Keluh-Kesah di Malam Senin

Minggu, 08 Oktober 2017



Aku tahu ini akan sangat berbeda. Bahkan jauh dari apa yang kukatakan pada postingan terakhir yang kutulis dalam blog ini. Ya, tiba-tiba saja malam ini aku merasa bahwa aku harus menulis.

Akan kuceritakan segalanya dari awal. Meski mungkin terlalu panjang dan membuat kalian mengantuk. Namun aku akan sangat yakin, bahwa catatan kali ini tidak akan dibaca oleh siapapun. Jadi ya, biarkanlah aku bercerita pada tumpukan tulisanku sendiri. Aku tidak peduli ada yang membaca atau tidak, yang terpenting bagiku, aku dapat memuntahkan segalanya malam ini. Agar hatiku dapat tenang dan tidurku pun juga nyenyak.

***

Semuanya baik-baik saja, hingga aku kembali masuk sekolah dan merasakan masa-masa belajar lagi. Aku tidak tahu alasannya, namun bisa kurasakan secara pasti bahwa aku benar-benar tidak punya semangat lagi untuk belajar dan sekolah. Satu-satunya alasan yang membuatku terus bertahan adalah, Mama.

Aku bisa mengerti, bahkan paham betul, kalau segala angka yang kuperoleh selama pendidikan terakhir ini sangat tidak memuaskan. Aku sangat menyadari itu, seperti aku menyadari betapa malasnya aku sekarang. Aku seringkali melihat banyak siswa lain yang begitu rajin dan semakin bertambah-tambah giatnya hingga tidak mampu lagi kumengerti bagaimana caranya memikat pengajar untuk memperoleh angka. Aku juga memperhatikan betapa rajinnya seorang teman yang tidak kukenal, mengerjakan soal-soal ujian bahkan di saat jam istirahat sekalipun. Banyak di antara orang yang kukenal mengikuti bimbingan belajar yang biayanya sangatlah tidak murah, agar dapat lulus sesuai dengan harapan mereka, hampir semuanya malah. Sehingga kadang-kadang menimbulkan keluh di kepalaku sendiri, betapa banyaknya pelajar yang tidak paham dengan materi di sekolah hingga mereka perlu bantuan pihak lain agar dapat mengerti.

Tidak. Aku tidak ingin menyalahkan siapapun, karena memang kusadari kemalasan ini mulai merajalela dalam diriku sendiri. Salah satu solusi yang bisa kulakukan adalah menemui Tuhan. Ya, tentu dalam shalat aku berbincang-bincang begitu lama hingga tanpa terasa aku meneteskan air mata dan tertidur. Aku berkeluh banyak hal pada-Nya. Agak lucu sebenarnya, mengingat dalam perbincangan kami aku meminta pada-Nya agar menguatkanku serta tidak menjadikanku seorang pengeluh. Ketika aku kesal dan merasa tidak terima dengan suatu hal, aku mengingatkan diri sendiri kalau aku harus selalu bersyukur. Namun tetap saja, rasa malas itu lagi-lagi datang bagai angin sepoi yang menyibakkan rambut di sore hari.

Setiap dua hari terakhir dalam seminggu, aku merasa itulah hari terbaik. Aku merasa sangat perlu memanfaatkan empat puluh delapan jam dengan sangat baik. Memanfaatkannya untuk diriku sendiri. Aku tidak belajar, menghadap layar ponsel seharian untuk mencari sesuatu. Hingga mulai terbetik keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru.

Aku sampai pada titik lelahku. Jenuh. Bahkan untuk pura-pura kuat pun rasanya tidak sanggup. Setiap jam pertama belajar, entah berapa kali mulutku menganga dan menyipitkan mata. Aku bosan sekolah.

Sungguh, aku tidak bermaksud untuk tidak mensyukuri nikmatmu, Tuhan. Aku hanya merasa bahwa kian hari bebanku semakin berat terlebih, tubuhku semakin lemah dan rapuh. Bahkan aku menyalahkan orang lain untuk segala kelalaianku sendiri. Untuk itu, aku berusaha meyakini salah satu ungkapan Bill Gates.

"If you're born poor, it's not your mistake. But, if you die poor, its your mistake." -Bill Gates

Aku tidak tahu bagaimana melewati masa ini. Yang ingin kulakukan hanya mencari cara terbaik agar aku merasa lebih baik. Karena sungguh, segalanya terasa sulit saat ini. Kuakui, musuh terbesar manusia memang setan dan rasa malas. Dan sampai saat ini pun, aku masih meminta kepada-Nya untuk dikuatkan dan menjadi lebih bijaksana. Meskipun aku tahu, itu pastilah tidak akan mudah.

Namun jika dipikirkan secara mendalam, aku lebih tidak sanggup lagi mengeyam kebodohan.




Keinginan dan "Sedikit" Kegelisahan

Jumat, 30 Juni 2017

sumber: tumblr.com

Assalamu’alaikum.

Berbeda dengan sebelum-sebelumnya, postingan ini bukan mengenai buku atau film. Bukan pula mengenai perasaan. Meskipun saya tidak berani menjamin, juga akan ada sedikit perasaan terlibat di sini. Perasaan saya lebih tepatnya.

Di awal tahun, melihat dari blog seorang idola, saya ingin mengikuti jejaknya dalam membaca. Dalam blog-nya ia berkata bahwa akan membaca minimal sebuah buku dalam satu bulan. Hingga jika dijumlahkan, paling tidak, dalam satu tahun ia akan melahap 12 buku. Minimal. Ia juga me-resume 12 buku yang sudah dibacanya tahun lalu. Merekomendasikan beberapa buku yang menurutnya sangat patut untuk dibaca.

Melihat hal itu, saya tertarik untuk melakukan hal yang sama. Karena memang beberapa tahun belakangan, saya juga mulai kurang menghabiskan waktu dengan setumpuk buku bacaan. Maka jadilah tahun ini, di mana saya berniat untuk menghabiskan sedikitnya 12 buku dalam satu tahun. Dan setelah melangkah sejauh ini, saya menyadari bahwa itu jumlah yang bisa dibilang, sedikit bagi seorang Bibliophile.

sumber: tumblr.com

Tidak, saya tidak mengklaim diri sebagai Bibliophile. Atau lebih tepatnya belum. Karena sebenarnya saya ingin. Tetapi, keadaan masih menyibukkan saya dengan buku-buku pelajaran, kegiatan sekolah, dan serangkaian ulangan. Ya, status sebagai pelajar terkadang memperluas kita pada ilmu pengetahuan namun mempersempit kita pada bidang yang kita sukai. Kecuali bidang yang tergabung dalam ekskul sekolah. Itupun, saya rasa tidak sungguh-sungguh berkembang.

Kembali pada pokok pembahasan. Di tahun ini, saya berusaha agar bisa memenuhi niat tersebut. Satu buku untuk satu bulan dan mengulasnya dalam blog ini. Akan tetapi, rencana itu saya ubah menjadi lebih cepat. Kalau bisa dua bahkan lebih banyak dalam sebulan. Karena di pertengahan, saya baru (lagi) sadar kalau setengah tahun terakhir dan setengah tahun depan, akan menjadi masa-masa berat untuk saya. Saya harus berkutat pada buku-buku ujian sekolah, ujian nasional (apapun sebutannya untuk saat ini, intinya tetap sama bagi saya), try out, hingga tes masuk perguruan tinggi. Bahkan untuk mengingatnya pun sudah membuat saya lelah.

Oleh karena itu, saya ingin menyelesaikan semuanya lebih awal. Sehingga sisanya, buku yang dibaca di luar dari 12 buku dalam setahun, bisa saya baca kapan saja tanpa bergantung pada waktu luang yang kian sempit. Terlebih lagi, kalau saya tidak sempat mengulas buku.

Jadilah sekarang. Niat itu sudah terlaksana. Keinginan saya sudah terpenuhi. Namun, itu tidak lantas membuat saya berhenti membaca. Tentu tidak! Saya justru akan terus membaca dan semakin sering membaca. Dari awal hingga pertengahan tahun ini, saya sudah menandaskan beragam jenis buku. Mulai dari kumcer, novel, hingga sastra. Buku-buku yang memperkenalkan saya pada penulis-penulis hebat seperti Etgar Keret, Eka Kurniawan, Norman Erikson Pasaribu, Bernard Batubara, dan tentunya, Haruki Murakami. Dan setelah ini, daftar buku yang ingin saya jamah semakin banyak. Sayang, waktu dan kondisi sepertinya kurang memihak kepada saya.

Maka, bagi seorang yang berikeinginan menjadi Bibliophile dan dalam tahap menulis yang masih sangat awal, seperti saya, saya harap maklum. Maklum dengan ulasan-ulasan saya yang masih serba kekurangan dan perlu banyak perbaikan dalam memahami bacaan dan menulis. Saya masih belajar. Dan akan terus belajar.

sumber: tumblr.com

Review Buku: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu - Norman Erikson Pasaribu


Kesepian bukanlah hidup sendirian, kesepian adalah ketidakmampuanmu untuk menjaga seseorang atau sesuatu tetap di sisimu. 
-          Hal. 87

Judul buku          : Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
Penulis                : Norman Erikson Pasaribu
Penerbit              : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Ke-       : 1
Tahun terbit       : 2014

Sebenarnya buku ini telah saya beli kira-kira setahun yang lalu. Atau kalau saya salah, mungkin dua tahun. Ketika saya masih belum cukup mengerti dengan buku-buku sastra dan cara berpikir saya yang juga belum bisa memahami hal-hal rumit. Persis seperti Kakek Nakata rekaan Haruki Murakami yang tidak terlalu pandai. Oleh karena itu, buku ini pun hanya teronggok dalam lemari kaca dan menua karena mulai berjamur. Jujur saja, salah satu hal lain yang membuat saya kembali tertarik untuk membaca buku ini adalah, selain karena judulnya yang bisa dibilang hmm, cukup panjang dan menohok hati, juga karena cover-nya yang tampak kelam. Membuat sebuah pertanyaan di kepala saya pun muncul, Benarkah menunggu bisa sesakit  dan semenyiksa itu?

Buku ini, merupakan kumpulan cerpen yang beberapa di antaranya telah dimuat di berbagai media massa. Tidak mengherankan, karena setiap kali saya berhasil menandaskan satu cerpen, saya selalu tertegun. Tentu dalam artian ‘terkesima’. Cerpen pertamanya yang berjudul Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal sukses menjadi pembuka yang menohok bagi saya. Nuansa akan kepedihan, percintaan, dan pandangan sosial terasa amat kental. Memberikan gambaran sepenuhnya kepada saya, bagaimana cerita-cerita selanjutnya akan saya nikmati.

Kadang-kadang ketika stress menulis berita, aku menekan Command+Z–undo typing–berulang-ulang, perlahan-lahan, hingga yang tersisa hanyalah layar putih, lalu aku mencuci mukaku dan menatap wajahku dan berkata kepada bayangan diriku, “Tak ada yang terjadi, semua itu tak terjadi.” Dan, kau tahu, kelak dalam kehidupanmu ada momen semacam itu, di mana semua kesedihan yang kau alami tiba-tiba berputar mundur di kepalamu. Sayangnya, yang tersisa bukanlah layar putih–mengingat tak ada perumpamaan yang sempurna.
-Hal. 45
Tentang harusnya bersabar dalam menunggu, menerima kepedihan, kepergian, dan berusaha melupakan sesuatu yang kita tahu, bahwa akan sulit melupakannya, adalah sedikit dari banyak hal yang bisa saya tangkap dari tulisan-tulisan Bang Norman. Juga menyinggung isu sosial seperti LGBT yang dipolesnya sedemikian menarik, sehingga mampu membuka pandangan saya mengenai hal tabu tersebut.

Akan datang harinya di mana Hawamu itu tahu dan akhirnya diam-diam meminta kalian untuk pergi, memisahkan diri dariku. Mungkin saat itu kau akan bilang dengan yakinnya: Kami akan datang setiap minggu. Tapi aku tahu setelah itu kalian tidak akan kembali. Dan garpu imajinatif itu bakal laksana permata yang patah. Dan hanya aku yang tersisa. Sendiri bertahan. Persis tusuk sate.
- Hal. 47 



Selain cerita-ceritanya yang begitu berbeda, hal lain yang memesona saya ialah bagaimana Bang Norman menuturkan setiap ceritanya. Ya, sudut pandang orang pertama pelaku sampingan yang terkadang membuat saya agak kebingungan, tapi tidak pernah gagal menggoyahkan emosi. Ia punya bahasa yang seolah sanggup mengetuk hati.

“Apakah Anda pergi sendirian saja?” Pertanyaannya entah mengapa menyesakkan. Aku merasa dia menuduhku sebagai orang yang sebatang kara. Aku pernah tahu orang seperti itu, kenal dekat malah. Orang itu sudah lama pergi dan tak perlu kembali. Bara yang mengusirnya. Kalau aku tak keliru, namanya Kesepian.
-Hal. 161

Kumcer ini bisa menjadi teman hangat, selagi kalian menanti sosok yang entah kapan akan tiba. Dan untuk orang yang sedang menunggu, penantian yang belum berujung, buku ini seperti teh hangat di pagi hari yang akan membuka mata kalian. Menyadarkan kalian. Bahwa dalam perihal menunggu, segala sesuatunya tidak akan pernah mudah.

Dunia ini kadang terasa seperti penantian yang tak usai-usai. Perjalanan yang sunyi. Kadang menyenangkan, lebih sering menyakitkan. Ditinggalkan. Terpaksa meninggalkan. Patah hati. Dilupakan. Terpaksa melupakan. Kalah. Terpaksa menyerah…
-Hal. 83

Review Buku: Elegi - Dewi Kharisma Michellia

Selasa, 20 Juni 2017



Judul Buku                    : Elegi
Penulis                           : Dewi Kharisma Michellia
Penerbit                         : Grasindo
Tahun Terbit                  : 2017
Jumlah Halaman           : 162

Sesuai dengan judulnya, Elegi karya Mba Dewi Kharisma Michellia ini akan selalu membawa kita untuk bergumul pada kepedihan, kepergian, dan kematian. Diramu dengan apik dan segar, membuat kita terkadang harus membaca atau berpikir dua kali untuk mengerti apa arti yang ingin disampaikan Mba Dewi sebenarnya. Sebagian ada yang terasa sedikit ganjil, beberapa ada yang sulit saya pahami, namun ada pula yang teramat menyentuh hati.

Buku kumpulan cerpen ini terbagi ke dalam 13 cerita pendek dan 6 fragmen yang beberapa di antaranya telah dimuat di media massa. Kita akan masuk dalam kesedihan yang disebabkan oleh patah hati, kematian orang terkasih, kehilangan sosok keluarga, hingga kerinduan yang mendalam. Elegi mengajak kita untuk mencicipi sembilu dari sisi dan sudut pandang yang beragam. Lebih tepatnya, menunjukkan kepada saya bahwa di dunia ini, banyak hal dapat mengundang luka, termasuk seorang penulis yang sedang mandek sekalipun. Tidak lupa juga dengan potongan-potongan yang singkat, namun membekas.

Di sini saya hanya akan menuliskan sinopsis 3 cerpen favorite saya dari buku ini, ditambah dengan beberapa fragmen yang hmm.. menyentil perasaan saya.
  • Penulis Fiksi              
Penulis Fiksi berkisah tentang tokoh Aku yang sering sekali memperhatikan tetangga barunya. Sampai suatu ketika, Ibunya tokoh Aku memberitahu kalau tetangga baru mereka itu masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Tetangga barunya itu dilarikan ke rumah sakit setelah ia menenggak racun, memutus urat nadinya, lantas loncat dari lantai dua rumahnya. Dan beruntungnya, sungguh beruntung, pria itu tidak mati.

Orang tuanya menyuruh tokoh Aku untuk menjenguk pria itu ke rumah sakit. Di sana, tokoh Aku mengobrol dengan pria itu. Tegur sapa yang pertama kali mereka lakukan, semenjak pria itu menjadi tetangganya. Pria itu memberikan sesuatu kepada Aku dan setelahnya, sesuatu berjalan begitu saja.
Ia menunjuk pada parsel-parsel yang menghiasi kamarnya. “Kau tahu dari mana datangnya bingkisan-bingkisan ini?" Aku menggeleng. Aku tak suka orang-orang melankolis. Ia tersenyum. “Aku meminta para perawat membelikannya untukku.” 
-          Hal. 19

  • Tanda
Bagaimana rasanya jika kau bertemu lagi dengan orang yang kau cintai dulu, dalam wujud yang sering kali mengawang lalu hilang berhambur dengan debu? Di saat kau menyadari bahwa kau dan kekasihmu sudah tidak berada dalam dunia yang sama? Kira-kira seperti itulah pembuka yang disajikan dalam cerita Tanda.

Seorang pria berjumpa dengan kekasih lamanya yang berkata bahwa saat ia dapat mengunjungi dan tinggal di dunia dalam waktu yang lama, itu pertanda saatnya ia tak akan boleh pergi ke sana nantinya. Oleh karena itu, sang kekasih memberikan seekor kucing kepada pria itu. Seperti yang kita tahu, setiap arwah yang berada di alam yang bukan semestinya, itu berarti bahwa ada ‘sesuatu yang belum selesai’. Dan benar saja. Ketika si pria bermimpi tentang kekasihnya itu, di sanalah (mungkin) semua masalah akan selesai. Dan si kucing yang ia beri nama Tanda, menjadi ‘pertanda’ bagi suatu awal yang baru. Mungkin.

Sebenarnya si pria enggan. Namun, ia pun tidak tahu cara menolak. Maka, ia mengunci pintu kamar flat, mengikuti si perempuan yang menggendong Tanda dengan sayang di pelukannya. Sepanjang lorong menuju kamar si perempuan, mereka mulai berkenalan. 
-          Hal. 45

  • Keberangkatan
Dibuka oleh perpisahan seorang anak gadis bernama Diandra dengan Papanya, Keberangkatan menghidangkan kisah sebuah keluarga Broken Home yang berbeda. Kemelut yang tidak kunjung reda, dituturkan dari sudut pandang sang Papa, menunjukkan kepada kita betapa rumitnya keluarga mereka. Papa yang merasa bosan dengan pekerjaan di kantor, berpikir bahwa uang tabungannya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, lalu memutuskan resign. Keadaan memburuk ketika Papa terjebak dalam perjudian dan klub-klub malam. Tanpa memberikan pilihan apapun kepada Mama yang dengan terpaksa harus mencari pundi-pundi rupiah. Mengalihkannya menjadi tulang punggung keluarga.

Diandra adalah anak perempuan yang diidam-idamkan oleh Mama. Sayangnya ia muncul bukan dari rahim Mama melainkan ditemukan di tempat sampah di panti asuhan. Masih sangat mungil dan merah. Mungkin itulah sebabnya ketika bercerai, Mama lebih memilih Andreas, anak laki-laki pertama mereka atas hak asuhnya. Sedangkan Papa dengan senang hati menerima Diandra. Papa sangat menyayangi kedua anaknya. Karena Andreas dan Diandra-lah, Papa akhirnya bertekad untuk berubah. Berhenti menegak alkohol, berjudi, dan mulai mencari pekerjaan lagi.

Akan tetapi, seakan kebagiaan tidak pernah berpihak pada keluarga mereka, suatu rahasia besar terbongkar. Rahasia tentang masa lalu yang bisa saja mengubah kehidupan mereka saat ini. Rahasia yang juga menentukan hidup Diandra. Hidup keluarga mereka.

Mungkin di rumah sakit, Andreas akan menyadari bahwa Ibunya bergolongan darah O, Ayahnya bergolongan darah B, dia bergolongan darah A, dan adiknya bergolongan darah AB. Sesuatu yang tak sempat aku dan istriku sampaikan secara langsung kepada mereka. 
-          Hal. 82
Fragmen-fragmennya seperti Rekan Bicara, Hidup Kita Selepas Elegi, dan Semiliar Perbedaan juga mengantarkan kita pada akhir yang sendu. Bagaimana kita bisa bertemu dengan rekan bicara yang bisa bicara dari hati ke hati. Yang mampu bicara hanya dengan genggaman tangan, atau kepala yang merebah di pundak satu sama lain. Adanya harapan baru akan hidup yang lebih baik setelah berbagai kesusahan yang kita alami. Tentang orang tua yang bercerai, Ayah pemabuk dan Ibu yang kerap gonta-ganti pacar, hingga anak yang menderita karena pilihan-pilihan salah yang orang tua ambil dalam hidupnya. Namun, akan selalu ada kertas putih untuk ditulis kembali, bukan? Tidak peduli seberapa banyak tinta yang mengotori halaman sebelumnya. Begitu pula dengan banyaknya perbedaan yang membatasi setiap orang. Sama seperti puzzle, saat kita mendapati potongan-potongannya, kita bukan berusaha mencari kesamaannya untuk dapat menyatukannya. Tapi, kita mencari kecocokannya.

Cerpen-cerpen Mba Dewi, mengalir dengan santai namun menghujam tepat di dada. Membuat saya berkali-kali menghela napas dan tersenyum miris. Penceritaan maupun alurnya menawarkan suasana yang berbeda untuk saya. Saya bisa semakin kagum dan menyukai kepenulisan Mba Dewi, atau justru kebingungan dengan plotnya yang terkadang tidak masuk akal dan berbelit. Terlepas dari kekurangan itu, Elegi tetap menjadi buku yang indah untuk menemani kita saat duka dan berbagi kehilangan.

Review Buku: Dunia Kafka (Kafka On The Shore) Karya Haruki Murakami

Minggu, 04 Juni 2017



Haruki Murakami bukanlah penulis yang asing bagi saya. Penulis favorite saya, Bernard Batubara-lah yang memperkenalkan saya dengan Haruki Murakami. Ia pernah membahas Murakami dalam blognya. Salah satu alasan yang mendorong saya untuk ikut membaca karya Murakami. Sesuai dengan sarannya, buku Murakami yang saya lahap pertama kali adalah Norwegian Wood. Cerita yang realis sebagai langkah pengenalan saya dengan dunia penceritaan Murakami yang serba surealis. Lantas setelah khatam dengan Norwegian Wood, saya mulai merasa perlu untuk menikmati karya Murakami lainnya. Buku yang terasa lebih surealis, yang menjadi keunikan dan kehebatan dari Haruki Murakami sendiri. Dan saya memutuskan untuk membaca Dunia Kafka.

Judul Buku    : Dunia Kafka (Kafka On The Shore)
Penulis           : Haruki Murakami
Penerbit         : Alvabet
ISBN             : 978-602-9193-03-1
Tebal Buku    : 599 Halaman
Cetakan         : Ke- 3
Tahun Terbit  : 2016

Dunia Kafka atau yang berjudul asli, Kafka On The Shore berjalan dengan dua plot yang berbeda. Secara bergantian, kita akan diperkenalkan pada Kafka Tamura, remaja berusia 15 tahun yang memutuskan untuk pergi dari rumahnya karena ia merasa jika ia tetap berada di sana, ia akan hancur. Tanpa memiliki alasan yang jelas, ia memilih Shikoku sebagai daerah tujuannya. Sambil mengambil beberapa barang milik Ayahnya di ruang kerja, ia berbicara dengan seorang bocah laki-laki bernama Gagak, yang saya anggap adalah bayangan dari dirinya sendiri (kalau tidak bisa dibilang bayangan, mungkin temannya dari dunia lain, atau semacam itu.). Dalam perjalanan, ia berkenalan dengan seorang gadis yang bernama Sakura. Gadis itu lebih tua darinya, sosok yang mengingatkannya pada kakak angkat dan ibu yang telah meninggalkannya waktu ia masih kecil. Sesampainya di sana, ia datang ke Perpustakaan Komura yang kelak menjadi tempat tinggalnya.

Kau takut berimajinasi. Dan lebih lagi, takut bermimpi. Takut akan tanggung jawab yang dimulai dalam mimpimu. Tapi kau harus tidur, dan mimpi adalah bagian dari tidur. Ketika kau terjaga, kau dapat menekan imajinasi. Tapi kau tidak dapat menekan mimpi. 

- Hal. 175

Sementara itu, plot kedua bercerita tentang seorang kakek bernama Satoru Nakata yang keterbelakangan mental. Sebenarnya Kakek Nakata tidak bisa dikatakan keterbelakangan mental, menurut saya. Dia hanya memiliki sesuatu di dalam dirinya dan itu tidak bisa dimengerti oleh orang lain. Ditambah dengan cara bicaranya yang dianggap aneh. Ia memiliki kemampuan berbicara dengan kucing. Masalah kejiwaannya itu membuat Kakek Nakata selalu memperoleh subsidi dari Gubernur, dan sedikit tambahan uang dari jasanya membantu para tetangga menemukan kucing mereka yang hilang. Kakek Nakata adalah lelaki tua yang sangat ramah dan apa adanya. Ia selalu berkata jujur dan yang paling saya suka, ia sering kali berkata, "Maaf, saya tidak mengerti apa yang Anda ucapkan. Maafkan, saya tidak terlalu pandai." Ketika Kakek Nakata berucap demikian, selalu terbayang di benak saya seorang lelaki tua yang lemah dan begitu sederhana. Meskipun demikian, Kakek Nakata memang tidak pandai. Ia tidak bisa membaca apalagi menulis. Pencariannya terhadap kucing bernama Goma yang kelak mengantarnya pada pertemuan tidak terduga dengan Johnie Walker. Orang yang memakai sepatu bot dan menangkapi kucing-kucing untuk dibelah dadanya, dimakan jantungnya hidup-hidup, lantas memenggal kepalanya. Bentuk kriminalitas yang cukup membuat saya meneguk liur dan mendelik. Yah, siapa sangka Kakek Nakata yang polos dan ramah itu telah membunuh Johnie Walker.

Meskipun bercerita dengan dua plot yang berbeda, pada akhirnya semua berujung di satu titik dan saling berkaitan. Semakin kita membalik lembar demi lembar bagiannya, hubungan antara Kakek Nakata dan Kafka Tamura kian terbuka. Walaupun capek sebenarnya, mengingat plot yang disajikan bergantian sehingga saya harus mengingat jalan cerita sebelumnya agar bisa kembali masuk dalam bab selanjutnya.

Dunia Kafka mengandung konflik yang kompleks. Jujur saja, saya harus menahan kesabaran di tengah-tengah cerita karena alurnya yang saya kira, cukup lambat. Bagian yang betul-betul saya nikmati adalah di awal dan akhir cerita. Sedangkan pada pertengahan, saya kehilangan konsentrasi dan kesungguhan dalam membaca. Belum lagi dengan beberapa dialog yang agak membingungkan bagi saya (Ini karena pemikiran saya yang masih belum sampai-_-). Dalam belitan ceritanya, Murakami menyisipkan berbagai unsur yang secara sadar maupun tidak, turut menjadi dasar dari pengembangan alurnya. Mitologi, filsafat, musik, dan beberapa ungkapan menurut tokoh-tokoh dunia yang cukup membuat saya semakin mengerti atau justru kebingungan sendiri.

"Dari bangsa Mesopotamia kuno. Mereka mengeluarkan usus binatang-aku rasa kadang-kadang juga usus manusia-kemudian menggunakan bentuknya untuk meramal masa depan. Mereka mengagumi kerumitan bentuk usus. Jadi bentuk dasar dari labirin adalah, dengan kata lain, keberanian. Yang berarti bahwa prinsip dari labirin ada di dalam dirimu. Dan itu berhubungan dengan labirin yang di luar." 

- Hal. 447

Sama seperti yang dikatakan Bang Bernard dalam blognya, bahwa untuk menikmati karya Murakami, kita harus terbuka pada ketidakjelasan. Jangan memusingkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang sarat akan logika. Karena Murakami memang hanya akan berkutat pada absurditas, imajinasi, dan abstrak. Mungkin bisa dibilang, Norwegian Wood tidak termasuk dalam hal ini. Dibandingkan dengan Dunia Kafka, saya rasa Norwegian Wood merupakan karya yang dibuat Murakami dengan mencoba keluar dari zona nyamannya.

Begitulah, Dunia Kafka berjalan dengan lambat, penuh imajinatif, dan absurditas yang tidak bisa kita coba untuk mencari arti atau maknanya. Biarkan saja hal-hal di luar nalar itu tetap berada di luar kepala. Sebab hanya dengan cara seperti itulah kita dapat menerima keseluruhan cerita dan menikmatinya. Dunia Kafka adalah bacaan yang berat. Perlu kesabaran ekstra agar kita bisa bertahan untuk tidak menutup buku itu di tengah jalan. Namun, ketika kita sudah benar-benar menyelesaikannya, akan ada magnet yang selalu menarik kita untuk kembali membaca karya Murakami lainnya. Dan saya rasa, di situlah letak keistimewaan seorang Haruki Murakami.

"Jika kau mengingatku, aku tidak peduli apabila orang lain melupakan aku."
- Hal. 596

Review Buku: Genduk Oleh Sundari Mardjuki

Jumat, 26 Mei 2017




Jujur saja, sebelumnya saya salah sangka dengan buku ini. Semula, saya mengira bahwa Genduk merupakan kisah seorang anak desa yang seluruh kehidupannya begitu erat dengan tembakau, bahan utama pembuatan rokok. Cerita yang memusatkan konfliknya hanya pada tembakau dan mengungkap kehidupan lokal seorang petani tembakau. Namun, ternyata Genduk menawarkan harga yang lebih dari itu.

Genduk merupakan nama seorang bocah perempuan yang tinggal di puncak Gunung Sindoro, Temanggung. Berlatar waktu tahun 1970-an, Genduk membawa kita pada masa di mana tembakau menjadi ladang emas bagi kehidupan petani di sana. Sedikit saja dedaunan itu layu atau terserang hama, maka keresahan segera menyelimuti para petani. Tidak terkecuali dengan Ibu Genduk. Yung, begitu panggilan Genduk kepada Ibunya. Di Desa Ringinsari, ia hanya tinggal bersama Yung. Sejak kecil ia tidak pernah bertemu Pak’e-nya. Jangankan bertemu, tahu wajahnyapun tidak. Meskipun begitu, ia tetap sabar membendung kerinduan di lubuk hatinya. Perjuangan Yung yang begitu keras untuk menghidupi mereka berdua, membuat Genduk selalu bertahan untuk tidak menanyakan keberadaan Pak’e. Genduk tahu, itu hanya akan membuat Yung terluka. Segala hal tentang Pak’e dan sejarah Yung-nya hanya ia ketahui dari Kaji Bawon.

Cerita berlanjut ketika Genduk sudah tidak mampu lagi menyimpan kerinduan yang bergejolak. Rasa keingintahuan yang amat besar terhadap kepergian Pak’e membuatnya memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Di samping itu, kesusahan-kesusahan yang ia dan Yung-nya alami semakin menjerat leher mereka. Harga tembakau yang anjlok, kegagalan panen, ditipu para Gaok, hingga terhutang pada rentenir.

“Manusia bisa mati dengan berbagai cara. Bisa dimakan babi hutan. Bisa dimakan rentenir."
-          Hal. 88

Genduk menunjukkan kita sebuah usaha dalam mencari kebenaran. Meniti kerinduan dengan berderai-derai air mata, meski berujung pada akhir yang begitu menusuk hati. Keluguan yang diperdaya demi mendapatkan secuil harapan. Serta kepercayaan yang tiada henti menempa diri, hingga membuahkan hasil sesuai dengan apa yang diharapkan.

Sebelumnya, di kepala saya, buku-buku motivasi semacam ini merupakan jenis buku yang sangat membosankan. Kaku, datar, dan mudah ditebak. Beruntung hal-hal seperti itu tidak saya temukan pada Genduk. Alurnya yang sudah menarik sejak awal, ditambah dengan penuturan yang apik dan manis membuat saya sangat menikmati dan melahap lembar demi lembar halamannya. Termasuk pula dengan puisi-puisi yang kian menambah keindahan dari sastra ini.



Aku Kembang Lonte Sore
Aku kembang lonte sore
Aku bukanlah seroja yang acap dipuja
Pun bukan mawar yang mekar di bawah denyar 
Aku hanyalah kembang lonte sore 
Yang terserak di bawah pohon pare 
Aku berkarib dengan rumput teki 
Dialah tempat curahan gulana hati 
Bersamanya kami melewati hari 
Tetap tersenyum meski hidup tak seindah mimpi

Aku mekar di antara belukar 
Menawarkan harum yang samar 
Sudikah engkau datang 
Sekadar menyapa tentu bukan pantang 
-          Hal. 85

Hal lain yang membuat saya semakin kagum terhadap buku ini adalah, ternyata Genduk ditulis selama kurang lebih empat tahun. Bayangkan! Empat tahun. Setelah melalui riset yang panjang dan tentunya, inspirasi dari beberapa orang di sekitar penulis. Genduk juga memberikan kepada kita, gambaran yang amat jelas mengenai kehidupan seorang petani tembakau. Apa yang mereka lakukan, kendala yang mereka hadapi, kesederhanaan, dan kegundahan yang merayap di hati mereka. Contoh nyata dari ketergantungan petani terhadap apa yang mereka tanam. Dan bagaimana benih-benih muda yang tumbuh turut menumbuhkan harapan hidup mereka.

Sekali lagi, Genduk adalah sastra yang sederhana namun sarat makna. Kita akan dibuat sendu dengan Genduk yang begitu menyedihkan. Sekaligus pula, larut dalam pengutaraan bahasa yang mengagumkan.

Genduk, adalah seorang anak perempuan yang tinggal di Desa Ringinsari, lereng Gunung Sindoro. Bocah perempuan sederhana namun penuh kekayaan hati.

“Sungguh manusia itu seperti debu tegalan, yang mudah diterbangkan oleh tiupan angin musim kemarau. Mudah diombang-ambingkan oleh lembaran duit, kilaunya emas perhiasan, juga hektaran tanah. Begitu semua hilang dari genggaman, hidup seperti tidak ada gunanya. Susahnya hidup di dunia ini cuma sementara, jangan sampai membuat putus asa. 
Kalau tidak ingat dan pegangan kuat sama tali Gusti Allah, manusia benar-benar seperti debu.” 
-          Hal. 160

Review Buku: Le Petit Prince (The Little Prince) - Antoine De Saint-Exupery

Minggu, 21 Mei 2017



The Little Prince bercerita tentang tokoh "Aku" yang bertemu dengan Si Pangeran Cilik di tengah Gurun Sahara. Ketika itu, tokoh "Aku" terhenti perjalanannya dikarenakan pesawatnya mengalami kemogokkan. Kemudian, secara tiba-tiba, entah datang dari mana, Pangeran Cilik datang dan memintanya untuk menggambarkan seekor domba. Dari kalimat yang diucapkan Pangeran Cilik sedikit demi sedikit, tokoh "Aku" akhirnya dapat menguak rahasia dari mana anak itu berasal.

Pangeran Cilik tinggal di planet nun jauh. Tempatnya begitu kecil dengan sebuah bunga mawar berpenungkup, benih-benih pohon baobab, dua gunung aktif, dan satu gunung mati yang semua itupun hanya setinggi lututnya.

Selama memperbaiki bagian pesawatnya yang rusak, tokoh "Aku" terus mendengarkan cerita perjalanan Pangeran Cilik hingga sampai ke bumi. Ia berkunjung ke sebuah asteroid yang didiami oleh seorang raja. Ya, hanya seorang raja. Tanpa ratu, menteri, maupun rakyat. Planet kedua yang didatanginya didiami oleh seorang sombong. Ia amat tinggi hati sampai-sampai ia berpikir bahwa semua orang mengagumi dirinya. Planet berikutnya dihuni oleh seorang pemabuk. Pemabuk itu beralasan bahwa ia minum supaya lupa rasa malu karena ia telah minum. Planet keempat ditinggali oleh seorang pengusaha. Pengusaha itu sangat sibuk. Saking sibuknya ia tidak mampu menolehkan kepalanya ketika berbicara dengan Pangeran Cilik. Ia suka menghitung bintang-bintang, yang ia anggap sebagai miliknya. Planet kelima didiami oleh seorang penyulut lentera. Planetnya berputar sekali dalam satu menit, maka si penyulut lentera pun tidak dapat beristirahat. Ia harus menyalakan dan mematikan lentera sekali setiap menit. Planet selanjutnya dihuni oleh seorang ahli bumi. Ia adalah seorang lelaki tua yang duduk sambil membaca buku maha tebal. Ahli bumi itu sangat senang karena didatangi oleh seorang penjelajah, seperti Pangeran Cilik. Ia juga menyarankan agar Pangeran Cilik pergi ke bumi. Hingga akhirnya sampailah ia di gurun itu sekarang.

Sering berjalannya waktu, tokoh "Aku" dan Pangeran Cilik menjadi teman. Mereka menyusuri dan mencari sumur di Padang Sahara. Banyak hal yang dipelajari "Aku" dari Pangeran Cilik. Tentang kesombongan, bersyukur, dan persahabatan.

Sampai suatu ketika, saat tokoh "Aku" terbangun dari tidurnya. Pesawatnya sudah selesai ia perbaiki dan ia berencana untuk pulang bersama Pangeran Cilik. Ia tidak mendapati keberadaan Pangeran Cilik lagi. Pangeran Cilik telah pulang ke planetnya, satu di antara berjuta bintang-bintang.

"Inilah rasasiaku. Sangat sederhana: hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata."
- Hal. 88 
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS