang paling saya sukai. Berikut sinopsisnya:


Pohon Kamboja

Menggunakan sudut pandang orang kedua, Pohon Kamboja bercerita mengenai seorang lelaki tua yang suka merawat pohon kamboja di belakang rumah anaknya.  Ketika menyiram pohon itu, ia sering berbincang-bincang dengan tetangganya. Menurut kacamata tetangganya itu, si kakek sangatlah mencintai anak lelakinya yang lain bernama Herman. Sebab, Herman memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh saudara-saudaranya yang lain. Ia sangat jago berkelahi. Ia tidak bisa dikalahkan oleh siapapun. Kemampuan itu diajarkan sendiri oleh si kakek. Namun, beberapa tahun yang lalu Herman pergi dan menghilang. Pada mulanya, kakek masih memperoleh kabar mengenai anak kesayangannya itu. Tetapi, beberapa waktu kemudian kakek benar-benar kehilangan komunikasi. Itulah mengapa ia menanam pohon kamboja tersebut. Pohon kamboja selalu mengingatkannya pada Herman.

"Bunga kamboja ialah bunga yang berwatak. Ia tidak terpengaruh oleh keadaan. Ia senantiasa mempunyai keagungan. Meskipun ia biasa tumbuh di kuburan, ia tak bisa dinamakan bunga kematian. Terbukti apabila ditanam di halaman seperti ini, ia pun akan bisa memberikan keindahan yang tersendiri. Itulah namanya watak dan keagungan."
 - Hal. 103

 Ia Membelai-belai Perutnya




Seorang gadis yang tidak disebutkan namanya, telah terjerat dalam lubang kemaksiatan. Ia begitu bingung dan takut terhadap jabang bayi yang tengah dikandungnya. Narso, lelaki yang sangat ia cintai yang juga menjadi orang yang harus bertanggungjawab atas segala yang terjadi, tidaklah patut untuk dituntut kewajibannya. Ia seorang lelaki yang liar dan bengal. Kawin dengannya hanya akan melahirkan persoalan baru; nestapa dan penderitaan. Melihat masalah pelik yang dialami oleh gadis itu, kita akan tahu betapa dilemanya ia. Konsekuensi dari apa yang telah ia lakukan sendiri.

"Kemudian ia tengadah, mencari wajah Tuhannya. Ia tak berani minta ampun. Menatap saja ia dengan matanya yang basah. Tuhan tahu segalanya karena itu terserahlah semua kepada-Nya."
- Hal. 116 
Gaya Herjan

Herjan baru saja putus cinta. Pelawak itu benar-benar patah hati dengan kekasihnya yang lebih memilih seorang pilot daripada dirinya. Kepatahatian itu membuatnya mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak ikut bergabung dengan kawan-kawannya yang bertamasya. Kawan-kawannya pun memahami apa yang sedang bergejolak di dada Herjan. Sepanjang perjalanan, kawan-kawan Herjan terus saja membicarakan dirinya. Mengenai lelucon yang tidak akan ada lagi pada dirinya. Mereka bahkan memikirkan hal-hal lain yang mungkin akan dilakukan oleh Herjan. Gantung diri, minum racun tikus, dan hal lainnya semacam itu.

"Mas Herjan yang baik.Dengan surat ini saya akan menyatakan dengan perasaan yang sangat menyesal, bahwa saya tidak berani mencintai Mas lagi, sebab saya selalu merasa diri saya rendah apabila berada di dekat Mas. Pikiran saya hanya mampu untuk sampai kepada hal-hal yang ringan dan gampang, seperti tentang hal keadaan cuaca dan mesin terbang umpamanya, tetapi saya tidak mampu untuk bisa ikut menjangkau cita-cita Mas untuk menjadi seorang artis film. Meskipun akan lekas gampang dimengerti oleh orang yang normal bahwa kedudukan seorang bintang film lebih tinggi dari seorang pilot. Sebab, bukankah letak bintang memang lebih tinggi dari sebuah pesawat terbang yang paling tinggi sekalipun?Sekianlah.Harap Mas memaafkan saya."
MURNI
- Hal. 126

***

Banyak pesan yang saya dapatkan dari buku ini. Pacar seorang seniman menunjukkan kacamata yang berbeda dalam menilai dan memandang suatu perkara. Mengembalikan kenangan kita pada suasana silam yang penuh dengan kesederhanaan dan kedamaian. Mengajar sekaligus menghibur.

Books Review: Sharp Objects by Gillian Flynn

Kamis, 02 Maret 2017



Kalau mendengar judulnya, mungkin belum terdengar familier. Tapi, bagaimana dengan penulisnya? Gillian Flynn adalah penulis Best Seller novel Gone Girl yang juga telah diadaptasi ke dalam film pada tahun 2014. Salah satu film terbaik dan masuk ke beberapa nominasi penghargaan film. Genre dari kedua buku Gillian sendiri, tidak jauh berbeda. Berkaitan dengan pembunuhan, misteri, dan wanita. Bahkan setelah menikmati dua karya Gillian dalam bentuk buku dan film, saya berpikir kalau Gillian memang ingin menunjukkan sisi kelam dan liciknya seorang wanita. Karena Gillian akan mengenalkan kita pada sosok wanita yang sangat berbeda daripada yang biasa kita temui. Jauh dari kata manis, lembut, dan ramah. Ya, meskipun tidak semua karyanya menggambarkan hal itu. Berikut adalah sekilas trailer dari film Gone Girl:




Sharp Objects sendiri berkisah mengenai seorang reporter berita kriminal bernama Camille Preaker. Ia ditugaskan oleh atasannya untuk meliput sekaligus menyelidiki kasus pembunuhan dua anak perempuan di kampung halamannya, Wind Gap. Sebenarnya ia tidak mau, tapi ia tidak punya pilihan lain. Camille harus kembali ke tempat yang paling ia hindari. Bertemu dengan orang yang paling ia jauhi, Ibunya. Hubungan Camille dan Ibunya memang tidak baik. Sejak kecil, ia tidak pernah dekat dengan Ibunya. Sementara Ayah, Camille bahkan tidak mengetahui nama laki-laki yang harusnya menjadi sosok Ayah baginya. Ia hanya mengenal Alan, suami baru Ibunya yang juga Ayah dari adik tiri yang ia sayangi, Marian. Sayang, Marian meninggal karena sakit yang ia derita ketika Camille berumur 13 tahun. Hal itu semakin membuat jarak antara Camille dan Ibunya.

Bertahun-tahun tidak kembali ke kota kelahirannya, tidak banyak yang berubah. Hampir semuanya masih sama begitu pula dengan orang-orangnya. Camille bisa bertemu dengan beberapa teman lamanya dan teman Ibunya. Ia juga bertemu Amma, adik barunya yang kini menginjak umur belasan tahun. Begitu muda dengan kebinalan yang sangat lihai ditutupi lewat tingkah manis dan lugunya. Selama mencari berita yang bisa dikutip, Camille turut berusaha untuk mencari tahu pelaku pembunuhan. Awal yang memperkenalkannya dengan Richard, seorang detektif khusus dari Cansas City yang sengaja dipanggil untuk menyelidiki kasus tersebut. Itulah yang saya sukai dari Gillian Flynn. Ia bisa membungkus percintaan, kegilaan,  kebrutalan, dan kesedihan dalam satu paket yang apik.

Masalah selalu datang jauh sebelum kau benar-benar melihatnya.
-       Hal. 83


Satu hal pasti yang bisa dijadikan garis besar dari novel ini. Sakit.

Entah itu menyakiti, disakiti, bahkan mencari kesenangan dari rasa sakit itu sendiri. Mungkin itulah yang menjadi alasan mengapa buku ini diberi judul “Sharp Objects”. Membaca buku ini, kalian akan diajak untuk berhadapan dengan kegilaan yang perlahan akan menggiring kalian untuk membuka rahasia yang tersembunyi. Sesuatu yang bisa jadi sesuai dengan apa yang kalian pikirkan atau malah sebaliknya.

Dari segi penulisan, saya tidak mengalami kesulitan yang berarti. Sharp Objects milik saya, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga saya juga kurang tahu dengan tulisan asli yang menggunakan bahasa Inggrisnya. Namun, dari terjemahannya, saya masih bisa menangkap maksud yang disampaikan oleh Gillian. Meskipun ada beberapa kalimat yang perlu dibaca beberapa kali untuk memahaminya. Terlepas dari penulisan, Sharp Objects mengajarkan sesuatu yang baru bagi saya. Mungkin juga kalian, para pembacanya.

Kadang-kadang saat kau membiarkan orang-orang melakukan sesuatu padamu, sebenarnya kau melakukannya pada mereka.
- Hal. 328

Sayangnya, bagian akhir dari novel ini terkesan buru-buru dan terlalu cepat. Seolah teka-teki terungkap dengan begitu saja. Tanpa penambahan atau pengurangan. Sehingga lebih terlihat sebagai pemaparan dari rahasia demi rahasia. Seperti kunci jawaban yang dibuka satu persatu. Selain itu, secara subjektif, saya mengalami kepatahatian di bagian akhir. Karena, tebakan saya mengenai ending novel ini ternyata benar. Bagi saya, itu sesuatu yang buruk sekaligus menyenangkan. Buruk, dikarenakan tebakan yang benar, saya justru tidak bisa merasakan ketakjuban yang harusnya saya alami. Saya tidak terkejut di saat seharusnya saya terkejut.  Hal itu yang membuat saya malah tidak bisa menikmati bagian akhirnya secara maksimal. Bagian menyenangkannya adalah, ya jelas, karena tebakan saya benar mengenai akhir ceritanya. Kalian tahu? Betapa bahagianya ketika saya ternyata memiliki jalan pikiran yang sama dengan penulis buku ini.

Secara keseluruhan, saya menyukai buku ini. Sebagai novel bergenre thriller, Sharp Objects bisa menjadi salah satu hiburan yang menyenangkan, menegangkan, sekaligus mencengangkan. Secara tidak langsung, Gillian juga menunjukkan lika-liku yang harus dihadapi oleh seorang reporter kriminal seperti Camille. Ada satu kutipan yang paling saya sukai dalam novel ini terkait dengan profesi reporter:

Reporter itu seperti vampir. Mereka tidak bisa masuk ke rumahmu tanpa undangan, tapi sekali mereka masuk, kau tidak akan bisa mengeluarkan mereka hingga mereka menyedot darahmu sampai kering.
Hal. 138-139

Cerpen: Musim Panas Elina

Kamis, 23 Februari 2017


pinterest

      Gadis itu menatap lembut awan dan desiran angin yang menggoyangkan dedaunan pohon di hadapannya. Begitu menyenangkan. Dari balik jendela, ia duduk dengan kedua tangan menopang dagu. Indah sekali di luar sana. Andai saja, aku bisa bebas melangkah di rerumputan yang tinggi dan menikmati dinginnya embun pagi hari ini, pikirnya.
      Tanpa ia sadari, seseorang memasuki kamarnya. Seorang lelaki seumuran dengannya. Ia selalu memakai baju putih berkancing dan membawakan senampan makanan berisi nasi–di lain waktu berupa bubur atau sup, lauk-pauk, buah, dan segelas air mineral.
      “Masih menatap langit?” tanyanya.
       Gadis itu berbalik ke arahnya, “Bukan. Aku sedang mencari hujan.”
     Tanpa menghilangkan senyumannya lelaki itu menaikkan salah satu alisnya, “Lalu, kalau tidak ada hujan hari ini bagaimana?”
      “Aku akan tetap menunggu di sini.”
      “Begitukah?” lelaki itu memiringkan sedikit kepalanya, “Apa kau tidak mau keluar menikmati hangat mentari hari ini? Kalau kau mau, aku bisa menemanimu. Tapi, sebelum itu habiskan dulu sarapanmu.”
      “Tidak. Aku tidak akan makan, sebelum hujan turun hari ini.”
     “Wah, sayang sekali. Padahal hari ini sepertinya tidak akan ada hujan. Itu berarti kau tidak akan makan seharian.” ucap lelaki itu yang kini telah duduk di kursi yang berada tak jauh dari tempat si gadis.
      “Kalau memang begitu, biarlah.”
      Lelaki itu terdiam. Ia sedang memikirkan kata apa lagi yang harus diucapkannya agar gadis di hadapannya ini menyuapkan sedikit nasi ke mulutnya. Sudah dua hari gadis ini hanya duduk di depan jendela. Hanya mau minum itupun kalau dipaksa.
      “Siapa namamu?” tanya lelaki itu kemudian.
      “Elina.”
      Sambil berdehem lelaki itu memicingkan kedua matanya.
      “Namaku Adera.”
      “Aku tidak bertanya.” balas si gadis terus menatap jendela.
    “Baiklah, Elina. Aku akan membiarkanmu duduk di sini dan menikmati apa yang sedang kau tunggu. Tapi jika kau berubah pikiran, panggilah aku. Aku akan mengantarkan makanan lagi siang nanti.” Jelas lelaki itu akhirnya setelah hampir lima menit mereka terdiam, “Dokter akan memeriksamu jam 3 sore nanti. Sebelum kunjungan itu, kuingatkan agar kau menghabiskan makanmu. Sebab, jika tidak mereka akan membawa perawat lain untuk memaksamu makan.”
      “Aku mengerti.”

***

      Lelaki itu memandang beberapa lembar kertas di tangannya. Pikiran jauh melayang pada seorang gadis yang tadi pagi ditemuinya. Elina.
     Gadis itu sudah hampir satu bulan tinggal di tempat rehabilitasi di mana ia bekerja saat ini. Dirinya sendiripun hampir dibuat tak percaya saat melihat gadis yang begitu manis dan anggun seperti dia terikat di ranjang atau duduk dengan tatapan kosong menghadap jendela. Di lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin menolong gadis itu. ‘Gadis itu gila. Jangan dengarkan apa yang diucapkannya. Calon suaminya tewas dalam kecelakaan yang mereka alami tepat dua hari sebelum pernikahan mereka. Tragis sekali. Akupun sering kasihan melihatnya. Seharusnya, dia bisa melewati masa sulit itu dan tidak terjebak di tempat ini’ ucap kawan lelaki itu suatu kali padanya.
      Tiba-tiba telepon di ruangannya berdering. Ia segera membuyarkan lamunannya dan meraih ganggang telepon.
      “Dera, cepat ke ruangan Elina. Gadis ini mengamuk lagi!”
      “Baiklah! Aku akan ke sana.”
      Perawat bernama Dera itu, bergegas menuju ruangan si gadis. Di tangannya sudah tersedia sekeranjang kecil suntikan, jarum, dan botol kecil berisi cairan. Ketika masuk ruangan, sudah ada dua orang perawat lelaki yang menahan tangannya dan seorang perawat wanita yang berusaha menenangkannya. Tanpa bertanya, Dera segera menyiapkan suntikan dan menusukkan jarum tajam itu di kulit si gadis. Untuk beberapa menit, napas Elina mulai melambat. Gerakan tubuhnya pun mulai melemah. Matanya perlahan menutup seakan tidak sanggup melawan kekuatan yang menyerangnya. Lalu, mereka kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang.
      “Kita harus mengikatnya agar dia tidak kembali memberontak seperti tadi.” Ucap salah seorang perawat lelaki.
      “Memang, sebelumnya apa yang dia lakukan hingga mengamuk?” tanya Dera.
     “Kau tahu sejak tadi pagi dia hanya memandang jendela dan menunggu hujan. Hingga larut begini, ia tidak juga mendapati apa yang ditunggunya. Maka diapun mengamuk.” Jelas perawat wanita.
      “Kalau begitu, jangan ikat dia dulu. Akan kucoba besok pagi untuk membujuk dan menenangkan pikirannya.”
      Perawat lelaki yang tadi bicara terkekeh, “Sepertinya kau mulai menyukai gadis gila ini, ya?”
      “Apa maksudmu? Aku hanya prihatin melihat keadaannya.”
      “Tak usah bohong. Kalau gadis ini waras, akupun yakin pada diriku sendiri kalau aku akan jatuh cinta padanya. Sayang, dia gila.”
      Dera tidak membalas perkataan temannya. Mereka kemudian keluar dari ruangan dan mengunci pintu kamar.

***


pinterest
     Dera kembali memasuki kamar Elina. Gadis itu sudah duduk di tempat biasanya ia berada. Sepanjang hari hanya dihabiskannya dengan menatap jendela.
      “Mengapa kau selalu menunggu hujan?”
      “Mana makanan yang selalu kau antarkan untukku?”
      “Aku yakin selama kau tidak melihat hujan, kau tidak akan makan sedikitpun.”
      Gadis itu tersenyum pahit.
      “Lalu, mengapa kau selalu menunggu hujan?” tanya Dera lagi.
      “Leon suka sekali dengan hujan. Oleh karena itu, dia hanya akan datang saat hujan.”
     “Oh ya? Hanya karena itu?” Dera diam sejenak, “Kalau dirimu sendiri, sejujurnya apa kau juga menyukai hujan sama seperti Leon?”
      Elina berpikir. Mulutnya ia monyongkan ke depan dan menerawang jauh, “Sebetulnya, tidak juga. Aku sendiri biasa saja. Tapi demi bertemu dengan Leon, aku akan terus menunggunya.”
      “Begini, Elina. Kau tahu tidak, di negara kita ada dua musim. Hujan dan panas. Nah, sekarang ini sedang musim panas. Sebab itulah, jarang sekali hujan turun.” Dera menghentikan ucapannya sebentar, “Kalau kau mau, aku bisa menunjukkan keindahan musim panas padamu. Setidaknya, kau jangan hanya bergantung pada satu musim, kan?”
      Tanpa menunggu jawaban dari Elina, Dera melanjutkan, “Kau tidak boleh menolak. Aku akan mengajakmu ke luar. Aku tahu kau pasti sangat bosan di kamar ini. Lagipula, aku pernah sekali-dua mendengarmu mengeluh betapa indahnya sinar matahari pagi.”
      Dera meraih tangan Elina. Menggiringnya keluar ruangan. Ia sudah minta izin sebelumnya kepada dokter dan perawat lainnya. Tentu, awalnya mereka tidak setuju. Tapi setelah Dera membujuk mereka tiada henti, maka dokterpun mengizinkan. Lebih-lebih, dokterpun merasa Elina perlu sedikit hiburan agar mengurangi tekanan yang dideritanya.
      “Kemana kita akan pergi?”
      “Kita akan piknik di taman.”

***

      Dera memandang foto-foto di tangannya tanpa henti. Sesekali ia tersenyum, lalu menghela napas. Hari itu menjadi hari yang sangat menyenangkan baginya. Entah bagi Elina. Mereka makan di tengah taman yang hangat. Untungnya, Elina mau memakan sandwich dan roti panggang yang sudah ia siapkan dengan lahap. Untuk pertama kalinya, Dera melihat senyum gadis itu kembali merekah. Elina semakin terlihat manis di bawah banjuran sinar matahari di musim panas. Mereka duduk, berfoto, dan Dera membacakan sebuah cerita untuk Elina hingga gadis itupun tertidur beberapa saat. Seakan hari itu Elina telah menjadi gadis yang sangat berbeda dan sehat.
      “Terima kasih untuk caramu mengatasi masalahnya.” Dokter menjabat tangannya penuh sukacita, “Kalau kau melakukan ini dengan rutin, aku yakin Elina akan segera membaik. Oh ya, apa yang kamu katakan padanya ketika kalian berada di taman tadi?”
      “Sebagian hanya omong kosong saja. Aku menceritakan dongeng padanya. Selain itu aku juga berkata, kau boleh saja menunggu hujan. Tapi, setidaknya kau bisa melakukan sesuatu sembari menunggu hujan itu datang. Maka, kuajaklah dia bermain dan piknik di taman.”
      Setelahnya, keadaan Elina berangsur-angsur membaik. Ia memang masih duduk menunggu hujan datang, tapi tak lagi meraung-raung atau menahan lapar sampai ia melihat hujan. Ia bahkan sering berkeliling taman dengan Dera sambil bercerita banyak hal. Musim panas yang dilaluinya tidak lagi kering seperti sebelumnya. Dua bulan yang akan datang, dokter sudah bisa memastikan bahwa Elina bisa pulang dan dirawat di rumah. Betul-betul suatu keajaiban.

***

      Seminggu sebelum kepulangan Elina dari rumah sakit, hujan turun begitu derasnya. Rintik-rintiknya bergemuruh di atas atap. Petir dan kilat menyambar-nyambar silih berganti. Pemanasan global memang mengubah segala sesatu di permukaan bumi ini. Sampai-sampai musimpun dapat berganti-ganti sesuka hati mereka.
      Elina tengah menulis sesuatu di meja kamarnya–bahkan saking pesatnya perkembangan kesehatannya, dokter mengizinkan beberapa barang untuk ia pakai. Setelah selesai menulis, dilipatnya kertas itu kemudian diletakkan di atas meja. Dengan penuh kehati-hatian, ia berjalan ke luar kamar. Ia menghamburkan diri dan membiarkan tubuhnya diguyur hujan penuh dentuman.
      Dengan riang, ia berjalan menuju taman yang gelap.
      “Leon, aku datang.”

***

      Paginya, semua orang di rumah sakit dibuat terperanjat setengah mati. Bahkan, kecoa-kecoa dan tikus-tikus rumah sakitpun melongo dengan apa yang mereka lihat saat itu. Elina ditemukan tergeletak tak berdaya di ujung taman dekat pintu gerbang. Dari tubuhnya menguar bau hujan. Bajunya basah dan kotor dengan bekas-bekas tanah lembab. Di pergelangan tangannya, tergores lubang begitu dalam. Darahnya mengalir kemana-mana, seolah menjadi kubangan tempat ia berbaring dan menunggu. Wajahnya begitu putih dan dingin. Namun ia tersenyum begitu bahagia.

      Terima kasih untuk musim panasnya. Kau mengenalkanku pada musim panas yang indah dan hangat. Aku tidak akan melupakan itu. Tetapi, bagaimanapun hujan akhirnya datang juga. Leon menjemputku dan aku akan tinggal bersama dengannya. Selamanya.
-Elina

      Dera memandang kertas itu dengan tatapan nanar. Jari-jari tangannya amat ringkih menggenggamnya. Bagaimana bisa begini? Kukira, aku sudah bisa menyembuhkanmu. Membuatmu merasa lebih baik. Namun ternyata aku salah. Kau tidak akan pernah benar-benar sembuh, pikirnya.


pinterest

****

Books Review: Corat-Coret di Toilet by Eka Kurniawan

Sabtu, 18 Februari 2017





Ini adalah karya ketiga dari Eka Kurniawan yang telah saya khatam-kan. Setelah sebelumnya saya menyelesaikan Cantik Itu Luka, kemudian disusul dengan Sama Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Kesan pertama kali saya terhadap tulisan Eka adalah, sangat arkais dan berani.  Eka dengan yakinnya mengambil setting di tahun kolonial dan mengangkat cerita-cerita penuh konflik juga romantis. Meskipun begitu, saya tetap bisa menikmati setiap gaya bahasa dan penuturan yang disampaikan Eka dengan begitu manis.

Kembali kepada judul postingan ini, Corat-Coret di Toilet merupakan buku kumpulan cerita Eka yang pertama kali saya baca. Buku ini terdiri atas 12 cerita dengan tema yang berbeda. Namun kebanyakan mengandung unsur percintaan dan politik. Terlalu sedikit bagi saya, dengan jumlah buku yang hanya sekitar 120 halaman. Di antara semuanya, saya hanya akan menuliskan 3 sinopsis cerpen yang paling saya sukai. Berikut sinopsis singkatnya:

  • Siapa Kirim Aku Bunga?
Henri merupakan seorang kontrolir yang hidup pada akhir tahun 20-an di Hindia Belanda. Suatu ketika, ia mendapatkan sebuah bunga di restaurant tempat ia biasa bersantai dan berkumpul bersama teman-temannya. Dalam tangkai-tangkai bunga itu terselip kartu yang bertuliskan "Untuk Henri". Kejadian tersebut tak hanya terjadi sekali. Mulanya di restaurant, lalu di rumahnya, berlanjut di pemandian umum yang ia datangi. Berhari-hari ia terus dihantui oleh bunga-bunga yang selalu datang tanpa mengenal waktu dan tempat itu. Ia merasa takut dan bingung menerima bunga itu. Ia penasaran siapa gerangan yang telah mengirim bunga itu untuknya? Kebingungannya berujung pada seorang gadis penjual bunga yang ternyata selalu ada di manapun dirinya berada. Ia merasa gadis penjual bunga itu mengikutinya. Bisa jadi pula, gadis itulah yang memberinya bunga setiap hari. Maka, ia pun mencoba bertanya dan mendekati gadis tersebut. Hingga akhirnya, Henri sendiri yang jatuh hati pada gadis itu.

"Bunga itu lambang cinta, dan kau manusia yang kering akan cinta. Sudah selayaknya kau peroleh banyak-banyak bunga."

Akhir cerita yang sangat miris dan menyayat hati.
  • Peter Pan
Bercerita tentang seorang lelaki yang tidak disebutkan namanya. Ia hanya sebut sebagai kekasih Tuan Puteri yang kemudian dijuluki dengan Peter Pan. Peter Pan sangat membenci para pencuri buku. Maka, ia menjelma jadi seorang pencuri buku agar para penegak hukum menangkapnya. Dengan begitu, ia akan tahu kalau pemerintah juga memperhatikan betapa pentingnya sebuah buku. Tetapi, perkiraannya salah. Sudah bertahun-tahun ia mencuri buku, namun ia masih bisa berlenggang ke sana dan ke mari. Lalu, ia berniat untuk melakukan demonstrasi. Demonstrasi kecil-kecilan kalau saya bilang, sebab tidak ada yang simpati terhadap aksi protes tersebut. Tak juga digubris, akhirnya ia menuangkan pemikiran dan suaranya lewat sastra. Ternyata cara itu sangat berpengaruh dan mengancam Sang Diktator saat itu. Orang-orang pun ikut melakukan pemberontakan. Kini, justru hidup Peter Pan yang terancam.

... Tuan Puteri berkata kepadanya, di mana-mana rakyat begitu miskin sementara para pejabat hidup mewah. Negara sudah di ambang bangkrut karena utang luar negeri dan sang diktator sudah terlalu lama berkuasa, menutup kesempatan kerja bagi orang yang memiliki bakat menjadi presiden. Menurut Tuan Puteri, itu semua alasan yang cukup untuk mengumumkan perang gerilya, tetapi laki-laki itu keberatan. Katanya, alasan seperti itu sudah terlalu banyak diketahui orang, tapi nyatanya tak seorang pun menyatakan perang karena itu.

  • Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti

Sesuai judulnya, Eka akan mengenalkan kita pada seorang anak lelaki yang hidup sebatang kara di sebuah kota kecil. Ia tinggal di hutan yang terletak di pinggir kota. Ia biasa memperoleh makanan dari warga kota yang bersimpati padanya. Sedangkan anak-anak sangat merasa iri padanya. Sebab, ia tidak perlu bersekolah, tidak perlu bangun pagi dan pulang siang hari, ia hidup bebas dan bisa pergi ke mana pun yang ia inginkan. Sampai suatu ketika, anak laki-laki itu mencuri roti di toko. Awalnya pemilik toko maklum akan hal itu. Tetapi ia terus mencuri. Sehari sekali, dua kali, lalu di toko roti lainnya. Warga kota pun geram dan melaporkan hal ini pada polisi. Pihak polisi tidak menggubris laporan itu mulanya. Namun, karena semakin hari para pemilik toko roti kian merasa dirugikan, maka para pemilik toko mengancam polisi kalau mereka tidak menangkap anak kecil itu, maka warga kota akan melaporkan polisi pada pihak atasannya. Itulah mengapa anak kecil itu dipanggil sebagai Bandit Kecil Pencuri Roti.

... Aku dan beberapa temanku pergi ke tempat persembunyiannya, untuk menangkap si pencuri berdosa itu, dan memberikannya kepada bapak polisi. Tapi ketika kami sampai di tempatnya, ia menawari kami roti-roti curian itu. Kami semua terpaku, mencoba mencicipi sedikit, dan lupalah kami kepada rencana untuk menangkapnya. Roti dari toko ternyata memang enak, satu jenis roti yang belum pernah kami temukan sebelumnya.

***

Adapun cerpen lainnya adalah:
Dongeng Sebelum Bercinta
Corat-Coret di Toilet
Teman Kencan
Rayuan Dusta untuk Marietje
Hikayat Si Orang Gila
Si Cantik yang Tak Boleh Keluar Malam
Kisah dari Seorang Kawan
Dewi Amor
Kandang Babi


Corat-Coret di Toilet memang merupakan cerpen yang diambil judulnya sebagai judul utama buku ini. Tetapi saya justru tidak merasa istimewa dengan cerpen ini. Cukup menarik, namun tidak cukup untuk membuat saya berkata "Wahh". Selain itu, meskipun mengambil tema politik atau percintaan, Eka tetap menyisihkan sisi humornya. Dalam beberapa cerpennya, saya bisa dibuat tertawa rendah atau bersimpati kepada tokoh dalam cerita tersebut. Akan tetapi, tidak jarang pula saya sedikit bingung dengan makna yang ingin disampaikan oleh Eka. Ya, memang. Dari pandangan saya, Eka sering kali memasukkan pesan-pesannya secara tersirat dan untuk menemukannya, saya harus membaca bagian itu berulang kali lalu terdiam sejenak. Berdeham, kemudian mengangguk (sedikit) paham.

Demikianlah yang dapat saya bagikan mengenai kumcer dari Eka Kurniawan ini. Sama seperti karya-karya Eka sebelumnya, ia selalu bisa menyajikan konteks yang berat diiringi dengan guyonan dan mengudek perasaan.

Books Review: Elegi Rinaldo By Bernard Batubara

Selasa, 14 Februari 2017




     Pada kesempatan ini, saya ingin meresensi buku fiksi karya Bernard Batubara yang berjudul Elegi Rinaldo. Elegi Rinaldo termasuk ke dalam Blue Valley Series yang diterbitkan oleh Falcon Publishing. Terdapat 4 seri lainnya, yaitu Asa Ayumi karya Dyah Rinni, Melankolia Ninna karya Robin Wijaya, Lara Miya karya Erlin Natariwiria, dan Senandika Risma karya Aditia Yudis.

   Elegi sendiri berarti syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita. Meskipun belum membaca keempat seri lainnya, saya merasa bahwa Blue Valley Series ini mengangkat satu tema yang sama. Cinta dan Kesedihan. Mungkin, lebih tepatnya kepatahatian. Karena, setiap judul dari serinya memiliki arti kata yang menggambarkan duka atau ungkapan kesedihan. Seperti asa, melankolia, lara, senandika, dan elegi.

     Dalam novel ini, Blue Valley digambarkan sebagai tempat perumahan yang dihuni oleh tokoh utama dalam cerita. Bisa dibilang, kalau ceritanya cukup klise. Seperti kebanyakan konflik yang diangkat dalam novel-novel lainnya. Sehingga saya dengan mudah bisa menebak akhir dari ceritanya.


Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.
Jika kau berjalan ke salah satu blok, kau akan menemukan rumah yang setiap pagi dipenuhi nyanyian Rihanna. Seorang pemuda kribo yang selalu menenteng kamera tinggal di sana bersama tantenya. Dia sering kali bersikap dingin. Dia menyimpan duka. Sisa penyesalan terdalam dua tahun lalu.
Ada gadis yang menantinya, dan ingin menamai hubungan mereka yang kian dekat. Namun, pemuda itu selalu ragu. Dia menyukai gadis itu, tetapi… selalu merasa bersalah jika memberikan tempat yang sengaja dia kosongkan di hatinya. Namanya Rinaldo. Panggil dia Aldo, tapi jangan tanya kapan dia akan melepas lajang.
 ***

     Dari sinopsisnya, kita bisa langsung menangkap masalah yang ditawarkan oleh Bernard. Kita akan mendapati Aldo, seorang food photographer, yang memiliki luka di masa lalunya. Saking pahitnya, ia bahkan sengaja mengosongkan hatinya untuk sekian lama. Sehingga ketika dia mengenal gadis bernama Jenny, dia mulai bimbang untuk membuka hati atau melewatkannya saja. Aldo masih belum bisa melupakan masa lalu beserta kehilangan demi kehilangan yang dirasakannya. Itulah mengapa ia sulit untuk memulai suatu hubungan yang serius. Begitu pula dengan Jenny yang memiliki pandangan berbeda dengan gadis pada umumnya mengenai suatu hubungan. Jenny ragu pada ikatan pernikahan. Menurutnya, pernikahan justru mengikat seseorang dari usahanya dalam meraih mimpi. Pernikahan akan membatasinya dan mengurungnya dengan segala kewajiban yang harus dijalankan sebagai seorang istri, dan dia tidak mau itu.

     Elegi Rinaldo akan membawa kalian pada banyak kebimbangan. Kemudian, menemukan bahwa sebenarnya keyakinan itu dapat berubah seiring dengan kejadian demi kejadian yang dialami oleh orang tersebut. Lebih-lebih, kalau mengenai hati. Keyakinan seseorang mengenai ‘cinta’ bisa berubah seiring berjalannya waktu. Ketika orang tersebut mengenal orang yang dapat mengisi hatinya kembali, saat itulah pandangan dan anggapannya tentang cinta akan berubah.

***

     Jujur saja, saya merasa kurang puas dari segi kepenulisannya. Saya sudah pernah membaca karya Bernard batubara yang lain, dan saya cukup kaget dengan karyanya yang satu ini. Dari kacamata saya, penulisan Bara penuh dengan bahasa yang manis dan penuturan yang begitu elok. Tetapi saya tidak menemukan hal itu dalam buku ini. Bahkan saya merasa ini bukan tulisan Bara. Tidak menggambarkan karakter dan identitas dari Bara. Saya berasumsi, kalau Bara (mungkin) ingin mencoba menulis dengan gaya yang berbeda dari biasanya.

  Keseluruhannya, buku ini disusun dengan cukup apik. Covernya yang menarik, mampu menggambarkan kepedihan yang disuguhkan dalam kisahnya. Meskipun konflik yang diangkat sangat lazim, Elegi Rinaldo tetap layak dijadikan sebagai salah satu buku referensi untuk mengisi waktu luang dan hiburan. Akan tetapi, (menurut saya) Elegi Rinaldo bukanlah karya terbaik dari Bernard Batubara. Mengingat, karya-karya Bernard sebelumnya memiliki rasa dan penulisan yang jauh lebih kuat serta identitas yang selalu menjadi ciri dari setiap karyanya.

***
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS